Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Bonus Chapter 1


__ADS_3

Kailandra dan Keiko sudah menunggu di ruang makan untuk sarapan pagi. Namun, Kailani yang katanya mau mandi dulu setelah memasak tidak kunjung menampakkan diri. Sementara baby twins yang sudah pandai tengkurap, sedang di simulasi oleh Kekeyi dan Katami untuk belajar merangkak.


"Bunda kenapa lama, Yah?" tanya Keiko yang sudah tidak sabar ingin menyantap makanan di depannya.


"Sebentar, Ayah lihat bunda dulu." Kailandra berdiri dan melangkahkan kaki menuju kamar utama yang ditempatinya bersama Kailani.


Kailani masih menyisir rambutnya yang basah ketika Kailandra masuk ke dalam sana. Perempuan itu mempercepat gerakan tangannya begitu menyadari kedatangan Kailandra. Sejak kejadian menjelang subuh tadi, sesungguhnya Kailani merasa malu. Karena dialah yang begitu agresif dan terkesan memimpin penyatuan tubuh mereka. Masih jelas diingatannya, bagaimana dia lebih dominan mengarahkan Kailandra untuk melakukan sesuatu pada tubuhnya.


"Kenapa menunduk begitu?" Kailandra mengangkat dagu Kailani dengan lembut.


"Maaf kalau tadi aku ter---,"


"Aku suka, Kai. Jangan minta maaf. Kenapa kamu malah malu begitu? Sepertinya Aku harus belajar banyak. Biar gak secepat itu kalah dan malah hanya memuaskanmu hanya dengan tanganku." Kailandra mengecup kening Kailani di ujung kalimatnya. Dalam hati dia serasa sedang menjalani karma. Dulu, dia hanya meminta Karina menuntaskan napsu birahinya hanya dengan tangan. Sekarang, dia pun hanya bisa demikian. Karena kejantanannya sungguh tidak bisa dikendalikan, baru lima menit saja---tumpah sudah benih calon benih-benih premium itu.


"Jangan melihatku seperti itu, Bang," Kailani buru-buru memalingkan wajahnya yang sudah bersemu merah. Tatapan penuh kasih sayang, tetapi sedikit nakal dari Kailandra membuatnya benar-benar salah tingkah.


"Boleh Aku memanggilmu dengan cara yang lain?" Kailandra kembali memegang dagu Kailani. Perlahan mengarahkan menggerakkan dagu tersebut agar Kailani membalas tatapannya. "Aku panggil Bun'ay, ya?" tambahnya.


Kailani kembali tersipu. Karena Ay memang panggilan yang dulu dimintanya pada Kailandra. Tetapi selalu ditolak karena pria tersebut mengatakan baru akan memanggilnya demikian kalau mereka sudah menikah.


"Dan itu artinya kamu jangan lagi memanggilku Bang Kai. Rasanya tidak enak didengar, Bun."


Kailani mencebikkan bibirnya. Panggilan itu sengaja diberikan pada Kailandra karena dulu saat mereka masih pacaran, pria itu gemar sekali menggoda Dan membuatnya kesal.


"Apa aku harus memanggilmu, Oppa? Tidak akan! Cukup Keiko yang mengagumimu, aku tidak." Sifat Dan sikap asli Kailani jika berhadapan dengan Kailandra kembali muncul.

__ADS_1


"Kamu mengagumiku lebih dari Kei. Jujur saja, aku tidak keberatan sama sekali. Sini, peluk Yanda."


Kailani seketika melakukan gerakan layaknya orang yang sedang menahan keinginan untuk muntah. Geli sekali kalau dia harus memanggil pria angkuh di depannya dengan sebutan seimut itu.


"Kamu mual? Apa secepat itu reaksi benih premiumku?"


Kailani langsung mencubit lengan Kailandra dengan keras. "Istri juga punya hak untuk badannya sendiri. Tiga anak cukup." Sebenarnya Kailani sedikit ragu saat mengatakannya. Pasalnya, dia sendiri lupa jika beberapa hari yang lalu dia baru saja usai mendapatkan siklus bulanannya.


"Tiga anak cukup, lebih dari tiga anak membuat kita lebih berkecukupan." Kailandra memeluk Kailani dari belakang.


"Bunda ... Ayah! Kapan kita makannya? Ayah katanya cuman sebentar," sungut Keiko dengan suara satu oktaf lebih tinggi dari biasanya.


"Kita makan sekarang, Kei." Kailani melepaskan diri dari pelukan Kailandra dengan buru-buru.


Setelah makan pagi, Kailandra mengantar Keiko ke rumah Kenzo. Mantan suami Kailani itu sudah melayangkan protes karena sudah tiga kali akhir pekan Keiko tidak melewati liburnya bersama Kenzo dan Keira.


"Kamu sudah lebih sering tersenyum sekarang, Kai. Wajahmu juga nggak tegang lagi," goda Kenzo.


"Kamu pasti tau alasannya." Kailandra menjawab begitu santai.


"Beri aku tiket liburan beserta akomodasi lengkap sekeluarga jika tebakanku ini benar. Pegang omonganku, Kai. Belum genap baby twins berusia dua tahun, Kailani pasti sudah melahirkan lagi."


"Astagah, Ken ... tidak begitu juga. Kelahiran harus diatur. Kasihan badan Kailani kalau begitu. Kamu ada-ada saja. Lagipula, tiga anak cukup kata Kai," sahut Kailandra begitu cepat.


"Lihat saja nanti, dan jangan lupa permintaanku. Dekat-dekat saja, keliling eropa sepertinya menyenangkan. Tidak seberapa dibanding dengan uang yang kamu punya. Aku yakin Kailani juga tidak banyak menggunakan uangmu, jadi biar aku bantu dia untuk mengurangi sedikit digit saldomu."

__ADS_1


"Jangan, Ken. Aku harus hemat-hemat karena aku mau pensiun dini. Sekarang ini, aku hanya berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak-anak dan Kailani. Aku ingin menebus semua kesalahan dan duka yang mereka rasakan sebelumnya. Aku ingin menukar kemewahan yang Aku miliki dengan kesederhanaan saja. Aku rasa, duniaku sudah cukup. Bekal untuk anak-anak juga sudah ada."


Kenzo menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kai-Kai. Mau kamu pensiun, selama 75 % saham perusahaanmu masih milikmu. Ya tetep santai hidupmu. Jangan pelit-pelitlah!"


"Nah, itu dia masalahnya, Ken. Saham itu sudah jadi milik orang lain. Sekarang aku cuman dapat uang gaji bulanan sebagai direktur utama. Mana gaji itu separuhnya juga harus aku berikan pada pemilik saham itu."


Kenzo spontan tertawa lepas begitu mendengar penuturan Kailandra. "Apalah artinya saham dan yang lain, kalau Kailani sudah di genggaman" ledek Kenzo ditengah tawanya.


Tidak lama dari itu, Kailandra pun langsung kembali ke rumah. Mumpung hari minggu dan Keiko sedang bersama Kenzo, dia ingin mengajak Kailani bicara serius mengenai suatu hal.


"Bun ... bunda serius mau kita tinggal di sini terus? Rumahnya Yanda gimana? Masa Yanda numpang di rumah Bun'ay terus." Kailandra memulai pembicaraan dengan hati-hati. "Kanaya dan Kanaka seharusnya punya kamar sendiri. Biar tidak jadi satu terus sama babysitter," tambahnya.


Kailani tidak langsung menjawab. Meski apa yang dikatakan Kailandra memang benar adanya, tetapi dia begitu berat untuk meninggalkan rumahnya itu.


"Suara jarum jatuh saja di sini terdengar oleh kamar sebelah, Kai. Belajar dari tadi pagi, sepertinya suara itu akan lepas keluar jika kita memiliki kamar yang kedap suara. Aku yakin, tadi kamu sangat menahan diri. Suara ******* lebih enak dilepas," goda Kailandra.


"Yanda apa-apa'an, sih? Sudah nggak usah dibahas. Kalau mau pindah ya pindah. Tapi biar adil, kita cari rumah baru saja. Rumah Yanda kan dulu Yanda tempati sama Karina." Kailani mengatakan dengan pipi yang merona merah karena tersipu malu.


"Dengan senang hati, Bunay. Tapi rumah ini jangan dijual, ya? Karena rumah ini sangat bersejarah buat Yanda. Kalau perlu akan Yanda jadikan museum untuk kita berdua."


"Yanda!" Kailani mencubit-cubit lengan Kailandra.


"Apa bunay? Ini masih sore. Tapi kalau bunay mau, Yanda nggak nolak." Kailandra sengaja menarik lengan Kailani agar istrinya itu jatuh ke dalam pelukannya.


"Tapi Yanda kali ini jangan cepet-cepet, ya," lirih Kailani sedikit malu-malu.

__ADS_1


__ADS_2