Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 47 Proses pencarian kebenaran


__ADS_3

Pertemuan Dina dengan Venita tanpa sepengetahuan Kenzo dan Dino membuat Venita lebih teliti dan hati-hati pada Dina dan Rosalina.


Dina menutupi perasaannya pada Kenzo di depan Venita. Dia ingin Venita menilainya sebagai gadis yang baik sehingga dia bisa dijadikan sebagai menantu baginya.


"Rosa, apa Tuan Kenzo sudah bangun?" tanya bik Narmi ketika melihat Rosalina membuat susu formula untuk baby Chintya.


Rosalina menoleh ke arah bik Narmi yang sedang sibuk mengupas sayuran.


"Kurang tau bik. Tapi sepertinya sih belum," jawab Rosalina dengan berpura-pura sibuk membuat susu formula untuk baby Chintya.


"Kenapa kamu tidak membangunkannya?" tanya bik Narmi dengan senyumnya yang tertahan untuk berniat menggoda Rosalina.


Rosalina menoleh, dia tidak mengira bik Narmi akan mengatakan hal itu padanya di pagi hari yang baru mempertemukan mereka.


"Kok saya bik yang harus membangunkannya? Bukannya Om Kenzo biasa bangun sendiri?" tukas Rosalina dengan menyembunyikan kegugupannya.


"Ya mungkin aja sekarang dia maunya ada yang bangunin," sahut bik Narmi sambil terkekeh.


"Tapi Om Kenzo kan udah gede, bisa bangun sendiri, bisa pasang alarm juga. Ngapain nunggu dibangunin," ucap Rosalina dengan entengnya.


"Siapa yang udah gede?"


Tiba-tiba ada suara familiar yang menyahuti ucapan Rosalina. Parfum yang tercium sangat khas di indera penciumannya. Dan ada tangan kekar yang mengalung dengan nyamannya pada leher Rosalina.


Sontak saja Rosalina membelalakkan matanya, nafasnya serasa berhenti. Kini Rosalina lupa caranya bernafas, dia menahan nafasnya karena terkejut Kenzo sudah berada di belakangnya.


Mampus aku. Sepertinya dia mendengar semuanya. Pasti aku bakalan dihukum nanti. OMG... aku harus bagaimana? Pokoknya aku harus menghindar darinya. Iya, benar. Aku akan menghindarinya demi kesehatan hati, jantung dan pikiranku, Rosalina berkata dalam hatinya dengan keadaan mematung.


Bik Narmi terkekeh melihat Rosalina yang mematung seperti sedang ketahuan melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Nafas Sayang...," ucap Kenzo sambil memijit pundak Rosalina dengan kedua tangannya.


"Rileks... jangan tegang...," ucap Kenzo kembali sambil terkekeh.


Seolah terhipnotis oleh ucapan Kenzo, Rosalina menghembuskan nafasnya. Dia baru tersadar jika dia lupa caranya bernafas karena kehadiran Kenzo secara mendadak di dekatnya.


Bik Narmi yang menyaksikan itu merasa senang. Dia tertawa melihat reaksi Rosalina yang terkejut dan malu menjadi satu saat ini.


"Aku mau berangkat kerja. Temani aku sarapan dulu," tutur Kenzo sambil merangkul pundak Rosalina dan melihat wajah Rosalina dengan senyumnya yang sangat mempesona.


Bik Narmi yang tahu situasi, dia segera pergi ke ruang makan dengan membawa makanan yang akan disiapkan untuk sarapan mereka.


Rosalina masih saja mematung, dia mencari cara agar Kenzo tidak menghukumnya.


"Ayo Sayang kita ke sana, temani aku makan," ucap Kenzo sambil mendorong tubuh Rosalina dengan kedua tangannya yang ada di pundak Rosalina.


Tubuh Rosalina enggan berpindah dari tempat berdirinya saat ini meskipun Kenzo mendorong tubuhnya.


"Berikan pada bik Narmi, biar bik Narmi yang menjaga Chintya ketika kamu menemani aku makan. Setelah sarapan, aku akan berangkat bekerja dan kamu bisa bersama dengan Chintya sepuasnya," tukas Kenzo sambil mendudukkan Rosalina pada kursi makan yang ada di sebelah kursi Kenzo.


Rosalina tidak bisa menghindar lagi, kini dia hanya perlu melaksanakan tugasnya untuk menemani Kenzo makan sebelum dia berangkat bekerja.


Kenzo mengambil botol susu milik baby Chintya dari tangan Rosalina dan memberikannya pada bik Narmi yang sedang menyiapkan teh hangat untuk mereka.


"Bik, tolong jagain Chintya sebentar ya. Biar Rosalina menemani saya makan dulu," tutur Kenzo pada bik Narni dengan menyerahkan botol susu yang sudah ada di tangannya.


"Baik Tuan," ucap bik Narmi sambil menerima botol susu tersebut dari tangan Kenzo.


Bik Narmi berjalan menuju kamar baby Chintya meninggalkan Kenzo dan Rosalina yang akan makan bersama hanya berdua.

__ADS_1


Di dalam kamar baby Chintya, bik Narmi tersenyum melihat baby Chintya yang sangat anteng bermain sendiri dengan mainan karet yang sedang dimainkannya.


"Nyonya Levia pasti senang melihat Chintya berada di tangan yang tepat. Semoga Rosalina benar-benar menikah dengan Tuan Kenzo dan menyayangi Chintya seperti anak mereka sendiri," ucap bik Narmi sambil memberikan botol susu tersebut pada baby Chintya.


Siang harinya, Venita datang ke rumah Kenzo. Tentu saja Kenzo tidak berada di rumah, karena Venita memang sengaja datang ke rumah tersebut pada saat Kenzo sedang bekerja.


Rosalina tidak berani keluar kamar, dia mengajak baby Chintya bermain di kamarnya hingga mereka berdua tertidur di sana.


"Bik, bagaimana dia menurut Bibik selama ada di sini?" tanya Venita pada bik Narmi.


Mereka kini berada di gazebo taman belakang untuk berbicara berdua. Venita sengaja mengajak bik Narmi berbicara di tempat tersebut agar Rosalina tidak mendengarnya.


"Bibik rasa Rosalina gadis yang baik Nyonya. Dia mampu menaklukan Chintya yang sama sekali tidak bisa ditaklukan oleh semua baby sitter yang pernah bekerja di sini. Dan Bibik rasa Rosalina gadis yang tulus, tidak seperti perempuan lain yang mempunyai maksud tersembunyi untuk mendapatkan keinginannya," jawab bik Narmi tanpa berpikir.


Venita melihat kejujuran di mata bik Narmi. Dalam hatinya senang karena Kenzo mendapatkan perempuan yang tulus padanya. Hanya saja itu semua belum terbukti. Dan Venita akan mencari tahu hal lainnya tentang Rosalina.


"Apa menurut Bibik dia bekerja di sini karena ingin mendekati Kenzo dan ingin mendapatkannya serta hartanya?" tanya Venita kembali.


Bik Narmi terperanjat. Dia tidak mengira jika Venita mempunyai pikiran seperti itu pada Rosalina, gadis yang menurut bik Narmi sangat baik.


"Saya rasa tidak Nyonya. Dulu saja Rosalina tidak pernah mencoba mendekati Tuan Kenzo. Malah Tuan Kenzo sendiri yang mendekati Rosalina dan suka menggodanya. Dia menghormati Tuan Kenzo sebagai pemilik rumah yang menggajinya," jawab bik Narmi dengan sangat yakin.


Venita mendengarkan apa yang dikatakan oleh bik Narmi. Dia semakin meragukan apa yang dikatakan oleh Dina.


"Tapi Dina tidak mengatakan seperti itu. Dia mengatakan jika Rosalina mempunyai niat untuk mendapatkan hati Kenzo agar bisa menjadi istrinya untuk hidup yang lebih layak dari hidupnya sekarang ini," tutur Venita dengan mengutak-atik ponselnya.


"Itu tidak benar Nyonya. Menurut saya Mbak Dina yang selalu mendekati Tuan Kenzo," sahut bik Narmi dengan cepatnya.


"Maksud bibik apa?" tanya Venita dengan mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya dan memandang bik Narmi dengan pandangan bingung.

__ADS_1


"Maaf Nyonya, beberapa hari yang lalu saya melihat Mbak Dina dan Mas Dino datang ke mari pada saat saya akan pulang. Karena perasaan saya tidak enak, saya tetap berada di sini dan mendengarkan pembicaraan mereka," jawab bik Narmi yang merasa sungkan karena mendengarkan pembicaraan majikannya.


"Bicara apa saja mereka?" tanya Venita dengan antusias.


__ADS_2