Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 22 Perasaan apa ini?


__ADS_3

Rendi frustasi karena tidak bisa menghubungi Rosalina. Dia berjalan mondar-mandir sambil meletakkan ponselnya pada telinganya.


Dia berkali-kali menghubungi Rosalina yang bahkan ponselnya itu tidak aktif sama sekali. Kecemasan dan kekhawatirannya bertambah ketika panggilan yang dilakukannya mencapai seratus kali panggilan.


"Kok gak aktif sih? Apa aku coba untuk ke rumah itu lagi ya?" tanyanya bermonolog dalam kamarnya.


Setelah berpikir selama beberapa saat, dia akhirnya memutuskan untuk menemui Rosalina di rumah Kenzo.


Mobil yang dikendarai oleh Rendi mendadak dikendarai dengan kecepatan tinggi ketika melihat Rosalina di dalam mobil yang sedang membuka kaca mobilnya.


Mereka berpapasan karena mobil mereka terhenti oleh lampu merah. Sayangnya mereka berlainan arah, sehingga ketika lampu merah berubah menjadi lampu hijau, mobil mereka saling berpapasan.


Suasana hati Rendi sangat kacau, hingga dia akan menabrak seorang pejalan kaki yang sedang menyeberang di depan mobilnya. Untung saja Rendi bisa mengerem mobilnya tepat waktu sehingga pejalan kaki tersebut tidak terluka sama sekali.


Waktu Rendi banyak terbuang ketika dia harus memutar arah dan berhenti ketika hendak menabrak penyeberang jalan tadi. Sehingga niatnya untuk mengejar mobil Kenzo gagal lah sudah.


Mobil Kenzo yang melaju dengan bebas hambatan mulai memasuki halaman rumahnya. Tanpa menunggu lama, Rosalina membuka pintu mobilnya dan keluar dengan segera dari mobil tersebut masuk ke dalam rumah bersama baby Chintya yang berada dalam gendongannya.


Kenzo merasa heran dengan Rosalina yang terlihat sangat terburu-buru keluar dari mobilnya. Tapi dia menyadari jika Rosalina salah tingkah di hadapannya sejak pelukan yang diberikannya pada Rosalina di dalam mobil tadi.


Masih berdiri di dekat mobilnya, Kenzo berpikir sambil melihat punggung Rosalina yang berjalan masuk ke dalam rumah.


Kenapa aku bisa memeluknya? Kenapa hatiku sangat bahagia ketika dia mengatakan bahwa dia menolak memberikan mahkotanya pada mantan pacarnya? Kenapa hatiku bisa sebahagia ini ketika mengetahui hal itu? Apa karena Levia? Kenzo bertanya-tanya dalam hatinya memikirkan apa yang dirasakannya saat ini.


Perasaan aneh dalam hati Kenzo tidak pernah dia rasakan. Bahkan apa yang dirasakannya itu baru menurutnya.


Masuklah Kenzo ke dalam rumahnya setelah mengambil tas perlengkapan milik baby Chintya. Kepalanya menoleh ke arah pagar tinggi rumahnya yang sedang dibuka oleh Pak Mail, penjaga keamanan rumahnya.


Sekilas dia mendengar bahwa ada suara pria yang menanyakan tentang Rosalina. Menurut Kenzo suara itu tidak sing baginya, tentunya sering dia dengarkan akhir-akhir ini.


Dan dia mengingat jika suara tersebut adalah suara Rendi, laki-laki yang menyukai Rosalina dan menginginkan Rosalina untuk menjadi pacarnya.

__ADS_1


Dengan segera Kenzo masuk ke dalam rumah ketika dia mendengar suara Pak Mail yang memberikan alasan agar Rendi segera pulang karena tidak bisa bertemu dengan Rosalina.


Entah apa yang dikatakan oleh Pak Mail pada Rendi. Yang terpenting bagi Kenzo adalah agar Rendi tidak bisa menemui Rosalina.


Setelah Kenzo masuk ke dalam rumah, dia menghubungi Pak Mail melalui telepon yang ada dalam pos jaganya.


"Pak, apa laki-laki itu sudah pergi?" tanya Kenzo pada Pak Mail melalui sambungan telepon.


Apa yang Bapak maksud laki-laki yang mencari Mbak Rosalina? ucap Pak Mail di seberang sana.


"Iya. Apa dia lelaki yang sama dengan waktu itu?" tanya Kenzo menyelidik.


Iya Pak sama. Sebenarnya dia menolak untuk meninggalkan rumah ini sebelum bertemu dengan Mbak Rosalina Pak. Tapi saya sudah mengatasinya, Bapak tidak perlu khawatir, ucap Pak Mail melalui telepon.


"Pokoknya jangan perbolehkan dia dan Rosalina bertemu," perintah Kenzo dengan tegas pada Pak Mail, petugas keamanan di rumahnya.


Siap Pak. Tapi kalau saya boleh tau, kenapa mereka berdua dilarang bertemu ya Pak? tanya Pak Mail penasaran.


Siap Pak. Laksanakan, seru Pak Mail dari seberang sana.


Kenzo memutus teleponnya dengan emosi. Entah mengapa dia tiba-tiba emosi ketika Pak Mail menanyakan tentang alasannya melarang Rendi dan Rosalina bertemu.


Sebenarnya Kenzo sendiri juga tidak tahu apa yang dirasakannya. Dia tidak mengerti mengapa dia menyuruh petugas keamanannya untuk tidak mengijinkan Rendi menemui Rosalina.


Dia hanya mengatakan apa yang diinginkan oleh hatinya tanpa memikirkan apa alasan dibaliknya.


Sejenak dia duduk di ruang tamu untuk berpikir. Tas perlengkapan milik baby Chintya masih berada di tangannya. Dia belum memberikannya pada Rosalina yang kini sedang ada di dalam kamar baby Chintya.


Wajah Rosalina dengan senyumnya dan segala tindakan yang membuat Kenzo tersenyum bahkan tertawa, kini terbayang ketika dirinya sedang memikirkan tentang apa yang dia rasakan.


Dilihatnya layar ponselnya yang sejak tadi dipegangnya. Ponsel itu diutak-atik sebentar, kemudian bibirnya melengkung ke atas.

__ADS_1


Cinta, aku yakin ini cinta. Aku mencintainya, seperti apa yang aku lihat di internet. Semuanya mengarah pada perasaanku yang tidak ingin kehilangannya, Kenzo berkata dalam hatinya untuk menegaskan perasaannya.


Beberapa saat dia menenangkan pikirannya dan meyakinkan hatinya tentang apa yang dirasakannya akhir-akhir ini.


Kenzo beranjak dari duduknya dengan membawa tas perlengkapan baby Chintya. Dia berjalan dengan langkah lebarnya menuju kamar baby Chintya.


Ceklek!


Kenzo membuka pintu kamar baby Chintya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Rosalina yang baru saja menidurkan baby Chintya di dalam box nya menoleh ke arah Kenzo yang sedang berjalan masuk ke arahnya dan meletakkan tas perlengkapan milik baby Chintya di lantai.


Grep!


Tiba-tiba saja Kenzo memeluk tubuh Rosalina. Mereka berdua kini berdiri dan berpelukan di depan box bayi yang didalamnya berada baby Chintya sedang tertidur pulas.


Rosalina hanya diam karena terkejut mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Kenzo. Hanya mata Rosalina saja yang berkedip, mulutnya tidak bisa berkata-kata dan tubuhnya tidak bisa bergerak.


"Sebentar, hanya sebentar saja aku ingin kita seperti ini untuk saat ini," ucap Kenzo lirih sambil memeluk erat tubuh Rosalina.


Bibir Rosalina terbuka hendak mengatakan sesuatu, sayangnya tidak bisa keluar kata apapun dari mulutnya.


Tidak sengaja Bik Narmi yang sedang melewati kamar baby Chintya melihat Kenzo memeluk Rosalina. Sontak saja langkah kaki bik Narmi terhenti menyaksikan adegan pelukan itu dan ada senyuman di bibir bik Narmi ketika melihatnya.


Setelah beberapa saat bik Narmi tersadar jika nantinya dia akan mengganggu mereka. Dengan langkah hati-hatinya bik Narmi meninggalkan depan kamar baby Chintya.


"Om. Om kenapa?" tanya Rosalina pada Kenzo.


Kenapa aku mengatakan hal itu? Kenapa justru pertanyaan konyol itu yang keluar dari mulutku? Harusnya aku menanyakan apa maksudnya dia memelukku seperti ini? Bahkan sudah dua kali, gerutu Rosalina dalam hatinya.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu," jawab Kenzo yang masih betah memeluk erat tubuh Rosalina.

__ADS_1


__ADS_2