Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Bukan menyerah


__ADS_3

"Langsung saja, Kai. Aku tidak punya banyak waktu. Aku datang hanya ingin melihat Kailani dan anak-anak. Sekedar ingin mengobati rasa kangen. Meski ternyata kangen ini malah semakin menjadi ketika melihat wajah mereka. Bohong kalau aku harus mengatakan keadaanku lebih baik begitu menjauh dari mereka," ucap Kalvin begitu dia dan Kailandra sudah sampai di ruangan yang ditunjuk tadi.


"Maafkan aku, Vin. Memang aku yang terlalu egois. Tidak seharusnya aku meminta kamu dan Karina menjauh dari kehidupan kami. Sama seperti kamu, aku pun bukan siapa-siapa bagi Kailani. Tidak seharusnya aku melarang pria lain yang ingin mendekatinya." Kailandra menarik senyuman miris di ujung kalimatnya.


"Aku bukannya tidak bisa menolak atau menentang keinginanmu, Kai. Kalau aku mau, jelas membantah keinginan konyolmu adalah hal yang mudah. Hanya saja, Karina memang harus menjadi prioritasku saat ini. Masalah Kailani, jika memang ada takdir Tuhan untuk kami, sehebat apa pun rintangan yang diberikan, selebar apa pun jarak yang dibentang untuk memisahkan, pasti selalu ada cara untuk menyatukan dan mempertemukan kami kembali."


Lagi-lagi Kailandra tersenyum miris. Dalam hati dia harus mengakui Kalvin memiliki hati serta pikiran yang lebih luas daripada dirinya. Dari semua yang sudah dialami Kailandra, dan kematian Kasih kemarin sebagai puncaknya---pria tersebut semakin menyadari betapa sebelumnya dia adalah manusia yang sangat egois.


"Maafkan Aku, Vin. Aku benar-benar minta maaf. Aku mungkin sudah banyak membuat arah hidupmu berubah. Entah itu karena Karina atau Kailani. Terutama masalah Karina. Seharusnya Aku tidak cuci tangan dan membiarkan dia sampai di titik terendahnya. Terimakasih kamu selalu ada buat Karina, Vin." Kailandra menatap lawan bicaranya dengan sorot mata yang begitu teduh. Keangkuhan yang selama ini kerap kali ditampilkan seakan sirna tanpa jejak.


"Syukurlah kalau kamu menyadarinya, Kai. Tapi jangan khawatir, Karina memang tanggung jawabku. Tidak akan ada orang yang menyalahkanmu atau menuntut pertanggungjawabanmu soal Karina. Begitu jatuh talakmu, hilang sudah kewajiban dan hakmu atas dia."


Kailandra mengusap wajahnya dengan kasar. Mendengar penuturan Kalvin barusan, rasanya dia semakin malu akan sikap semena-menanya selama ini. Begitu banyak perasaan orang lain yang dia korbankan demi egonya sendiri.

__ADS_1


"Vin, semoga belum terlambat niatku ini. Apa boleh Aku bertemu dengan Karina?" Begitu hati-hati dan penuh harap saat Kailandra menanyakan hal tersebut.


"Untuk apa?" sinis Kalvin. "Sangat tidak mungkin kamu kembali pada Karina, bukan? Dia sedang menata hatinya. Sejauh ini sudah semakin membaik. Kamu tidak perlu datang kalau hanya untuk memberi harapan dan membuat Karina terluka lagi," tambahnya, tegas dan lugas.


"Ya, kamu benar, Vin. Aku memang bukan menemui Karina untuk mengajaknya kembali. Aku merasa ikut mengambil bagian pada apa yang sudah menimpanya. Mamaku meninggal membawa kecewa dan mungkin juga kebenciannya padaku. Sekarang aku menjadi takut akan sikapku sendiri. Aku juga menyesal, karena aku belum sempat mengucapkan maaf." Kailandra memalingkan wajah ke sisi yang berlawanan dengan Kalvin. Menyembunyikan bola matanya yang berkaca-kaca karena genangan bulir bening yang sudah berdesakan ingin keluar.


"Aku pertimbangkan dulu. Aku sudah bersusah payah mengantar Karina sampai pada titik ini. Sebelum mengijinkan kamu bertemu dengannya, aku harus pastikan kalau niatmu benar-benar baik.Aku tidak mau, dengan mempertemukan kalian, Karina malah akan kembali ke titik di mana dia masih mengharapkanmu."


Kalvin tersenyum tipis. "Kamu yakin, Kai?" tanyanya.


"Aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya. Sikapku sangat tidak adil, pada kamu, Kailani, bahkan Keiko. Kamu benar, seharusnya aku berpikir lebih logis. Ada atau tidak Ada kamu, jika memang kami berjodoh, pasti sekecil apa pun kemungkinan, akan Ada jalan bagi kami untuk disatukan. Bukannya aku menyerah, aku hanya tidak ingin lagi terlalu memaksakan keadaan."


"Aku sangat menghargai sikapmu saat ini, Kai. Baguslah kamu mulai menyadari. Tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan keinginan kita. Pernah kecewa, bukan berarti kita harus lebih meninggikan ego. Satu hal yang meski selalu kita ingat, sejatinya bukan hanya kita yang mempunyai perasaan. Orang lain juga bisa merasakan sakit hati yang sama karena sikap kita."

__ADS_1


Kailandra mengangguk setuju akan pernyataan Kalvin barusan. "Berjuanglah, Vin! Bisa jadi Kailani memang jodohmu. Aku tidak akan menghalangimu untuk mendekatinya. Aku hanya minta, jangan gunakan Keiko untuk mengambil hati Kailani. Sekali lagi aku katakan, bukannya menyerah, aku hanya ingin menjalani semua dengan lebih mengalir. Bagaimana pun, Kailani adalah ibu dari ketiga anakku. Bohong kalau aku tidak mengharapkannya memilihku."


"Kailani berhak bahagia, Kai. Denganmu, denganku atau dengan yang lain. Membesarkan tiga anak sendirian itu bukan hal yang mudah," timpal Kalvin.


"Usahaku tidak akan pernah cukup hanya dengan membahagiakan Kailani, Vin. Kesalahan dan sakit hati yang sudah aku buat terlalu besar. Kehadiran anak-anak bukan alasan bagi kami untuk bersama. Tapi mereka sangat berhak mendapatkan keluarga yang utuh. Kailani tidak akan sendirian membesarkan mereka. Aku akan mengambil tanggung jawab penuh atas mereka. Secara finansial dan juga secara moral."


Kailandra menjeda ucapannya sejenak. Pria tersebut menatap lawan bicaranya lekat-lekat. "Kailani boleh menjalani kehidupan baru dengan pria manapun. Tapi di antara kami tidak boleh putus komunikasi lagi. Ada anak-anak yang selamanya akan membutuhkan kami sebagai Ibu dan ayah kandungnya."


"Kalau begitu, berusahalah lebih keras, Kai. Kamu tau pasti, Aku tidak akan menggunakan cara licik untuk menyingkirkan orang yang aku anggap pesaingku. Lagipula, aku masih berpikir logis. Akan selalu ada kamu di antara aku dan Kailani. Karena ada tiga anak yang mengikat kalian. Aku akan berusaha semaksimal yang Aku mampu dengan caraku. Bagiku Kailani bukan sebuah piala yang harus diperebutkan dengan menghalalkan segala cara. Mendapatkan Kailani bukanlah sebuah kemenangan. Di mana dalam kemenangan hanya ada eforia. Tidak seperti itu."


"Sekali lagi aku tegaskan, Vin. Aku tidak menyerah. Aku hanya lelah menuruti egoku sendiri. Mama bilang, aku tidak akan pernah bahagia karena selalu membantah kemauan mama. Aku tidak mau Kailani terbawa masuk ke dalam ucapan mama. Biar aku usahakan yang terbaik untuk anak-anak. Kailani pernah mengatakan, aku sudah gagal menjadi seorang anak dan juga seorang suami. Aku tidak mau menambah kegagalanku lagi karena tidak bisa menjadi ayah yang baik."


Tanpa Kalvin dan Kailandra sadari, hampir separuh dari pembicaraan yang dilakukan, tidak hanya mereka saja yang mendengar. Seseorang yang tadinya ingin mengambil sesuatu di dalam ruangan mereka berada, turut serta mendengar perbincangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2