Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Bonus Chapter 5


__ADS_3

Dengan raut wajah keheranan, Kailani pun langsung mengubah posisinya menjadi duduk bersila. Kening perempuan itu sampai berkerut saat melemparkan pandangan pada sang suami. "Sebentar, ini ada apa? Kenapa Yanda membuat tiba-tiba mengambil keputusan sepihak?" tanyanya.


"Karena kamu yang mulai, Bun." Kailandra mengucapkannya tanpa membalas tatapan Kailani.


"Memulai apa? Bukankah dari awal kita tidak pernah ikut campur masalah pekerjaan satu sama lain? Aku juga tau bagaimana harus mengatur waktu. Urusan anak-anak dan urusan Yanda, apa pernah aku mengabaikan kalian?" Kailani masih berusaha bertanya dengan suara dan tatapan lembut.


Kailandra memalingkan wajahnya ke arah tembok sisi kanan. Apa yang dikatakan Kailani memang benar. Sejauh ini, sebagai seorang istri dan juga ibu, Kailani sudah maksimal menunjukkan peranannya. Hanya saja, Kailandra merasa terganggu dengan keberadaan Kalvin yang hampir tiap hari berhubungan atau berkomunikasi langsung dengan Kailani. Ya, meski pun dia tahu itu hanya sebatas pada urusan pekerjaan.


"Sekarang ini, aku bekerja bukan lagi karena uang. Jelas uang yang Yanda beri sudah lebih dari cukup. Tapi kapan lagi ada pekerjaan yang bisa dijalani dengan senang hati layaknya kita sedang menjalankan sebuah hobi? Aku sangat menyukai anak-anak. Dari mereka aku belajar ketulusan, kejujuran dan kebahagiaan dengan cara-cara yang sederhana."


Kailandra masih terdiam. Dia memilih untuk menjadi pendengar terlebih dahulu sembari meredam emosinya sendiri. Lama tidak mengalami kekesalan seperti sekarang, dia takut hanya kata-kata pedas dan di luar nalar yang akan keluar dari bibirnya.


"Baby twins sudah ada babysitter masing-masing, Keiko sekolah sampai sore, Yanda juga bekerja hampir makan malam baru pulang. Belum lagi urusan rumah semua ada yang mengurus. Dari Dua puluh empat jam waktu yang kita punya dalam sehari, akulah orang yang bisa dikatakan memiliki waktu belasan jam lebih untuk bersantai. Aku tidak bisa berdiam diri seperti itu. Ada sisi dalam diriku yang mengharuskan Aku berinteraksi dengan orang-orang lain selain kita."


"Kalau itu alasanmu. Kamu bisa mendirikan atau membuka sendiri tanpa harus bekerja sama dengan orang lain. Aku bisa membantumu mencarikan tempat yang lebih strategis. Aku bisa jamin, semua pasti akan lebih baik dan tidak akan kalah dengan tempatmu sekarang."


Kailani menatap suaminya sembari meengulum sebuah senyuman tipis. Senyuman yang menyiratkan keherannya akan satu sifat suaminya yang mengakar hingga sulit dihilangkan. Apa lagi kalau bukan selalu memaksakan kehendaknya sendiri tanpa memikirkan sesuatu itu dari berbagai sudut pandang terlebih dahulu.

__ADS_1


"Tidak bisa begitu, Yanda. Kita harus memegang etika berbisnis. Mengabaikan siapa pun yang sedang bekerja sama dengan kita, rasanya sangat tidak pantas kalau kita tiba-tiba memutus hubungan kerja dan langsung mendirikan usaha dibidang yang sama. Tidak! Aku tidak ingin seperti itu. Kalvin orang yang baik dan Aku nyaman bekerjasama dengan dia."


Kalimat terakhir yang diucapkan Kailani, jelas membuat Kailandra seketika menatap istrinya itu lekat-lekat. Lalu dengan sinis dia berkata, "Nyaman, ya? Sampai ke luar kota pun langsung memutuskan bisa tanpa meminta ijin terlebih dulu sama suami."


Kailani menarik napas dalam. Kini dia kurang lebih sudah bisa membaca apa yang sedang ada di pikiran sang suami. Dia pun menggeser duduknya semakin tidak berjarak dengan Kailandra. Lalu dia bersandar pada bahu bidang milik ayah dari ketiga anaknya tersebut. Terlintas dalam benaknya untuk sedikit melakukan keisengan.


"Kadang aku lupa kalau sudah punya suami lagi, Yanda." Kailani malah mengitari bagian sensitif di dada Kailandra dengan menggunakan jari telunjuknya.


Kailandra menelan ludahnya dengan susah payah. Sudah tahu dia sedang tidak enak hati, istrinya itu malah seperti sengaja memberikan godaan dengan melakukan sentuhan lembut dan manja di area-area yang membuat duduknya tidak nyaman karena ada sesuatu yang tumbuh mengeras.


"Bun, apa sih? Aku lagi pengen ngomong serius ini." Kailandra menahan pergelangan tangan Kailani agar gerakan naik turun meresahkan yang tengah dilakukan tangan itu terhenti.


"Ngomong saja, Yanda. Aku bisa dengar kok." Kailani beringsut dan menundukkan wajahnya tepat ke benda yang sedang dimainkan dengan tangannya.


"Jangan dekat-dekat dengan Kalvin. Pernah ada rasa, bisa jadi dia masih menyimpan rasa itu. Kamu dan dia masih sama-sama manusia, sering bersama bisa menimbulkan rasa nyaman. Awalnya teman, lama-lama bisa yang lain. Pokoknya Aku minta kamu jangan sampai berdua saja sama dia." Kailandra berusaha mengatakannya dengan tegas dan lancar. Meski nyatanya, dibeberapa bagian ucapannya itu terdengar lirih atau bahkan meninggi akibat sensasi rasa yang diberikan mulut Kailani di tengah sana.


"Bun'ay ngerti, kan?" tanya Kailandra. Suaranya sudah mulai parau karena napsu yang tergugah.

__ADS_1


Kailani beberapa kali tampak menganggukkan kepala. Tentu saja anggukan itu menimbulkan makna yang ambigu. Manakala kegiatan yang dia lakukan memang kerap kali membuat kepalanya otomatis melakukan gerakan tersebut. Entah itu anggukan tanda mengiyakan pertanyaan sang suami ataukah pertanda dia sedang memasukkan milik Kailandra lebih dalam ke mulutnya.


"Bun'ay," desis Kailandra sembari mengumpulkan rambut di kepala Kailani untuk digunakannya sebagai pegangan.


Kailani membebaskan mulutnya dari sesuatu yang sudah tumbuh dengan maksimal. Perempuan itu lalu menengadahkan wajahnya ke arah sang suami dan kembali melemparkan senyuman menggoda. "Jadi masih boleh kerja, kan?"


"Apa yang kamu sembunyikan di laci tadi? Obat apa dan mengapa kamu harus meminumnya?" cecar Kailandra sebelum lupa karena pastinya setelah ini dia akan mengajak Kailani melayang bersama menuju puncak surga dunia.


"I--tu, ehm ... vitamin untuk kulit." Kailani menjawab dengan sedikit tergagap. Sama sekali tidak mengira Kailandra mengetahui pil keluarga berencana yang dia konsumsi diam-diam.


"Benarkah?" selidik Kailandra masih tidak percaya karena raut wajah Kailani yang tidak biasa saat menjawab pertanyaannya. Bahkan istrinya itu seakan menghindari kontak mata dengannya.


"Iya, benar. Aku harus tetap cantik karena aku tidak mau kamu melirik perempuan lain." Kailani melepas atasan yang dikenakannya. Tidak ada cara lain untuk menghentikan pembicaraan ini selain dengan menggantinya dengan kenikmatan yang pastinya tidak akan mudah ditolak oleh Kailandra. Apalagi dengan sekilas pemanasan yang sudah diberikan tadi.


Kailandra kembali terdiam. Dia masih meyakini jika Kailani tidak sepenuhnya jujur. Mungkin memang mencari tahu sendiri adalah jalan yang terbaik.


"Aku mau tidur dulu, Bun. Sebenarnya banyak yang harus kita bicarakan. Tapi besok saja. Terserah kalau kamu mau berangkat ke Bandung." Kailandra membetulkan kembali posisi celana yang tadinya sudah melorot. Lalu dia berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut hingga ke leher.

__ADS_1


__ADS_2