Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 13 Keinginan Rendi


__ADS_3

"Tas ini kan udah kamu miliki, apa sekarang kamu bisa tidak bekerja lagi sebagai baby sitter di rumah itu?" tanya Rendi dengan menghadap ke arah Rosalina.


"Sebentar Ren, tas ini beneran buat aku?" tanya Rosalina dengan tatapan tidak percaya.


Rendi tersenyum, dia memegang pundak Rosalina dan menatap mata Rosalina dengan intens.


"Aku membelinya untukmu Rosa agar kamu tidak perlu lagi bekerja di rumah itu menjadi seorang baby sitter," jawab Rendi dengan memegang tangan Rosalina dan memberikan senyumnya.


"Tapi buat apa kamu memberiku tas ini?" tanya Rosalina dengan memperlihatkan wajah bingungnya.


"Karena kamu menginginkannya," jawab Rendi dengan senyumannya yang tidak pernah luntur dari bibirnya.


Rosalina mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti ke mana arah perkataan dari Rendi.


"Tapi tas ini harganya sangat mahal Ren, aku saja harus bekerja di sini dengan gaji lima kali lipat perbulannya supaya bisa membeli tas ini. Entah berapa bulan aku harus bekerja agar bisa membeli tas ini," ucap Rosalina yang kini pandangannya beralih ke tas yang masih dipegangnya.


"Itu sudah menjadi milikmu Rosa. Kamu tidak perlu bekerja di rumah itu lagi. Jalani hidupmu seperti dulu, kembalilah kuliah dan mari kita jalani hubungan kita sebagai pasangan," tukas Rendi sambil menggerakkan tangan Rosalina yang telah digenggamnya semenjak tadi.


"Kita sebagai pasangan? Maksudnya gimana, aku gak ngerti," ucap Rosalina dengan wajah bingungnya.


"Kita pacaran Rosa...," tukas Rendi sambil mencubit hidung mancung Rosalina.


"Hah, kita pacaran? Sejak kapan? Bukannya aku me-"


"Kamu hanya sedang bingung waktu itu. Kamu malu padaku karena aku mengetahui pekerjaan dan alasanmu bekerja, benar bukan? Sekarang kamu tidak perlu malu lagi. Tas ini juga sudah kamu miliki, keluarlah dari pekerjaanmu sekarang," tutur Rendi dengan suara lembut pada Rosalina.


Kenapa dia baik sekali padaku? Apa dia benar-benar menyukaiku? Tapi kita kan sudah berteman sejak lama, masa' tiba-tiba pacaran sih? Mana aku gak ada perasaan sama dia lagi. Rendi baik banget sih, apa aku pacaran aja ya sama dia? Rosalina berkata dalam hatinya.


"Rosa... Ros... Rosa... apa kamu mendengarkanku?" tanya Rendi sambil menggenggam lebih erat tangan Rosalina.


"Emmm... Ren, ini tasnya aku cicil gapapa kan? Aku gak bisa kalau langsung bayar ke kamu," ucap Rosalina dengan wajah mengiba.


"Hah, cicil? Buat apa Rosa...," tukas Rendi yang kaget mendengar perkataan Rosalina dan terkekeh di akhir perkataannya.

__ADS_1


"Karena aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu untuk keluar dari pekerjaanku," jawab Rosalina dengan entengnya.


"Kenapa begitu?" tanya Rendi penasaran.


"Karena aku sudah menandatangani kontrak kerja dan tidak bisa berhenti dengan sendirinya kecuali dipecat atau sesuai masa kerjaku di sana. Dan jika aku melanggarnya, aku harus membayar sepuluh kali lipat dari uang gajiku," jawab Rosalina tanpa berpikir.


"Apa? Kenapa bisa begitu? Ini jelas penipuan. Kamu bisa saja ditipu dengan alasan yang gak masuk akal agar bisa mengembalikan denda itu nantinya," ucap Rendi kesal dan berapi-api.


"Tidak Ren, Om Kenzo gak seperti itu. Dia benar-benar membutuhkan tenagaku untuk mengurus Chintya," jawab Rosalina sambil menatap Rendi agar dia percaya padanya.


"Kamu percaya sekali sama dia. Kamu gak jatuh cinta sama dia kan?" tanya Rendi menyelidik.


"Kamu ngomong apa sih Ren?" tanya Rosalina kesal.


"Maaf Rosa, aku hanya gak mau kamu lebih dekat dengan dia. Sepertinya dia hanya memanfaatkanmu saja," jawab Rendi dengan wajah menyesal.


Tiba-tiba saja ponsel Rosalina berbunyi hingga mengagetkan dua pasang manusia yang berstatus teman itu di dalam mobil.


"Ha-halo...," ucap Rosalina ketika sudah mengangkat telepon tersebut.


Kamu di mana? tanya orang yang berada di seberang sana.


"Emmm... di rumah kok Om," jawab Rosalina gugup.


Kamu jangan berbohong Rosa, aku tau kamu sedang apa sekarang, ucap Kenzo dari seberang sana melalui telepon.


Hah, dia tau? Kok bisa? Apa dia mengikutiku? Rosalina berkata dalam hatinya sambil melihat ke semua arah, mencari keberadaan Kenzo.


Atau mungkin dia memasang CCTV di tubuhku, Rosalina berkata dalam hatinya sambil bergidik ngeri membayangkannya.


"Enggak Om, aku ada di rumah kok, jadi Om jangan-"


Cepat masuk ke dalam rumah atau gaji kamu akan saya potong sepuluh persen, Kenzo mengancam Rosalina melalui teleponnya.

__ADS_1


"Ah jangan Om, iya aku masuk sekarang," ucap Rosalina pasrah dan mematikan teleponnya agar Kenzo tidak lagi mengancamnya.


Mendengar Rosalina memanggil dengan sebutan Om pada orang yang sedang berbicara di telepon dengan Rosalina, membuat Rendi semakin kesal.


Kemudian Rosalina dengan segera merapikan tas tersebut ke dalam gift box dan goody bag yang bertuliskan brand ternama di dunia.


"Aku harus masuk Ren. Terima kasih tasnya, nanti pasti akan aku bayar," tukas Rosalina sambil bersiap akan keluar dari mobil Rendi.


"Rosa, aku gak ingin kamu membayar tas ini. Anggap saja itu hadiah dari aku ke kamu untuk hari jadian kita," ucap Rendi pada Rosalina.


Rosalina terkekeh mendengar perkataan Rendi. Dia geli mendengarnya dan dia merasa mual mendengarnya dari mulut Rendi.


"Rendi, aku...," ucapan Rosalina terhenti karena dia melihat mobil Kenzo datang dan akan memasuki pagar rumah.


"Gawat... Ren, aku masuk dulu ya. Bye... eh terima kasih ya tasnya. Tunggu aku gajian dulu baru bisa bayar kamu. Maaf ya... dan terima kasih," ucap Rosalina sambil memperlihatkan tas cantik nya di hadapan wajah Rendi.


"Tidak usah dibayar. Ingat itu, aku gak butuh uangnya. Tas itu buat kamu dan-"


Dering ponsel Rosalina kembali berbunyi, sehingga membuat perkataan Rendi terhenti.


Dengan segera Rosalina keluar dari mobil Rendi tanpa berpamitan kembali padanya. Hal itu membuat Rendi kesal dan sedih karena Rosalina tetap saja tidak bisa dia keluarkan dari rumah Kenzo.


Rosalina berlari masuk ke dalam rumah dengan membawa goody bag yang bertuliskan brand ternama di dunia.


"Dari mana kamu?" tanya Kenzo dengan raut wajah penuh amarah pada Rosalina.


Kenzo melihat goody bag yang dibawa oleh Rosalina, dia merasa kesal karena Rosalina menemui lelaki yang Kenzo tahu jika lelaki itu pernah menyatakan perasaannya pada Rosalina.


Terlihat Rosalina mengkerut ketakutan ditatap seperti itu oleh Kenzo. Seketika dia merasa jika jiwa bar-bar nya selama ini luntur dalam sekejap karena tatapan kemarahan Kenzo padanya.


Tiba-tiba terdengar tangisan baby Chintya sangat keras dari dalam kamarnya. Hal itu membuat Rosalina segera berlari masuk ke dalam kamar baby Chintya dan diikuti oleh Kenzo.


"Chintya!" seru Rosalina ketika masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2