
Di dalam mobil, Rosalina tidak bisa duduk dengan santai. Dia sangat cemas sehingga jalanan menuju rumah Kenzo terasa sangat lama.
Rendra, papa Rosalina tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat anak gadisnya yang terlihat sangat cemas karena mendengar pacarnya sedang sakit.
"Sepertinya kamu sangat mencintainya Rosa," tukas Rendra yang masih fokus dengan jalanan di depannya.
"Bukan begitu Pa. Hanya saja... aaah... Papa gak tau sih ceritanya," ucap Rosalina mencoba untuk mengelak.
Rendra hanya terkekeh melihat tingkah putrinya. Tidak disangka jika dia kini mengantarkan putrinya itu untuk datang menemui pacarnya.
"Yang itu Pa rumahnya," ucap Rosalina sambil menunjuk ke arah rumah besar yang sangat mewah.
Mobil Rendra pun berhenti di depan rumah tersebut. Dengan segera Rosalina melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobilnya.
"Pa, lebih baik Papa pulang saja ya. Nanti biar Rosa diantar sopir aja," ucap Rosalina sebelum turun dari mobil papanya.
"Tapi Rosa-"
Brak!
Pintu mobil ditutup tergesa-gesa sehingga Rosalina tidak bisa mengukur tenaganya, sehingga pintu tersebut tertutup dengan sangat keras.
"Anak ini, ckckck...," Rendra tidak bisa berkata-kata karena dia sudah terbiasa dengan putrinya yang bar-bar.
Kemudian dia mengambil ponselnya untuk menghubungi istrinya.
"Ma, Rosa menyuruh Papa pulang, katanya nanti dia akan diantarkan oleh sopir. Bagaimana ini Ma, apa Papa tunggu saja di luar?" tanya Rendra pada istrinya yang sedang berbicara melalui telepon dengannya.
Tinggal pulang saja Pa. Mama sudah pernah berbicara pada Kenzo. Dan Mama yakin dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, tutur Ratih dari seberang sana.
"Tapi Papa ragu Ma. Papa takut hubungan mereka tidak direstui. Sepertinya dia orang yang sangat kaya Ma. Rumahnya sangat besar sekali dan mewah. Apa Rosalina akan baik-baik saja?" ucap Rendra dengan menghela nafasnya.
__ADS_1
Yakin saja Pa. Kita doakan yang terbaik untuk Rosalina, putri kita. Sekarang lebih baik Papa pulang saja, Mama gak bisa tidur loh kalau gak ada Papa, tutur Ratih sambil terkekeh di akhir perkataannya.
Rendra pun terkekeh, dia sangat memahami istrinya. Jika istrinya itu bersikap tenang, pasti Rosalina akan baik-baik saja. Karena seorang ibu sangat perasa, dia akan merasa cemas jika akan ada yang terjadi pada anaknya. Dan sekarang istrinya itu tenang-tenang saja, dia yakin semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi pada putrinya.
Segera dilajukan mobilnya itu menuju rumahnya. Dengan perasaan yang tetap waspada dia akan selalu menjaga putrinya meskipun tidak berada di tempat tersebut.
Rosalina berlari memasuki rumah Kenzo. Dengan tergesa-gesa dan nafasnya yang tersengal-sengal dia masuk ke dalam kamar Kenzo.
Di dalam kamar tersebut hanya ada Bik Narmi dan Venita saja. Sengaja Bik Narmi menunggu Rosalina di dalam kamar Kenzo agar Rosalina tidak merasa takut pada Venita. Walaupun beberapa menit sekali dia harus bolak-balik dari kamar Kenzo menuju kamar baby Chintya untuk melihat baby Chintya yang masih tertidur nyenyak.
"Rosa," celetuk Bik Narmi sambil melambaikan tangannya agar Rosalina mendekat ke arah mereka.
Rosalina melangkah dengan ragu, kakinya bergerak tanpa sadar mendekati mereka yang ada di dekat Kenzo.
"Rosa... Sayang... Rosalina... jangan tinggalkan aku... kamu sudah janji...," gumam Kenzo dengan memejamkan matanya.
Rosalina menggigit bibirnya. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi Kenzo yang sama seperti waktu itu. Pada saat traumanya datang karena mengingat kembali tentang Levia. Dan kini, Rosalina lah penyebabnya.
Dia menyalahkan dirinya karena menyebabkan Kenzo seperti itu. Tanpa sadar air matanya pun keluar menetes di pipinya.
"Sayang... bangunlah... aku di sini. Aku akan menjagamu seperti waktu itu. Bangunlah dan lihatlah aku," ucap Rosalina dengan suara yang bergetar.
Suara Rosalina menusuk indera pendengar Kenzo. Dengan mudahnya mata Kenzo perlahan terbuka.
Dari wajah yang sedikit pucat itu terlihat senyum di bibir Kenzo. Tangannya mengusap pipi Rosalina dan menghapus jejak air matanya.
"Nyata. Ini benar-benar nyata. Kamu Rosalina. Sayang, apa ini benar-benar kamu?" tanya Kenzo dengan suara lemah.
Rosalina mengangguk, air matanya kembali menetes mendengar perkataan Kenzo. Kata-kata itu sangat menyakitkan hati Rosalina. Seorang Kenzo bisa tidak percaya dengan penglihatannya meskipun dia sudah menyentuhnya. Sungguh tidak seperti Kenzo yang dia kenal selama ini.
"Kamu gak akan ninggalin aku lagi kan? Kamu janji akan tetap ada di sampingku?" Kenzo bertanya kembali pada Rosalina dan menatapnya penuh dengan harapan.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Rosalina segera menganggukkan kepalanya. Dia menghapus air matanya yang baru saja menetes kembali di pipinya.
Venita menyaksikan itu semua. Dia tidak mengira jika Kenzo, putranya yang terlihat sangat gagah dan kuat itu bisa serapuh itu hanya karena seorang gadis yang bernama Rosalina.
"Rosa, ini obat dari dokter. Tolong nanti kamu minumkan pada Kenzo setelah dia makan. Dari tadi dia belum mengisi perutnya dengan apapun," tutur Venita pada Rosalina dengan memberikan obat yang diberikan dokter padanya.
Rosalina menerima obat tersebut dan meletakkannya di atas meja nakas yang ada di dekat ranjang Kenzo.
"Tunggu sebentar, aku akan membuatkan bubur seperti waktu itu," ucap Rosalina sambil memandang Kenzo yang sedari tadi memandangnya.
Kenzo menggelengkan kepalanya. Dia menolak permintaan Rosalina.
"Enggak. Gak boleh. Kamu di sini saja temani aku. Biar Bik Narmi yang membuatkan buburnya. Aku takut seperti dalam mimpiku tadi, kamu meninggalkanku sendiri meskipun sudah berjanji akan tetap bersamaku," tukas Kenzo sambil memegang erat tangan Rosalina.
Venita menghela nafasnya, dia baru melihat putra dewasanya kini masih saja bersikap manja pada gadis pilihannya.
"Mama yang jamin Kenzo, dia tidak akan meninggalkanmu. Dia akan tetap di sini menjagamu. Biarkan dia membuatkan bubur dan menyuapimu agar kamu cepat sembuh. Pasti kamu mau kan?" tutur Venita dengan lembut.
Kenzo menatap lekat manik mata Rosalina, dan ketika Rosalina menganggukkan kepalanya, Kenzo pun ikut menganggukkan kepalanya.
Dasar bocah lagi jatuh cinta, Venita berkata dalam hatinya sambil tersenyum tipis melihat Kenzo yang menatap Rosalina penuh dengan cinta.
Rosalina pun beranjak pergi ke dapur dengan diikuti oleh Bik Narmi. Sedangkan Venita mendekat pada Kenzo, dia duduk di pinggir ranjang Kenzo.
"Ken, apa kamu benar-benar yakin pada perempuan itu?" tanya Venita dengan serius.
Kenzo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada mamanya.
"Rosalina namanya Ma," ucap Kenzo berniat meralat panggilan mamanya pada Rosalina.
"Apa Mama perlu menyelidikinya agar tidak terjadi hal seperti waktu itu?" tanya Venita kembali dengan tatapan serius.
__ADS_1
Kenzo menggelengkan kepalanya, dia menatap mamanya dengan tatapan yang tidak kalah serius dari mamanya . Kemudian dia berkata,
"Tidak perlu Ma. Ken sangat yakin dengan Rosalina. Dia pilihan hati Ken."