
Venita mengeluarkan smirk nya mendengar cerita dari bik Narmi. Perlahan dia mengumpulkan informasi dari orang-orang tertentu. Sayangnya dia tidak percaya begitu saja pada informasi yang diberikan oleh Dina dan bik Narmi. Dia hanya percaya pada informasi yang diberikan oleh orang suruhannya beserta bukti yang mereka dapatkan.
"Bik, apa Nyonya Venita sudah pulang?" tanya Rosalina pada bik Narmi yang sedang melewati kamar baby Chintya.
"Sudah Ros. Apa kamu gak akan mengajak Chintya keluar dari kamarnya?" tanya bik Narmi pada Rosalina yang sedang bermain bersama Chintya.
Rosalina tersenyum lebar menampakkan deretan giginya. Dia malu pada bik Narmi jika ketahuan menghindari Venita, mama dari Kenzo yang sepertinya menentang hubungannya bersama dengan Kenzo.
"Ada apa Ros? Apa kamu takut bertemu dengan Nyonya Venita?" tanya bik Narmi dengan tatapan menyelidik.
Rosalina membelalakkan matanya, dia tidak mengira jika akhirnya bik Narmi mengetahuinya.
Ternyata Bik Narmi tau jika aku memang menghindari Nyonya Venita. Apa aku harus berterus terang saja pada bik Narmi? Rosalina berkata dalam hatinya sambil tersenyum lebar pada bik Narmi.
"Sampai kapan kamu akan menghindarinya Rosa? Hadapi saja Nyonya karena kamu tidak bersalah. Kamu tidak melakukan kesalahan dan jika beliau bertanya, kamu harus menjawab yang sebenarnya, karena dia paling tidak suka jika dibohongi, apalagi dengan orang yang dekat dengannya," tutur bik Narmi sambil mengusap pundak Rosalina.
Rosalina tersenyum pada bik Narmi. Kemudian dia berkata,
"Baiklah Bik, Rosa akan melakukan apa yang Bibik katakan."
"Kamu gadis yang baik Rosa. Bibik yakin jika kamu tidak seperti apa yang dibicarakan oleh orang lain," ucap bik Narmi dengan senyumnya yang menenangkan.
"Dikatakan orang lain? Siapa Bik? Apa yang dikatakan merek tentang saya?" tanya Rosalina dengan rasa ingin tahunya.
Bik Narmi kembali tersenyum, dia menepuk-nepuk halus pundak Rosalina sambil berkata,
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Kamu hanya tinggal memikirkan saja bagaimana kelanjutan hubungan kalian berdua. Bibik sangat mendukung hubungan kalian berdua."
"Tapi Bik...," Rosalina tidak dapat menyelesaikan perkataannya, dia ragu untuk mengatakannya.
"Bibik tidak pernah melihat Tuan Kenzo seperti ini. Dia sangat bahagia sekali bersamamu. Dan Bibik yakin jika Tuan Kenzo sangat mencintaimu," tutur bik Narmi dengan menggenggam tangan Rosalina untuk meyakinkannya.
Rosalina terdiam, dia hanya mendengarkan penuturan dari bik Narmi sambil memikirkannya. Dan dia memberikan senyumannya pada bik Narmi ketika bik Narmi tersenyum padanya.
__ADS_1
Setelah perbincangannya bersama dengan bik Narmi, Rosalina memikirkan tentang hubungannya bersama dengan Kenzo. Yang membuatnya berat adalah dia takut jika keluarga Kenzo tidak merestui hubungan mereka.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya dan Kenzo jika mereka sudah berkomitmen untuk menikah tapi tidak direstui oleh orang tua Kenzo.
Untuk keluarga Rosalina, dia yakin jika kedua orang tuanya tidak mempermasalahkan apapun karena mereka tidak memiliki kriteria khusus untuk calon suami Rosalina.
Bahkan Mamanya sering menyuruh Rosalina untuk berpacaran, sayangnya Rosalina enggan berpacaran sejak dia dikecewakan oleh mantan pacarnya waktu itu.
"Huffffttt... kenapa hanya masalah seperti ini saja bisa serumit ini? Apa aku harus keluar dari rumah ini agar aku bisa lepas dari semuanya? Tapi... bagaimana dengan dia? Dan bagaimana pula dengan hatiku? Apa dia akan baik-baik saja apabila jauh dariku? Dan bagaimana dengan aku? Apa aku juga akan baik-baik saja jika jauh darinya? Oh Tuhan.... aku harus bagaimana?" ucap Rosalina lirih sambil memperhatikan baby Chintya yang sedang belajar merangkak.
"Kamu siapa? Kenapa kamu bisa berada di depan rumah anak saya?" tanya Venita pada seseorang yang sedang berada di dalam mobilnya dan terlihat sedari tadi memperhatikan ke arah rumah Kenzo.
Di belakang Venita terlihat dua seorang laki-laki berbadan kekar yang bertugas menjaganya. Laki-laki kekar tersebut memandang pada orang yang berada di dalam mobil tersebut dengan bengis.
"Saya... saya hanya ingin bertemu dengan seseorang," jawab orang yang berada di dalam mobil tersebut.
"Orang yang ada di dalam rumah itu?" tanya Venita sambil menunjuk rumah Kenzo.
"I-iya benar," jawab orang tersebut gugup karena bodyguard Venita membuatnya sangat ketakutan.
"Di-dia bekerja sebagai baby sitter di rumah itu," jawab orang tersebut dengan menelan ludahnya karena ketakutan.
"Baby sitter? Siapa namanya?" tanya Venita dengan gaya menyelidiknya.
"Rosalina," jawab orang tersebut dengan cepat.
"Ada perlu apa kamu ingin menemuinya? Dan sebenarnya anda ini siapanya Rosalina?" tanya Venita kembali semakin penasaran.
Orang tersebut menghela nafasnya agar sedikit lebih tenang. Dia kira jika dia sudah menjawab semua pertanyaan Venita tadi, dia akan dilepaskan, ternyata Venita masih saja mengejarnya dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang membuatnya berpikir ketika menjawabnya.
"Saya... saya...," orang tersebut ragu menjawabnya.
"Apa dia adik anda? Saudara anda?" tanya Venita kembali.
__ADS_1
"Bukan," jawab orang tersebut dengan cepat.
"Baiklah, karena anda bukan siapa-siapanya, anda harus ikut kami karena anda saya laporkan sebagai penguntit di rumah anak saya," tutur Venita sambil tangannya memberikan kode pada bodyguard nya untuk menangkap orang tersebut.
Mata orang tersebut terbelalak kaget. Tampak sekali dia sangat takut JJ ika bermasalah dengan bodyguard Venita, apalagi berhubungan dengan polisi.
"Saya pacarnya. Saya pacar Rosalina," ucap orang tersebut dengan cepat sebelum bodyguard Venita menangkapnya.
Mata Venita terbelalak. Dia sangat terkejut dengan apa yang didengarnya. Batu saja dia mendengarkan hal-hal baik dari bik Narmi tentang Rosalina, kini dia dihadapkan dengan kenyataan lain yang membuatnya sangat tercengang.
Ya, benar, orang yang berada dalam mobil tersebut adalah Rendi. Dia sudah mengintai rumah Kenzo berhari-hari demi keinginannya untuk bisa menemui Rosalina, gadis yang sedari dulu dicintainya.
"Siapa namamu?" tanya Venita dengan emosi yang sudah tidak bisa ditahannya lagi.
Venita amat sangat marah mendengar bahwa Rosalina sudah memiliki pacar, karena dia takut jika Kenzo akan kembali terluka mengulang cerita kegagalan rumah tangganya.
"Nama saya Rendi," jawab Rendi dengan menahan kegugupannya.
"Bawa dia ke dalam rumah Kenzo!" perintah Venita pada bodyguard nya.
Rendi benar-benar terkejut. Dia memang ingin sekali bertemu dengan Rosalina, hanya saja bukan dengan cara seperti itu. Dia takut jika Rosalina marah padanya karena mengaku sebagai pacarnya dan dia juga takut jika Rosalina membencinya sehingga tidak mau menemuinya lagi.
Rendi benar-benar tidak bisa menghindar lagi, dia sudah terperangkap oleh jaringnya sendiri. Kini dia dibawa oleh bodyguard Venita masuk ke dalam rumah Kenzo.
"Ada apa Nyonya? Kenapa Mas ini dibawa seperti ini?" tanya Pak Mail yang sedang berjaga saat itu.
"Dia akan saya bawa masuk ke dalam sana. Cepat buka pintunya!" Venita memerintah Pak Mail dengan tegas dan emosinya pun terlihat jelas.
"Tapi Nyonya...," Pak Mail ragu mengatakan alasannya, dia ketakutan dengan Venita yang sudah terbalut oleh emosi.
"Kenapa?" tanya Venita layaknya orang yang sedang menantang.
"Tuan Kenzo...."
__ADS_1
Tin... tin... tin...