
"Bukannya Om juga masih ada yang ingin dikatakan pada Rosa?" tanya Rosalina dengan menahan kegugupan karena terlalu dekat wajahnya dengan Kenzo.
"Kamu masih ingat?" tanya Kenzo yang masih menatap Rosalina dengan jarak sangat dekat dan tersenyum padanya.
Om, please deh jangan senyum. Aku bisa-bisa terkena serangan jantung kalau terus-terusan Om tersenyum seperti itu, Rosalina berkata dalam hatinya sambil mengedip-ngedipkan matanya agar gugupnya tidak terlihat oleh Kenzo.
"Nanti ya, gak sekarang aku ceritanya. Lain waktu aku pasti akan ceritakan semuanya. Dan kamu juga harus menceritakan masalah tas dan apa yang diucapkan oleh Rendi tadi padaku," tutur Kenzo sambil tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan baby Chintya yang sangat nyaring dari kamarnya. Bik Narmi kewalahan menenangkan baby Chintya hingga dia menghela nafasnya karena dia merasa jika tidak semudah Rosalina yang bisa mengendalikan baby Chintya.
Sontak saja Kenzo menjauhkan dirinya dari Rosalina. Sepertinya baby Chintya merasa iri dengan kedekatan Kenzo bersama dengan Rosalina tanpa menyertakan dirinya.
"Siap Om," ucap Rosalina sambil memberi hormat pada Kenzo dengan meletakkan jari-jari tangannya pada pelipisnya.
Kenzo tersenyum dan mencubit hidung Rosalina dengan gemas.
"Eh tapi aku gak mau kalau dipanggil Om. Aku akan menghukum kamu jika masih saja memanggilku dengan sebutan Om," ucap Kenzo dengan meletakkan kedua tangannya pada kedua pundak Rosalina.
"Hah, dihukum? Kok gitu sih Om," sahut Rosalina tidak terima.
Sontak saja Kenzo mendekatkan wajahnya lebih dekat pada wajah Rosalina. Reflek Rosalina memundurkan badannya, sayangnya kedua pundaknya dipegang oleh Kenzo sehingga dia tidak bisa menghindar lagi.
"Coba panggil Om lagi pasti akan aku hukum," ucap Kenzo dengan tersenyum.
Kemudian dia mendekatkan wajahnya sehingga Rosalina memejamkan matanya. Kenzo tersenyum melihat Rosalina memejamkan matanya, sayangnya Kenzo tidak memperpanjang kejahilannya karena baby Chintya sudah menangis terlalu lama dan semakin kencang.
Kenzo mendekatkan bibirnya ke telinga Rosalina ketika Rosalina memejamkan matanya, kemudian dia berbisik di telinga Rosalina.
"Aku hukum dengan ciuman."
Seketika mata Rosalina terbuka. Dia melihat Kenzo yang tersenyum jahil padanya.
"Mau?" tanya Kenzo sambil mendekatkan wajahnya kembali.
Glek!
Rosalina menelan ludahnya. Dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang ditujukan Kenzo padanya.
"Bagus. Cepat panggil aku dengan sebutan yang aku beritahu tadi. Agar kamu bisa dengan segera menghentikan tangis bayi itu," tutur Kenzo sambil menatap mata Rosalina.
__ADS_1
"Sa-sa... yang," ucap Rosalina gugup ditatap oleh Kenzo tanpa berkedip.
Kenzo tersenyum puas dan dia memeluk Rosalina. Kemudian dia merangkul bahu Rosalina dan berjalan menuju kamar baby Chintya.
"Ada apa bik, kenapa Chintya bisa menangis seperti ini?" tanya Rosalina pada bik Narmi sambil meminta baby Chintya untuk digendongnya.
"Bibik tidak tau. Tadi dia bangun dan tiba-tiba menangis seperti itu. Mungkin saja dia mencarimu," jawab bik Narmi sambil memberikan botol susu baby Chintya pada Rosalina.
Dengan telatennya Rosalina menggendong dan menenangkan baby Chintya. Hanya dalam beberapa saat saja baby Chintya berhasil ditenangkannya.
Bik Narmi sangat lega melihat baby Chintya yang sudah diam dari tangisnya. Bahkan dia kini sangat tenang meminum susu formulanya.
Kenzo, dia tersenyum melihat Rosalina yang sangat lihai mengurus bayi. Dalam hati dia sangat bersyukur karena dia mencintai gadis yang sangat keibuan dan telaten mengurus bayi yang bahkan bukan anak kandungnya sendiri.
"Bibik tinggal dulu ya Rosa," ucap bik Narmi sambil memegang satu pundak Rosalina.
Rosalina tersenyum dan mengangguk sambil berkata,
"Terima kasih ya Bik. Maaf merepotkan Bibik."
Bik Narmi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia berjalan keluar kamar baby Chintya.
Kenzo yang sedari tadi duduk di ranjang dan memandang Rosalina. Kini dia membuka suaranya,
Rosalina menoleh ke arah Kenzo, kemudian dia menjawabnya.
"Belum, mungkin dia sudah capek tidur sedari tadi."
"Apa bayi itu tidak mau tidur lagi?" tanya Kenzo kembali.
Rosalina berjalan mendekati Kenzo. Dia duduk di tepi ranjang dan meletakkan baby Chintya di atas ranjang.
Pandangan mata Kenzo mengikuti setiap gerakan Rosalina. Dia menatap heran Rosalina yang memandangnya seolah mengintimidasinya.
"Kenapa sih, kok selalu manggil Chintya bukan namanya? Kadang manggilnya bayi, kadang juga manggil dia. Kenapa?" tanya Rosalina menyelidik sambil memicingkan matanya melihat Kenzo yang duduk di depannya.
Kenzo diam, dia menundukkan kepalanya. Senyumnya yang merekah sedari tadi kini memudar.
"Aku tidak bisa cerita sekarang. Aku akan menceritakannya sekaligus, tapi bukan untuk saat ini. Tolonglah beri aku waktu," tutur Kenzo dengan tatapan mengiba pada Rosalina setelah mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah gadis yang baru saja mengisi hatinya.
__ADS_1
Rosalina diam, dia mencoba mengerti kondisi Kenzo saat ini. Dia memang melihat Kenzo yang tidak seperti biasanya ketika membicarakan hal itu.
"Baiklah, tapi bolehkah aku meminta padamu sesuatu?" tanya Rosalina yang memandang lekat manik mata Kenzo.
"Tentu saja sayang. Apapun itu," jawab Kenzo yang saling menatap mata dengan Rosalina.
"Aku harap kamu bisa memanggil Chintya dengan namanya dan mau menggendongnya ketika aku membutuhkan bantuanmu," tutur Rosalina dengan tegas.
"Tapi itu kan tugas kamu dan gaji kamu sangat mahal. Masa' iya aku harus turun ta-"
Perkataan Kenzo berhenti karena kini Rosalina lebih mendekatkan wajahnya dengan tatapan marah.
"Jadi gak mau bantuin nih?" tanya Chintya dengan tatapan menindas.
"Harus?" tanya Kenzo ragu.
Rosalina menganggukkan kepalanya, kemudian dia menunggu jawaban dari Kenzo.
"Baiklah. Aku akan mencobanya," ucap Kenzo lemas.
Rosalina tersenyum senang dan bertepuk tangan kegirangan. Hal itu membuat Kenzo ikut tersenyum senang.
"Apa kamu senang?" tanya Kenzo memastikan apa yang dia lihat.
Rosalina mengangguk dan tersenyum lebar pada Kenzo. Kemudian dia berkata,
"Aku senang karena melihatmu tidak membenci Chintya. Bagaimanapun dia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah tanpa salah dan tanpa dosa.
Kenzo menatap lekat manik mata Rosalina, kemudian dia menelusuri semua bagian wajah Rosalina. Dia tersenyum, matanya serasa dimanjakan oleh wajah cantik dan manis milik kekasih hatinya itu.
"Kamu tuh baik banget sih, cantik lagi. Jadi tambah cinta aku tuh sama kamu," tutur Kenzo yang masih memandang Rosalina.
Seketika rona malu tersirat pada wajah putih Rosalina. Entah mengapa hanya dengan mendengar ucapan Kenzo seperti itu membuatnya menjadi malu dan salah tingkah.
Kenzo tersenyum dan merasa gemas melihat gadis pemilik hatinya itu malu padanya. Dibawanya tubuh gadis itu dalam pelukannya.
Tenang, nyaman dan ada rasa bahagia memeluk gadis tersebut. Didekapnya erat tubuh Rosalina karena dia tidak mau merasakan kehilangan kebahagiaannya.
"Rosa," panggil Kenzo yang masih dalam keadaan memeluk Rosalina.
__ADS_1
"Hmmm," jawab Rosalina yang sedang tersenyum dan menutup matanya dalam pelukan Kenzo.
"Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Kenzo kemudian.