Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Resmi duda


__ADS_3

"Tanya Keiko saja. Kalau dia mau, ya nanti semua pergi," putus Kailani.


Tentu saja jawaban perempuan tersebut membuat Kailandra melebarkan senyumannya. Perlahan namun pasti, sepertinya sedikit usaha yang dia lakukan akan membuahkan hasil. Memang masih terlalu dini untuk mengatakan Kailani akan membuka hati untuk Kailandra kembali. Setidaknya, kebersamaan mereka tidak seharusnya diisi dengan pembicaraan bernada tinggi dan kesinisan terus menerus.


Kailandra pun menanyakan perihal persetujuan pergi ke puncak pada Keiko. Tentu saja bocah tersebut dengan senang hati mengiyakan. Bahkan Keiko tidak kalah semangatnya dengan Kailandra menantikan saat itu tiba.


Hari yang dinanti-nanti akhirnya sampai juga. Setelah Kailani menerima hasil penilaian semester sekolah Keiko, dia menyempatkan diri terlebih dahulu mampir ke kediaman Kenzo. Selain ingin menunjukkan nilai Keiko pada Kenzo, dia juga ingin memberikan hadiah khusus pada Keira yang baru sempat dibelinya kemarin.


"Selamat ya, Kei. Maaf aku baru bisa dateng. Kenzo pasti sudah cerita kenapa aku sibuk sekali akhir-akhir ini," ucap Kailani sambil memberikan sebuah bingkisan pada Keira.


"Makasih, Kai. Kenzo tidak cerita apa-apa sama Aku. Tapi Keiko kapan lalu ngomong kalau di rumahnya juga ada dua baby." Keira menerima pemberian Kailani.


"Oh, Aku kira Kenzo sudah cerita. Selain mengurus anak-anak, aku juga harus pintar membagi waktu untuk usaha penitipan anak yang diamanahkan Kalvin padaku, Kei."


"Wah, hebat sekali kamu, Kai. Seumur hidup, aku belum pernah bekerja. Hidupku terlalu enak kayaknya. Yang cuman lihat, pasti pada berharap bisa berada di posisiku sekarang. Padahal aku sendiri kadang merasa hampa. Aku takut Kenzo berubah sikap lagi. Aku takut perubahan yang dia tunjukkan sekarang hanya sementara. Aku ini perempuan yang terlalu biasa, Kei." Keira terlihat seperti orang yang sedang melamun.


Kailani menggeser duduknya lebih dekat dengan Kaira. Tangannya terulur mengusap lembut pipi kemerahan baby boy yang ada di pangkuan Keira. Selama ini, dia tidak menutup mata akan sikap Kenzo pada istrinya itu.


"Setiap dari kita, pasti dihadapkan pada ujian hidup masing-masing, Kei. Yang tidak ikut menjalani, yang hanya melihat kita dari luar, kerap kali menganggap kita jauh lebih beruntung ketimbang dirinya sendiri. Padahal apa yang dimiliki bisa jadi jauh lebih baik ketimbang orang yang sedang kita inginkan posisinya. Tidak ada perempuan biasa-biasa saja. Kita menjadi biasa, hebat, atau apa pun itu---tergantung pada penilaian pria yang menjadi pendamping hidup kita."


Kailani menghentikan sejenak ucapannya. Senyum tipis mengembang dari bibir perempuan tersebut. "Kamu perempuan yang sangat baik, Kei. Ketulusanmu tidak ada bandingnya. Memangnya siapa perempuan yang menurutmu sempurna di dunia ini? Tidak pernah ada. Yang bisa menyempurnakan kita hanyalah orang-orang yang mau menerima keberadaan kita apa adanya.Bawa kekhawatiranmu dalam doa. Allah Sang Maha pemilik, biarlah hati yang kamu harapkan menjadi milikmu seutuhnya, Dituntun dan diarahkan sepenuhnya padamu dengan kuasa Allah."


Kenzo yang tadinya ingin masuk ke kamar, mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan Kailani pada Keira. Selama ini dia mengira Keira sudah baik-baik saja sejak dia memutuskan untuk tidak lagi berusaha kembali pada Kailani. Nyatanya, istrinya tersebut masih memendam rasa khawatir yang begitu besar.

__ADS_1


"Bagaimana hubunganmu dengan Kailandra, Kai?" Keira mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku masih berusaha berdamai dengan keadaan, Kei," jawab Kailani masih berusaha tetap tersenyum.


Kenzo yang tidak terlalu menyukai topik yang dipilih Keira, langsung memutuskan untuk menampakkan diri. Bukannya dia lupa akan janjinya untuk tidak lagi memprioritaskan urusan Kailani, tetapi dia hanya tidak ingin pembicaraan tersebut berlanjut semakin jauh.


"Jadi kalian sore ini mau ke puncak?" tanya Kenzo. Seketika menyita perhatian Kailani dan juga Keira.


"Iya, Ken. Hanya beberapa hari saja," jawab Kailani.


"Jangan lupa rabu depan kita harus ke dokter untuk mengetahui hasil pemeriksaan Keiko, Kai," ingat Kenzo.


Kailani hanya menjawab dengan sebuah anggukan saja. Satu bulan lebih menunggu penjelasan final tentang penyebab seringnya Keiko mimisan dan merasa lemas hingga berberapa kali mengalami pingsan, tentu Kailani tidak mungkin lupa. Justru saat itulah yang dinantikan. Tes yang membutuhkan waktu lebih lama karena sampel ternyata tidak langsung diuji di Indonesia karena keterbatasan tekhnologi yang dimiliki itu akhirnya bisa diketahui hasilnya.


Tidak lama dari itu, Kailani berpamitan dan mengajak Keiko pulang untuk mempersiapkan liburan mereka ke puncak. Dibantu dua babysitter si kembar, semua keperluan mereka selama di sana pun sudah tertata rapi di tiga koper berukuran besar.


"Oppa datang," pekik Keiko begitu melihat mobil Kailandra memasuki halaman rumah.


Kailani yang masih sibuk menyiapkan lemari pendingin portable berisi stock ASI, langsung mempercepat gerakan tangannya. Dia pun memanggil Kekeyi dan babysitter Kanaya yang bernama Katami.


"Ke, tolong kamu keluar sebentar. Coba lihat, bapak datang sama Bu Kasih apa sendirian?" perintah Kailani pada Kekeyi.


"Baik, Bu." Kekeyi pun bergegas melaksanakan apa yang menjadi perintah Kailani. Tidak berapa lama, perempuan berusia sekitar dua puluh lima tahun itu sudah kembali dihadapan Kailani.

__ADS_1


"Aman, Bu. Bapak sendirian. Tidak ada Mak Kasih." Kekeyi menjawab sambil senyum-senyum penuh arti.


"Kenapa kamu senyum-senyum?" tegur Kailani.


"I--tu, Bu. Lihat Bapak kok jadi pengen manggil oppa juga kayak Keiko." Kekeyi menjawab dengan malu-malu.


Kailani menggelengkan kepalanya beberapa kali. Sungguh dia merasa heran, mulai Keiko hingga Kekeyi dan sekarang ditambah Katami, ketiganya sangat mengidoalkan Kailandra. Mereka kompak membicarakan pria tersebut diam-diam di belakangnya.


"Bu, pas di puncak nanti, mbok Ibu bantu kita bilang ke bapak, kita mau foto bareng bapak buat status di Facebook. Biar teman-teman di kampung pada iri sama kita." Kekeyi mulai merayu Kailani.


"Kenapa nggak ngomong langsung saja?" tanya suara yang seketika membuat Kekeyi menelan ludahnya dengan susah payah.


"Tuh orangnya sudah denger,“ seloroh Kailani.


Kekeyi melemparkan pandang ke arah Katami. Dari sorot mata keduanya, jelas menyiratkan rasa takut. Selama ini, dimata mereka Kailandra identik dengan sosok yang serius dan juga angkuh. Senyum dan tawa Kailandra, hanya mereka lihat saat majikannya itu sedang bersama Keiko.


"Jangankan foto, bikin video juga boleh. Asal ...." Kailandra melirik Kailani sambil melemparkan senyuman terbaiknya.


"Asal apa, Pak?" tanya Katami, begitu bersemangat.


"Biar Keiko yang memberi tau kalian apa syaratnya. Ini rahasia kita berempat. Sekarang kita berangkat. Nanti keburu macet," ajak Kailandra.


Kekeyi dan Katami masuk ke kamar untuk menggendong baby twins yang masih tidur pulas di dalam box. Sementara Keiko sudah duduk tenang di dalam mobil. Kailani dan Kailandra sendiri kompak membawa koper-koper yang disiapkan tadi ke mobil.

__ADS_1


"Kalau ada orang lain yang lihat, pasti mereka pikir kita keluarga kecil yang bahagia, ya, Kai?" Kailandra melontarkan pertanyaan yang berhasil membuat Kailani mencebikkan bibirnya.


"Sudah jadi ibu tiga anak, masih saja menggemaskan begitu. Kai, aku sudah resmi jadi duda loh sekarang."


__ADS_2