
Video baby Chintya menangis yang dikirimkan oleh Kenzo pada Rosalina membuat Rosalina menjadi bersalah.
"Kak Rosa menangis?" tanya Rava yang sedang duduk di samping Rosalina.
Ravi yang sedang menuang minuman dalam gelasnya seketika menoleh pada kakaknya.
"Kak Rosa kenapa? Apa ada yang sakit" tanya Ravi sambil memegang pundak Rosalina.
Rosalina segera mengusap air matanya yang menetes di pipinya dan memasang senyum di wajahnya agar kedua adiknya itu tidak lagi melihat kesedihannya.
"Itu siapa Kak yang nangis?" tanya Ravi yang melihat pada layar ponsel Rosalina.
Rava pun segera menengok pada layar ponsel Rosalina. Mendengar pertanyaan adiknya, Rosalina segera mengunci layar ponselnya dan mengantongi kembali ponselnya.
"Siapa dia Kak? Kasihan sekali nangisnya sampai kayak gitu," ucap Rava sambil memandang wajah kakaknya.
Rosalina kembali kaget mendengar pertanyaan adiknya. Sungguh dia tidak mau mengajari bohong pada kedua adiknya, hanya saja dia kali ini tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena banyak sekali hal yang harus dia pertimbangkan.
"Dia adiknya teman Kakak. Sebentar ya, Kakak akan ke kamar Kakak sebentar saja," ucap Rosalina sambil beranjak dari duduknya.
"Kak Rosa mau ngapain ke kamar?" tanya Ravi dengan wajah polosnya.
"Hah?! Itu... Kakak mau ke kamar mandi," jawab Rosalina gugup sambil tersenyum lebar.
"Ke kamar mandi gak usah ke kamar Kakak. Di situ kan ada kamar mandi, Kak Rosa lupa?" sahut Rava sambil menunjuk arah kamar mandi yang ada di sebelah dapur.
"Eh iya lupa. Hehehe... Kakak ke sana dulu ya," ucap Rosalina sambil tersenyum kikuk.
Dengan segera Rosalina menuju kamar mandi yang berada di lantai bawah. Dia memutar kembali video yang dikirimkan Kenzo padanya.
Hatinya sangat sedih melihat tangisan baby Chintya yang sudah sangat dekat dengannya. Berkali-kali video itu diputarnya untuk mengobati rasa rindunya pada baby Chintya yang baru beberapa jam ditinggalkannya. Sayangnya dia bertambah sedih melihat tangisannya.
Ponsel Kenzo tidak lepas dari genggaman tangannya setelah mengirim video tersebut pada Rosalina. Matanya terbelalak dan bibirnya melengkung ke atas ketika dia tahu Rosalina sudah membaca semua pesannya.
__ADS_1
"Dia membacanya. Aku harus segera menghubunginya," ucap Kenzo sambil menekan tanda call pada nomor ponsel Rosalina.
Di sisi lain, tepatnya di kamar mandi rumah Rosalina, saat Rosalina masih menonton video tersebut untuk kesekian kalinya, muncullah nama Kenzo yang melakukan panggilan telepon padanya.
Tanpa dikomando, jari lentik Rosalina menekan tanda menerima panggilan tersebut, sehingga telepon dari Kenzo tersebut tersambung pada Rosalina.
Halo, Sayang, Rosa, kamu mendengarku? Kenzo mengawali sapaannya pada Rosalina ketika telepon itu sudah tersambung.
Deg!
Jantung Rosalina berdebar sangat kencang mendengar Kenzo memanggilnya dengan sebutan sayang. Tapi, hatinya juga sakit mendengarnya. Dia tidak mengira jika hatinya bisa sesakit ini jika dia menjauh dari Kenzo.
Sayang, apa kamu mendengarku? Sayang, kenapa kamu pergi dari rumah sakit? Aku mencarimu ke mana-mana. Aku tadi hanya mengambil hasil tes DNA milik Chintya. Dan ketika aku kembali, kamu sudah tidak ada. Sebenarnya ada apa? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui? Katakan saja padaku. Aku-
"Maaf, aku harus segera menutup teleponnya," Rosalina menyela perkataan Kenzo dan berniat untuk segera mengakhiri telepon tersebut.
Namun, sebelum Rosalina menekan tombol untuk mengakhiri telepon tersebut, Kenzo sudah terlebih dahulu mengatakan sesuatu pada Rosalina.
Chintya mencarimu. Dia menangis sejak kamu tidak ada bersamanya. Hingga sekarang dia masih saja menangis. Apa kamu tidak kasihan padanya? Apa kamu mau mendengarkan tangisannya sekarang?
"Maaf," ucap Rosalina dengan suara serak dan bergetar.
Kemudian dia mematikan telepon tersebut karena dia sudah tidak bisa menahan lagi tangisnya. Hatinya sangat sakit mendengar suara Kenzo. Rasanya dia ingin lari ke rumah Kenzo saat ini juga. Nama Kenzo dan baby Chintya sudah ada dalam hatinya saat ini, hingga dia tidak bisa dengan mudah melupakan mereka berdua.
Hanya satu kata yang diucapkan oleh Rosalina. Maaf, kata itu mempunyai banyak makna bagi Kenzo. Dia sangat terpukul ketika mendengar kata maaf itu keluar dari mulut Rosalina.
Kenapa, kenapa dia mengatakan itu? Apa yang harus aku maafkan? Maaf untuk apa? Untuk tidak kembali? Untuk kepergiannya tadi? Atau untuk tidak bisa merawat Chintya lagi? Kenzo bertanya-tanya dalam hatinya.
Entah mengapa mendengar kata maaf dari Rosalina itu membuat Kenzo terasa sakit di hatinya. Bahkan ada air mata yang menetes tanpa sadar dari matanya.
Pikirannya sangat kalut memikirkan gadis pemilik hatinya yang kini menjauh darinya. Sejuta pertanyaan hinggap di benaknya.
Kenzo tidak pernah menyalahkan Rosalina sama sekali. Itu karena betapa besar rasa cintanya dan kepercayaannya pada Rosalina. Dia percaya Rosalina tidak akan pernah tega meninggalkannya dan dia percaya bahwa Rosalina tidak akan pernah mengingkari janjinya untuk meninggalkannya.
__ADS_1
Kenzo menyalahkan dirinya sendiri. Dia hanya ingin bertanya pada Rosalina tentang kesalahannya. Dia mengira jika ada kesalahan yang tidak dia sengaja ataupun kesalahan yang tidak dia sadari sehingga Rosalina menjauhinya.
Kepalanya semakin berat memikirkan itu semua. Perlahan matanya terpejam tanpa dia sadari. Kini tubuh Kenzo yang sedang lelah hati dan pikiran itu beristirahat di atas ranjangnya.
"Rosa... Rosa... Rosalina... Jangan tinggalkan aku Sayang... Aku membutuhkanmu. Jangan tinggalkan aku... Sayang... Rosa...."
Kenzo mengigau menyebutkan nama Rosalina dalam tidurnya. Dia melihat Rosalina datang dan merawatnya yang sedang sakit, persis seperti waktu itu, pada saat dia sedang sakit.
Tok... tok... tok...
"Kenzo... Kenzo...."
Pintu kamar Kenzo diketuk dari luar oleh Venita. Dia berkali-kali mengetuk pintu kamar itu dan memanggil-manggil nama Kenzo tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar tersebut.
Ceklek!
"Kenzo, ayo kita makan dulu. Kamu harus makan, sedari tadi kamu belum makan," ucap Venita sambil berjalan masuk ke dalam kamar Kenzo.
Terdengar samar-samar di telinga Venita suara Kenzo memanggil-manggil nama Rosalina.
Dengan segera Venita mendekati Kenzo dan membangunkannya. Dia tidak pernah melihat Kenzo seperti itu selama dia bayi sampai sekarang.
"Kenzo... Ken... Kenzo...!"
Venita menggoyang-goyangkan lengan Kenzo dan memanggil-manggil namanya. Tapi tetap saja Kenzo tidak membuka matanya.
Matanya tetap terpejam, keringat dingin mengalir di kedua pelipisnya. Dan dia menyebut-nyebut nama Rosalina.
"Panas sekali," ucap Venita saat meletakkan punggung telapak tangan pada dahi Kenzo.
Kini Venita sangat cemas. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Sudah lama sekali dia tidak pernah mengurus anak. Dan selama ini jika mereka sakit selalu memanggil dokter keluarga mereka.
Venita segera berlari memanggil bik Narmi untuk membantunya.
__ADS_1
"Bik... Bik... tolong Bik... tolong Kenzo," seru Venita yang masuk ke dalam kamar baby Chintya untuk memanggil Bik Narmi.