
Perempuan cantik yang bergaya modis dan memperlihatkan kemolekan tubuhnya itu menatap tidak suka pada Rosalina. Dia tidak terima ketika Kenzo menyebut Rosalina sebagai istrinya.
"Kamu bercanda? Bukannya kamu belum menikah lagi setelah istrimu meninggal?" tanya wanita tersebut dengan senyum meremehkan.
Kenzo tersenyum meremehkan wanita tersebut dan mempererat tubuh Rosalina untuk lebih dekat padanya. Kemudian dia berkata pada wanita tersebut,
"Apa aku harus lapor padamu jika aku nikah lagi?"
Rosalina yang tadinya bingung dengan situasi yang dia hadapi, kini dia menahan tawanya mendengar perkataan Kenzo pada wanita tersebut.
Wanita tersebut menatap tajam ke arah Rosalina seolah memerintahkan Rosalina agar diam dan tidak menertawakannya.
Dengan angkuhnya wanita tersebut mengulurkan tangannya ke arah Rosalina dan menyebutkan namanya,
"Erina."
"Rosalina," ucap Rosalina sambil menyambut uluran tangan wanita tersebut.
Erina segera menarik tangannya agar tidak berlama-lama berjabat tangan dengan Rosalina. Dia segera membersihkan tangannya menggunakan cairan antiseptik untuk tangannya yang diambil dari dalam tasnya.
Kenzo tidak mau berlama-lama berhadapan dengan wanita itu. Dia menarik pinggang Rosalina agar berjalan dengannya untuk meninggalkan wanita tersebut.
Sayangnya Erina tidak melepaskan Kenzo begitu saja. Dia mengejar Kenzo yang jelas-jelas memeluk mesra pinggang Rosalina.
"Kenzo! Kamu mau ke mana?" tanya Erina sambil sedikit terengah-engah mengejar Kenzo dengan memakai sepatu high heels nya.
"Saya mau pulang dengan istri saya. Sebaiknya kamu jangan mengikuti saya lagi," tukas Kenzo dengan suara tegas dan tatapan tidak bersahabat.
"Kita baru ketemu Kenzo, lagi pula aku gak percaya dia istrimu. Lihat saja penampilannya masih seperti anak remaja," ucap Erina dengan memandang Rosalina dari atas hingga bawah.
"Maksud kamu apa? Dia istriku dan aku menyukainya apa adanya. Tidak peduli dengan penilaianmu," tukas Kenzo dengan tegas dan menekankan kata istri.
Kemudian Kenzo kembali mengajak Rosalina berjalan dengan tangannya yang masih melingkar di pinggang Rosalina.
__ADS_1
Tangan Erina mengepal, giginya bergemelatuk menahan amarahnya melihat Kenzo memeluk erat pinggang Rosalina.
Erina merasa kesal karena ditinggalkan oleh Kenzo begitu saja. Dia sangat marah dan berjanji akan mencari tahu tentang Rosalina yang diakui Kenzo sebagai istrinya.
Rosalina hanya diam menurut apa yang diperintahkan oleh Kenzo. Dia tidak bisa melepaskan tangan Kenzo yang melingkar di pinggangnya.
Sabar Rosa, jangan grogi, ini hanya sandiwara. Kamu harus tau balas budi. HP yang kamu pegang itu mahal, kamu harus berterima kasih padanya dengan cara menurutinya. Oke akan aku lakukan, Rosalina berkata dalam hatinya.
Kenzo segera membawa Rosalina dan baby Chintya menuju mobilnya. Niatnya untuk mengajak makan Rosalina di salah satu restoran di Mall diurungkannya karena kehadiran Erina.
Dia tidak ingin acara makannya bersama dengan Rosalina diganggu oleh Erina. Diputuskannya untuk makan di restoran lain di luar Mall tersebut.
Benar-benar hening di dalam mobil itu. Rosalina hanya berani melirik saja ketika Kenzo sedang fokus pada jalanan dan kemudinya.
Baby Chintya sangat anteng sekali di pangkuan Rosalina. Seolah dia tahu bahwa Kenzo dan Rosalina juga sedang berdiam-diaman.
Hingga akhirnya mobil Kenzo berbelok di suatu restoran mewah yang belum pernah sama sekali didatangi oleh Rosalina.
"Om, kita mau makan di sini?" tanya Rosalina bingung.
"Tapi Om," ucap Rosalina menghentikan Kenzo yang sedang melepas sabuk pengamannya.
"Kenapa?" tanya Kenzo dengan menatap Rosalina.
"Tapi saya gak pernah masuk ke dalam restoran mahal seperti itu Om. Nanti kalau saya membuat Om malu gimana Om? Kita makan di warung pinggir jalan aja deh Om," ucap Rosalina sambil tersenyum lebar.
Kenzo ikut tersenyum lebar mendengar perkataan Rosalina. Dia merasa lucu dengan apa yang diucapkan gadis di hadapannya itu.
"Kamu tuh aneh, biasanya cewek paling suka kalau diajak makan di restoran mewah seperti itu. Kamu kok malah ngajak makan di warung pinggir jalan? Kamu gak pengen kayak cewek lainnya, merasakan makan di restoran mewah seperti itu?" tanya Kenzo menyelidik dengan menatap intens manik mata coklat milik Rosalina.
"Pengen sih Om, tapi kapan-kapan juga bisa. Buat saya yang penting makan dan perut saya kenyang. Lagi pula toh nantinya pada saat sudah diolah dalam perut juga hasilnya sama aja keluarnya," ucap Rosalina tanpa berpikir.
Sontak saja Kenzo tertawa hingga memegangi perutnya. Sungguh dia tidak pernah melihat perempuan yang tidak pernah menjaga image nya di depan laki-laki.
__ADS_1
"Kenapa Om? Benar kan omongan saya?" tanya Rosalina dengan heran menatap Kenzo yang masih saja tertawa.
"Iya, kamu benar. Kamu memang beda Rosa. Kamu tidak seperti perempuan-perempuan lain yang saya kenal," tutur Kenzo sambil mengacak-acak rambut Rosalina.
"Iiih Om muji atau ngeledek sih? Rambut Rosa kan jadi berantakan. Gimana kalau nanti pas ada cowok cakep, Rosa gak kelihatan cantik, kan gawat Om," ucap Rosalina sambil menata kembali rambutnya yang sudah diacak-acak oleh Kenzo.
"Eh kamu lupa? Kamu itu istri saya," sahut Kenzo sambil menatap memperingatkan Rosalina.
"Hah, istri? Sejak kapan Om?" tanya Rosalina yang kaget mendengar ucapan Kenzo.
"Sejak tadi di Mall," jawab enteng Kenzo sambil menatap Rosalina.
"Iiih ogah ya Om, lagian Om kan duda," tukas Rosalina yang beradu pandang dengan Kenzo.
"Apa salahnya duda?" tanya Kenzo tidak terima dan masih beradu pandang dengan Rosalina.
"Gak salah sih Om. Hanya saja saya punya prinsip untuk menikah dengan lelaki yang masih perjaka dan tentunya kami saling mencintai," tutur Rosalina dengan mata yang masih beradu pandang dengan Kenzo.
"Kenapa harus perjaka?" tanya Kenzo menyelidik dengan mata mereka yang masih saja beradu pandang.
"Karena saya pernah dikecewakan oleh mantan pacar saya Om. Dia memutuskan saya ketika saya tidak mau melakukan hubungan badan bersamanya. Sepertinya dia sudah pernah melakukan itu dengan perempuan lain," jawab Rosalina dengan tersenyum getir.
Sontak saja Kenzo meraih tubuh Rosalina dan membawanya ke dalam pelukannya. Entah keberanian dari mana Kenzo melakukan itu pada Rosalina yang notabene nya adalah seorang baby sitter yang merawat bayi yang ditinggalkan oleh mendiang istrinya.
Rosalina pun tidak menolak. Dia juga tidak mengetahui kenapa dirinya bisa diam saja tidak menolak ataupun memberontak ketika Kenzo membawanya dalam pelukannya.
Namun, pelukan mereka berakhir ketika baby Chintya memberontak karena kesusahan bernafas berada dalam pelukan Kenzo dan Rosalina.
Kenzo melepaskan pelukannya. Dia salah tingkah dan menghadap ke lain arah. Begitupula dengan Rosalina yang juga salah tingkah dan wajahnya merona malu.
Beruntungnya ada baby Chintya di pangkuannya sehingga Rosalina bisa mengalihkan rasa malu serta canggungnya dengan mengajak baby Chintya bercanda.
Kenzo, dia tersenyum dan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran restoran mewah tersebut.
__ADS_1
Apa maksud Om Kenzo memelukku seperti tadi ya? Apa aku terlalu menyedihkan tidak menyerahkan mahkotaku selain pada suamiku kelak? Rosalina bertanya-tanya dalam hatinya dengan melirik sekilas Kenzo yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.