
Pertanyaan Bik Narmi membuat Rosalina tercengang. Ada rasa malu dan deg-degan mendengar pertanyaan dari Bik Narmi.
Dengan salah tingkah, Rosalina meninggalkan Bik Narmi tanpa menjawab pertanyaannya. Bik Narmi terkekeh melihat Rosalina yang salah tingkah karena mendapatkan pertanyaan darinya.
Semangkok bubur dan segelas air putih dibawa Rosalina menuju kamar Kenzo. Di dalam sana, Kenzo duduk di sofa sedang sibuk dengan laptopnya, sepertinya dia sedang mengerjakan sesuatu.
Baby Chintya masih saja tertidur dengan nyenyaknya. Hal itu membuat Kenzo merasa jika memang kehadiran Rosalina sangat dibutuhkan di rumahnya.
"Disuruh istirahat malah kerja. Bandel banget sih. Udah tua juga," omel Rosalina tanpa beban.
Kenzo mengalihkan perhatiannya dari laptopnya pada Rosalina yang baru masuk ke dalam kamarnya. Kemudian dia menutup laptopnya agar gadisnya itu tidak lagi mengomelinya.
Dia sudah berjanji pada dirinya akan menuruti semua yang diperintahkan oleh Rosalina agar dia tidak pergi lagi dari sisinya. Hanya satu yang dia tidak mau lakukan, menjauh pergi dari Rosalina apapun yang terjadi.
"Hanya mengecek pekerjaan saja Sayang. Aku gak masuk hari ini, jadi aku hanya mengeceknya saja dari rumah. Jangan marah dong," tutur Kenzo sambil meletakkan laptopnya.
Rosalina meletakkan mangkok bubur dan gelas yang berisi air putih itu di atas meja yang ada di sebelah sofa.
"Ini dimakan dulu, sebentar lagi aku akan pulang," tukas Rosalina sambil memberikan mangkok bubur tersebut pada Kenzo.
Kenzo menerima mangkok bubur tersebut dan menaruhnya kembali di atas meja.
Grep!
Tangan Kenzo menarik tubuh Rosalina dan mengarahkannya sesuai dengan keinginannya. Rosalina kini duduk di atas pangkuan Kenzo.
Mata Rosalina terbelalak, mendapati tubuhnya sudah berada di atas pangkuan Kenzo.
"Kenapa harus pulang? Rumahmu di sini. Kamu akan tetap tinggal di sini. Kita akan menikah secepatnya," tukas Kenzo sambil menatap lekat mata Rosalina.
Menikah? Kenapa semua pada ngomongin nikah sih? Rosalina bertanya dalam hatinya.
"Aku sudah mulai kuliah lagi. Aku ingin cepat lulus," ucap Rosalina gugup dan melihat ke arah lain.
"Biar bisa cepat nikah," sahut Kenzo sambil mengedipkan sebelah matanya ketika Rosalina menoleh padanya.
"Memangnya siapa yang mau menikah?" tanya Rosalina dengan gugup pada Kenzo.
__ADS_1
Secepat kilat tangan Kenzo memegang dagu Rosalina. Rosalina kembali menegang, lagi-lagi dia tidak bisa bergerak.
"Ehemmm...."
Terdengar deheman dari arah pintu kamar mereka.
Sontak saja Kenzo dan Rosalina menoleh ke arah tersebut. Mata mereka terbelalak melihat Venita, mama Kenzo sedang berdiri di depan pintu dan menatap ke arah mereka.
"Mama?!" celetuk Kenzo sambil melihat ke arah mamanya.
Kenzo masih dalam posisi memangku Rosalina. Mereka berdua seolah tidak sadar sedang dalam posisi seperti itu di depan Venita.
"Kalian ini, pagi-pagi udah pangku-pangkuan, cium-ciuman. Mendingan kalian menikah saja secepatnya daripada cuma pacaran-pacaran saja," tutur Venita dengan gaya memerintahnya.
"Beneran Ma kita boleh menikah secepatnya?" tanya Kenzo untuk meyakinkan pendengarannya.
"Menikahlah secepatnya dan secepatnya juga kalian berikan Mama cucu agar bayangan bayi itu bisa hilang dari kepala Mama," jawab Venita sambil menunjuk baby Chintya yang masih tertidur lelap.
Rosalina tidak bisa berkata-kata. Hari ini sepertinya hidupnya sedang dikejutkan dengan kata menikah. Semua orang seolah menyuruhnya secepatnya menikah dengan Kenzo. Bahkan Kenzo sendiri menginginkan hal itu. Lalu, apakah Rosalina siap menikah dengan Kenzo?
"Tuh Sayang, Mama udah nyuruh kita nikah secepatnya. Mau ya, gak usah nunggu lulus dulu," tutur Kenzo sambil menatap Rosalina.
"Secepatnya Ma," jawab Kenzo dengan entengnya.
Sontak saja Rosalina berdiri dari pangkuan Kenzo. Dia bingung, kini dia harus senang apa sedih jika diinginkan seorang lelaki untuk menikah dengannya.
"Mama tunggu kabarnya. Sekarang Mama akan pulang saja. Tadi Mama hanya ingin melihat keadaanmu. Ternyata kamu sudah sangat sehat. Bahkan sudah bisa memangku seorang gadis," ucap Venita sambil terkekeh.
Rosalina heran melihat Venita yang tidak lagi berwajah dingin padanya. Bahkan Venita menginginkan Rosalina untuk secepatnya menjadi menantunya.
"Mmmm... saya... saya juga akan pulang. Saya akan berangkat kuliah," ucap Rosalina dengan gugup.
Kenzo memasang wajah cemberut. Dia tidak mau ditinggalkan oleh Rosalina di rumah sendirian ketika dia sedang tidak masuk kerja.
Kenzo beranjak dari duduknya dan dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Pergilah jika kamu tega meninggalkanku yang sedang sakit sendirian di sini," ucap Kenzo, setelah itu dia memakai selimutnya hingga menutupi kepalanya.
__ADS_1
Rosalina dan Venita menghela nafasnya. Mereka tidak mengira jika seorang Kenzo yang dingin dan cuek bisa bertingkah seperti seorang bocah yang sedang merajuk.
"Buburnya dimakan dulu, setelah itu minumlah obat dan tidur," ucap Rosalina sambil membawa mangkok bubur mendekat pada Kenzo.
"Enggak. Aku gak mau," Kenzo menolaknya dengan nada sewot.
"Rosa, sebaiknya kamu urus saja bayi besar itu seperti semalam. Setelah dia sehat, kalian bisa bicarakan pernikahan kalian dan kuliahmu," tutur Venita, setelah itu dia pergi meninggalkan kamar Kenzo tanpa mendengar jawaban dari Kenzo ataupun Rosalina.
Ya, memang benar. Venita sudah menerima semua laporan dan bukti dari orang kepercayaannya yang diperintahkan untuk menyelidiki Rosalina dan keluarganya. Dan Venita senang karena hasilnya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kenzo.
Rosalina kembali menghela nafasnya sambil melihat ke arah Kenzo yang seluruh tubuhnya masih tertutup selimut.
"Ayo makan dulu, aku suapi," ucap Rosalina sambil membuka selimut yamg menutupi kepala Kenzo.
"Ayo buka mulutnya. Kalau gak mau buka mulutnya sekarang, akan aku tinggal sekarang juga," tutur Rosalina berniat untuk mengancam Kenzo.
Seketika mata Kenzo terbuka. Dia tersenyum dan duduk di ranjang tersebut serta membuka mulutnya lebar-lebar.
Rosalina menahan tawanya. Baru kali ini dia melihat Kenzo yang sangat penurut padanya, bahkan yang dilakukannya mirip sekali seperti bocah.
Tangan Rosalina sangat telaten menyuapkan sesendok demi sesendok bubur tersebut ke dalam mulut Kenzo hingga semua bubur dalam mangkok tersebut habis.
Kemudian Rosalina memberikan gelas yang berisi air putih bersama dengan obat yang diberikan dokter semalam padanya.
"Kamu di sini aja ya. Kita bicarakan pernikahan kita sekarang. Dan nanti kamu akan aku antar pulang sekalian membicarakan tentang pernikahan kita dengan kedua orang tuamu," tutur Kenzo sambil memegang erat kedua tangan Rosalina.
"Kenapa pada ngomongin nikah sih?" ucap Rosalina sambil menghela nafasnya.
"Kamu gak mau nikah sama aku?" tanya Kenzo dengan menatap intens manik mata Rosalina.
"Ya mau, tapi...,"
"Tapi kenapa?" tanya Kenzo sambil mengernyitkan dahinya.
"Kenapa harus terburu-buru?" tanya Rosalina dengan ragu.
"Supaya kamu gak bisa kabur lagi. Kamu kan sudah janji waktu itu, lalu kenapa kamu kemarin pergi? Sepertinya kamu minta dihukum," ucap Kenzo sambil tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Eh mau ngapain? Tadi pagi kan udah," ceplos Rosalina tanpa sadar.
"Tadi kan karena kamu yang mancing, sekarang aku akan memberikanmu hukuman."