Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Perdebatan


__ADS_3

Kailani mengusap pipinya yang basah karena air mata. "Jadilah anak-anak yang kuat, dengan alasan apapun kalian hadir di dunia, semoga banyak cinta yang menyertai setiap denyut nadi kalian."


Sosok yang memperhatikan Kailani menelan ludahnya dengan susah payah. Sosok yang tidak lain adalah Kailandra itu memundurkan langkahnya. Tangisan dua bayi mungil yang sedari kemarin hanya terdengar lirih dan sebentar. Kali ini, begitu nyaring dan lama.


Kailani mencoba memutar kursi rodanya sendiri. Namun bekas sayatan operasi yang tentunya masih basah, membatasi kemampuannya. Sementara perawat yang tadi membantu Kailani, sudah keluar kembali karena ada pekerjaan lain.


Kailandra bukannya tidak tahu kesulitan yang dialami Kailani. Namun, dia ragu-ragu untuk membantu. Sungguh, saat ini suasana hatinya sedang campur aduk. Tanda tanya tentang Karina, kondisi baby twins yang mengkhawatirkan, dan kini mendapati Kailani berbicara dengan buah hatinya dengan penuh kasih sayang. Bahkan jika tidak salah dengar, satu-satunya perempuan yang mampu membuatnya patah hati tersebut, sempat mengatakan kata "bunda" saat berbicara dengan putra putrinya tadi.


"Bang Kai...." Kailani tampak sangat terkejut dengan kemunculan Kailandra.


"Untuk apa kamu kemari?" Kailandra bertanya dengan ketus untuk menutupi kegundahan hatinya.


"Aku dengar anak Bang Kai juga terlahir prematur. Aku hanya ingin menjenguk mereka."


"Buat apa? Apa kepentinganmu? Kenapa juga anak-anakku harus memanggilmu bunda?" Seperti biasa, Kailandra selalu mengedepankan emosinya.


Kailani tersenyum miris sembari menarik napas dalam-dalam. "Mereka tidak harus memanggilku begitu. Jika kamu tidak suka, bahkan kamu bisa menyuruh mereka memanggilku apapun yang menurutmu pantas. Kamu sudah menjadi seorang Ayah, Bang. Belajarlah mengendalikan emosimu. Dalam kondisi anak-anak yang seperti ini, kesampingkan pikiran burukmu dulu. Aku tau Karina tidak bisa memberikan ASI. Aku membawakan sedikit untuk anak-anakmu. Mereka butuh itu."


Sesaat Kailandra terdiam. Dia tidak menyanggah satu pun kalimat yang diucapkan Kailani. Pria tersebut terlihat sedang berpikir. Tidak lama, dia pun berkata, "Aku tidak mengharapkan belas kasihanmu. Aku bisa membayar perempuan lain untuk menyusui anak-anak."


"Terbuat dari apa hatimu, Bang? Kamu pikir semua hal bisa selesai dan dibeli dengan uang? Aku ingatkan kalau kamu lupa, uang tidak selamanya kamu genggam. Kamu pernah jatuh sejatuh jatuhnya dan kehilangan segalanya, apakah uangmu sekarang, bisa memberikanmu kebahagiaan? Tidak perlu menjawab. Karena kamu sendiri yang merasakan." Kailani melemparkan tatapan tajam pada Kailandra. Meskipun matanya berkaca-kaca dan suaranya juga sedikit bergetar. Dia tidak akan gentar kali ini.

__ADS_1


"Satu hal lagi, Bang. Apa kamu pikir mudah mencari donor ASI? Berapa kamu akan menghargai sumber kehidupan untuk anak-anakmu? Berapa? Jika uangmu saja tidak bisa membuat istrimu bisa memberikan ASInya sendiri, berapa kamu sanggup membayar orang lain? Please, Bang... berhenti menilai segalanya dengan uang."


Bersamaan dengan itu, pintu ruangan tersebut terbuka, diikuti dengan kemunculan seorang perawat dan juga Kalvin. Pembicaraan yang menegangkan antara Kailani dan Kailandra pun seketika berhenti.


"Sudah selesai, Kai? Maaf Aku tadi mengambil charge ponselku di mobil." Kalvin menghampiri Kailani.


"Sudah," jawab Kailani dengan singkat.


Kailani dan Kalvin langsung meninggalkan Kailandra tanpa berpamitan. Tangisan si baby twins masih terdengar. Perawat yang masuk bersama Kalvin tadi menekan tombol nurse call untuk meminta bantuan rekannya yang lain.


"Coba kita beri dedek ASI ini sedikit-sedikit. Kita pakai sendok saja. Siapa tau ketelen," ucap perawat tadi pada temannya yang datang secepat kilat.


"Alhamdulillah mereka sudah bisa nangis kenceng, ya. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja ibunya datang kesini. Kontak batin ibu dan anak memang luar biasa. Apalagi diawal kelahiran seperti ini. Berbulan-bulan berada berada di dalam kandungan, lalu tiba-tiba berada di dunia yang tidak sehangat rahim ibu, tentu bayi akan merasakan kecemasan. Kita tidak bisa menalar pakai akal sehat. Pada intinya, dalam kondisi seperti ini, peran ibunyalah yang paling penting."


Kailandra akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruang rawat Karina. Pria tersebut sedang berusaha meredam kekecewaan yang kini menggelayuti pikirannya. Mendengar pembicaraan perawat, menjadikan penilaiannya tentang kepantasan Karina sebagai Ibu semakin buruk.


"Bagaimana? Apa kamu sudah bisa memberikan ASI?" Kailandra langsung melemparkan pertanyaan itu sesaat dia menutup kembali pintu ruangan.


"Mana bisa. Kata bidan tadi, ada hal yang aneh pada kondisi Karina. Bidan menyarankan USG Mammae," sahut Kasih dengan nada yang cukup ketus.


Kailandra mengernyitkan keningnya, dia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh mamanya. USG Mammae merupakan salah satu jenis USG yang secara khusus dilakukan untuk memeriksa kondisi payyudara dan mendeteksi gangguan serta berbagai bentuk kelainan pada payyudara.

__ADS_1


"Sudah dilakukan?" tanya Kailandra.


"Tentu saja belum. Karina bilang besok saja. Dia tadi ngeluh perutnya kayak diremas-remas. Habis minum obat, istrimu itu langsung tidur." Kasih melirik sinis ke arah Karina yang matanya sedang pura-pura terpejam.


Kailandra melebarkan langkahnya mendekati brankar Karina. Dengan kekesalan yang sudah tidak lagi bisa ditahan, pria tersebut menepuk pundak Karina dengan sedikit keras.


"Kar, bisa-bisanya kamu tidur. Apa kamu tidak kepikiran dengan kondisi dua anak yang baru kamu lahirkan?" Suara Kailandra menggelegar memenuhi ruangan. Kasih sampai kaget melihat kemarahan Kailandra yang tidak biasa.


Karina membuka matanya dengan kondisi tergagap, perempuan itu jelas tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan apa yang dilakukan Kailandra barusan.


"Kai, apa lagi? Perutku sakit. Tidak bisakah aku istirahat sebentar?" keluh Karina mencoba bersikap seperti biasa. Padahal perasaannya kali ini sungguh tidak enak.


"Istirahat sebentar katamu? Bangun, Kar... jangan tidur terus. Setelah melahirkan bahkan kamu terus berada di atas ranjang pesakitan ini. Bagaimana kamu bisa mengatakan seolah-olah kamu kurang istirahat? Apakah kamu tidak berpikir untuk melihat kondisi baby twins?"


"Kai, kondisiku masih belum bisa berjalan jauh dan tidak sanggup aku kalau harus berdiri lama-lama," kilah Karina.


"Siapa yang menyuruhmu jalan kaki, Kar? Kamu bisa menggunakan kursi roda. Aku baru saja bertemu dengan perempuan yang juga baru saja menjalani operasi sesar, Kar. Dia mampu ke ruangan bayi meskipun di dorong kursi roda. Tapi kamu apa? Kamu bersikap biasa saja dan terlihat sehat ketika berbaring di sini. Tapi kenapa untuk urusan anak-anak kamu seketika lemah dan kesakitan?" bentak Kailandra.


Kasih sedikit pun tidak ingin melerai perdebatan antara anak dan menantunya itu. Apa yang dikatakan Kailandra memang benar adanya. Sikap yang ditunjukkan Karina, jelas tidak menunjukkan sikap seorang ibu sejati.


"Kondisi setiap perempuan berbeda, Kai. Jangan dibanding-bandingkan. Kata-katamu membuatku sakit hati. Aku baru melahirkan anakmu. Seharusnya, perlakuanmu tidak seperti ini padaku. Jangankan memperlakukan aku dengan baik, sekedar berterimakasih pun tidak." Karina masih saja berani menimpali ucapan Kailandra.

__ADS_1


"Katakan apa yang sudah kamu lakukan sehingga aku harus berterima kasih padamu, Kar? Katakan!"


__ADS_2