
Brak!
Kenzo menutup pintu kamarnya dengan sangat kencangnya meninggalkan Levia, istrinya yang sedang menangis di dalam kamar tersebut sendirian.
Tangisan Levia tidak bisa menghentikan kemarahan Kenzo padanya. Bahkan tangisan dan air matanya itu tidak bisa meluluhkan hati Kenzo yang sudah tersulut emosi dan kekecewaannya yang sangat mendalam padanya.
Dengan kemarahannya itu Kenzo berada dalam kamar lain. Dia merasa butuh kesendirian untuk menenangkan dirinya.
Rumah Kenzo itu memang tidak mempunyai pembantu rumah tangga yang menetap selama dua puluh empat jam di sana, kecuali Pak Mail dan Pak Saleh yang bertugas untuk menjaga keamanan rumahnya.
Alasannya sangat simpel sekali, karena Kenzo tidak suka kehadiran orang lain di rumahnya. Dia tidak ingin diganggu oleh orang lain ketika dia sedang beristirahat dengan nyamannya di rumahnya.
Bik Narmi selalu datang di pagi hari dan kembali pulang di sore hari menjelang malam. Tentunya setelah semua pekerjaannya selesai dikerjakan.
Tepat sekali keputusan Kenzo itu untuk tidak mempekerjakan bik Narmi hingga menetap di rumah itu. Jika tidak, maka pertengkarannya dengan Levia pun akan terdengar oleh bik Narmi dan pastinya akan dengan mudah sampai di telinga Venita, mama dari Kenzo.
"Aaaahhhh...," Kenzo berteriak meluapkan emosinya dalam kamarnya.
Usahanya untuk memantapkan hatinya menerima perjodohan dan mencoba mencintai istrinya kini berbayar sangat mengecewakan. Dia tidak bisa memaafkan kebohongan dan penghianatan.
Lalu apa yang harus aku lakukan? Kenzo bertanya dalam hatinya dengan frustasi menjambak rambutnya, menyalurkan kemarahan dan kekesalannya.
Dalam kamarnya dia merenung memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Perjodohan ini, pernikahannya dengan Levia ini membuat mereka berdua menjadi korban kedua orang tua mereka. Dan sialnya mereka tidak bisa menolak keinginan kedua orang tua mereka.
Mereka anak berbakti. Mereka tidak bisa melihat kedua orang tua mereka bersedih. Mereka tidak bisa bertindak semaunya hanya karena egois mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Itulah takdir mereka, takdir anak satu-satunya dari keluarga yang ingin mempersatukan bisnis mereka.
Apa aku harus melakukan seperti apa kata wanita itu? Kenzo bertanya dalam hatinya.
__ADS_1
Ya, benar apa kata wanita itu. Mama dan Papa pasti akan marah dan malu dengan perceraian kami. Usia kandungannya sudah dua minggu, tinggal beberapa bulan lagi aku harus bertahan hidup bersamanya, setelah itu aku akan menceraikannya dan aku akan memaksanya untuk menceritakan kebenarannya pada kedua orang tua kami, Kenzo kembali berkata dalam hatinya.
Keputusan itu sudah dibuat oleh Kenzo. Dia mau menuruti permintaan dari Levia. Dan tentunya dia memberikan syarat pada Levia agar dia tidak lagi merasa dibodohi oleh wanita yang kini sudah berstatus menjadi istrinya.
Ceklek!
Pintu kamar dibuka oleh Kenzo. Dia melihat Levia duduk di lantai dengan air matanya yang membanjiri pipinya.
"Tidurlah di kamar lain. Ini kamarku dan jangan sekali-sekali kamu masuk ke dalam kamar ini," Kenzo mengusir Levia untuk berpindah kamar.
"Ken, bagaimana dengan-"
"Kamu tidak perlu cemas. Aku akan melakukan seperti yang kamu minta, tentunya dengan syarat yang aku ajukan untukmu," Kenzo menyela ucapan Levia karena dia tahu ke mana arah pembicaraannya.
"Terima kasih Ken. Tapi apa boleh aku tau persyaratannya?" tanya Levia dengan mengusap air matanya.
"Tidak masalah, itu akan aku lakukan. Berikan kertas dan penanya, akan aku tulis sekarang," ucap Levia dengan sedikit lega.
"Dan jangan lupa tulis di situ jika aku tidak pernah menyentuhmu sama sekali," ucap Kenzo dengan tegas dan penuh penekanan.
"Terserah kamu Ken, aku akan menuruti semua yang kamu inginkan. Terima kasih Ken, kamu memang sangat baik sekali. Benar kata Papaku, kamu laki-laki yang sangat baik. Hanya saja, kita bertemu di saat yang tidak tepat," ujar Levia dengan tersenyum getir.
"Aku bersyukur kita bertemu di saat yang tidak tepat, karena aku tidak ingin mempunyai istri yang sudah disentuh oleh lelaki lain," tutur Kenzo yang membuat senyuman Levia memudar.
"Aku tau Ken, pasti kamu menganggap ku wanita rendahan. Aku tak mengapa. Memang aku menyesal melakukannya ketika kami belum menikah, tapi aku tidak menyesal mengandung anak ini, karena anak ini tidak bersalah. Biarlah aku yang menanggung semua kesalahan itu. Aku akan pergi ke kamar lain, jika semuanya sudah siap, panggil lah aku, agar aku bisa segera membuat surat pernyataan itu," tukas Levia, kemudian dia berjalan keluar kamar tersebut menuju kamar lain yang ada di rumah itu.
Kenzo tersenyum getir. Dia tidak menyangka jika akan mendengarkan hal itu keluar dari wanita yang baru beberapa jam yang lalu menjadi istrinya dan baru saja menghantam hatinya dengan membeberkan kenyataan pahit yang melukainya.
__ADS_1
Pagi harinya bik Narmi melihat Levia keluar dari kamarnya, kamar lain yang bukan merupakan kamar dari Kenzo.
Bik Narmi merasa aneh, hanya saja dia tidak berani bertanya pada Kenzo karena dia tahu jika Kenzo paling tidak suka jika urusan pribadinya dicampuri oleh orang lain.
Mereka sarapan pagi dengan sangat tenang. Bahkan idak ada salam, sapa ataupun candaan layaknya pengantin baru.
"Ikutlah aku, kita lakukan seperti apa yang kita bicarakan kemarin," ucap Kenzo sebelum meninggalkan meja makan dan masuk ke dalam ruang kerjanya.
Levia pun mengikuti Kenzo tanpa mengatakan sepatah katapun. Hal itu membuat bik Narmi bertanya-tanya. Sayangnya dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Venita, mama dari Kenzo selalu menugaskannya untuk mengawasi Kenzo dan melaporkan segalanya padanya.
Aku tidak boleh mengatakan hal ini pada Nyonya, mereka masih pengantin baru dan aku tidak bisa membuat mereka bermasalah. Aku harus diam dan berpura-pura tidak tau apa-apa, bik Narmi berkata dalam hatinya sambil melihat Kenzo yang berjalan diikuti Levia di belakangnya masuk ke dalam ruang kerja Kenzo.
Sementara itu di dalam ruangan kerja Kenzo, Levia menulis sebuah pernyataan pada sebuah kertas dengan dibubuhi materai dan tanda tangannya sesuai dengan yang diinginkan oleh Kenzo.
Kenzo membaca hasil tulisan tangan Levia yang merupakan surat pernyataannya.
"Akan ku simpan surat ini dan akan ku pergunakan pada saat yang tepat," ucap Kenzo sambil menyimpan surat pernyataan tersebut di dalam sebuah map yang diletakkan bertumpuk dengan file milik Kenzo yang lainnya.
"Ingat, mulai kemarin malam aku tidak menganggapmu sebagai istriku. Aku sudah menjatuhkan talak padamu. Dan jangan kamu mengharapkan sesuatu dariku sebagai suamimu," ucap Kenzo dengan tegas dan menekankan di setiap katanya.
Mata bik Narmi membelalak ketika dia tidak sengaja berada di dekat ruangan kerja Kenzo. Pintu ruangan tersebut sedikit terbuka, sehingga bik Narmi bisa dengan jelas mendengarnya.
Secepat kilat bik Narmi menjauhi ruangan tersebut dengan berjalan berhati-hati agar tidak diketahui oleh Kenzo ataupun Levia.
Di dapur bik Narmi memegang dadanya yang seolah terpukul benda keras mendengar penuturan dari Kenzo. Dalam hatinya dia bertanya-tanya,
__ADS_1
Ada apa ini Tuhan? Kenapa Tuan Kenzo bisa setega itu?