
Mobil Rendi melaju cepat membelah keramaian jalan menuju rumah Kenzo. Sesampainya di rumah Kenzo, Rendi segera membunyikan klaksonnya agar penjaga keamanan rumah Kenzo membukakan pagar rumah Kenzo untuknya.
Pak Saleh segera keluar dari pos jaganya ketika mendengar klakson mobil yang dibunyikan oleh Rendi.
"Mau bertemu dengan siapa Mas?" tanya pak Saleh pada Rendi.
"Saya mau bertemu dengan Rosalina Pak, bisa dibukakan pintunya?" ucap Rendi dari dalam mobil dengan membuka kaca jendelanya.
"Maaf Mas, Mbak Rosalina sedang tidak ada di rumah," tukas Pak Saleh, kemudian kembali ke pos jaganya.
Rendi kembali menghela nafasnya. Sepertinya dia tidak akan mudah menemui Rosalina untuk sekarang ini.
"Sepertinya tidak akan mudah untuk aku menemui Rosalina jika dia masih berada di rumah ini. Aku harus mengeluarkannya dari rumah ini," ucap Rendi yang bermonolog di dalam mobil.
Tekatnya kuat untuk bisa membebaskan Rosalina dari pekerjaannya sebagai baby sitter dari seorang Kenzo yang dinilai sangat galak dan menekan Rosalina seperti pembantu pada umumnya.
Rendi mengemudikan mobilnya menuju rumahnya dengan perasaan yang sangat kesal. Niatnya tadi dia akan memberikan tas itu pada Rosalina agar Rosalina bisa segera menjalani hidupnya seperti sedia kala.
Namun, kini semuanya hanyalah angannya saja. Dia harus kembali ke rumahnya tanpa membawa Rosalina keluar dari rumah Kenzo.
Setelah kepergian Rendi dari depan rumah Kenzo, Pak Saleh segera melaporkan pada Kenzo mengenai kedatangan Rendi. Dan tentunya Pak Saleh mematuhi apa yang diperintahkan oleh Kenzo.
Kenzo memerintahkan pada Pak Saleh agar tidak memberikan ijin ketika Rendi akan menemui Rosalina. Apapun keadaannya Kenzo tidak mau melihat Rendi menemui Rosalina, apalagi di rumahnya.
Mendengar laporan dari Pak Saleh, Kenzo merasa senang dan sedikit lega. Dia berharap jika Rendi akan jera dan tidak akan lagi berani datang ke rumah Kenzo untuk menemui Rosalina.
Ternyata dugaan Kenzo salah. Ketika Kenzo akan berangkat ke kantor, Rendi sudah datang dan kini dia menunggu di dekat rumah Kenzo.
Rendi sengaja menunggu di sana karena dia tahu jika Kenzo pasti akan berangkat bekerja pagi hari. Itulah waktu yang tepat baginya untuk menemui Rosalina.
Setelah Rendi melihat mobil Kenzo keluar dari rumahnya, dengan cekatan Rendi berlari menuju rumah Kenzo sebelum pagar rumahnya ditutup oleh penjaga keamanan yang saat itu berjaga bukan Pak Saleh, melainkan Pak Mail.
"Tunggu Pak, saya mau bertemu dengan Rosalina," ucap Rendi yang terengah-engah setelah berlari dari mobilnya menuju rumah Kenzo.
"Mbak Rosalina yang baby sitter itu?" tanya Pak Mail pada Rendi dengan tatapan menyelidik.
"Iya Pak, saya Rendi pacarnya. Saya minta tolong pada Bapak untuk memanggilnya sebentar," tukas Rendi sambil menetralkan nafasnya
Pak Mail memandang Rendi dari atas hingga bawah, kemudian dia berjalan menuju pos jaganya. Rendi memandang heran pada Pak Mail yang meninggalkannya tanpa berbicara apapun.
__ADS_1
Terlihat Pak Mail sedang berbicara melalui telepon, kemudian dia kembali mendekati Rendi.
"Mas tunggu di sini dulu. Sebentar lagi Mbak Rosalina akan datang," ucap Pak Mail yang masih melihat Rendi dengan tatapan waspada.
"Terima kasih Pak," ucap Rendi dengan antusias dan sangat bahagia.
Ternyata Pak Mail belum menerima pesan dari Pak Saleh tentang larangan Kenzo mengenai Rendi. Kenzo tidak memperbolehkan Rendi datang untuk menemui Rosalina dengan apapun alasannya.
Kini baby Chintya sedang tertidur di kamarnya. Rosalina bingung apa dia harus meninggalkan baby Chintya untuk menemui Rendi atau diajaknya dalam keadaan tertidur dalam gendongannya.
Ah pasti sangat tidak nyaman jika dia tertidur dalam gendonganku. Dia sudah tidur nyenyak sekarang, pasti nanti dia bangunnya lama sama seperti biasanya. Aku tinggal di sini aja deh sebentar, Rosalina berkata dalam hatinya.
Melangkah lah kaki Rosalina keluar dari kamar baby Chintya dengan meninggalkan baby Chintya sendiri di dalam kamar tersebut.
Beberapa saat kemudian datanglah Rosalina menemui Rendi seorang diri tanpa membawa baby Chintya dengannya.
"Ren, kenapa pagi-pagi udah ada di sini?" tanya Rosalina yang baru saja datang.
Suara Rosalina mengagetkan Rendi yang sedang mengutak-atik ponselnya ketika sedang menunggu Rosalina datang menemuinya.
"Rosa?!" seru Rendi yang kaget mendengar suara Rosalina sambil menoleh padanya.
"Aku ke sini hanya ingin memberikan sesuatu padamu," ucap Rendi sambil tersenyum manis pada Rosalina.
Rosalina memicingkan matanya menatap ke arah Rendi. Dia tidak tahu dengan apa yang akan diberikan Rendi padanya.
"Perasaan aku gak nitip apa-apa ke kamu Ren," ucap Rosalina heran.
"Ayo ikut," tukas Rendi sambil menarik tangan Rosalina menuju mobilnya.
Rosalina yang tiba-tiba merasa kaget karena tangannya ditarik oleh Rendi hanya bisa mengikuti Rendi dan tidak bisa berontak. Bahkan melepaskan tangannya dari tangan Rendi pun dia tidak bisa. Kekuatannya tak sebanding kekuatan Rendi.
"Eeeeh... eeeh... eeeh... Mbak Rosalina nya mau dibawa ke mana?" tegur Pak Mail sambil berlari mengikuti Rendi yang berjalan dengan menarik tangan Rosalina.
Rendi pun menghentikan langkahnya ketika mengetahui Pak Mail sedang mengikuti mereka. Secara otomatis langkah kaki Rosalina pun ikut terhenti.
"Bapak tenang saja, saya tidak akan menculik Rosalina. Dia pacar saya Pak dan saya hanya ingin memberinya sesuatu. Barangnya ada di mobil saya Pak, mangkanya saya mengajak dia untuk masuk ke dalam mobil saya," ucap Rendi meyakinkan Pak Mail.
"Beneran Mbak dia gak bakalan ngapa-ngapain Mbak?" tanya Pak Mail dengan tatapan menyelidik pada Rosalina.
__ADS_1
"Bapak tenang saja, dia bukan orang jahat kok Pak. Dan saya sudah kenal baik dengannya," jawab Rosalina sambil tersenyum mencoba untuk meyakinkan Pak Mail.
Sejenak Pak Mail menatap Rosalina dan Rendi bergantian. Setelah itu dia meninggalkan mereka berdua kembali ke pos jaganya.
"Rosa, ayo masuk ke dalam mobilku," ucap Rendi sambil menarik kembali tangan Rosalina.
Rendi membukakan pintu mobil Rosalina untuk masuk ke dalam mobilnya. Kemudian dia segera berjalan cepat masuk ke dalam mobilnya, duduk di kursi pengemudi.
Tangan Rendi terulur ke belakang untuk mengambil goody bag di jok belakang dan memberikannya pada Rosalina.
"Ini buat kamu," ucap Rendi sambil memberikan goody bag tersebut pada Rosalina.
Rosalina menatap goody bag dengan tulisan brand ternama yang selalu menjadi incarannya.
"Rosa, ini... ayo ambil," tukas Rendi kemudian.
Dengan ragu Rosalina mengambilnya, kemudian dia menatap Rendi seolah bertanya apa benda di dalamnya dan apa maksudnya.
Rendi tersenyum manis pada Rosalina. Dia tahu pandangan penuh tanya Rosalina itu padanya.
"Bukalah Rosa, itu untuk kamu," ucap Rendi yang masih tersenyum manis padanya.
Dengan antusias Rosa membuka goody bag tersebut. Matanya membelalak sempurna ketika dia membuka gift box yang di atasnya bertuliskan brand ternama itu.
"I-ini... ini...," ucapnya ragu sambil menatap benda tersebut tanpa berkedip.
"Itu buat kamu. Aku ingin kamu memakainya," sahut Rendi sambil menatap Rosalina yang tidak tidak juga beralih menatapnya.
Rosalina masih saja memandangi tas dari brand ternama dan limited edition itu. Senyum sumrigahnya terlihat jelas di wajahnya meskipun dia tidak menatap ke arah lain selain tas tersebut.
"Waaah... bagus sekali," ucap Rosalina dengan mata yang berbinar.
"Kamu suka?" tanya Rendi yang berusaha mengalihkan perhatian Rosalina dari tas tersebut.
"Banget," jawab Rosalina dengan membolak-balikkan tas tersebut.
"Sekarang... apa kamu bisa keluar dari pekerjaan itu?" tanya Rendi pada Rosalina.
Pertanyaan Rendi itu mampu membuat Rosalina beralih menatapnya.
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Rosalina dengan wajah bingung pada Rendi.