
Kenzo melajukan mobilnya dengan malas. Rasanya dia ingin menunggu Rosalina di rumah orang tuanya. Hanya saja tidak sopan menunggunya di sana tanpa disuruh oleh orang tua Rosalina.
Dengan terpaksa Kenzo pulang karena tidak tahu lagi harus ke mana mencari Rosalina. Pemilik hatinya itu pergi tanpa berpamitan padanya.
Kenapa kamu harus pergi meninggalkanku? Bukankah kamu berjanji padaku tidak akan pernah meninggalkanku? Kenzo berkata dalam hatinya.
Kemudian dia menepikan mobilnya di pinggir jalan. Diambilnya ponsel dari sakunya dan dia mengirimkan apa yang ditanyakan dalam hatinya itu melalui sebuah pesan yang dikirimkannya pada Rosalina.
Berkali-kali Kenzo mengirimkan pesan dan menghubungi Rosalina, tapi tetap saja tidak dijawabnya dan tidak ada balasan dari semua pesan-pesannya.
Gundah, cemas, khawatir dan kangennya pada gadisnya itu membuatnya tidak bisa tenang. Bahkan dia tidak merasakan lapar atau haus saat ini. Pikirannya hanya tertuju pada Rosalina.
Kenzo melajukan kembali mobilnya menuju rumahnya. Dengan langkah malasnya dia keluar dari mobilnya itu ketika sudah diparkir sembarangan di halaman rumahnya.
Bik Narmi sudah pulang terlebih dahulu bersama dengan Venita. Baby Chintya benar-benar mencari pengasuhnya. Dia menangis kencang ketika tidak ada Rosalina di dekatnya.
Pak Saleh berlari menghampiri Kenzo. Dengan nafas ngos-ngosan dia bertanya pada Kenzo,
"Maaf Tuan, Mbak Rosalina diperintahkan Nyonya untuk segera menenangkan Chintya. Dia menangis terus dari tadi."
Kenzo menoleh ke arah Pak Saleh yang masih ngos-ngosan setelah berbicara padanya. Dahinya mengkerut menanggapi perkataan Pak Saleh.
"Rosalina tidak bersama dengan saya Pak," jawab Kenzo dengan nada datar.
Pak Saleh terlihat kaget. Dia mengira Rosalina akan dijemput oleh Kenzo di rumah temannya sesuai dengan apa yang dikatakan Rosalina jika dia ada urusan di rumah temannya.
Melihat bik Narmi dan baby Chintya pulang bersama dengan Venita, Pak Saleh mengira jika Kenzo menjemput Rosalina.
__ADS_1
"Loh, bukannya Tuan Kenzo menjemput Mbak Rosalina di rumah temannya Tuan?" tanya Pak Saleh dengan wajah bingung.
"Tidak. Kenapa saya harus menjemput Rosalina di rumah temannya Pak?" tanya Kenzo dengan wajah herannya.
"Maaf Tuan, tadi Mbak Rosalina bilang kalau masih ada urusan di rumah temannya, jadi saya pikir Mbak Rosalina pulang dijemput oleh Tuan Kenzo," jawab Pak Saleh yang merasa tidak enak pada Kenzo.
Seketika Kenzo kaget, matanya terbelalak mendengar perkataan dari Pak Saleh.
"Apa Rosalina tadi pulang ke sini?" tanya Kenzo pada Pak Saleh.
"Iya, benar Tuan. Beberapa jam yang lalu sebelum Nyonya Venita pulang bersama dengan istri saya dan Chintya, Mbak Rosalina datang ke sini jalan kaki. Tapi setelah sampai di pintu gerbang Mbak Rosalina tidak masuk, dia berjalan kembali. Saya mencoba menghentikannya dan dia mengatakan masih ada urusan di rumah temannya," tutur Pak Saleh yang merasa aneh dengan ekspresi Kenzo.
Mata Kenzo membola, dia tidak menyangka jika mereka berlawanan. Kenzo datang ke rumah Rosalina dan Rosalina datang ke rumah Kenzo.
Apakah kami saling merindukan sehingga kami saling mencari? Lalu kenapa dia harus pergi? Kenzo berkata dalam hatinya dengan Pak Saleh yang lagi-lagi heran melihat ekspresi Kenzo kali ini.
Setelah itu Kenzo dengan langkah lebarnya masuk ke dalam ruang kerjanya dan dia segera memperhatikan rekaman CCTV. Dia menghela nafasnya karena Rosalina, gadis pemilik hatinya itu baik-baik saja.
"Kenapa dia terlihat lemah dan wajahnya terlihat sangat sedih. Sebenarnya ada apa Sayang? Kenapa kamu meninggalkanku?" tanya Kenzo sambil melihat rekaman CCTV yang menampakkan dengan jelas wajah gadis yang dirindukannya itu.
Tok... tok... tok...
Suara pintu ruangan kerja Kenzo diketuk oleh seseorang dari luar. Dengan segera Kenzo beranjak dan membuka pintu tersebut. Dia tidak mau ada yang melihat jika dia mengamati Rosalina dari rekaman CCTV.
"Ada apa bik? Kenapa Chintya menangis?" tanya Kenzo dengan malas.
"Maaf Tuan, apa Rosalina tidak ditemukan? Chintya dari tadi menangis tidak berhenti-berhenti. Saya takut jika Chintya akan sakit nantinya," jawab bik Narmi dengan wajah panik sambil menggendong baby Chintya yang masih menangis dengan kencangnya.
__ADS_1
Sangat jelas sekali baby Chintya menangis terlalu lama. Wajahnya hingga memerah dan banjir dengan air mata. Tangisannya hampir sama ketika Levia meninggalkannya.
"Saya tidak menemukannya Bik. Bahkan saya sudah ke rumahnya. Dia tidak ada di rumahnya," jawab Kenzo dengan lemas.
"Lalu bagaimana ini Tuan? Apa kita harus membawa Chintya ke rumahnya?" tanya Bik Narmi yang masih sangat panik sambil menggoyang-goyangkan tubuh baby Chintya dalam gendongannya agar baby Chintya bisa tenang dan tertidur.
"Belum tentu dia ada di rumah Bik," tukas Kenzo dengan lemah.
"Gimana ya Tuan. Saya pikir jika Rosalina tau Chintya menangis, dia pasti akan datang ke sini untuk menenangkannya, karena dia sangat sayang pasa Chintya," ucap bik Narmi dengan yakin.
Tiba-tiba Kenzo mengeluarkan ponselnya. Dia mengarahkan kamera ponselnya pada baby Chintya. Ternyata Kenzo sedang merekam baby Chintya yang sedang menangis dengan sangat kencang. Kemudian dia mengirimkan video tersebut pada Rosalina.
"Semoga dia melihatnya," ucap Kenzo setelah mengirim video tersebut pada Rosalina.
"Kenzo, bawa saja bayi ini pada orang tua wanita itu. Kita tidak bisa mengasuhnya karena dia bukan anakmu. Bahkan Mama tidak mau melihat anak dari pembohong seperti mereka," tutur Venita ketika dia sudah berada di depan Kenzo.
Bik Narmi yang juga masih berada di dekat Kenzo merasa sangat iba pada Chintya. Dia bayi yang tidak berdosa. Dia tidak tahu apa-apa. Kedua orang tuanya lah yang bersalah karena keegoisan merekalah Chintya bisa ada di dunia ini.
Kenzo bertambah pusing dengan permintaan mamanya. Dia merasa enggan melakukan apapun tanpa adanya Rosalina di dekatnya. Karena Rosalina saat ini sudah seperti mood booster nya yang hanya dengan melihatnya saja sudah bisa membuatnya bersemangat.
Di ruang makan rumah Rosalina, kini Rosalina dan adiknya sedang duduk bersama menunggu kedatangan papanya.
Nama Kenzo tertera pada layar ponsel Rosalina. Sudah ratusan kali Kenzo menghubungi Rosalina dan hanya menjadi panggilan tak terjawab saja semua panggilannya itu.
Rosalina masih enggan menerima teleponnya. Tadinya memang ponselnya itu dia matikan, tapi kembali dia nyalakan ketika dia meminta info pada teman sekelasnya tentang kuliahnya besok, karena dia berniat akan mulai masuk kelas besok pagi.
Rosalina ragu, dia enggan menjawab telepon Kenzo dan dia enggan membuka pesan Kenzo. Dia takut niatnya untuk meninggalkan Kenzo akan goyah jika dia mendengarkan suara Kenzo dan membaca pesan-pesan dari Kenzo.
__ADS_1
Namun, entah kenapa jari lentik Rosalina terpleset. Dia menekan pesan terakhir yang dikirim oleh Kenzo padanya.
Mata Rosalina berkaca-kaca melihat layar ponselnya itu. Dia sangat merasa bersalah meninggalkan rumah Kenzo hanya demi harga dirinya yang merasa terluka.