
Sebelum mereka menuju tempat yang dituju, Kenzo sudah menghubungi seseorang yang menjadi kepercayaannya selama ini. Dia meminta tolong pada orang tersebut agar bisa membantunya untuk mempersiapkan semuanya sesuai dengan apa yang dia rencanakan.
Dan disinilah mereka, di sebuah rumah sakit yang terbesar dan terlengkap peralatannya.
Kenzo membimbing Rosalina berjalan mengikuti dokter yang terlebih dahulu berjalan di depannya. Mereka memasuki suatu ruangan yang sudah dipersiapkan untuk tes tersebut.
Awalnya mereka mengambil beberapa sampel dari tubuh baby Chintya untuk di tes keakuratannya. Setelah itu baby Chintya yang tertidur di gendongan Rosalina, diserahkan pada bik Narmi untuk dititipkan padanya.
Kini Rosalina masuk ke dalam ruangan tersebut hanya bersama dengan dokter perempuan yang sudah ditunjuk oleh Kenzo.
Perlahan mata Rosalina tertutup. Ternyata dia dibius dengan dosis yang rendah sehingga hanya tertidur dalam beberapa saat saja.
Kenzo, Venita dan bik Narmi yang sedang menggendong baby Chintya masih menunggu Rosalina di luar ruangan tersebut.
Setelah beberapa saat, dokter perempuan itupun keluar dari dalam ruangan tersebut. Sambil tersenyum, dia menghampiri Kenzo yang berdiri ketika melihatnya keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana dok?" tanya Kenzo pada dokter perempuan tersebut.
Dokter itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Kenzo.
"Apa itu artinya...," Kenzo tidak melanjutkan ucapannya agar dokter tersebut menyebutkan hasilnya.
"Dia masih gadis. Yang artinya dia masih perawan," tutur dokter perempuan tersebut sambil tersenyum pada mereka semua.
Kenzo tersenyum bahagia dan menganggukkan kepalanya pada dokter tersebut sebagai tanda terima kasihnya.
Tidak hanya Kenzo yang tersenyum bahagia. Bahkan bik Narmi yang bukan siapa-siapa saja merasa bersyukur dan bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh dokter perempuan tersebut.
Sedangkan Venita, dia tersenyum tipis mendengarnya. Dalam hatinya bersyukur karena pilihan putranya memang sesuai apa yang dikatakannya. Hanya saja dia masih enggan mengakui jika Rosalina yang terbaik untuk menjadi menantunya.
Masalah Rendi pun masih belum terselesaikan. Dan orang kepercayaannya yang ditugaskan olehnya untuk mencari informasi yang akurat tentang Rosalina dan keluarganya pun belum melapor padanya.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel dokter perempuan tersebut bergetar. Segera dia mengambil ponselnya itu dari kantong jasnya.
"Pak Kenzo, hasil tes DNA sudah keluar. Bisakah Bapak ikut dengan saya untuk mengetahui hasilnya?" tanya dokter perempuan tersebut pada Kenzo yang berdiri di hadapannya.
"Tapi Rosalina...."
"Dia masih belum sadar Pak. Mungkin butuh beberapa saat lagi dia akan sadar," tutur dokter perempuan tersebut menyela ucapan Kenzo yang dia tahu akan menanyakan keadaan Rosalina saat ini.
"Tapi bagaimana jika dia sudah sadar dan tidak mendapati kami di sini? Dia pasti akan bingung nantinya," tukas Kenzo yang sebenarnya enggan meninggalkan Rosalina sendirian tanpa dirinya.
"Tenang saja Pak. Saya akan menyuruh perawat untuk menemani di dalam ruangan tersebut," jawab dokter perempuan tersebut memberikan solusi dari kekhawatiran Kenzo pada Rosalina.
Kenzo terdiam sebentar untuk berpikir. Entah kenapa dia enggan sekali meninggalkan Rosalina sendirian tanpa dirinya.
"Ayo Ken, kita segera ke sana untuk mengetahui hasilnya. Itu bisa menjadi bukti untuk menyerahkan kembali bayi ini pada orang tua wanita itu," ucap Venita sambil menarik lengan Kenzo untuk berjalan bersamanya.
"Mari dok, silahkan tunjukkan jalannya," ucap Venita pada dokter perempuan tersebut.
Venita menoleh ke belakang ketika merasa bik Narmi tidak mengikutinya. Kemudian dia berkata,
"Bik, ayo ikut. Bibik kan yang menggendong bayi itu. Siapa tau bayi itu masih diperlukan di sana."
Dengan segera bik Narmi berjalan mengikuti mereka dengan menggendong baby Chintya yang masih tertidur dengan nyenyak.
Di dalam ruangan pemeriksaan tadi, Rosalina kini berada bersama seorang perawat perempuan yang sedang menunggunya tersadar.
Perlahan mata Rosalina terbuka. Matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan binar cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.
Kemudian dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut untuk mengumpulkan ingatannya sebelum dia memejamkan matanya karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter perempuan tadi.
"Aah... kepalaku...," rintih Rosalina sambil memegang kepalanya yang merasakan sedikit pusing dan berputar-putar akibat obat yang diberikan dokter perempuan tadi sebelum dia tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Perawat yang menjaganya tadi mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang sedari tadi dimainkannya selama menunggu Rosalina tersadar.
"Mbak sudah sadar? Apa ada yang sakit Mbak?" tanya perawat tersebut sambil mendekati Rosalina.
"Hanya sedikit pusing saja. Saya ada di mana? Apa masih di ruangan tadi?" tanya Rosalina pada perawat tersebut yang membantunya duduk bersandar pada kepala bed pasien.
"Sebentar lagi pasti akan hilang kok Mbak. Tenang saja," ucap perawat tersebut sambil tersenyum.
Rosalina berdiam memikirkan apa yang terjadi. Dia berpikir sejenak dan akhirnya dia memutuskan sesuatu.
"Sus, bisa minta tolong ambilkan saya minum? Tenggorokan saya rasanya sangat kering sekali," ucap Rosalina dengan menatap perawat tersebut penuh harap.
Perawat tersebut tersenyum dan beranjak dari duduknya sambil berkata,
"Baik, tunggu sebentar ya Mbak."
Melihat perawat tersebut sudah keluar dari ruangan itu, segeralah Rosalina mengambil sling bag nya yang berada di meja sebelahnya dan turun dari bed tersebut. Dia berjalan perlahan untuk menyeimbangkan badannya karena kepalanya masih terasa sedikit berputar-putar.
Hanya beberapa detik saja, Rosalina bisa menyeimbangkan kembali badannya, sehingga kini dia bisa berjalan dengan lebih cepat.
Dengan sangat hati-hati dia membuka pintu ruangan tersebut dan kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri untuk meyakinkan dirinya bahwa tidak ada Kenzo, Venita dan bik Narmi yang melihatnya keluar dari ruangan tersebut.
Secepat kilat dia berjalan meninggalkan ruangan tersebut untuk keluar dari rumah sakit itu.
Rosalina sudah memutuskan jika dia akan meninggalkan semuanya. Meninggalkan hatinya di rumah Kenzo, meninggalkan rasa cintanya pada Kenzo dan meninggalkan kenangan manisnya bersama Kenzo di rumah mewah yang mungkin tidak bisa dia datangi lagi.
Air matanya menetes mengiringi langkah kakinya. Tangannya mengusap air matanya yang menetes tanpa henti. Kemudian tangannya memegang dadanya yang anehnya merasa sakit ketika dia memutuskan meninggalkan semuanya. Meskipun semua itu adalah keputusannya, keputusan yang harus dia ambil agar harga dirinya tidak diinjak-injak lagi.
Keperawanan yang dipertanyakan hingga dipaksa melakukan tes keperawanan itu membuat harga diri Rosalina sangat sakit. Serta ketidakpercayaan Venita pada hubungan Rosalina dengan Rendi membuat Rosalina terluka.
Apa ini juga yang dirasakan oleh Kenzo ketika aku mempertanyakan keperjakaannya dan bukti dari keperjakaannya? Tapi anehnya kenapa dia malah tertawa dan tidak marah padaku? Apa dia tidak tersinggung padaku? Atau mungkin itu karena cintanya padaku? Ahh... Rosalina sadarlah... jangan terlalu percaya diri seperti itu. Bahkan tadi saja dia tidak ada di sana ketika kamu sadar. Sudahlah, aku harus pergi meninggalkan semuanya untuk memulai hidupku yang baru, Rosalina berkata dalam hatinya.
__ADS_1
"Aah... gajiku... Gaji lima kali lipatku... Tas branded limited edition ku... Aaah... bagaimana ini?" ucap Rosalina lirih ketika sudah berhasil keluar dari rumah sakit tersebut.