Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 45 Tentang cinta


__ADS_3

"Mama akan pulang dulu Ken. Segera ambil keputusanmu mengenai bayi itu," ucap Venita seiring langkahnya mendekat ke arah Kenzo.


"Mama ingin keturunan yang berasal dari dirimu Ken. Jangan kecewakan Mama lagi. Dan kamu harus mencari istri yang benar-benar baik, tidak sembarangan memberikan tubuhnya pada sembarang laki-laki," tutur Venita dengan melirik sekilas Rosalina.


Rosalina sadar jika dirinya yang disindir oleh Venita. Dia yakin jika Venita mengira bahwa dirinya dan Kenzo sudah melakukan hubungan terlarang sehingga Venita menyindirnya seperti itu.


Dia hanya menundukkan kepalanya, tidak berani memandang Venita. Apalagi Venita yang sedang emosi karena mendengar kenyataan yang ada tentang menantu pilihannya.


Kenzo mengambil tangan Rosalina, dia memegangnya dengan erat, menatapnya dengan tersenyum manis padanya. Kemudian dia berkata,


"Tenang aja Ma. Ken sudah mendapatkan gadis pilihan hati Ken. Dan Ken jamin, dia tidak akan mengecewakan kita."


Venita tersenyum miring, matanya menatap Rosalina dengan tatapan mengintimidasinya.


"Apa kamu yakin?" tanya Venita dengan sinisnya.


Kenzo tahu sebenarnya mamanya itu sedang membicarakan dan meragukan Rosalina. Dia tidak bodoh, dia tahu jika pasti mamanya itu meragukan kegadisan Rosalina karena menemukan mereka yang tidur dengan saling berpelukan.


"Ken sangat yakin sekali Ma. Ken sudah mencari tau semuanya," jawab Ken dengan memberikan senyumnya pada mamanya.


Venita menatap tajam Rosalina dan melihatnya dari atas hingga bawah. Untuk pertama kalinya Venita melihat dengan cermat penampilan kandidat menantunya.


"Sudahlah, Mama akan pergi sekarang. Ingat Mama tidak mau kecewa lagi," ucap Venita sambil menjinjing tas branded miliknya.


Kenzo tidak mengantarkan mamanya keluar dari rumahnya. Dia malah sibuk menenangkan Rosalina yang menurutnya butuh dukungan dan kekuatan darinya.


"Sayang, maafkan Mama ya," ucap Kenzo sambil tersenyum manis dan mengusap tangan Rosalina yang berada dalam genggamannya.


Rosalina tersenyum getir. Dia memang bukan siapa-siapa di rumah itu, bahkan dia bukan dari keluarga yang terpandang hingga dihormati banyak orang.

__ADS_1


Namun, dia masih memiliki hati nurani yang merasa sakit jika dihina atau direndahkan oleh orang lain.


"Aku sudah mengatakan semuanya padamu. Apa kamu bisa menceritakan tentang dirimu padaku?" tanya Kenzo sambil mengarahkan tubuh Rosalina menghadap padanya.


Rosalina memandang Kenzo dengan tatapan penuh tanya. Dia mengerti akan maksud dari pertanyaan yang diajukan Kenzo padanya. Hanya saja dia tidak tahu harus menceritakan bagian mana dari dirinya.


Kenzo tersenyum tipis, seolah dia tahu akan apa arti tatapan Rosalina padanya. Dia menanyakan kembali apa yang paling ingin dia ketahui untuk saat ini.


"Tolong ceritakan tentang apa yang dikatakan oleh Rendi waktu itu. Dan apa hubungannya dengan tas branded yang diberikannya padamu," ucap Kenzo dengan tatapan ingin tahunya.


Rosalina menghela nafasnya, dia sudah menduga jika nantinya Kenzo ingin mengetahui tentang masalah itu.


Semuanya sudah sangat jauh dari rencana Rosalina. Tadinya dia hanya ingin bekerja demi mencari uang untuk membeli tas branded limited edition yang diincarnya.


Hanya saja semuanya menjadi rancu ketika Rendi mengetahui rencananya dan memberikannya tas tersebut, serta dia menginginkan Rosalina menjadi pacarnya sebagai imbalan dari tas pemberiannya.


Meskipun Rendi tidak mengatakannya secara gamblang, Rosalina tahu jika tas tersebut digunakan Rendi sebagai barang untuk mempertimbangkan pernyataan cintanya.


Masalah akan selesai jika Rosalina menolak keduanya, menolak pernyataan cinta Rendi dan Kenzo padanya. Sayangnya, Rosalina juga menaruh hati pada Kenzo. Dia merasa nyaman dan tenang berada di sisinya.


Lalu, apa yang harus aku lakukan? Sudah sejauh ini aku melangkah. Aku gak bisa mundur lagi dan aku harus menyelesaikan semuanya. Kalaupun aku harus pergi, aku akan pergi dengan cara terhormat, bukan sebagai pecundang yang menghindari masalah tanpa menyelesaikannya, ujar Rosalina dalam hatinya.


"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya. Tolong dengarkan dulu dan jangan menyelanya," ucap Rosalina tegas dengan memandang mata Kenzo.


Kenzo pun menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum pada gadis pujaan hatinya itu dan berkata,


"Baiklah, ceritakan padaku."


Rosalina menarik nafasnya dan mengeluarkannya agar tidak lagi gugup ketika bercerita pada Kenzo. Kemudian dia menceritakan awal mula tujuannya mencari pekerjaan yaitu keinginannya untuk membeli tas branded limited edition yang diincarnya. Dan kebetulan sekali dia melihat lowongan pekerjaan yang Kenzo tawarkan sebagai baby sitter dengan gaji lima kali lipat.

__ADS_1


"Jadi, kamu tidak sedang kekurangan biaya untuk kuliah kamu?" tanya Kenzo dengan menatap intens mata Rosalina yang sedang bercerita padanya.


Rosalina menggigit bibirnya dan menggelengkan kepalanya. Dia takut jika Kenzo marah padanya karena mengetahui tujuannya bekerja tidak seperti yang dia utarakan pada saat pertama kali dia datang ke rumah itu.


"Aku selalu mendapatkan beasiswa, jadi aku tidak memerlukan biaya lebih untuk kuliah," jawab Rosalina dengan kepalanya yang masih tertunduk.


Kenzo menahan senyumnya, dia hanya berpura-pura tegas pada Rosalina karena sebelumnya dia sudah tahu dari mamanya tadi ketika membicarakannya sebelum Rosalina bergabung dengan mereka.


"Lalu apa hubungannya dengan ucapan Rendi waktu itu?" tanya Kenzo menyelidik.


Rosalina kembali menghela nafasnya, dia enggan membicarakan hal rumit yang hanya membuatnya terlihat seperti perempuan yang hanya memanfaatkan laki-laki yang mencintainya.


"Rendi bertanya pada Pak Saleh tentang apa yang aku lakukan di rumah ini. Dan dia bertanya padaku tujuanku bekerja di rumah ini. Setelah dia tau, dia memberikanku tas yang aku inginkan itu, tapi...," Rosalina menggantung ucapannya karena dia merasa tidak enak pada Kenzo.


"Dia memintamu menjadi pacarnya? Karena dia memberikanmu tas itu?" tanya Kenzo untuk memastikan apa yang dipikirkannya sejak tadi.


Rosalina pun menganggukkan kepalanya untuk memberikan tebakan Kenzo.


Kenzo tersenyum sinis. Dia kini mengerti apa arti dari perkataan Rendi saat itu. Dia merendahkan Rosalina dengan mengira Rosalina menjadi pacar Kenzo karena memberikannya tas yang lebih mahal dari yang dia berikan.


Sungguh picik pikiran Rendi. Dia mengaku mencintai Rosalina, tapi dia juga merendahkan sekaligus menghinanya karena Rosalina lebih memilih orang lain daripada dirinya.


"Apa kamu mencintai Rendi?" tanya Kenzo dengan tatapan menyelidik.


"Dia itu temanku sejak dulu. Bahkan dia juga berteman baik dengan mantanku. Lalu, apakah aku harus menerimanya jika aku gak ada rasa cinta padanya? Apa aku harus mempunyai hubungan dengan teman mantanku yang melukai hatiku?"


Bukannya Rosalina menjawab pertanyaan Kenzo, dia malah berbalik tanya pada Kenzo.


Kenzo tidak menjawab pertanyaan Rosalina yang menggambarkan jawabannya. Dia hanya menatap lekat mata Rosalina untuk meyakinkan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.

__ADS_1


Beberapa saat mereka terdiam dan hanya saling menatap. Kemudian Kenzo bertanya padanya,


"Apa kamu mencintaiku?"


__ADS_2