Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 59 Antara hati dan harga diri


__ADS_3

"Bik, di mana Rosalina sekarang?"


Pertanyaan Venita ini membuat Bik Narmi menjadi bingung. Memnag benar nama Rosalina ditunggu-tunggu oleh Bik Narmi disebut oleh Venita untuk merawat Kenzo. Hanya saja Bik Narmi tidak tahu harus mencari Rosalina di mana, karena Kenzo sendiri yang mengatakan bahwa Rosalina tidak ada di rumahnya.


"Saya kurang tau Nyonya. Coba saja Nyonya hubungi Rosalina menggunakan ponselnya Tuan Kenzo," ucap Bik Narmi ragu.


Venita tidak berpikir lagi, dia segera mencari nama Rosalina pada kontak telepon milik Kenzo. Ditekannya tombol call ketika sudah menemukan kontak Rosalina.


Namun, telepon itu tidak diangkat oleh Rosalina. Hingga terhitung sepuluh kali panggilan Rosalina tetap tidak menerima telepon tersebut.


Venita yang tidak sabaran segera mengambil ponselnya dan menekan angka di ponselnya dengan melihat nomor ponsel Rosalina yang tertera pada ponsel Kenzo.


Di rumah Rosalina, mereka sedang makan malam bersama. Papa Rosalina sangat senang karena mendengar putrinya itu telah memutuskan kembali untuk tinggal di rumah.


Banyak sekali hal yang ingin diketahui oleh Rendra, papa Rosalina. Sayangnya ketika Rosalina akan menjawabnya, ponselnya kembali berbunyi.


"Rosa, itu udah dari tadi loh bunyi terus. Lebih baik kamu angkat dulu saja. Nanti kita teruskan pembicaraannya," tutur Ratih yang sedang meletakkan beberapa cangkir teh hangat di atas meja.


Kini Rosalina, mama dan papanya sedang berkumpul di ruang tengah, mengobrol sambil menonton tayangan televisi.


"Gak usah Ma. Gak penting juga," ucap Rosalina dengan tersenyum paksa.


"Gak mungkin gak penting Rosa. Itu sampai menelepon berkali-kali berarti telepon itu sangat penting," sahut Rendra setelah memimpin teh hangat buatan istrinya.


"Sudah, angkat saja dulu," tutur Ratih yang kini sudah duduk di sebelah Rendra.


"Biarin aja Ma. Rosa matiin aja HP nya," ucap Rosalina sambil meraih ponselnya yang sedari tadi dia letakkan di atas meja.


"Dari siapa sih? Kenzo?" tanya Ratih sambil tersenyum menggoda pada Rosalina.


"Kenzo siapa Ma?" sahut Rendra penasaran.


"Ehemmm... pacar Rosalina Pa," jawab Ratih sambil terkekeh.


"Mama! Bukan kok, dia bukan siapa-siapa," sahut Rosalina dengan salah tingkah.


"Ya sudah, kalau bukan siapa-siapa angkat dong teleponnya," tukas Rendra sambil terkekeh.

__ADS_1


Rosalina menghela nafasnya, dia tahu jika sudah seperti ini dia akan kalah berdebat dengan mama dan papanya. Sebab kedua orang tuanya itu selalu saja menggoda Rosalina jika menyangkut masalah pasangan.


Ponsel Rosalina kembali berdering dan itu membuat perhatian mereka beralih pada ponsel yang sedang dipegang oleh Rosalina.


Rosalina hanya diam menatap layar ponselnya. Pasalnya nomor yang tertera pada layar ponselnya itu tidak dikenalnya.


"Rosa, diangkat dong. Kasihan kan dari tadi telepon terus," tutur Rendra sambil memperhatikan Rosalina.


"Sini, biar Mama saja yang angkat teleponnya," tukas Ratih sambil mengulurkan tangannya untuk meminta ponsel Rosalina.


Sontak saja Rosalina menerima telepon tersebut agar mamanya tidak mengambil ponselnya.


"Halo," ucap Rosalina ragu pada orang yang meneleponnya.


Ini Rosalina kan? suara seorang wanita di telepon tersebut bertanya pada Rosalina.


"Iya benar. Maaf, ini siapa ya?" tanya Rosalina dengan mengernyitkan dahinya.


Saya mamanya Kenzo. Kamu harus segera datang ke sini karena Kenzo sedang sakit. Dia sangat membutuhkanmu, jawab Venita dengan sangat menuntut.


"Maaf Nyonya, tapi saya sudah-"


"Tapi-"


Demi Kenzo. Apa kamu tega melihat dia menderita kesakitan hanya karena ingin bertemu denganmu? Venita mulai kehilangan kesabarannya, karena dia tidak mau terjadi apa-apa pada putra semata wayangnya.


Rosalina terdiam, tiba-tiba air matanya menetes. Hatinya sangat sakit karena mendengar Kenzo, orang yang dicintainya saat ini sedang sakit dan sangat membutuhkannya


Tapi dia tidak bisa begitu saja membatalkan niatnya untuk menjauhi Kenzo. Karena akan ada banyak hal yang terjadi jika mereka tetap bersama. Banyak rintangan yang tidak menyetujui hubungan mereka dan itu semua dari pihak Kenzo.


Saya mohon, ucap Venita dengan suara lirih.


Venita merendahkan harga dirinya dengan memohon pada Rosalina demi Kenzo, putranya yang kini sedang terbaring sakit dengan menyebutkan nama Rosalina.


Seketika Rosalina terhenyak, dia tidak mengira seorang Venita memohon padanya. Seorang wanita terhormat yang selalu berpenampilan anggun dan mewah, kini memohon padanya.


"Tapi, saya...," Rosalina ragu melanjutkan perkataannya karena hatinya menyuruhnya untuk datang menemui Kenzo, hanya saja harga dirinya menolak untuk menemui Kenzo.

__ADS_1


Jika kamu memang tidak datang, berarti benar dugaan saya. Kamu tidak tulus mencintainya, kamu hanya memanfaatkannya saja, tukas Venita dengan tegas.


Rosalina menggelengkan kepalanya, air matanya kembali menetes. Sungguh dia sangat ingin berlari menemui Kenzo saat ini.


Tuhan... apa yang harus ku lakukan? Rosalina bertanya dalam hatinya.


Jika kamu tidak datang ke sini, akan saya pastikan kalian tidak akan bertemu lagi, meskipun itu akan membuat Kenzo menderita, Venita mengeluarkan ancamannya agar Rosalina segera datang tanpa banyak pertimbangan lagi.


"Saya akan datang," sahut Rosalina tanpa sadar.


Venita mengeluarkan smirk nya, dia sangat tahu jika hanya dengan gertakan seperti itu saja Rosalina akan datang menemuinya.


Setelah mendengar jawaban dari Rosalina, telepon itu segera dimatikan oleh Venita.


"Bagaimana Nyonya?" tanya Bik Narmi penasaran.


"Sebentar lagi dia akan datang," jawab Venita dengan tersenyum licik.


Sedangkan di rumah Rosalina, kedua orang tuanya menatap penuh tanda tanya pada Rosalina.


"Hufffttt... iya, Rosa akan jelaskan. Tapi biarkan Rosa pergi dulu sebentar. Kenzo sedang sakit, dia membutuhkan Rosa saat ini," ucap Rosalina tanpa berpikir lagi.


Ratih dan Rendra saling menatap. Setelah itu mereka sama-sama tersenyum.


"Akhirnya Pa, putri kita akan menikah. Kenzo keren loh Pa. Dia ganteng dan kelihatannya juga kaya. Yang terpenting, Mama yakin jika dia mencintai Rosalina. Buktinya tadi pas dia ke sini mengatakan jika dia akan segera menikahi Rosalina," tutur Ratih pada Rendra dengan mata yang berbinar.


Mulut Rosalina menganga, dia tidak menyangka jika obrolan Kenzo dengan mamanya sudah sejauh itu.


"Ayo Rosa, Papa antar kamu ke sana. Ini audah malam, tidak baik jika kamu naik angkutan umum ataupun ojek," tukas Rendra sambil beranjak dari duduknya.


"Lagian kamu tuh aneh Rosa. Yang lainnya pada bisa naik motor, kamu malah takut naik motor," sahut Ratih sambil menggelengkan kepalanya, heran pada tingkah putrinya.


"Lebih enak jadi penumpang Ma daripada jadi sopir," jawab Rosalina sambil terkekeh.


"Sudah, ayo buruan Rosa. Papa tunggu di dalam mobil ya," ucap Rendra sambil berjalan mengambil kunci mobilnya.


Rosalina segera berlari kecil menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan mengambil sling bag nya.

__ADS_1


"Rosa, jangan lupa sampaikan salam Mama untuk menantu Mama," ucap Ratih sambil terkekeh.


__ADS_2