Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Yang terkubur tidak akan kembali


__ADS_3

"Vin?" sapa sekaligus tanya keluar dari bibir Kailandra.


"Turut berduka cita, Kai. semoga Allah memberikan mamamu tempat terbaik di sisi-Nya." Sosok yang tidak lain tidak bukan adalah Kalvin itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Kailandra.


"Terimakasih, Vin." Kailandra menyambut uluran tangan Kalvin.


"Aku kembali hanya untuk mengambil berkas pekerjaanku. Kebetulan aku dengar berita duka ini. Makanya sebelum kembali aku ke sini dulu." Kalvin menjelaskan meski Kailandra tidak menanyakan tentang kemunculannya.


Kailandra hanya membalas dengan senyuman tipis. Lalu dia mengajak Kalvin untuk ke ruang tengah di mana peti jenazah Kasih berada.


"Maafkan kesalahan mama ya, Vin. Jika selama ini mama bersikap ketus dan sering mengatakan kata-kata yang menyakitkan, tolong maafkan mama. Sampaikan juga maaf atas nama mama pada Karina," lirih Kailandra dengan segala kerendahan hatinya dia menyampaikan permintaan maaf itu dengan tulus.


Kalvin menjawab dengan sebuah anggukan kepala. Tanpa disengaja, mata pria tersebut menangkap sosok yang belakangan ini berhasil membuat batinnya cukup tersiksa. Belum siap bertemu kembali dan tidak ingin berpamitan untuk yang kedua kali pada orang yang dengan berat hati ditinggalkannya, Kalvin pun bergegas undur diri.


Setelah Kalvin meninggalkannya. Kailandra duduk bersila di sisi kanan peti jenazah. Pria tersebut membaca Surah Yasin dan tahlil dengan sangat khusyu. Sesak di dada Kailandra kembali tumpah ketika bacaan tersebut sampai di penghujung ayat. Bayangan Kasih seakan tampak jelas di depan mata. Kemarahan sang mama tadi pagi kembali terngiang-ngiang. Hingga air mata Kailandra pun kembali tumpah.


"Istighfar, Bang. Istighfar." Kailani yang baru saja memposisikan diri di samping Kailandra, terus berusaha memberikan kekuatan.

__ADS_1


"Aku nyesel, Kai. Mama benar, aku memang tidak pernah membuat mama bangga. Membahagiakan mama pun aku belum mampu," lirih Kailandra di sela isak tangisnya. Ada rasa sesal, sedih dan juga marah yang tersirat dari penekanan di setiap kata yang diucapkannya.


"Aku tidak tau harus berkata apa untuk menguatkan hati Abang saat ini. Aku juga tidak bisa merangkai kata untuk memberi penghiburan dan penguatan yang tepat untuk Abang. Karena kematian adalah satu-satunya hal yang pasti akan terjadi. Hanya saja, kita tidak tau kapan kematian itu akan datang. Kematian bisa jadi menjadi perpisahan abadi. Karena kita sendiri tidak bisa memastikan kapan kita bertemu lagi dengan mereka yang meninggalkan kita lebih dulu. Bahkan ketika kita sudah sama-sama tidak bernyawa sekali pun, belum tentu Tuhan akan mempertemukan kita dengan mereka di alam sana."


Kata-kata Kailani barusan semakin membuat Kailandra terisak. Sesal di dadanya begitu menghimpit. Bisa dikatakan, di penghujung usia Kasih, perdebatan demi perdebatan lagi yang mengisi hubungan Kailandra dengan perempuan yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.


Kailani mengusap punggung tangan Kailandra begitu lembut. Diabaikannya, beberapa pasang mata para petaziah yang menatap kearahnya dan Kailandra dengan tatapan penuh tanya. Rata-rata memang sudah tahu status Kailandra sekarang sudah duda. Namun, mereka sama sekali tidak menduga jika pria tampan yang menjadi relasi bisnis mereka itu begitu cepat mendapatkan pendamping hidup yang baru.


Mendapatkan dukungan luar biasa dari Kailani, sedikit menegarkan hati Kailandra. Tidak lama, pria tersebut meminta Kailani untuk tidur atau istirahat sejenak sebelum beberapa jam lagi mereka akan berangkat menuju pemakaman. Sementara Kailandra sendiri memutuskan untuk kembali bersama-sama petaziah yang memang sengaja ingin menemaninya sampai jenazah Kasih dimakamkan nanti.


Mendekati waktu keberangkatan ke pemakaman, Kenzo datang bersama Keiko beserta baby twins. Kailani memang sengaja meminta tolong pada mantan suaminya itu untuk mengajak anak-anaknya ke sana. Ketiganya didekatkan pada peti jenazah Kasih.


"Kei, maafkan Oma Kasih, ya? Oma Kasih sudah pergi meninggalkan kita. Oma marah karena Oppa sering sekali membuat Oma Kasih marah." Kailandra meraih tubuh gembul Keiko, membawa bocah gembul tersebut ke dalam gendongannya.


"Oppa bandel, ya? Nggak nurut sama Oma?" Keiko bertanya dengan kepolosannya.


Kailandra mengangguk pelan, sorot matanya tidak fokus. "Kei jadi anak yang baik, ya. Nurut sama bunda. Jangan pernah bikin bunda menangis."

__ADS_1


Kailani mendekati Kailandra dan Keiko. Tangaannya terulur untuk mengusap lengan kekar Kailandra. Sepatah apa hati pria itu saat ini, Kailani tahu persis rasanya. Dia pun pernah merasakan hal yang sama.


Waktu pemakaman pun tiba. Mengingat baby twins masih sangat kecil, mereka tidak ikut serta mengantar sang Oma ke tempat peristirahatan terakhir. Begitu pun dengan Keiko. Kailandra tidak ingin putri pertamanya itu melihat dan merasakan kesedihannya lebih lama.


Proses pemakaman pun dilakukan dengan lancar. Satu per satu petaziah berpamitan meninggalkan tanah basah yang kini tertutup sempurna dengan taburan bunga mawar putih. Menyisakan Kailandra dan Kailani yang masih bersimpuh di samping pusara.


Tangan kanan Kailandra terus mengusap papan berukirkan nama Kasih. Beberapa kali kata maaf terucap dari bibirnya. Kailani memilih diam. Sengaja membiarkan Kailandra mengambil waktu untuk menumpahkan kesedihannya.


Langit semakin mendung. Gumpalan abu-abu pekat perlahan menutup birunya. Angin pun semakin kencang berembus. Guguran bunga kamboja di sekitaran tanah makam tidak sedikit pun mengusik keheningan antara Kailandra dan Kailani.


"Yang sudah terkubur, tidak akan kembali. Selama apa pun kita di sini, Bu Kasih tetap akan terbaring di bawah sana. Kematian sejatinya adalah pengingat bagi kita yang masih bernapas. Tidak ada satu pun manusia yang bisa memastikan kapan dan bagaimana kematian itu datang. Kematian tidak menunggu sampai orang yang akan kita tinggalkan siap." Kailani memecah keheningan dengan suara yang lirih.


"Suatu saat kita yang akan berada di bawah sana, Bang. Dan mungkin anak-anak yang akan menggantikan posisi kita sekarang. Dengan cara apa ajal menjemput kita, sepenuhnya itu kuasa Allah. Kepergian Bu Kasih menjadikan renungan bagi kita, betapa mengendalikan ucap dan tindak itu adalah sebuah keharusan. Menyakiti hati sesama manusia itu lebih berat. Karena manusia lebih sulit menerima maaf ketimbang kepada Allah," tambah Kailani. Lalu dia beranjak berdiri.


"Mungkin Abang butuh waktu untuk sendiri. Aku pulang dulu, Bang. Hidup tidak berhenti di sini. Ada anak-anak yang harus kita pikirkan. Aku pernah gagal menjadi seorang istri. Dan Aku tidak ingin gagal menjadi seorang ibu."


Kailandra menengadahkan wajah sendunya. Ditatapnya mata Kailani dalam-dalam. "Aku tidak hanya gagal menjadi seorang suami, Kai. Aku juga gagal menjadi seorang anak."

__ADS_1


"Jika Abang terus disini dan melarutkan diri dalam penyesalan atau kesedihan. Tidak menutup kemungkinan, Abang juga bisa gagal menjadi seorang ayah," ucap Kailani. Suaranya jelas bergetar karena sesungguhnya Kailani sendiri tidak sampai hati mengucapkannya.


__ADS_2