Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 6 Wajah Chintya


__ADS_3

"Rosa, Tuan Kenzo ke mana?" tanya bik Narmi pada Rosalina.


"Sakit Bik, dari semalam badannya panas," jawab Rosalina sambil membuat minuman panas dalam sebuah gelas.


"Minuman untuk siapa itu Rosa?" tanya Bik Narmi sambil melihat minuman yang dibuat oleh Rosalina.


"Buat Om Kenzo Bik," jawab Rosalina sambil mengaduk minuman dalam gelas tersebut.


"Oh ya sudah. Biar Bibik yang buatkan buburnya," ucap bik Narmi sambil beranjak mengambil bahan.


"Udah Bik. Tadi Rosa udah buatkan. Sekarang tinggal minumannya aja. Bentar ya Bik, Rosa mau kasih ini dulu ke Om Kenzo," ucap Rosalina sambil tersenyum.


Kemudian dia berlalu menuju kamar Kenzo dengan membawa gelas yang berisikan minuman hangat yang baru saja dia buat.


Bik Narmi melihat punggung Rosalina ketika dia berjalan. Bik Narmi tersenyum lega karena baby sitter pilihan tuannya sangat telaten dan tidak seperti yang sudah-sudah.


"Kalau gini kan saya bisa lega pas pulang ninggalin Tuan Kenzo sama Chintya sendiri," ucap bik Narmi sambil tersenyum lega.


Tok... tok... tok...


Rosalina mengetuk pintu Kenzo sebelum dia masuk ke dalam kamarnya. Kemudian dia berlalu masuk ke dalam kamar tersebut.


"Om, ini minuman hangatnya," ucap Rosalina ketika sudah berada di dekat Kenzo.


Gelas itu diletakkan oleh Rosalina di atas nakas. Kemudian dia mengukur kembali suhu badan Kenzo dengan punggung tangannya.


Kenzo yang sedang tidur merasa terganggu, kemudian dia membuka matanya dan kembali mendapati wajah yang tidak asing. Wajah yang selama beberapa jam lalu selalu menemaninya.


"Eh Om, maaf ganggu tidurnya. Ini minuman hangatnya, saya taruh di sini. Silahkan diminum. Saya mau permisi dulu," ucap Rosalina yang tersenyum kikuk, malu karena ketahuan memegang dahi Kenzo.


Kenzo mengangguk dan berusaha menggapai gelas yang ada di atas nakas itu. Rosalina yang melihat itu tidak tega, dia membantu Kenzo mengambilkannya dan membantu meminumkannya, kemudian dia kembalikan lagi ke tempat semula.


Rosalina membenarkan selimut Kenzo setelah Kenzo memejamkan matanya kembali. Setelah itu dia meninggalkan kamar Kenzo menuju kamar baby Chintya.


Berjam-jam berlalu, baby Chintya semakin dekat dan nyaman dengan Rosalina. Kini dia benar-benar seperti seorang ibu bagi Chintya.


Kenzo sudah merasa lebih baik. Dia sudah membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Bahkan sekarang dia sedang berada di ruang kerjanya untuk mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda karena tidak masuk hari ini.


Dari ruang kerjanya, Kenzo mendengar gelak tawa baby Chintya bersama dengan Rosalina yang sedang bermain di ruang menonton televisi.


Entah mengapa Kenzo menjadi tertarik untuk melihat tawa Rosalina dan baby Chintya. Dia ingin mengetahui apa saja yang dilakukan oleh meeka berdua hingga baby Chintya bisa tertawa seperti itu.


Tanpa sadar, kakinya melangkah ke arah pintu ruang kerjanya. Dibukanya perlahan pintu tersebut dan dia melihat dari balik pintu apa yang dikerjakan oleh Rosalina dan baby Chintya.


Bibirnya melengkung ke atas melihat Rosalina yang sangat telaten menggoda baby Chintya hingga suara gelak tawanya menggelitik setiap orang yang mendengarnya.


Keingintahuannya semakin besar. Tanpa dia sadari, kakinya membawanya mendekat ke arah Rosalina dan baby Chintya berada.


"Eh Om Kenzo, udah baikan Om?" tanya Rosalina dengan tersenyum ketika melihatnya.


Kenzo tersenyum tipis dan mengangguk. Kemudian dia melihat baby Chintya yang melihat kearahnya.

__ADS_1


Bayangan Levia, mendiang istrinya, ibu dari baby Chintya, terlihat begitu jelas di wajah baby Chintya.


Hal itu membuat Kenzo segera memalingkan wajahnya dan memundurkan langkahnya kemudian dia berbalik memunggungi baby Chintya.


Rosalina yang melihat hal itu menjadi bingung karena aneh jika seorang ayah tidak mau memandang ataupun menyentuh anaknya.


Hanya sekali saja dia melihat Kenzo menyentuh baby Chintya, yaitu pada saat dia pertama kali datang ke rumah itu untuk melamar pekerjaan sebagai seorang baby sitter.


"Om, om kenapa?" tanya Rosalina dengan tatapan menyelidik pada Kenzo.


Kenzo hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak menjawab apapun pada Rosalina. Bahkan dia melangkah untuk menjauh dan kembali ke dalam ruang kerjanya.


"Aneh sekali," gumam Rosalina lirih.


Tring!


Suara notifikasi ponsel Rosalina mengagetkannya.


Diambilnya ponselnya itu dari saku celananya. Dan matanya terbelalak ketika membaca pesan yang mengharuskannya datang ke kampus saat ini juga.


Rosalina bingung, dia harus mengatakan apa pada Kenzo. Jika soal orang tuanya, Rosalina sudah mengatasinya. Dia mengatakan pada kedua orang tuanya tinggal bersama teman perempuannya di kos-kosan dekat dengan kampusnya karena sedang sibuk-sibuknya, sehingga kedua orang tuanya tidak bisa menolak permintaannya.


"Aduuuh... gimana ini... gimana... Aku harus datang. Ah aku harus jujur saja pada dia, siapa tau dia memberikan kelonggaran bagi mahasiswa miskin yang ingin berkuliah," ucap Rosalina sambil berjalan mondar-mandir di depan baby Chintya.


Baby Chintya yang berada di depan Rosalina merasa terhibur melihat Rosalina yang berjalan mondar mandir di depannya, hingga gelak tawa baby Chintya kembali terdengar.


Langkah Rosalina berhenti ketika mendengar suara tawa baby Chintya. Dia tersenyum dan menggendongnya.


Terbersit dalam otak Rosalina membawa baby Chintya ke dalam ruangan Kenzo agar dia langsung menyetujui permintaannya.


Tok... tok... tok...


"Masuk!"


Suara teriakan Kenzo terdengar dari depan pintu ruangan kerjanya.


Ceklek!


Masuklah Rosalina dengan menggendong baby Chintya berjalan mendekati Kenzo.


"Om, apa saya boleh mengatakan sesuatu?" tanyanya tepat berdiri di depan meja kerja Kenzo.


Kenzo mengalihkan perhatiannya dari laptopnya pada Rosalina yang berada di depannya.


"Ada apa?" tanya Kenzo kemudian menghadap kembali pada laptopnya.


"Emmm... itu Om, anu... itu...," ucap Rosalina gugup.


Kenzo kembali menatapnya, ingin mengetahui apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Rosalina.


Namun, wajah baby Chintya yang sedang digendong oleh Rosalina kembali mengganggunya, sehingga perhatiannya kembali pada laptopnya.

__ADS_1


"Ada apa? Cepat katakan, saya tidak punya banyak waktu," ucap Kenzo tegas.


"Emmm... jadi gini Om, sebenarnya saya seorang mahasiswa yang sedang cuti karena mencari biaya untuk kuliah. Dan baru saja saya mendapat pesan jika saya harus datang ke kampus sekarang juga," tutur Rosalina dengan hati-hati mengatakannya.


Kini Kenzo menghadap Rosalina. Dia tatap matanya ingin mencari tahu kejujuran atau kebohongan atas apa yang diucapkan oleh Rosalina tadi.


Dan dia menangkap kejujuran di sana. Hanya saja Kenzo tidak mau percaya begitu saja. Dia meminta bukti atas apa yang dikatakan oleh Rosalina.


"Mana pesannya? Coba saya lihat," ucap Kenzo yang masih menatap mata Rosalina.


"Ada di ponsel saya Om," jawab Rosalina dengan entengnya.


"Iya, mana ponsel kamu? Sini biar saya lihat pesannya," tukas Kenzo sambil menadahkan tangannya di depan Rosalina.


"Masalahnya Om, ponselnya ada di saku celana saya. Ini tangan saya lagi sibuk gendong Chintya," ucap Rosalina sambil tersenyum lebar.


"Alasan kamu. Chintya taruh saja di kursi atau kamu gendong tangan satu kan bisa," ucap Kenzo tidak mau kalah.


"Udah Om aja deh yang bantuin ngambilin. Mau gak? Kalau gak mau ya gapapa. Pokoknya saya minta ijin sekarang mau ke kampus sebentar saja," ucap Rosalina tanpa berpikir panjang.


"Ck, awas kamu kalau bohong," ucap Kenzo sambil berdiri dan berjalan mendekati Rosalina.


"Sebelah mana?" tanya Kenzo yang sudah berada di sebelah Rosalina.


"Ini Om, di saku kanan yang depan," jawab Rosalina.


Tangan Kenzo ragu ketika akan masuk saku celana Rosalina. Dia enggan mengambil ponsel itu dari saku tersebut. Tapi dia paking tidak suka dibohongi, sehingga dia tidak mau kehilangan baby sitter yang handal seperti Rosalina.


"Terus Om, kurang ke bawah," ucap Rosalina sambil menggeliatkan badannya kegelian.


Gadis ini ngerti gak sih bahayanya tanganku masuk ke saku celana depannya? Kenzo bertanya dalam hatinya.


Kenzo menahan gelitikan yang ada dalam hatinya. Tapi dia berusaha agar secepatnya ponsel itu bisa diambilnya.


"Ih geli Om," ujar Rosalina sambil kegelian dan terkekeh.


Secepatnya tangan Kenzo mengambil ponsel itu dari saku tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk.


Kemudian dia segera memberikan ponsel itu pada Rosalina.


"Ini, buruan tunjukin mana pesannya," ucap Kenzo sambil memberikan ponsel milik Rosalina padanya dan menetralkan perasaannya.


Rosalina segera mengambil ponselnya dan menunjukkan pesan dari kampusnya tadi. Kenzo membacanya, kemudian dia berkata,


"Baiklah, kamu saya antar ke sana. Jangan lupa peralatan Chintya," ucap Kenzo sambil berjalan kembali menuju kursi kebesarannya.


"Ha! Diantar Om? Sama Chintya?" tanya Rosalina meyakinkan pendengarannya.


"Iya, karena Chintya tanggung jawab kamu. Ayo sekarang kita berangkat," ucap Kenzo yang sudah duduk di kursinya.


Mata Rosalina terbelalak sempurna mendengar jawaban dari Kenzo.

__ADS_1


Ah... mampus aku, batin Rosalina sambil melihat wajah baby Chintya yang malah tertawa padanya.


Malangnya nasibku, bayi aja menertawakan aku, Rosalina berkata dalam hatinya.


__ADS_2