Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Karina masih belum terima


__ADS_3

Masih banyak kata-kata sanggahan yang terlintas di pikiran Karina. Namun, perempuan tersebut memilih untuk diam. Jangan sampai, dia malah benar-benar tidak mendapatkan apapun dari Kailandra. Tujuan pernikahan mereka di awal toh memang sudah jelas. Bahkan tertulis gamblang pada perjanjian pra nikah. Selama dalam ikatan pernikahan, tidak boleh ada yang memaksakan adanya cinta, tidak ada cemburu, segala kebutuhan keuangan dicukupi, dan masing-masing wajib menempatkan posisinya sebagai suami istri yang baik di depan publik (hanya untuk sekadar pencitraan).


Kailandra hanya butuh Karina untuk membentengi dirinya dari perempuan-perempuan yang mencoba menarik perhatiannya dengan segala cara. Kailandra yang tidak suka basa basi, cenderung melakukan penolakan secara frontal. Hal itu malah membuat banyak perempuan di luar sana semakin penasaran dengan sosoknya yang tidak tersentuh.


"Keluar kamu dari sini sekarang! Dan jangan pernah muncul dihadapan kami lagi!" Kailandra membuka pintu ruangan lebar-lebar. Sementara Kasih dengan kepekaan sekaligus kekesalan yang belum terluapkan dengan sempurna, memasukkan semua barang Karina ke dalam koper.


"Silahkan menjauh dari kehidupan kami," ucap Kasih seraya mendorong koper tadi dengan satu dorongan dari kakinya dengan keras. Hingga benda itu meluncur cepat dan membentur kaki Karina.


"Kalian bisa memperlakukan aku seperti ini. Tapi ingat, baby twins adalah anakku. Meski dia terlahir dari rahim perempuan lain, dia anakku. Aku berhak atas mereka." Sesaat sebelum keluar meninggalkan ruangan, Karina sengaja mengatakannya untuk membuat Kailandra dan Kasih berpikir. Dengan begitu, suatu saat keduanya lah yang akan memohon kepadanya.


Di sisi lain, Kailani yang sudah selesai memompa ASInya. Tampak sedang menghubungi Kenzo untuk menanyakan keadaan Keiko. Perempuan tersebut juga mengabarkan bahwa besok dia sudah akan keluar dari rumah sakit.


"Kamu jangan senang dulu, Kai. Sampai kapan pun, aku tidak akan membiarkan Kailandra tau siapa ibu biologis baby twins yang sebenarnya. Aku bersumpah, akan melakukan apa pun agar hal itu tidak terjadi. Jika aku tidak bisa memiliki Kailandra, perempuan mana pun juga tidak boleh bersamanya." Karina muncul tanpa permisi dan langsung mengatakan kata-kata bernada ancaman.

__ADS_1


Kailani seketika memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. "Terserah kamu, Kar. Kebenaran tidak perlu bersusah payah mencari jalan untuk mengatakan jika dirinya benar. Berbohonglah selagi kamu bisa. Suatu saat kebohonganlah yang akan menghancurkan dirimu sendiri. Kamu bisa mengubah apa pun, kamu bisa mengatakan apa pun yang kamu mau pada semua orang. Tapi ingat! Ada dua bayi yang tidak berdosa, yang akan menilai dengan jujur siapa kita."


Karina mendekati Kailani dengan kalap, perempuan tersebut mengayunkan tangannya ke atas, berniat ingin menampar pipi mulus Kailani. Namun, disaat bersamaan Kalvin muncul dan segera menahan tangan Karina yang sudah hampir sampai pada tujuannya.


"Cukup tindakan bodohmu, Kar! Mau sampai kapan kamu begini? Jangan terlalu serakah. Dari awal kamu tau, antara kamu dan Kailandra memang tidak akan berakhir manis. Di mana Karina yang berhati baik? Jangan membutakan hatimu karena cinta, Kar. Kamu masih bisa hidup lebih baik tanpa Kailandra. Buka hatimu, pasti ada pria yang akan menghargaimu seutuhnya," tutur Kalvin.


"Kamu tidak tau apa yang aku alami, Vin. Semudah itu kamu ngomong. Pernikahanmu mungkin hancur, tapi setidaknya kamu dan Keysa pernah memiliki hubungan pernikahan yang sebenarnya. Keysa mencintaimu. Sedangkan aku? Apa? Kailandra memperlakukanku tidak lebih dari sekedar pelengkap. Keberadaanku selalu diabaikan. Pendapatku kerap kali tidak dianggap. Soal anak? Sekali pun rahimku ini sempurna? Mana bisa kami punya anak dengan normal? Dan sejak kemunculan Kailani, semakin nyata posisiku di mana. Enam tahun bersama, bahkan aku tidak membuatnya melupakan semua hal tentang Kailani. Entah itu kebencian, dendam ataukah cintanya pada perempuan ini."


Air mata Karina luruh saat mengatakannya, suara perempuan tersebut bergetar. Kalvin merengkuh pundak Karina dan memeluknya dengan hangat. Bagaimana rapuhnya Karina, hanya Kalvin yang tahu. Itulah mengapa dia tidak menolak setiap keinginan Karina. Tentu saja, dengan tetap menyelipkan sebuah harapan---suatu saat nanti, perempuan yang sebenarnya adalah saudara tirinya itu bisa berubah.


Kalvin merenggangkan pelukannya. Tangannya terulur mengusap pipi Karina yang basah. "Ikhlaskan semuanya, Kar. Belum terlambat untuk menyudahi semua kesalahan ini."


"Tidak! Kali ini aku tidak mau mengalah. Tidak, Vin!" Karina mengatakannya tanpa ragu. Kemudian dia memberikan tatapan menantang pada Kailani. "Aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia bersama anak-anak, apalagi Kailandra. Lihat saja nanti."

__ADS_1


Karina berbalik badan dan melangkahkan kaki setengah menghentak meninggalkan Kailani dan Kalvin. Keduanya kompak menghela napas panjang. Dalam hati, mereka menyadari, dibalik keangkuhan dan kerasnya hati seorang Karina---ada luka dan kecewa yang teramat dalam pula.


Sehari berlalu setelah talak yang dijatuhkan Kailandra pada Karina. Pria tersebut semakin memfokuskan diri untuk menjaga dan mengikuti perkembangan baby twins. Kailandra tidak sendiri, ia ditemani oleh Kasih.


"Kamu ini laki-laki macam apa, Kai? Masak iya kamu tidak melihat perut istrimu selama tujuh bulan? Kenapa sampai kamu tidak tau kalau perut buncit Karina itu karena bantal atau apalah?" cecar Kasih dengan intonasi yang kentara kekesalannya.


"Kai sedang malas berdebat, Ma. Lagipula, mama yang pernah hamil saja tidak bisa membedakan, apalagi Kailandra. Sudahkah, yang penting kita sekarang sudah tau," putus Kailandra, tidak mau membahas hal yang bisa memicu kemarahannya lagi.


"Jika rahim Karina bermasalah, bisa jadi sel telurnya pun bermasalah. Apa iya baby twins ini benar-benar anak kalian? Mama tidak yakin. Lihat wajah mereka." Kasih mengajak Kailandra memperhatikan baby twins lebih seksama. Dilihat sekilas saja, keduanya memang tidak identik. Baby boy garis mukanya jelas mengingatkan Kasih pada Kailandra saat masih kecil. Tapi wajah baby girl? Seperti tidak asing dimatanya, namun jelas wajah itu berbeda dengan Kailandra.


"Siapa sebenarnya perempuan yang melahirkan cucu-cucu mama ini? Mama ingin bertemu sama dia. Mama ingin berterimakasih padanya . Sekali pun Karina sudah memberinya uang, percayalah---berapa pun uang yang kita bayar, tidak akan cukup mengganti nyawa yang sudah dipertaruhkan untuk menyelamatkan kedua cucu mama ini." Kasih melemparkan pandangan menyelidik pada Kailandra. Sesaat kemudian perempuan tersebut seperti teringat akan sesuatu.


"Jadi, waktu itu mama memberikan darah mama pada perempuan yang melahirkan baby twins? Bukan pada Karina. Astaga, Kai. Dia benar-benar sudah mempertaruhkan nyawanya. Ayo kita temui dia dan berterima kasih. Sekalian, mama ingin tanya bagaimana proses sebenarnya dari awal sampai dia bisa mengandung baby twins. Mama ragu, Karina ibu biologis dari anak ini."

__ADS_1


Kailandra seketika berpikir keras. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Jika Kasih tau Kailani lah yang melahirkan anak-anaknya, entah reaksi apa yang akan diberikan oleh mamanya itu. Belum lagi, dia dan Kailani sudah sepakat untuk membiarkan Kailani memberi ASI selama kondisi baby twins belum normal benar.


"Kai, kenapa diam? Siapa surrogate mother yang melahirkan baby twins?" tanya Kasih sekali lagi.


__ADS_2