
Bentakan dari Kenzo membuat Dino dan Dina terdiam. Bahkan Rosalina pun kaget mendengar bentakan Kenzo yang memeluknya dari belakang.
Bentakan itu bukan ditujukan untuk Rosalina, melainkan untuk Dina. Hanya saja Rosalina tidak menyangka jika Kenzo bisa membentak perempuan yang sedari tadi bermanja-manja padanya.
Kenzo yang masih memeluk Rosalina dari belakang kini membalikkan badan Rosalina agar bisa menghadap padanya.
Rosalina yang masih terpaku karena kaget, hanya bisa menurut ketika Kenzo membalikkan badannya.
"Sayang, kamu gapapa kan?" tanya Kenzo dengan mengusap pipi Rosalina dengan lembut.
Rosalina yang masih menundukkan kepalanya mengangguk. Tangan Kenzo memegang dagu Rosalina dan mengarahkannya agar bisa menatapnya. Dia ingin melihat wajah gadisnya itu, dia juga ingin melihat senyum dari pemilik hatinya itu.
"Kak Kenzo apa-apaan sih? Dia itu baby sitter di sini, kenapa Kak Kenzo memperlakukannya seperti itu?" tanya Dina dengan amarahnya yang benar-benar terlihat saat ini.
Tiba-tiba terdengar baby Chintya menangis dengan kerasnya. Sepertinya dia tidak menyukai jika Dina memperlakukan Rosalina dengan buruk ataupun menghinanya.
Rosalina tersadar jika dia sangat dibutuhkan oleh baby Chintya saat ini. Botol susu milik baby Chintya masih ada bersamanya, sehingga Rosalina berpikiran jika baby Chintya menunggu susu formula yang telah dibuatkannya.
"Permisi," ucap Rosalina dan segera dia berjalan cepat menuju kamar baby Chintya.
Tanpa menghiraukan Dina dan Dino yang berada di sana, Kenzo segera mengikuti Rosalina yang masuk ke dalam kamar baby Chintya.
Dia menunggu Rosalina yang sedang menenangkan baby Chintya dan memberinya susu formula yang dia buatkan tadi.
Pandangan mata Kenzo tak lepas dari semua tindakan Rosalina. Bibirnya melengkung ke atas, dia senang melihat Rosalina dengan cekatan mampu menangani baby Chintya yang diklaim sebagai bayi nakal dan merepotkan oleh semua baby sitter nya sebelum Rosalina datang menggantikan mereka.
Setelah baby Chintya tenang dan tertidur, Rosalina meletakkan baby Chintya dalam box bayi yang berukuran sangat besar sehingga sangat nyaman digunakan oleh bayi yang sedang aktif melakukan banyak hal.
Grep!
__ADS_1
Deg!
Rosalina kaget merasakan pelukan itu kembali. Tangan kekar Kenzo melingkar di pinggangnya dari belakang. Aroma khas parfum maskulin yang digunakan oleh Kenzo membuat Rosalina tau jika itu adalah dirinya meskipun tanpa menoleh padanya.
Debaran jantung Rosalina sangat cepat, berbeda dengan saat tadi yang tidak berdebar secepat sekarang ini.
Helaan nafas Kenzo mengenai kulit leher Rosalina, membuat Rosalina merasakan desiran aneh pada dirinya.
Dipejamkannya mata Rosalina untuk merasakan dan menahan rasa yang bergejolak karena debaran jantung dan desiran aneh itu.
Sungguh dia tidak pernah merasakan hal seperti itu meskipun pernah berpacaran dengan Raihan, mantan pacarnya yang memintanya menyerahkan mahkota kesuciannya padanya.
"Sayang, maaf," ucap Kenzo yang penuh dengan penyesalan.
Rosalina menahan mati-matian perasaan aneh yang ada pada dirinya. Hingga dia tidak mengetahui harus menjawab apa permintaan maaf Kenzo padanya.
"Maafkan aku. Aku tau kamu sedang marah. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk kita berbicara agar tidak ada kesalahpahaman di antara kita," ucap Kenzo kembali yang masih dalam posisi memeluk Rosalina dari belakang.
Mata mereka saling beradu seolah mereka saling mengatakan apa yang sedang mereka rasakan saat ini.
"Kak Kenzo, kenapa Kakak lama sekali. Apa yang sedang Kakak lakukan dengan baby sitter itu?"
Tiba-tiba Dina datang dan mengomel masuk ke dalam kamar baby Chintya. Dino mencoba menghentikan adiknya itu, sayangnya Dino tidak bisa menghentikannya untuk masuk ke dalam kamar baby Chintya setelah bisa menahannya beberapa saat tadi.
Kenzo menghela nafasnya berat dan memejamkan matanya ketika mendengar suara Dina yang benar-benar mengganggu momennya bersama dengan Rosalina.
"Sebentar ya," ucap Kenzo sambil tersenyum manis pada Rosalina ketika sudah membuka matanya.
"Dina, kita tunggu Kenzo di luar," tutur Dino sambil mencekal tangan Dina yang hendak berjalan mendekati Kenzo dan Rosalina.
__ADS_1
"Enggak, aku gak mau!" seru Dina dengan menatap tajam ke arah Rosalina.
Terdengar baby Chintya yang sedang bergerak gelisah mendengar suara Dina yang berseru dalam kamarnya.
Rosalina menoleh pada baby Chintya dan Kenzo pun mengetahui kegelisahan hati Rosalina yang tidak menginginkan tidur baby Chintya terganggu.
Kenzo menoleh ke arah belakang, di mana Dina dan Dino berada. Kemudian dia berjalan ke arah mereka berdua dan mengatakan sesuatu pada mereka ketika sudah berada dekat dengan mereka berdua.
"Diam. Pelankan suaramu. Kita bicara di luar sekarang," tukas Kenzo dengan tegas dan wajahnya terlihat tidak bersahabat.
Dino menarik tangan Dina dan mengajaknya berjalan keluar kamar tersebut. Dina, tentu saja dia tidak suka diperlakukan seperti itu oleh Kenzo dan Dino. Dia menatap tajam Rosalina dengan penuh kebencian. Dari tatapan matanya itu bisa dipastikan bahwa Dina tidak suka pada Rosalina. Bahkan bisa dibilang dia membencinya.
Rosalina mengacuhkan Dina yang menatapnya seperti itu, dia hanya berpura-pura sibuk menidurkan baby Chintya yang jelas-jelas sudah kembali tertidur dengan nyenyak.
Kenzo berdiri mondar-mandir dengan kedua tangannya yang berada pada pinggangnya. Dia menatap Dina dan Dino dengan wajah yang sangat kesal ketika mereka berdua sampai di ruang tengah menghadap Kenzo.
"Aku minta maaf pada kalian berdua jika aku berbuat salah atau mengecewakan kalian. Tapi aku mohon jangan ganggu Rosalina. Jangan rendahkan dia, karena dia itu calon istriku," ucap Kenzo dengan nafas yang memacu karena menahan kemarahannya pada mereka berdua.
"Calon istri? Kakak bercanda?" tanya Dina yang kini berdiri dengan memandang Kenzo tidak percaya dengan apa yang didengar dari mulut Kenzo.
"Tidak, aku tidak bercanda. Aku serius. Bahkan aku berniat untuk cepat-cepat menikahinya," jawab Kenzo dengan tegas dan tanpa ragu sekalipun.
"Kakak jangan bercanda. Aku calon istri Kakak. Aku yang selama ini ada di dekat Kakak dan aku yang selalu menunggu Kakak untuk siap menikah lagi. Aku lah calon istri Kakak, bukan dia!"
Dina berjalan mendekati Kenzo dan mengatakan apa yang ada dipikirannya dengan suara meninggi.
Tentu saja Kenzo kaget dan tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh Dina padanya. Selama ini dia hanya menganggap Dina sebagai adiknya karena Dina merupakan adik dari Dino, sahabat terdekatnya. Wajar saja selama ini Kenzo menuruti semua kemauan Dina karena dia menganggapnya sebagai adiknya sendiri.
"Kamu adik dari sahabatku, jadi sama saja kamu itu adikku. Dan selama ini kita tidak ada hubungan apa-apa," tutur Kenzo menjelaskan pada Dina yang melihat Kenzo penuh harap.
__ADS_1
"Enggak! Aku gak mau jadi adik Kak Kenzo. Aku ingin menjadi istri Kak Kenzo!" ucap Dina yang tiba-tiba kembali memeluk Kenzo.