Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 39 Kejujuran Levia


__ADS_3

Setiap pernikahan hal yang paling dinantikan adalah adanya keturunan. Setelah Kenzo dan Levia resmi menjadi suami istri, kedua orang tua mereka tidka henti-hentinya membicarakan tentang keturunan. Mereka semua ingin Kenzo dan Levia segera mempunyai anak sehingga mereka akan segera memiliki cucu.


Kenzo, sebagai seorang suami dia wajib memberikan hak istrinya ketika mereka sudah resmi menikah. Dan tidak dipungkiri jika Kenzo juga menginginkan adanya keturunan dalam pernikahannya.


Lelaki mana yang tidak ingin mempunyai keturunan untuk penerusnya? Semua pasti menginginkan hal itu.Dan Kenzo pun sama. Meskipun rasa cinta untuk Levia itu belum tumbuh dalam hatinya, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencintai dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami yang baik bagi istrinya.


Levia kini yang sudah berganti baju menggunakan piyama membuat Kenzo mengerutkan dahinya.


"Apa kamu tidak menginginkan malam pengantin kita? Kenapa kamu memakai piyama? Bukankah biasanya seorang istri memakai lingerie pada malam pertama mereka untuk menyenangkan suaminya?" tanya Kenzo sambil terkekeh, dia berusaha untuk mencairkan suasana yang canggung karena Levia yang sedari tadi diam padanya.


"A-aku...," Levia gugup, dia masih bimbang dengan keputusannya untuk berterus terang pada Kenzo.


Kenzo berjalan mendekat ke arah Levia yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan senyum manisnya, Kenzo mengulurkan tangannya untuk mengajak Levia menuju ranjang mereka.


Tubuh Levia di dudukkan Kenzo di atas ranjang. Kelihatan sekali jika Levia sangat gugup dan tegang saat ini. Kenzo mengetahuinya, kemudian dia berkata,


"Aku tau mungkin di antara kita belum tumbuh rasa cinta yang sebenarnya. Hanya saja buatku pernikahan adalah ikatan sakral yang benar-benar harus kita jaga seumur hidup kita. Dan aku yakin jika rasa cinta itu akan tumbuh seiring waktu dengan sendirinya jika kita ikhlas melakukannya. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya denganku malam ini. Tapi aku akan merasa berdosa pada kedua orang tua kita yang sangat menginginkan cucu dari kita. Seperti yang kamu dengar tadi, mereka selalu mengingatkan kita untuk memberikan mereka cucu secepatnya. Jadi... apa keputusanmu?"


Kenzo tidak memaksakan apapun pada istrinya, dia hanya berusaha bijak untuk tidak mengecewakan siapapun, karena mereka semua adalah orang-orang terdekat dalam hidupnya.


Levia hanya diam saja dan menunduk. Tampak jelas sekali dia sedang memikirkan sesuatu.


Kenzo sebagai seorang laki-laki berinisiatif memulainya karena biasanya wanita identik dengan malu-malu dan sebagai lelaki dia harus peka pada pasangannya.


Tangan Kenzo memegang dagu Levia dan mengarahkannya agar melihat ke arahnya. Perlahan wajah Kenzo mendekati wajah Levia.


Namun, ketika bibir mereka akan bertemu, Levia menghentikan Kenzo agar tidak melakukannya.


"Ken, tunggu," ucap Levia dengan menutup bibir Kenzo menggunakan telapak tangannya.

__ADS_1


Kenzo mengerutkan dahinya, dia heran kenapa Levia menghentikannya.


"Ada apa? Ada masalah?" tanya Kenzo yang masih dalam posisi di hadapan Levia.


"Ken, aku... aku akan mengatakan sesuatu padamu," jawab Levia dengan gugup.


Kenzo memindahkan tubuhnya dari hadapan Levia. Tampak kelegaan yang ditampilkan oleh wajah Levia saat itu.


"Bicaralah, aku siap mendengarkannya," ucap Kenzo yang kini duduk di depan istrinya.


"Ken, sebenarnya... sebenarnya...," Levia mengambil jeda untuk bernafas terlebih dahulu, sungguh dia sangat gugup dan belum siap untuk mengatakannya.


Kenzo menatap intens mata Levia, dia ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh istrinya itu sehingga menghentikan Kenzo yang akan menyentuhnya.


"Hufffttt... Maaf, aku sekarang sedang hamil," tutur Levia dengan menatap mata Kenzo.


Jedar!


Kenzo terdiam, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Hanya beberapa saat saja, kemudian dia tersadar, dia menanyakan kembali pada istrinya itu karena dia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Apa maksudmu?" tanya Kenzo dengan tatapan tajam dan menyelidik.


"Aku sedang hamil dan usia kandunganku sekarang dua minggu," jawab Levia lirih dengan mata yang menyiratkan kesedihan.


Sontak saja Kenzo berdiri dari duduknya dan memunggungi istrinya. Dia tidak mau melihat wajah istrinya yang berhasil menorehkan luka yang sangat dalam pada hatinya di malam pengantin mereka.


"Maafkan aku Ken, aku tidak bisa mengatakan sebelumnya padamu. Maaf... maafkan aku," tutur Levia dengan berlinang air mata.


Kenzo mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan kemarahannya. Pernikahan yang digadang-gadangkan untuk seumur hidupnya kini hancur sudah, bahkan sebelum dia mulai.

__ADS_1


Malam pengantin yang seharusnya menjadi malam indah dan sangat bersejarah dalam setiap pasangan, kini menjadi malam terburuk bagi Kenzo. Bahkan nama Levia pun seperti menjadi trauma baginya jika mendengarnya.


"Siapa dia? Siapa ayah bayi itu?" tanya Kenzo dengan mengeratkan giginya untuk menahan kemarahannya.


"Dia pacarku. Bahkan kami belum memutuskan hubungan ketika Papa menjodohkan aku denganmu," jawab Levia dengan mengusap air matanya yang tidak henti-hentinya mengalir di pipinya.


"Kenapa kamu tidak menolak perjodohan ini?" tanya Kenzo dengan suara yang sedikit meninggi.


Levia berjalan mendekati Kenzo dan berlutut di hadapannya.


"Maafkan aku Ken. Aku tidak bisa menolaknya. Papa sangat berharap dengan pernikahan kita. Dan aku mohon Ken, aku mohon agar kita tetap seperti ini hingga pada saatnya nanti kamu boleh menceraikan aku," jawab Levia dengan berlutut dan memegang kedua tangan Kenzo untuk memohon padanya.


Sontak saja Kenzo menghempaskan dengan kasar tangan Levia yang memegangnya. Dia tidak sudi bersentuhan dengan istrinya yang mengkhianatinya sebelum pernikahan mereka terlaksana.


"Kamu egois. Kamu hanya memikirkan kebahagianmu saja. Kamu tidak memikirkan orang lain. Kamu pikir aku akan baik-baik saja? Kamu pikir aku tidak mempunyai perasaan?" tanya Kenzo dengan wajah emosinya yang sudah tidak bia dia kendalikan lagi.


"Maaf Ken, maafkan aku. Aku memang egois dan hanya memikirkan kedua orang tuaku. Aku bahkan merelakan cintaku pada ayah anak yang aku kandung sekarang ini. Aku tidak bisa melihat kedua orang tuaku sedih dan malu ketika anaknya diceraikan oleh suaminya di hari pertama mereka menikah," ucap Levia disela tangisnya.


"Kamu hebat. Kamu bisa melakukan semuanya dengan sangat rapi dan tidak ada yang tau mengenai ini. Jangan-jangan kedua orang tuamu juga tidak tau jika kamu hamil," sahut Kenzo dengan tersenyum miring menatap bengis pada Levia.


Levia mengangguk dengan tangannya yang mengusap air matanya. Kemudian dia menatap mata Kenzo yang sangat tidak bersahabat padanya, tatapan Kenzo seperti tatapan seseorang pada musuhnya.


"Kamu bisa melakukan apapun padaku. Tapi aku mohon, jangan ceraikan aku sekarang dan jangan beritahukan masalah ini pada kedua orang tuaku. Aku janji akan menjelaskan sendiri pada mereka nanti ketika anak ini sudah lahir dan kamu bisa menceraikan aku pada saat itu," tutur Levia dengan menahan air matanya yang masih menggenang di pelupuk matanya.


Kenzo terkejut dengan permintaan Levia. Dia tidak mengerti dengan apa yang direncanakan oleh Levia.


"Gampang sekali kamu bicara. Kamu sadar jika kamu mengorbankan aku dalam hal ini?" ucap Kenzo dengan emosi yang ditahannya.


"Kamu bebas berhubungan dengan wanita lain. Aku tidak akan melarangmu dan tidak akan mengurusi urusan pribadimu. Aku janji," tutur Levia yang masih dalam posisi berlutut meskipun kini Kenzo sudah tidak berada di hadapannya lagi.

__ADS_1


Kenzo kembali terhenyak mendengar perkataan Levia. Kemarahannya semakin bertambah mendengar apa yang dikatakan oleh Levia seolah dia lelaki yang gampang berhubungan dengan seorang wanita.


"Kamu gila!" seru Kenzo yang kemudian meninggalkan Levia sendiri dalam kamar tersebut meratapi kesedihannya.


__ADS_2