Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 43 Kehadiran Chintya


__ADS_3

Levia merintih kesakitan dengan memegang perutnya. Sepertinya hari kelahirannya sudah datang. Bik Narmi yang memang bertugas untuk menjaganya selama ini ketika Kenzo tidak pulang, kini dia panik seorang diri.


Bik Narmi segera meminta bantuan Pak Saleh untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit. Di perjalanan menuju rumah sakit, bik Narmi menghubungi Kenzo.


Berkali-kali bik Narmi menghubunginya, tetap saja tidak ada jawaban dari Kenzo. Hingga pada saat Levia sedang berada di ruang persalinan, telepon bik Narmi akhirnya diangkat oleh Kenzo.


"Ada apa sih Bik gangguin orang tidur aja," ucap Kenzo kesal sambil menguap.


Maaf Tuan, Nyonya Levia sekarang sedang berada di rumah sakit, dia sudah mau melahirkan, bik Narmi memberitahukan pada Kenzo melalui telepon dengan sangat panik.


"Lalu saya harus apa Bik?" tanya Kenzo dengan kesal.


Maaf Tuan, Bibik hanya ingin mengabari saja, barangkali Tuan akan datang ke sini. Kita sedang ada di Rumah Sakit Health dan sekarang Nyonya sedang berada di-


"Urus saja dia Bik. Dan jangan ganggu saya lagi," tutur Kenzo dengan nada tegas seolah dia tidak mau dibantah.


Tapi Tuan, bagaimana nanti jika pihak rumah sakit membutuhkan anda sebagai suaminya? tanya bik Narmi ragu, dia takut Kenzo marah padanya karena menyebutkan bahwa dia adalah suami dari Levia.


"Bilang aja suaminya gak ada. Bibik saja yang mengurus. Terserah Bibik mau ngomong apa sama mereka," tutur Kenzo kesal dengan suara yang meninggi.


Kemudian Kenzo segera menutup teleponnya tanpa mendengar perkataan selanjutnya dari bik Narmi.


Kenzo tersenyum melihat ponselnya. Kemudian dia berkata,


"Akhirnya hari perceraianku tiba."


Setelah itu dia kembali merebahkan tubuhnya pada ranjang dan berusaha memejamkan kembali matanya.


Sayangnya mata Kenzo tidak bisa terpejam. Ucapan bik Narmi benar-benar mengganggunya.


"Sial, kenapa aku harus kepikiran dia? Mereka bukan apa-apaku. Bayi itu bukan anakku!" setu Kenzo marah pada dirinya sendiri.


Kenzo memang orang yang cuek dan terlihat seperti tidak punya perasaan. Tapi nyatanya, dia mengasihani Levia yang seorang diri melahirkan tanpa ditemani oleh ayah dari bayi yang ada dalam kandungannya.

__ADS_1


Namun, sayangnya kebenciannya pada Levia teramat sangat, sehingga dia tidak mempedulikannya meskipun sedang dibutuhkan olehnya sekarang ini.


Dipejamkannya kembali matanya, hingga dia berpindah arah tidur, sayangnya matanya tetap tidak bisa dipejamkannya. Bahkan dia sudah berkali-kali berbalik arah, tapi tetap saja dia tidak bisa tidur dengan nyenyak seperti sebelum dia menerima telepon dari bik Narmi.


Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berdering. Diambillah ponselnya itu dari meja yang ada di sebelah ranjangnya.


"Hufffttt... mau apa lagi sih?"


Kenzo menghela nafasnya ketika melihat nama bik Narmi tertera pada layar ponselnya.


"Ada apa lagi sih bik?" tanya Kenzo dengan kesal.


Tuan, Nyonya sudah tiada, ucap bik Narmi dari seberang sana.


Hening, seketika keadaan menjadi hening. Kamar Kenzo yang berada di ruang kantornya sedari tadi memang hening, tapi percakapannya dengan bik Narmi membuat kamar itu menjadi lebih bersuara. Dan kini, keadaan menjadi hening kembali.


"Apa maksudnya bik?" tanya Kenzo ragu.


Nyonya... Nyonya Levia meninggal setelah melahirkan anaknya. Dan dokter mencari anda karena ada sesuatu yang dititipkan Nyonya untuk Tuan Kenzo, jawab bik Narmi dengan menahan kesedihannya.


"Baiklah, aku akan ke sama untuk mencari tau apa yang dia titipkan pada dokter untukku," ucap Kenzo sambil beranjak dari ranjangnya.


Jalanan malam yang lenggang karena sudah sangat larut membuat hati Kenzo semakin sepi. Dia tidak menyangka jika Tuhan telah memberikan skenario seperti itu pada dirinya.


Setibanya dia di rumah sakit, Kenzo segera menuju ruang persalinan. Di depan ruang tersebut terdapat bik Narmi yang terlihat sedih dan mengeluarkan air matanya.


"Bik," sapa Kenzo ketika sudah berada di dekat bik Narmi yang sedang duduk termenung.


Bik Narmi menoleh, dia menatap nanar Kenzo yang berdiri di sebelahnya.


"Sebaiknya Tuan segera menemui dokter yang menangani Nyonya," tutur bik Narmi sambil menunjuk arah ruangan dokter yang menangani Levia.


Kenzo mengikuti arah tangan bik Narmi yang menunjuk ke arah ruangan dokter tersebut. Dan dia segera berjalan ke ruangan tersebut untuk menemui dokter yang katanya ingin bertemu dengannya.

__ADS_1


Tok... tok... tok..


"Selamat malam dok," ucap Kenzo setelah mengetuk pintu ruangan dokter tersebut yang sudah terbuka.


Dokter tersebut menoleh ke arah pintu dan mempersilahkan Kenzo masuk ke dalam ruangannya.


"Silahkan masuk Pak. Apa Bapak ini suami dari Nyonya Levia?" tanya dokter tersebut.


Kenzo enggan menyebut dirinya sebagai suami dari Levia, sehingga dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan dari dokter tersebut.


"Saya turut berduka cita Pak. Dan ini ada titipan dari istri Bapak," ucap dokter tersebut sambil memberikan sebuah amplop berwarna putih pada Kenzo.


Kenzo menerima amplop itu dan membolak-balik amplop tersebut. Ketika dia akan membukanya, dokter tersebut menceritakan apa yang terjadi di ruang persalinan sehingga Levia tiada dan meninggalkan anaknya yang baru lahir tanpa dirinya, ibu kandungnya.


Kenzo terdiam, dia tidak tahu harus bereaksi apa di hadapan dokter tersebut. Jujur saja dia tidak pandai berpura-pura, karena itu bukan dirinya sama sekali.


Dan dia tidak merasakan sedih karena memang dia tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Levia. Hanya kebencian yang ada dalam dirinya ketika mengingat ataupun melihat Levia.


Mungkin ada rasa iba dalam dirinya mengingat bayi yang dilahirkan oleh Levia kini sendirian tanpa ibu dan ayahnya yang entah siapa dan berada di mana.


"Terima kasih dok. Saya permisi dulu," ucap Kenzo sambil beranjak dari duduknya.


Dokter tersebut menatap punggung Kenzo yang berjalan keluar dari ruangannya dengan tatapan bingung. Baru kali ini dia menemui suami yang berekspresi seperti Kenzo ketika kehilangan istrinya yang meninggal di saat melahirkan bayinya. Bahkan Kenzo tidak menanyakan tentang bayinya.


"Ah sudahlah, itu urusan mereka," ucap dokter tersebut ketika Kenzo sudah keluar dari ruangannya.


Di sebuah kursi taman di dalam rumah sakit tersebut, Kenzo membuka amplop yang diberikan oleh dokter tersebut padanya.


Ternyata di dalamnya terdapat sebuah kertas yang bertuliskan dengan tulisan tangan.


Ya, surat itu dari Levia. Setelah dia mengetahui penjelasan tentang kehamilannya dari dokter tersebut, Levia meminta tolong untuk memberikannya sebuah kertas, amplop dan pena. Setelah dia menuliskan surat tersebut, dia menitipkan surat itu pada dokter yang menanganinya agar nantinya bisa diberikan pada Kenzo ketika dia sudah melahirkan bayinya.


Dan benar saja firasat dari Levia. Dia tidak sempat bertemu dengan Kenzo. Dari surat yang dituliskannya sebelum dia melakukan persalinan itu, dia meminta tolong pada Kenzo agar merawat bayi tersebut seperti anaknya sendiri, hingga ayah dari bayi tersebut datang untuk merawatnya.

__ADS_1


Kenzo menghela nafasnya berat, kini harapannya untuk segera lepas dari bayang-bayang Levia sirnalah sudah. Levia memang telah tiada, tapi bayi yang mengingatkannya akan Levia kini berada dekat dengan dirinya seolah membayang-bayanginya dengan bayangan Levia.


Flashback end


__ADS_2