
Mata Rosalina terbelalak sempurna melihat mamanya dan Kenzo yang seolah sudah sangat dekat.
"Mereka... kenapa mereka sudah kenal? Kenapa sedekat itu? Lalu... bagaimana nasibku? Apa aku gak jadi pulang ke rumah orang tuaku? Lalu aku harus tinggal di mana? Masa' iya aku harus jadi gembel? Aaah... gak mau...," ucap Rosalina lirih sambil mewek dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Rosa!"
Suara teriakan yang menyebutkan namanya itu membuatnya kaget dan menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Mama?!" celetuk Rosalina dengan menampakkan wajah kagetnya.
"Ngapain kamu di sana? Cepetan ke sini!" perintah Bu Ratih sambil melambaikan tangannya untuk memanggil Rosalina agar mendekat padanya.
Rosalina pun berjalan mendekat ke arah mamanya yang sedang berdiri di depan rumahnya. Dengan langkah malasnya Rosalina memberikan senyum lebarnya agar mamanya itu tidak bertanya macam-macam padanya.
"Ma, apa kabar? Baik kan? Tentu baik dong. Rosa lihat Mama tambah cantik aja. Sekarang Rosa mau mandi dulu Ma, gerah banget soalnya," ucap Rosalina, kemudian dia mencium pipi kanan dan pipi kiri mamanya dan berlari kecil masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa dia? Ngomongnya cepat banget, Mamanya ini jadi gak ada kesempatan ngomong. Mau ngomong apa ya aku tadi? Tuh kan... lupa jadinya. Ckckck... Rosa... Rosa...," gerutu Bu Ratih sambil melihat ke arah dalam rumahnya.
"Yes... selamat... !" seru Rosalina dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Setelah mandi berlama-lama dia melakukan ritual mandinya, akhirnya dia keluar dari kamar mandinya itu dan mengganti pakaiannya.
"Aaah... segarnyaaaa... udah lama gak luluran dan berendam, serasa sekarang aku sudah hidup kembali. Biasanya nih kalau aku mandi, pasti takut kalau Chintya nyariin, jadi gak bisa mandi lama. Dan sekarang... aku udah bebas... se... nang... nya... Tapi kenapa aku malah merasa kehilangan? Aku sama sekali gak merasa senang."
Rosalina mengatakannya dengan senang dan matanya berbinar, tapi ketika dia mengingat baby Chintya, dia merasa sedih mengingatnya. Bayangan senyuman Chintya dan kebersamaan mereka selama ini membuat Rosalina merasa kehilangannya.
"Ah sudahlah, selanjutnya aku harus cari cara agar terhindar dari Mama untuk sementara waktu. Tapi bagaimana caranya? Mana sekarang perut aku sedang lapar lagi. Masa' iya aku harus menunggu Mama dan yang lainnya tidur dulu?" ucap Rosalina sambil memikirkan cara agar dia bisa keluar dari kamarnya untuk mengambil makanan tanpa bertemu dengan anggota keluarganya yang lain.
Bu Ratih menunggu Rosalina di ruang tengah sambil menonton tayangan televisi. Semua makanan sudah disiapkannya, hanya tinggal menunggu suaminya saja yang pulang agak telat malam ini.
"Lama sekali anak itu, apa aku harus memanggilnya? Tapi apa aku harus memberi tahu pada Kenzo terlebih dahulu? Bukannya lebih baik aku tanyakan pada Rosalina terlebih dahulu saja? Ah aku jadi gak sabar menanti putriku itu menikah," ucap Bu Ratih sambil melihat ke arah pintu kamar Rosalina.
__ADS_1
Tak... tak... tak...
Kedua adik kembar Rosalina turun dari tangga lantai atas yang terdapat kamar mereka berdua serta kamar Rosalina.
Rava dan Ravi mendekat ke arah mamanya yang sedang memainkan ponselnya sambil menyalakan televisi yang tidak ditontonnya.
"Ma... lapar... belum waktunya makan ya?" tanya Rava yang duduk di sebelah kanan mamanya sambil menyandarkan kepalanya pada pundak mamanya.
"Papa belum pulang ya Ma?" tanya Ravi yang duduk di sebelah kanan mamanya dan melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Ravi.
"Kalian sudah lapar? Papa masih belum pulang. Tapi kakak kalian sudah pulang, dia ada di dalam kamarnya," tutur Bu Ratih sambil mengusap rambut kedua putranya menggunakan kedua tangannya.
Rava menegakkan kepalanya, kemudian dia menghadap pada mamanya dan bertanya,
"Beneran Ma? Kak Rosalina sudah pulang?"
Bu Ratih menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Rava dan Ravi tampak senang mendengar Rosalina sudah pulang. Dengan segera mereka beranjak dari duduknya dan berlari kecil menuju kamar Rosalina.
Tok... tok... tok...
"Kak... Kakak... Kak Rosa ada di dalam? Cepat buka pintunya Kak!" seru Rava sambil mengetuk pintu.
"Kak Rosa... cepat buka pintunya! Kami mau masuk Kak...," seru Ravi bersahutan dengan seruan Rava.
Ceklek!
Pintu kamar itupun terbuka. Rava dan Ravi segera memeluk tubuh Rosalina, kakak yang paling dirindukannya.
"Kak Rosa ke mana aja sih? Aku kangen sama Kakak," ucap Ravi sambil memeluk Rosalina.
__ADS_1
"Kak Rosa gak kangen ya sama Rava? Padahal Rava kangen banget sama Kakak," sahut Rava sambil memeluk Rosalina.
"Maaf ya... Kakak pulangnya lama. Tentu saja Kak Rosa kangen sama kalian berdua. Kalian itu adik Kakak yang paling pintar dan baik. Kalian jadi anak yang baik dan penurut kan selama Kakak tidak berada di rumah?"
Roalina sangat terharu mengatakannya. Entah mengapa matanya kini berkaca-kaca. Lagi-lagi dia teringat dengan baby Chintya yang kemungkinan akan rewel jika tidak ada dirinya bersamanya.
Bukannya Rosalina sok dibutuhkan oleh baby Chintya, sesuai dengan apa yang diberitahukan oleh bik Narmi dan Kenzo bahwa hanya Rosalina yang dapat membuat baby Chintya menjadi bayi yang tenang dan tidak rewel.
Dia juga sudah membuktikannya sendiri ketika dia menitipkan baby Chintya pada bik Narmi hanya beberapa saat saja dan baby Chintya benar-benar menangis dengan kencangnya hingga bik Narmi tidaj bisa menenangkannya sampai Rosalina datang menggendongnya, tangisan baby Chintya pun berangsur berhenti.
Seperti sulap dan hipnotis, tapi itulah yang sebenarnya terjadi. Rosalina sangat dibutuhkan oleh baby Chintya dan kini dia meninggalkannya dengan sejuta keraguan yang menghimpit dadanya.
Rosalina benar-benar takut jika baby Chintya sakit karena terus-terusan rewel dan menangis jika tidak bersamanya.
Apa Chintya baik-baik saja saat ini? Rosalina berkata dalam hatinya setelah mendengarkan keluh kesah dari kedua adik kembarnya itu.
"Kak Rosa, kita makan yuk... Rava sudah sangat lapar sekali sekarang," ucap Rava sambil memegang perutnya.
"Ravi juga Kak. Kita makan sekarang yuk Kak...," sahut Ravi sambil menarik tangan Rosalina untuk mengajaknya ke ruang makan.
Rosalina berjalan dengan menggandeng kedua adik kembarnya itu. Bukan hanya kedua adik kembarnya saja yang rindu terhadapnya, bahkan Rosalina sendiri sangat rindu pada mereka berdua. Karena memang Rosalina lah yang sehari-harinya bersama mereka berdua selama mama dan papanya bekerja.
"Sebentar lagi Papa datang, kalian duduk saja di ruang makan dan tolong siapkan jika ada yang kurang," ucap Bu Ratih ketika melihat Rosalina dan kedua adik kembarnya berjualan menuju meja makan.
Kemudian Bu Ratih berjalan menuju luar rumah menunggu suaminya datang.
Drrrt... drrrttt... drrttt...
Tiba-tiba ponsel Rosalina yang berada dalam saku celananya bergetar. Dengan ragu dan hati yang berdebar, diambilnya ponsel itu dari saku celananya.
Matanya terbelalak ketika melihat layar ponselnya itu.
__ADS_1