
Tiap kesempatan selalu saja Kenzo mengajak Rosalina untuk menikah. Hingga Rosalina merasa terpojok dan mulai memikirkan hubungannya dengan Kenzo.
Apa dia serius denganku hingga selalu mengajakku menikah? Kita kan baru kenal. Dia saja belum tau banyak tentang aku. Mana mungkin dia seyakin itu padaku untuk menjadikan aku sebagai istrinya? Rosalina berkata dalam hatinya.
Dengan menatap baby Chintya yang sedang tengkurap dan belajar melakukan banyak hal, Rosalina berpikir dan mencoba menganalisa hubungannya dengan Kenzo.
Baju Rosalina terasa ditarik-tarik oleh seseorang. Dan ternyata itu baby Chintya yang tertawa padanya.
"Kenapa Chintya? Apa Chintya mau ngajak Kakak main?" tanya Rosalina pada baby Chintya dengan memegang tangannya yang mungil itu.
Baby Chintya tertawa senang dan dia memukul-mukul Rosalina dengan tangan kecil yang sangat mungil itu.
Rosalina mengajaknya bermain hingga suara tawanya membuat orang yang mendengarnya merasa bahagia seolah tertular oleh kebahagiaannya.
Melihat tawa riang baby Chintya membuat Rosalina teringat akan Kenzo. Sikap Kenzo yang enggan berdekatan dan enggan melihat baby Chintya, serta sikap Kenzo yang berubah ketika berdekatan atau menyentuh baby Chintya seolah mengatakan jika ada trauma dengannya.
Entah apa yang terjadi dengan Kenzo selama ini dan apa yang dirasakan oleh Kenzo selama ini, Rosalina belum bisa mengetahuinya. Jujur saja dia tidak berani bertanya karena takut jika nantinya Kenzo kembali mengajaknya untuk menikah.
Bisa saja dia menolak ajakan Kenzo untuk menikah, hanya saja kata-kata untuk menolaknya itu tidak pernah bisa dia keluarkan untuk menolaknya ketika Kenzo mengatakan keinginannya untuk menikahinya.
Kenzo, kini dia sedang berada di dalam kantornya. Dia seorang pekerja keras dan sudah terbukti, perusahaan yang dirintisnya dari mulai nol bisa berkembang dengan pesat karena keahliannya dan kegigihannya.
Hampir seluruh hidupnya dia dedikasikan untuk pekerjaan dan perusahaannya itu. Bahkan orang tua Kenzo menginginkannya untuk mengambil alih perusahaan mereka, tapi dengan tegas Kenzo menolaknya. Dia mengatakan bahwa akan mengambil alih perusahaan orang tuanya itu jika Papanya sudah tiada.
Sudah sering sekali mereka memaksa Kenzo untuk mengambil alih perusahaan mereka, hanya saja Kenzo benar-benar menolaknya dan akhirnya dia bisa membuktikan pada mereka jika dirinya bisa berhasil karena usahanya sendiri. Sehingga akhirnya mereka menerima keputusan Kenzo dan memberikan syarat padanya.
"Hufffttt...," helaan nafas Kenzo mengisyaratkan kelelahannya.
Tidak biasanya dia mengeluh seperti itu, bahkan dulu saja dia sering tidak pulang dan bermalam di kantornya sehingga dia dikatakan oleh banyak orang sebagai orang yang gila kerja.
"Din, apa masih banyak yang harus saya kerjakan?" tanya Kenzo pada Dino, sekretarisnya yang ternyata adalah sahabatnya sendiri.
Dino mengerutkan dahinya, dia tidak menyangka jika pertanyaan itu keluar dari mulut seorang Kenzo Alexandre, seorang pekerja keras yang bahkan tidak mau dihentikan sebelum semua pekerjaannya selesai.
"Bapak sehat?" tanya Dino dengan meletakkan punggung tangannya pada dahi Kenzo.
"Apa maksudmu?" tanya Kenzo sambil melepaskan tangan Dino dari dahinya.
__ADS_1
"Tumben banget nanya gitu, seperti ingin cepat pulang saja," jawab Dino sambil terkekeh.
"Memang benar. Aku ingin cepat pulang hari ini," ucap Kenzo dengan santainya.
Hal itu membuat Dino merasa heran. Tidak pernah dia mendengar kalimat seperti itu dari mulut Kenzo.
"Seorang Kenzo ingin pulang cepat?" tanya Dino dengan menunjukkan ekspresinya tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Apa ada yang salah?" tanya Kenzo dengan santainya dan menatap Dino dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
Pertanyaan itu membuat Dino bertambah heran. Dia lebih mendekat ke arah Kenzo untuk bertanya lebih serius padanya.
"Apa benar ini Kenzo Alexandre yang aku kenal?" tanya Dino dengan memandang wajah Kenzo dari dekat.
Kenzo terkekeh mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Dino padanya.
"Kamu pikir aku setan?" tanya Kenzo sambil terkekeh dan lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Dino.
"Kamu aneh, kamu bukan seperti Kenzo yang biasanya. Kenzo yang biasanya itu pekerja keras, seorang yang gila kerja. Tapi kamu sekarang seperti sedang ditunggu seorang istri di rumah," tutur Dino dengan menatap serius Kenzo yang berada di depannya.
Kenzo memundurkan badannya, kemudian bersandar pada kursi kebesarannya. Dia menatap Dino sambil tersenyum dan berkata,
Sontak saja Dino terkejut dan mendudukkan dirinya di kursi depan meja kerja Kenzo.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dino penuh curiga dengan memicingkan matanya pada Kenzo.
Kenzo tersenyum dan memperlihatkan ponselnya pada Dino dengan mengarahkan layar ponselnya menghadap ke arah Dino.
Dino kaget melihat layar ponsel Kenzo yang menampakkan foto Kenzo bersama dengan seorang perempuan dan menggendong seorang bayi.
Dia menatap Kenzo dengan penuh tanda tanya, kemudian dia memperhatikan kembali foto pada layar ponsel Kenzo tersebut seperti orang yang sedang bingung.
Kenzo terkekeh melihat ekspresi wajah Dino yang memang mengetahui kehidupan Kenzo. Dia sahabat terbaik Kenzo yang selalu ada di dekatnya baik sedang kesusahan ataupun dalam masa kebahagiaan Kenzo.
"Siapa dia? Dia bukan...," Dino ragu meneruskan perkataannya.
"Bukan. Kami hanya memiliki foto pernikahan waktu itu," sahut Kenzo yan merubah ekspresi wajah senangnya menjadi wajah kesal.
__ADS_1
"Lalu... dia...," Dino bertanya dengan ragu.
"Dia Rosalina. Dia baby sitter bayi itu," tukas Kenzo yang mengerti arah pembicaraan Dino.
Namun, Kenzo segera mengingat Rosalina yang menginginkannya untuk menyebutkan nama baby Chintya ketika membicarakannya ataupun memanggilnya. Dia tidak ingin Kenzo memanggilnya dengan sebutan dia ataupun bayi.
"Bayi itu...," ucapan Dino mengambang, dia ragu menyelesaikan ucapannya.
"Chintya," sahut Kenzo dengan menatap serius wajah Dino.
"Apa dia anak dari...," Dino kembali ragu menyelesaikan perkataannya.
"Ya, benar," sahut Kenzo dengan cepat dan tanpa ragu.
"Jadi perempuan ini baby sitter yang tinggal di rumahmu?" tanya Dino dengan tatapan menyelidik.
Kenzo menganggukkan kepalanya, kemudian dia tersenyum ketika melihat foto dirinya bersama dengan Rosalina dan baby Chintya pada layar ponselnya.
"Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta nih," ucap Dino yang bermaksud menyindir Kenzo.
Kenzo pun terkekeh menanggapi sindiran sahabatnya itu. Dia tahu betul jika sahabatnya itu merasakan apa yang dia rasakan saat ini.
Kenzo menghentikan tawanya, dia menatap Dino, sahabatnya itu dengan tatapan serius.
"Aku akan menikahinya," ucap Kenzo dengan serius.
Sekali lagi Dino dikagetkan oleh perkataan dari Kenzo. Dia tidak pernah mendengar kalimat itu dari sahabatnya yang sangat serius menurutnya.
"Apa kamu yakin?" tanya Dino menyelidik.
Kenzo menganggukkan kepalanya dan tersenyum dengan penuh keyakinan. Kemudian dia berkata,
"Sangat yakin."
Hal itu membuat Dino merasa curiga. Dia tidak percaya jika sahabatnya, seorang Kenzo yang dia kenal dengan mudahnya mengatakan akan menikahi seorang perempuan yang berstatus sebagai baby sitter di rumahnya.
Aku yakin ada yang tidak beres dengan semua ini. Apa Kenzo diguna-guna oleh perempuan itu? Atau Kenzo yang sudah putus asa karena ingin segera menikah? Dino berkata dalam hatinya dengan memandang lekat mata Kenzo yang terlihat jelas ada binar kebahagiaan di sana.
__ADS_1
"Temukan aku dengannya," ucap Dino dengan tegas pada Kenzo.