
Setelah mendapatkan informasi lebih lanjut dari si penelepon, Kailandra segera mengajak Keiko meninggalkan tempat sebelum acara usai. Tidak sabar dengan langkah pelan Keiko, dia pun menggendong putrinya tersebut hingga sampai masuk ke dalam mobil.
"Kan belum selesai, Oppa. Kenapa pulang?" Keiko tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Nanti Oppa jelaskan sekalian kalau ada bunda. Kei pakai seatbeltnya dulu. Oppa agak kenceng setirnya. Kei jangan takut." Meski dirinya sendiri sedang panik, Kailandra tetap berusaha tidak menularkan ketidaktenangannya pada Keiko.
Gadis cilik itu pun tidak bertanya lagi. Dia memilih memejamkan matanya karena sedikit takut karena Kailandra benar-benar melajukan kendaraannya dengan kencang. Jalanan berkelok yang dilalalui bahkan menambah rasa takut itu dengan mual dan juga pusing.
Tidak sampai lima belas menit, keduanya pun sudah sampai kembali di villa. Baby twins dan duo babysitternya sudah tenang di dalam kamar. Hanya ada Kailani yang masih berada di ruang tengah karena sengaja menunggu kedatangan Keiko. Perempuan tersebut agak terkejut saat menyadari kemunculan Kailandra juga Keiko yang tiba lebih awal dari waktu yang dijadwalkan.
"Mama mengalami kecelakaan dalam perjalanan kemari, Kai. Sekarang mama ada di rumah sakit di daerah Bogor." Kailandra langsung memberikan kabar mengejutkan pada Kailani sebelum perempuan itu bertanya.
"Innalilahi Wa Innalilahi Rajiun. Terus sekarang kondisi mama bagaimana?" Kailani bertanya sambil berjalan ke arah Keiko yang kelihatannya masih pusing.
"Aku pastikan dulu kondisi mama. Kamu di sini saja. Nanti setelah di rumah sakit, aku hubungi kamu. Istirahatlah, ajak Keiko tidur," tutur Kailandra.
"Kei, tidur sama mbak sus sama dedek, ya? Bunda temenin Oppa dulu. Teleponnya bunda Kei pegang, nanti kalau ada apa-apa, Kei hubungi Oppa." Kailani menatap lembut pada Keiko.
__ADS_1
"Iya, Bunda." Setelah menganggukkan kepala, Keiko langsung masuk melangkahkan kaki menuju kamar.
"Kamu yakin mau ikut? Anak-anak kasihan nanti?" Kailandra menjadi dilema. Meski dia tidak bisa memungkiri jika dirinya juga bahagia karena Kailani masih peduli pada Kasih. Namun, di sisi lain Kailandra juga tidak ingin meninggalkan anak-anak hanya bersama babysitter saja.
"Kan ada Bi Kokom dan Mang Kos juga, Bang. Aku temani dan biar aku yang setir mobilnya." Kailani menyebut nama pasangan penjaga Villa.
Kailandra mengangguk pelan. Lalu berjalan terlebih dulu menuju mobilnya karena Kailani masih menyempatkan diri menemui Kokom untuk membantu menjaga baby twins dan Keiko.
Tidak lama dari itu, Kailani dan Kailandra pun berangkat menuju rumah sakit dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh Kailani. Kailandra sempat menolak, tetapi perempuan itu memaksa dengan dalih demi keselamatan bersama karena pastinya pikiran Kailandra sedang tidak fokus.
Hampir tujuh puluh lima menit waktu dilalui, keduanya sampai juga di RSUD Bogor. Setelah memarkirkan mobil, Kailani dan Kailandra bergegas menuju ruang UGD. Di sana mereka disambut oleh anggota satlantas yang kebetulan menangani tragedi kecelakaan yang menimpa Kasih dan drivernya. Dari sana baru diketahui jika driver meninggal seketika di tempat kejadian. Sedangkan Kasih sendiri masih dinyatakan kritis dan masih dalam penanganan dokter.
"Kita doakan yang terbaik untuk Bu Kasih, Bang." Kailani memberanikan diri mengusap lengan Kailandra. Sekadar ingin memberikan kekuatan dan dukungan. Menanggalkan sejenak ketegangan juga perselisihan yang selama ini ada.
Di luar dugaan, Kailandra malah memeluk Kailani. Pria tersebut menangis sesenggukan dalam dekapan canggung ibu dari ketiga anaknya itu. Dia teringat akan perdebatan kecilnya dengan sang mama saat hendak berangkat tadi pagi. Rangkaian kata yang didahului dengan kata andai terus terlintas dibenaknya. Keinginan Kasih ikut serta dengan Kailandra ke puncak, ditolak mentah-mentah oleh pria itu. Bahkan dia sempat mengatakan bahwa kehadiran Kasih hanya akan membuat semua runyam.
"Semua gara-gara aku, Kai. Andai aku tidak melarang mama ikut, mama pasti tidak akan mengalami ini," sesal Kailandra.
__ADS_1
Wajah kecewa dan marah Kasih terbayang kuat dipelupuk mata. Kata-kata sinis sang mama pun kembali terngiang jelas di telinga Kailandra. "Belum benar-benar bersama Kailani saja kamu sudah menyingkirkan mama, Kai. Kita lihat saja nanti. Kamu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaanmu tanpa restu mama."
Kalimat itulah yang terakhir disampaikan Kasih pada Kailandra. Sebuah kalimat yang diteriakkan dengan sangat lantang penuh kemarahan karena sang anak terus berjalan memasuki mobil tanpa mengindahkan sang mama yang masih belum selesai berbicara.
"Doa, Bang. Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang. Kita kembalikan semua pada Sang Maha pemilik. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang terjadi di luar ijinNya. Bahkan sehelai daun yang jatuh pun tidak akan menyentuh tanah jika Allah menghendakinya jatuh di atas genteng." Kailani berusaha merenggangkan pelukan Kailandra. Dia kemudian mengajak pria itu duduk di deretan bangku besuk tidak jauh dari ruangan UGD.
"Aku nyesel, Kai. Harusnya tadi aku membiarkan mama ikut sama kita. Tapi aku juga nggak mau mama malah membuat acara ini berantakan. Kamu tau sendiri bagaimana mama, kan? Kalau mama ikut, pasti mendadak semua aturan harus dari mama. Aku tidak mau mama malah membuat kamu semakin malas dekat sama aku."
Kailani menarik napas dalam. Sesaat kemudian, dia mencoba tersenyum tipis. Dia memberanikan diri menyentuh lengan Kailandra sambil berkata, "Seperti yang aku katakan tadi, Bang. Segala sesuatu terjadi pasti atas izin Allah. Abang berdoa saja. Semoga Bu Kasih bisa melewati masa kritis yang dan segera kembali pulih."
"Aku takut, Kai. Bertahun-tahun kami tidak bertemu sejak perpisahan kita. Lalu aku pulang menemui mama bersama Karina dan akhirnya hadirlah baby twins dengan segala cerita yang sama-sama tidak pernah kita duga sebelumnya. Aku memang memberikan mama cucu seperti yang diharapkan, bahkan tiga sekaligus. Tapi tidak dengan cara yang benar. Pastinya, mama pengen aku mendapatkan anak dengan cara yang normal. Mama pengen melihat Aku memiliki keluarga yang seutuhnya," sesal Kailandra. Suaranya bergetar dan sorot matanya jelas menyiratkan bahwa pria tersebut begitu menyalahkan dirinya sendiri.
Bibir Kailani sudah sedikit terbuka karena ingin menanggapi perkataan Kailandra. Tetapi langkah perawat yang buru-buru menghampiri mereka, membuat Kailani memilih untuk menunda dulu ucapannya.
"Keluarga Ibu Kasih?" tanya sang perawat.
Kailandra langsung beranjak berdiri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Kailani melakukan hal yang sama. Melihat wajah perawat di depannya, mendadak perasaan Kailani menjadi tidak enak.
__ADS_1
"Mohon maaf, Pak .... "