
Rosalina yang sedang mencuci peralatan dapur dan peralatan makan bekas Kenzo di dapur dikagetkan oleh kehadiran Bik Narmi.
"Rosa, bagaimana keadaan Tuan Kenzo?" tanya Bik Narmi sambil menuang minuman ke dalam gelas.
"Sepertinya sudah lebih baik Bik. Dia sudah lebih banyak bicara daripada tadi," jawab Rosalina sambil terkekeh dan tangannya masih sibuk mengerjakan apa yang dia kerjakan.
"Berarti benar kata dokter tadi, Tuan Kenzo tidak butuh dokter, yang dia butuhkan dokter cintanya. Buktinya sekarang dia langsung sembuh dirawat oleh dokter cintanya. Kamu benar-benar obat rindunya Tuan Kenzo," tutur Bik Narmi sambil terkekeh setelah meneguk minumannya.
Seketika rona merah menghiasi pipi Rosalina. Dia merasa malu, tapi hatinya berbunga-bunga. Dia sangat senang mendengar dirinya sangat dibutuhkan oleh Kenzo, tapi dia juga sedih karena niatnya untuk meninggalkan Kenzo semakin menjadi dilema baginya.
"Chintya mana Bik, apa dia sudah bangun? Aku merindukannya," ucap Rosalina untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
"Chintya masih tidur. Tadi Nyonya menyuruh Tuan Kenzo untuk mengembalikan Chintya pada keluarga Ibunya. Dari hasil tes DNA memang benar jika Chintya bukan anak kandung Tuan Kenzo. Jadi, Nyonya menyuruh Tuan Kenzo mengembalikannya. Apalagi sedari tadi Chintya menangis terus," tutur Bik Narmi dengan raut wajah sedih.
Mata Rosalina terbelalak, dia kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Bik Narmi.
Rosalina tidak bisa membayangkan bagaimana baby Chintya nantinya jika diasuh oleh keluarga Levia.
Di sini saja Chintya menangis seperti itu padahal dia berada di rumah ini sejak dia lahir, apalagi dia berada di tempat asing? Seharusnya aku senang, dengan begitu aku bisa menjauhi Kenzo tanpa ada alasan Chintya menangis karena mencariku, Rosalina berkata dalam hatinya.
"Rosa, cepatlah kembali ke kamar. Kenzo dari tadi mencarimu."
Tiba-tiba saja suara Venita mengalihkan perhatian Bik Narmi dan Rosalina. Mereka menoleh ke arah Venita yang ternyata sudah ada di dapur saat itu.
"Sebentar Nyonya, saya ingin melihat Chintya terlebih dahulu," ucap Rosalina sambil mengelap tangannya yang masih basah setelah mencuci piring tadi.
"Ngapain kamu melihat bayi itu? Sudahlah, cepatlah ke kamar Kenzo. Dari tadi dia mencari kamu," ucap Venita seolah tidak ingin dibantah.
Tiba-tiba suara tangis baby Chintya terdengar hingga ke dapur. Dengan segera Rosalina berlari kecil menuju kamar baby Chintya.
Bik Narmi dan Venita mengikuti Rosalina menuju kamar baby Chintya. Mereka melihat Rosalina yang dengan cekatan menggendong baby Chintya dan menenangkannya.
Sangat aneh menurut Venita dan Bik Narmi. Mereka berdua melihat baby Chintya kini tertawa setelah menangis tadi. Bahkan baby Chintya tertawa cekikikan karena diajak bermain oleh Rosalina.
__ADS_1
Siapa sebenarnya dia? Kenapa Kenzo dan bayi itu sangat dekat dengan dia? Bahkan mereka seperti sangat tergantung sama dia. Tapi aku tidak membutuhkannya untuk mengasuh bayi itu karena dia bukan cucuku. Aku akan tetap cari tau tentang dirinya karena aku tidak mau kejadian itu terulang lagi, Venita berkata dalam hati sambil memandang Rosalina dan baby Chintya yang tertawa bersama.
"Rosa, cepatlah ke kamar Kenzo. Dia pasti menunggumu sedari tadi," ucap Venita dengan nada memerintah.
Rosalina menoleh ke arah Venita dan dia tersenyum padanya. Kemudian dia berjalan sambil menggendong baby Chintya melewati Venita dan Bik Narmi menuju kamar Kenzo.
Kenzo menoleh ke arah pintu ketika mendengar celotehan baby Chintya yang diselingi tawanya.
Kenzo tersenyum lega karena baby Chintya kini sudah tidak menangis lagi seperti tadi. Bahkan dirinya saja sakit karena ditinggal oleh Rosalina. Dan anehnya lagi, dia merasa membaik dari sakitnya ketika Rosalina datang merawatnya. Sungguh ajaib sekali obat rindunya itu.
Ternyata bukan aku saja yang merindukanmu, Chintya juga merindukanmu, Kenzo berkata dalam hatinya sambil tersenyum menyambut kedatangan Rosalina dan baby Chintya.
"Sini," ucap Kenzo sambil menepuk ranjang di sebelahnya.
Tanpa berpikir panjang, Rosalina menurunkan baby Chintya di atas ranjang sebelah Kenzo dan dia sendiri duduk di sebelahnya.
Mereka bermain bersama hingga baby Chintya kembali tertawa senang. Hal itu juga tidak luput dari perhatian Venita dan Bik Narmi yang mengikuti mereka sedari tadi.
"Nyonya, apa ada yang perlu saya kerjakan?" tanya Bik Narmi pada Venita yang ada di sebelahnya.
"Tidak ada Bik. Saya akan pulang sekarang," jawab Venita yang matanya masih melihat keharmonisan Kenzo, Rosalina dan baby Chintya.
Kemudian dia berjalan menuju mobilnya. Bik Narmi mengantarkan hingga mobilnya.
"Kalau ada apa-apa langsung hubungi saya Bik," tutur Venita dari dalam mobilnya.
"Baik Nyonya," tukas Bik Narmi sambil menganggukkan kepalanya.
Di dalam kamar Kenzo kini terdengar keceriaan yang menggema di ruangan tersebut. Suara yang sangat jarang terdengar di kamar itu. Kini kamar itu benar-benar seperti kamar keluarga yang bahagia. Ada tawa anak kecil di dalamnya.
"Hoaaaammm...," Kenzo menguap ketika mereka bertiga sedang bercanda.
Rosalina melihat ke arah Kenzo. Kemudian dia tersenyum sambil berkata,
__ADS_1
"Obatnya sudah bekerja. Tidurlah agar cepat sembuh."
Kenzo menatap Rosalina dengan lekat seolah tidak mau sedikitpun melewatkan momen apapun. Kemudian dia menanggapi perkataan Rosalina.
"Aku takut kamu tinggalkan lagi ketika aku sedang tidur. Lebih baik aku terjaga menahan kantuk dari pada harus kehilangan kamu lagi," tutur Kenzo dengan menatap lekat mata Rosalina.
Jleb!
Rasanya sangat menusuk di hati Rosalina. Dia tidak mengira jika apa yang dia lakukan akan berdampak seperti itu pada Kenzo. Hatinya sangat sakit hingga air matanya mendesak ingin keluar, tapi dengan sekuat tenaga Rosalina menahan agar air mata itu tidak jatuh dari pelupuk matanya.
"Aku akan tetap berada di sini. Aku dan Chintya akan menunggumu di sini," ucap Rosalina dengan menahan kesedihannya.
"Aku mau kamu berjanji tidak akan meninggalkan aku apapun yang terjadi. Dan aku tidak mau kamu melanggar janjimu itu. Cukup beberapa jam saja tadi kamu meninggalkanku. Tolong jangan lagi pergi tanpa aku ketahui di mana kamu berada," tutur Kenzo dengan tatapan kesedihan dan penuh luka.
"Kita akan bicarakan nanti ketika kamu sudah bangun. Sekarang kamu tidurlah terlebih dahulu," tukas Rosalina berharap tidak akan dibantah lagi oleh Kenzo.
"Berjanjilah terlebih dahulu tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi dan genggamlah tanganku agar aku bisa tidur dengan nyenyak," ucap Kenzo dengan mengulurkan tangannya agar Rosalina mau menggenggamnya.
Rosalina pun menurut, dia menggenggam tangan Kenzo dan berbaring berhadapan dengan baby Chintya berada di tengah-tengah mereka.
Mereka saling memandang dan tanpa sadar mata mereka terpejam. Baby Chintya yang tadinya bermain sendiri dengan mainan karetnya, kini ikut terpejam kembali bersama Kenzo dan Rosalina.
Bik Narmi yang ingin berpamitan tidur pada mereka, mendatangi kamar Kenzo. Bibirnya tersenyum melihat pemandangan yang sangat terlihat indah dan jarang dia temui.
"Seperti keluarga bahagia yang sesungguhnya," ucap Bik Narmi lirih sambil tersenyum.
Kemudian Bik Narmi menutup pintu kamar Kenzo dan beristirahat di kamar yang disediakan Kenzo untuknya ketika menginap di sana.
Di rumah Rosalina, tepatnya di dalam kamar kedua orang tuanya. Rendra dan Ratih sedang merebahkan badannya sesudah melakukan aktivitas malam mereka.
"Ma, kira-kira bagaimana keadaan Rosalina di sana ya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Rendra dengan nafas yang sedikit tersengal sambil memandang langit-langit kamarnya.
"Rosalina baik-baik saja Pa. Mama capek Pa, ayo kita tidur. Papa hari ini semangat sekali," jawab Ratih sambil memeluk erat tubuh suaminya mencari tempat ternyaman untuknya.
__ADS_1