Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 49 Kedatangan Rendi


__ADS_3

Tin... tin... tin...


Terdengar klakson mobil dari belakang Venita, bodyguard nya dan Rendi yang berdiri di depan pagar tinggi rumah milik Kenzo.


Venita, bodyguard tersebut, Rendi dan Pak Mail yang berdiri menghadang di depan pagar menoleh ke arah mobil tersebut.


"Tuan Kenzo?!" seru Pak Mail dengan nada panik.


Pak Mail takut jika Kenzo kembali marah karena Rendi, orang yang diharamkan masuk ke rumahnya, sekarang ini berada di depan pagar. Dan parahnya lagi dia datang bersama dengan Venita yang merupakan Nyonya besarnya yang harus dipatuhi perintahnya.


Kenzo membuka kaca jendela mobilnya, kemudian dia mengeluarkan sedikit kepalanya untuk bertanya pada Pak Mail.


"Ada apa Pak?"


"Eh ini Tuan, Nyonya ingin membawa masuk Mas ini ke dalam rumah," jawab Pak Mail dengan ketakutan.


Kenzo menatap ke arah mamanya yang juga sedang menatap ke arahnya. Kemudian matanya berpindah pada sosok Rendi yang membuatnya mengeram marah.


Tangannya mengepal erat pada kemudinya dan pandangannya pada Rendi sangat tajam, seolah dia ingin menghunuskan pedang padanya.


"Buka!" seru Kenzo pada Pak Mail untuk memerintahkannya membuka pintu gerbang tersebut.


Pak Mail pun bergegas untuk membukakan pintu gerbang tersebut dengan terburu-buru agar Kenzo tidak lagi marah padanya.


Sangat terlihat jelas kemarahan pada wajah Kenzo. Jika sudah seperti itu, mereka semua akan terkena imbas kemarahannya selama beberapa hari hingga kemarahan Kenzo reda.


Namun, mereka merasa lega dengan kehadiran Rosalina yang mampu mengendalikan amarah dari Kenzo.


Selama adanya Rosalina di rumah itu, mereka semua jarang melihat Kenzo marah ataupun berwajah kusut seperti waktu dulu masih beristrikan Levia.


Dan kini, kemarahan Kenzo kembali karena hadirnya laki-laki yang bernama Rendi datang ke rumahnya mengaku sebagai pacar Rosalina.


Venita kembali mengeluarkan smirk nya melihat Kenzo tidak bisa berkutik dengan keberadaannya kali ini. Kemudian dia memberikan tanda pada bodyguard nya agar membawa Rendi masuk ke dalam rumah.


Venita berjalan masuk rumah Kenzo dengan percaya diri. Dia memang kecewa pada Rosalina yang mungkin nanti akan mengecewakan Kenzo apabila kebenarannya tentang hubungan Rosalina dengan Rendi terbuka di hadapan Kenzo.

__ADS_1


Tapi rasa benci karena dibohongi lebih membuat Venita menjadi kejam daripada melihat Kenzo menderita kembali nantinya.


Bagaimanapun seorang ibu tidak mau jika anaknya terluka dan menderita. Dan Venita pun sama, dia juga seorang ibu yang mengutamakan anaknya untuk mendapatkan yang terbaik.


Kenzo duduk di sofa ruang tamu dengan memasang wajah kesal yang bercampur dengan amarah.


Venita pun duduk di sofa yang berada di dekat Kenzo. Dan Rendi didudukkan oleh bodyguard Venita pada sofa yang berada di depan Kenzo.


"Mana perempuan itu? Panggil dia ke sini!" seru Venita sambil mengedarkan penglihatannya ke arah dalam rumah Kenzo.


"Ada apa ini Ma? Kenapa laki-laki ini Mama ajak masuk ke dalam?" tanya Kenzo pada Venita dengan menatap tajam pada Rendi.


"Panggil perempuan itu sekarang. Nanti akan Mama jelaskan jika dia sudah berada di sini," ujar Venita dengan tegas seolah dia tidak mau dibantah.


"Siapa maksud Mama? Perempuan yang mana?" tanya Kenzo berpura-pura tidak tahu.


"Rosalina. Panggil dia sekarang juga!" Venita memerintahkannya dengan nada yang sedikit meninggi.


Bik Narmi mendengar ada suara berisik dari ruangan yang berada di depan. Dia kini berada dalam dapur setelah mengobrol sebentar dengan Rosalina tadi.


"Kok berisik ya di depan? Apa ada yang menonton TV? Apa Rosalina dan Chintya yang sedang menonton TV? Tapi... kenapa seperti terdengar begitu nyata? Coba aku lihat ke depan dulu aja, siapa tau Tuan Kenzo sudah pulang," ucap bik Narmi sambil berjalan keluar dapur menuju ruang tengah.


Namun, suara itu kembali terdengar. Bik Narmi mengikuti langkah kakinya menuju ruang tamu. Dan betapa kagetnya dia ketika di ruang tamu tersebut duduklah Kenzo bersama dengan Venita yang terlihat sangat marah.


Bik Narmi juga melihat seorang laki-laki yang tidak dia ketahui siapa sebenarnya orang tersebut sehingga membuat Kenzo menatap bengis padanya.


"Ah kebetulan Bik, tolong panggilkan perempuan itu ke sini sekarang juga!" perintah Venita pada bik Narmi ketika melihatnya berada di ruangan tersebut.


"Perempuan yang mana maksud Nyonya?" tanya bik Narmi gugup karena merasakan aura ketegangan dalam ruangan tersebut.


"Jangan bodoh seperti itu Bik! Perempuan yang mana lagi ada di rumah ini kecuali dia," jawab Venita dengan memandang kesal pada bik Narmi.


"Rosalina?" tanya bik Narmi ragu-ragu.


"Ya. Bawa dia ke sini sekarang juga!" jawab Venita dengan tegas.

__ADS_1


Segera bik Narmi berjalan cepat menuju kamar baby Chintya. Dia tidak mau jika Venita kembali memarahinya.


Dengan panik bercampur dengan khawatir, bik Narmi masuk ke dalam kamar baby Chintya dan menemui Rosalina yang sedang melatih baby Chintya merangkak.


"Ayo Chintya... maju sini... ini ambil mainannya," ucap Rosalina sambil memainkan mainan baby Chintya yang dia gunakan untuk menarik perhatian baby Chintya agar bisa merangkak maju ke arahnya.


Bik Narmi mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan dengan melihat Rosalina yang sedang asik mengajak baby Chintya belajar merangkak.


Tatapan bik Narmi pada Rosalina berbeda. Kini dia menatap iba padanya. Entah apa yang akan dilalui oleh Rosalina kali ini. Venita terlihat begitu marah, sehingga bik Narmi takut jika akan terjadi hal buruk pada Rosalina.


"Rosa...," panggil bik Narmi sambil berjalan mendekati Rosalina.


Rosalina menoleh ke arah bik Narmi yang sedang berjalan ke arahnya. Dia memberikan senyumnya pada bik Narmi yang menatapnya dengan pandangan iba padanya.


"Ada apa Bik?" tanya Rosalina dengan memberikan senyuman manisnya.


Bik Narmi mengusap rambut panjang Rosalina dengan penuh kasih sayang seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


"Tuan Kenzo dan Nyonya Venita ada di ruang tamu. Kamu segeralah ke sana, karena mereka memanggilmu," ucap bik Narmi yang sekarang mengusap punggung Rosalina dengan lembut.


"Saya bik? Ada apa ya Bik?" tanya Rosalina dengan ekpresi wajahnya yang terlihat takut dan khawatir.


"Tidak akan terjadi hal yang buruk. Tenanglah, ada Tuan Kenzo yang akan selalu ada di pihakmu. Pasti Tuan Kenzo akan selalu melindungimu," tutur bik Narmi sambil tersenyum.


Terlihat jelas Rosalina yang tampak cemas. Tapi dia tidak bisa menghindarinya. Dia menatap baby Chintya seolah meminta pendapatnya.


Chintya, doakan aku ya supaya bisa kembali dengan selamat, Rosalina berkata dalam hatinya sambil melihat baby Chintya yang tersenyum lebar padanya.


Ternyata dia meminta doa pada baby Chintya dengan berkomunikasi melalui tatapan matanya.


Seolah tau apa yang dipikirkan oleh Rosalina, bik Narmi berkata padanya,


"Biar Chintya Bibik yang jaga. Kamu sekarang segeralah ke ruang tamu agar Nyonya Venita tidak marah karena terlalu lama menunggumu."


Rosalina pun keluar dari kamar baby Chintya dan berjalan menuju ruang tamu. Sebelum dia memasuki ruang tamu, dia menghirup nafasnya dan menghelanya berkali-kali hingga perasaannya lebih tenang.

__ADS_1


"Huffffttt... semoga tidak terjadi hal yang buruk," ucap Rosalina lirih sebelum kakinya melangkah masuk ruang tamu.


"Permisi...."


__ADS_2