
"Permisi...," ucap Rosalina ketika masuk ke dalam ruang tamu.
Sontak saja Kenzo, Venita dan Rendi menoleh ke arah Rosalina.
"Duduklah!" seru Venita dengan tegas dan menunjuk sofa yang berada di depannya.
Tanpa memperhatikan sekelilingnya, Rosalina duduk pada sofa yang ditunjukkan oleh Venita padanya.
"Rosa."
Suara orang yang memanggilnya membuat Rosalina terhenyak, dia merasa mengenali suara tersebut.
Rosalina menoleh dan matanya membelalak ketika melihat Rendi duduk di sampingnya. Seketika matanya beralih melihat Kenzo yang menatap tajam pada Rendi.
Tuhan... ada apa lagi ini? Kemarin Dina, sekarang Rendi. Seberat inikah ujian untuk kita bisa bersatu? Atau memang kami tidak ditakdirkan untuk bersatu? Rosalina bertanya-tanya dalam hatinya.
"Coba kamu jelaskan! Siapa laki-laki yang ada di sampingmu itu? Apa hubungannya denganmu?" tanya Venita dengan tatapan mengintimidasi pada Rosalina.
"Dia... dia teman saya Nyonya," jawab Rosalina gugup karena ketakutan melihat tatapan mata Venita padanya.
"Teman? Benarkah itu?" tanya Venita dengan memicingkan matanya ke arah Rosalina dan Rendi.
Rosalina menundukkan kepalanya ketakutan, dan dia menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Venita.
"Kamu! Aku lupa namamu siapa. Tapi, benarkah apa yang dikatakan oleh Rosalina? Apa benar kamu temannya?" tanya Venita sambil menatap tajam pada Rendi dan mengangkat dagunya dengan angkuh.
"Mmm... saya... saya...," Rendi benar-benar ragu mengatakannya, dia takut Rosalina marah padanya.
"Bukannya kamu bilang tadi jika kamu adalah pacar Rosalina?" tanya Venita dengan smirk yang terlihat menakutkan.
Seketika Rosalina menatap Rendi dengan tatapan kebencian. Dia tidak menyangka jika Rendi benar-benar telah menghancurkannya.
Kenzo, dia menatap bengis pada Rendi. Dia merutuki kebodohannya karena masih bisa kecolongan sehingga mamanya, Venita bisa menemukan Rendi dan memperumit masalah.
"Dia bohong Ma! Dia hanya teman Rosalina. Dan dia menyukai Rosalina dan menginginkan Rosalina untuk menjadi pacarnya. Sayangnya Rosalina menolaknya," seru Kenzo sambil menunjuk ke arah Rendi.
__ADS_1
Venita tersenyum miring. Dia menatap Kenzo, Rosalina dan Rendi secara bergantian. Kemudian dia terkekeh dan berkata,
"Cerita lama."
"Ken, apa kamu percaya dengan cerita dari perempuan ini?" tanya Venita sambil menatap Kenzo dengan rasa ingin tahunya.
"Ken sangat percaya padanya Ma. Ken juga tau semua kisah tentang mereka," jawab Kenzo dengan tegas dan menahan emosinya.
Sangat jelas terlihat jika Kenzo saat ini sedang menahan emosinya. Dadanya naik turun menahan emosi yang ada dalam dadanya. Dan kedua tangannya mengepal di atas lututnya yang sedang duduk.
"Bodoh sekali kamu Ken! Kami sudah terhasut olehnya. Cintamu membuatmu buta! Bagaimana kalau dia mengecewakanmu seperti Levia yang hamil dengan pacarnya?!" seru Venita dengan emosi yang meluap-luap.
"Ma! Rosalina tidak seperti itu! Ken sudah tau semuanya dan Mama tidak perlu khawatir, karena Ken sudah mencaritahu semuanya dan hati Ken memilih dia," seru Kenzo menanggapi perkataan mamanya.
Rosalina hanya menunduk dengan menggigit bibirnya dan memejamkan matanya karena ketakutan. Kedua tangannya *******-***** ujung bajunya menandakan kecemasannya.
"Kami benar-benar mengecewakan Mama Ken! Kenapa dulu tidak langsung kau ceraikan saja Levia? Dan sekarang kamu mau menikahi perempuan yang. sudah mempunyai pacar. Apa kamu bisa menjamin jika dia tidak hamil dengan pacarnya?"
Venita sangat emosi hingga membuat Rosalina semakin mengkerut ketakutan.
Rendi, dia memandang Rosalina yang sangat jelas terlihat ketakutan. Dia tidak mengira jika pengakuannya itu membuat Rosalina menderita.
"Mama begini karena Mama tidak mau melihatmu kembali terluka dan menderita Ken. Dan Mama ingin menantu Mama nanti masih perawan sebelum menikah denganmu!" tutur Venita sambil menatap Rosalina yang masih menundukkan kepalanya.
Kenzo terkekeh dan tersenyum miring sambil melihat ke arah Mamanya. Kemudian dia berkata,
"Mama tau tidak, sebenarnya Rosalina pun begitu. Dia menginginkan suaminya perjaka sebelum menikah dengannya. Sebab itu sebelum aku menceritakan tentang ibunya Chintya, dia selalu menolakku hanya karena aku seorang duda. Dan sekarang Mama menolaknya karena meragukan keperawanannya. Lucu bukan?"
Venita membelalakkan matanya mendengar penuturan dari Kenzo. Dia tidak tahu jika masih ada teka-teki yang belum dia ketahui.
Sial! Kenapa orang suruhanku lama sekali mengumpulkan informasi dan buktinya? Venita menggerutu dalam hatinya.
Kenzo menatap iba pada Rosalina. Dia sangat tahu jika saat ini gadis pemilik hatinya itu sedang tertekan dan ketakutan. Dia berganti menatap Rendi yang sepertinya masih bingung dengan keadaan yang terjadi saat ini. Kemudian dia beralih memandang Venita yang terlihat sedang berpikir.
"Apa Mama masih mau bukti?" tanya Kenzo pada mamanya.
__ADS_1
Venita memandang Kenzo dan tersenyum padanya. Kemudian dia berkata,
"Kenapa tidak?"
"Baiklah, aku dan Rosalina akan membuktikannya pada Mama," ucap Kenzo sambil tersenyum penuh arti.
Rosalina mendongakkan kepalanya, menatap penuh tanya pada Kenzo yang tersenyum padanya.
Apa rencana dia sebenarnya? Kenapa dia ingin membuktikannya bersama denganku? Apa jangan-jangan... Ah enggak Rosa, kamu harus tetap menjaga kehormatanmu. Apapun yang terjadi. Lebih baik kamu gak usah menikah dengan dia jika harus menyerahkan mahkotamu padanya, Rosalina berkata dalam hatinya dengan memandang Kenzo yang tersenyum padanya.
"Bagaimana caranya kalian membuktikannya? Jangan harap dengan cara menikahinya sekarang juga. Mama tidak akan setuju!" ucap Venita dengan memperlihatkan emosinya.
"Saya juga tidak setuju!" sahut Rendi mendukung keputusan Venita.
Kenzo memperlihatkan smirk nya menatap Rendi yang kelabakan karena mengira jika Rosalina akan menikah dengan Kenzo.
"Kenapa kalian jadi keberatan? Bukankah kalian perlu bukti?" tanya Kenzo sambil terkekeh.
"Ken, jangan kurang ajar!" seru Venita memperingatkan Kenzo.
"Ken tidak berniat kurang ajar sama Mama. Ken hanya ingin menyelesaikan masalah yang seharusnya tidak ada," tutur Kenzo sambil melihat ke arah Rendi untuk berniat menyindirnya.
"Dengan cara menikahinya sekarang? Mama gak sudi ya punya menantu pembohong!" seru Venita yang sedari tadi sudah emosi.
"Ma! Rosa gak bohong. Dia tidak pernah berbohong padaku," sahut Kenzo membela Rosalina yang pastinya sangat sedih mendengar perkataan Venita.
Venita tidak menanggapi perkataan Kenzo, dia menatap tajam ke arah Kenzo yang berani membantahnya.
"Akan kami buktikan sekarang juga," ucap Kenzo sambil berdiri dan berjalan ke arah Rosalina.
Ditariknya tangan Rosalina agar ikut bersamanya.
"Bangunlah Ros, ikutlah bersamaku," ucap Kenzo sambil menarik tangan Rosalina.
Rosalina mendongak melihat Kenzo yang berdiri di hadapannya. Dan tangan Rendi memegang tangan Rosalina yang berada dekat dengannya seolah mengatakan bahwa dia melarang Rosalina untuk pergi bersama dengan Kenzo.
__ADS_1
"Lepaskan tangannya!" seru Kenzo yang menatap tajam pada Rendi.
"Kalian akan pergi ke mana?" tanya Venita dengan tegas.