
Seperti biasanya, selepas mandi dan berganti pakaian, Kailandra menyempatkan diri untuk menemani Keiko belajar. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar hubungan kedekatannya dengan putri pertamanya tersebut terjalin erat melebihi Kedekatan Keiko dengan siapa pun. Tidak ingin menoleh ke belakang apa yang sudah terjadi, pada saatnya nanti Keiko akan mengetahui kenyataan yang sebenarnya---tidak akan ada reaksi penolakan yang akan diterima. Karena sejatinya, tidak akan ada yang berubah.
"Yah, sabtu depan ada field trip. ini formulir yang harus diisi dan dikumpulkan lagi ke Miss Klaire." Keiko menyodorkan secarik kertas berisi pemberitahuan dari sekolah.
Kailandra menerima kertas tersebut lalu membacanya dengan teliti. Sesudah membaca keseluruhan isinya, pria tersebut berkata, "Ini luar kota lho, Kei. Di daerah Malang. Nggak mungkin Kei sendirian. Di sini juga dijelaskan kalau field trip ini bersama anggota keluarga. Maksimal hanya dua orang."
"Ya memang begitu, Yah." Keiko menjawab santai tanpa membalas tatapan mata Kailandra. Tangannya masih bergerak aktif menyelesaikan tugas menulis huruf mandarin. "Kei sama bunda juga tidak mengapa kalau Ayah sibuk," tambahnya.
"Kan bunda Ada dedek twins, Kei. Dua hari pula, nggak mungkinlah." Belum dibicarakan dengan Kailani, Kailandra sudah mengambil kesimpulan sendiri.
Dua hari sebenarnya bukan waktu yang terlalu lama. Tapi jelas tidak mungkin Kailani yang mendampingi Keiko. Hanya menyisakan dua kemungkinan, kalau bukan Kailandra, tentu Kenzo yang pastinya akan turun tangan.
"Kenzi ikut, kan, Kei?"
"Ikut dong, Yah. Kenzi sama papa, karena mama kan katanya sedang hamil. Jadi tidak boleh naik pesawat."
Kailandra memanggut-manggutkan kepalanya. Dengan keikutsertaan Kenzi, tentu bukan hal yang sulit untuk Kenzo menjaga dua orang anak. Sepertinya itulah ide terbaik yang terlintas dibenak pria tersebut saat ini. Bukan berarti Kailandra tidak memiliki keinginan untuk mengantar Keiko sendiri, tetapi dia agak berat hati meninggalkan Kailani sendiri. Ditambah lagi dia baru tahu kalau Kalvin sedang berada di Jakarta.
****
Beberapa waktu kemudian, setelah makan malam bersama dan semua sudah kembali ke kamar masing-masing, Kailandra yang sudah santai di atas ranjang sembari membaca, beberapa kali melirik jam dinding di tembok sisi kanannya. Sudah satu jam lebih sejak dia membaringkan tubuhnya, Kailani belum juga masuk ke dalam kamar.
Awalnya Kailandra masih bisa bersabar, karena mengira sang istri sedang memastikan Keiko dan juga baby twins sudah benar-benar tidur atau belum. Namun, begitu menyadari Kailani terlalu lama melakukan hal tersebut, Kailandra pun menjadi terusik. Dengan gerakan cepat, pria itu beranjak turun dan berjalan ke luar kamar untuk mencari keberadaan Kailani.
__ADS_1
Baru beberapa langkah dari kamarnya, indera penglihatan Kailandra menangkap keberadaan Kailani di lantai bawah. Perempuan yang sangat dicintainya tersebut tampak baru menerima bungkusan kecil dari salah satu asisten rumah tangganya. Dan yang membuat heran, Kailani buru-buru memasukkan benda itu ke saku daster yang dikenakan sembari mengedarkan pandang ke segala sisi seakan memang apa yang baru diterimanya tadi bersifat sangat rahasia.
Kailandra bergegas kembali masuk ke kamar begitu Kailani mulai menapakkan kaki pada anak tangga pertama. Entah mengapa, untuk kali ini, dia lebih tertarik untuk mencari tahu sendiri apa yang sedang disembunyikan sang istri ketimbang harus bertanya langsung.
Melihat gagang pintu bergerak ke bawah disertai daun pintu yang perlahan terbuka, Kailandra segera menarik selimut hingga menutupi lehernya. Mata pria itu seketika terpejam rapat.
Mengira Kailandra sudah tertidur, Kailani segera mengeluarkan kembali bungkusan yang berisi kotak pipih kecil dari balik sakunya dan meletakkan di laci tempat penyimpanan celaana dalam miliknya. Sebelum menutup kembali lacinya, dia mengambil satu isi dari kotak pipih tadi. Dengan gerakan cepat memasukkannya ke dalam mulut dan menelannya tanpa bantuan air. Baru setelah mendekati nakas, Kailani segera meneguk segelas air putih hingga tandas.
Takut membangunkan Kailandra, Kailani naik ke atas ranjang dengan gerakan hati-hati. Dia menarik sedikit selimut untuk menutupi bagian pinggulnya ke bawah sambil memposisikan diri memunggungi sang suami.
Kailandra bergeming pada posisinya, sengaja meneruskan tidur pura-puranya. Meski rasa kesal jelas membuat dadanya panas menggelora.
Malam ini, seharusnya dia ingin mengajak Kailani berdiskusi. Tentang Keiko dan juga tentang keinginannya mempunyai anak lagi. Ditambah lagi, kini dia harus dibebankan tanya akan barang apa yang disembunyikan dan dikonsumsi Kailani barusan.
Di tengah keresahan hati, suara telepon genggam bergetar di atas nakas memecah keheningan. Meja laci yang letaknya lebih dekat dengan Kailandra itu membuat Kailani ragu untuk beringsut. Takut kalau sampai suaminya terbangun. Namun, suara getaran dari panggilan masuk itu jika dibiarkan terus menerus---pastinya juga bisa membangunkan sang suami.
"Tolong Terima teleponku, katakan aku sedang tidak enak badan. Seharusnya malam ini aku ada entertain relasi dari Korea di club malam." Kailandra sengaja mengatakan hal tersebut dengan mata yang masih terpejam. Suaranya terdengar malas dan asal. Dia hanya ingin tahu apakah Kailani akan menerima panggilan tersebut jika tahu siapa peneleponnya.
Kailani buru-buru beringsut melewati tubuh suaminya dengan gerakan berguling untuk mengambil ponsel. Keningnya seketika berkerut ketika tahu bahwa ponselnyalah yang berdering. "Tumben," gumamnya sembari menggeser ke atas tanda panah hijau di layar ponselnya.
"Iya, Vin."
Sapaan biasa dari Kailani terdengar terlalu ramah bagi Kailandra. Hingga membuat pria tersebut bergerak kasar mengubah posisinya menjadi memunggungi sang istri.
__ADS_1
"Besok, ya/ Jam berapa?/ iya ...aku usahain, deh/Oke, Vin/Bye...."
Kailandra kembali mengubah posisi tidurnya dengan kasar. Seperti Keiko ketika ngambek, gerakan yang dilakukan sungguh membuat ranjang bergoyang.
Setelah meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, Kailani menempelkan punggung tangannya di kening dan juga leher Kailandra, sekadar ingin memastikan perkataan suaminya tadi. "Yanda apanya yang tidak enak? Pusing? Atau kenapa?"
Kailandra menggeleng pelan tanpa membuka kedua bola matanya.
"Tadi katanya nggak enak badan? Sini aku pijitin, Nda." Kailani mulai menggerakkan tangannya di pundak sang suami.
"Nggak usah." Kailandra menepis tangan Kailani. Menjauhkan tangan istrinya itu dari pundaknya.
"Yanda kenapa? Lagi ada masalah? Cerita, dong. Jangan disimpen sendiri," ucap Kailani, tidak sedikit pun dia merasa dialah sumber ketidakenakan jiwa raga Kailandra.
Pria tersebut lagi-lagi hanya menggeleng pelan. Bibirnya tetap tertutup rapat. Menunjukkan kemalasan untuk berbicara.
"Besok aku mau ke Bandung, mau cek pembangunan finishing tempat penitipan anak dan PAUD di sana. Tidak nginep, kok. Aku berangkat setelah subuh. Pulangnya aku usahakan tidak terlalu sore." Kali ini suara Kailani terdengar sangat hati-hati.
Kailandra semakin malas membuka bola matanya. Hanya tangan kanan pria tersebut yang mulai terlihat bergerak memijit-mijit pangkal hidungnya sendiri.
"Nda," panggil Kailani sembari meletakkan telapak tangannya di dada Kailandra yang sudah dalam posisi telentang.
Tidak mendapatkan sahutan. Kailani pun ikut memejamkan matanya. "Kalau Yanda butuh sesuatu bangunkan saja aku."
__ADS_1
Kailandra tetap tidak bereaksi. Dalam hati, dia hanya mendengus kesal akan ketidakpekaan Kailani memahami perubahan sikapnya. Menunggu sampai lima menit tidak ada usaha lagi dari Kailani untuk menanyakan keadaannya. Kailandra pun akhirnya menyerah. Dia tidak tahan berdiam diri lebih lama lagi.
"Aku tidak mengijinkanmu bekerja lagi. Jika kamu merasa apa yang aku berikan masih kurang, aku akan berusaha lebih keras lagi," ucap Kailandra, tegas dan lugas sembari mengubah posisi tubuhnya menjadi bersandar di sandaran ranjang.