
Rendi sibuk menghubungi Rosalina, sayangnya dari sekian banyaknya panggilan telepon darinya tidak ada yang diangkat oleh Rosalina.
Cemas dan khawatir yang dirasakannya saat ini. Dia sangat mencintai Rosalina sejak dulu dan rasanya itu tidak bisa digantikan oleh perempuan lain.
Kali ini dia berjanji pada dirinya sendiri agar tidak menyerah seperti waktu itu. Menyerah karena kalah cepat dengan Raihan sehingga Rosalina kini dicampakkan olehnya.
Dia sangat tidak tega ketika melihat Rosalina yang sedang menangis karena patah hati. Dia merasakan ikut sakit hati melihat Rosalina yang hampir seperti mayat hidup selama beberapa minggu karena merasakan sakit hati pada Raihan, laki-laki yang menjadi cinta pertama bagi Rosalina.
"Kemana sih nih anak? Kebiasaan deh, pasti HP nya ditaruh di tasnya," Rendi menggerutu sambil menghubungi Rosalina.
"Hatchi... hatchi...," Rosalina tiba-tiba bersin ketika sedang mendorong baby Chintya dalam stroller bayi.
"Kamu sakit?" tanya Kenzo yang tiba-tiba berada di belakangnya.
"Eh Om Kenzo. Mau berangkat ya Om?" tanya Rosalina yang menoleh ke belakang melihat Kenzo.
"Kalau kamu sakit istirahat saja di dalam kamar. Gak usah jalan-jalan," tukas Kenzo sambil membenarkan dasinya.
"Gak sakit kok Om, cuma bersin aja. Pasti ada yang membicarakan saya," ucap Rosalina sambil mengusap-usap hidungnya.
"Itu masih miring Om," ucap Rosalina sambil menunjuk dasi Kenzo.
Kenzo berusaha membenarkan dasinya tanpa cermin karena mereka sedang berasa di halaman rumahnya.
"Sini deh Om, Rosa bantu," ucap Rosalina yang dengan cepatnya tangannya sudah meraih dasi Kenzo dan mencoba merapikannya.
Glek!
Kenzo menelan ludahnya ketika wajah Rosalina sangat dekat dengannya. Wajah Rosalina yang serius membenarkan dasi Kenzo itu membuat Kenzo salah tingkah. Dia ingin sekali mencicipi bibir pink alami milik Rosalina yang terpampang sangat dekat di matanya.
"Kamu pakai lipstik warna pink Ros?" tanya Kenzo tanpa sadar dengan matanya yang masih menatap bibir Rosalina.
"Enggak tuh Om. Rosa gak pernah pakai lipstik, kecuali jika ada acara saja," jawab Rosalina sambil membenarkan dasi Kenzo.
"Berarti sekarang kamu gak pakai lipstik?" tanya Kenzo kembali.
"Ya enggak lah Om, di rumah ngapain pakai lipstik?" ucap Rosalina sambil terkekeh.
Kenzo tersenyum dengan tatapan matanya yang masih mengarah pada bibir pink alami milik Rosalina. Tatapan Kenzo itu seperti dia ingin mencicipinya.
__ADS_1
"Rosa, ini HP kamu dari tadi bunyi terus," seru Bik Narmi dari depan pintu rumah.
Rosalina yang masih membenarkan dasi Kenzo, berhenti seketika. Kemudian dia melihat hasil kerjanya dan tersenyum puas ketika melihatnya.
"Udah Om, udah rapi banget itu dasinya," ucap Rosalina dengan tersenyum puas.
"Makasih ya," tukas Kenzo sambil tersenyum.
"Ini HP kamu bunyi terus, sepertinya ada telepon. Namanya Rendi," ucap bik Narmi ketika sudah berada di dekat Rosalina dan Kenzo berdiri.
"Oh terima kasih Bik," ucap Rosalina sambil tersenyum dan menerima ponselnya yang diulurkan bik Narmi padanya.
"Halo Ren, kenapa? Ke sini? Emmm...," Rosalina gugup menerima telepon dari Rendi di hadapan Kenzo.
Jelas-jelas semalam Kenzo melarangnya untuk menerima pernyataan cinta Rendi padanya. Terlebih lagi Kenzo melarangnya untuk bertemu dengannya karena tidak diperbolehkan untuk meninggalkan baby Chintya sendirian.
Kenzo menatapnya tajam sehingga membuat Rosalina semakin gelagapan dan memutuskan sambungan teleponnya tanpa menjawab pertanyaan Rendi.
Jelas saja Rendi sangat panik ketika teleponnya ditutup begitu saja oleh Rosalina. Karena tidak biasanya Rosalina seperti itu. Sesibuk apapun Rosalina selalu menutup teleponnya dengan ucapan perpisahan, tidak seperti itu tadi yang tiba-tiba ditutup tanpa mengatakan sesuatu padanya.
"Ayo masuk! Bawa dia masuk sekarang!" ucap Kenzo tegas dan menatap Rosalina seperti sedang menindasnya.
"Loh Om, kok duduk di situ, bukannya Om mau berangkat kerja?" tanya Rosalina dengan memperlihatkan wajah herannya.
"Terserah saya. Perusahaan milik saya, suka-suka saya dong," jawab Kenzo kesal dengan melepas kembali dasi yang sudah rapi dipasangkan Rosalina tadi.
"Yaa... yaa... yaaa... dilepas lagi dasinya. Kan tadi udah rapi loh Om, pakai banget malah. Kok dilepas sih?" tanya Rosalina tidak terima.
"Kan saya gak jadi berangkat kerja, ngapain di rumah pakai dasi?" tanya Kenzo yang masih saja kesal karena mendengar nama Rendi yang akan menemui Rosalina.
"Lah terus Om mau ngapain di rumah kalau gak kerja?" tanya Rosalina yang kini memperlihatkan kebingungannya.
"Main kartu. Ayo kamu main kartu sama saya," jawab Kenzo tanpa berpikir.
"Main kartu? Tapi Rosa gak bisa main kartu Om," ucap Rosalina sambil tersenyum lebar.
"Terus kamu bisanya main apa?" tanya Kenzo sambil mengerutkan dahinya.
"Main dakon Om," jawab Rosalina sambil terkekeh.
__ADS_1
"Hah dakon? Permainan apa itu?" tanya Kenzo heran.
Rosalina mengambil ponselnya dan mengutak-atiknya sebentar. Kemudian dia berjalan mendekati Kenzo.
"Ini loh Om," ucap Rosalina sambil memperlihatkan ponselnya yang memperlihatkan gambar permainan tradisional dakon.
"Saya gak punya kayak gini. Kita main yang lain saja," ucap Kenzo yang terbawa arus kekonyolan Rosalina.
"Main halma aja gimana Om? Atau kita main monopoli aja. Seru tuh Om," ucap Rosalina dengan mata yang berbinar.
"Kamu bercanda? Saya gak punya yang kayak gitu," tukas Kenzo sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Iiiih Om mah, kita kan bisa beli online Om, bisa datang sekarang juga," ucap Rosalina dengan mata yang berbinar.
"Terserah kamu aja deh. Pokoknya awas aja kalau kamu ninggalin bayi itu untuk bertemu lelaki yang bernama Rendi itu. Pasti nanti akan ku pot-"
"Tenang aja Om, saya lebih memilih gaji daripada lelaki," Rosalina menyela perkataan Kenzo.
"Bagus," ucap Kenzo sambil tersenyum senang mendengar perkataan Rosalina.
"Loh Tuan Kenzo kok masih di sini?" tanya bik Narmi yang akan membersihkan ruang tamu.
"Gak jadi bik. Bos nya lagi males. Entah seperti apa karyawannya jika Bos nya seperti itu," ucap Rosalina tanpa berpikir panjang.
"Kamu, berani kamu ya berkata seperti itu pada saya," tukas Kenzo sambil menunjuk Rosalina.
Rosalina yang baru sadar akan ucapannya berlari kecil menuju taman belakang untuk menghindari Kenzo.
Namun, Kenzo mengejarnya dan mereka saling berkejaran di taman belakang yang terdapat kolam renang di sana.
Bik Narmi heran dan tidak menyangka melihat Kenzo yang bersikap seperti itu. Selama ini Kenzo tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu, dia hanya melakukan hal serius seperti bekerja dan berolahraga.
Kini dia melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan karena seorang Rosalina, baby sitter yang baru beberapa hari tinggal bersamanya untuk mengasuh baby Chintya.
Keheranan bik Narmi berubah menjadi tawa ketika Kenzo berhasil mengejar Rosalina dan menangkapnya.
Namun, dengan sekuat tenaganya Rosalina berhasil meloloskan diri dari Kenzo.
Byur!
__ADS_1
"Rosa!"