Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Hari pernikahan


__ADS_3

Kailandra menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan sedikit keras. Dia bisa mendengar jelas ucapan Kailani barusan. Sangat jelas malah. Hanya saja, dia masih tidak menyangka Kailani mengucapkan hal tersebut. Pipi Kailandra pun terasa sakit dan panas akibat tepukannya sendiri yang begitu kuat.


"Bukan mimpi," lirihnya.


Ekspresi wajah Kailandra sungguh sulit untuk diartikan. Entah kebingungan atau terlalu bahagia, bibirnya bergetar tidak tahu harus berkata apa. Harusnya dia mengungkapkan apa yang dirasakannya, entah lewat suara atau sekedar dengan bahasa tubuh. Nyatanya, Kailandra malah seperti patung orang yang sedang kebingungan. Menyadari reaksi bodohnya, Kailandra pun berusaha mengendalikan diri agar lebih tenang.


"Kai, aku tau kamu melakukan ini hanya demi anak-anak. Tapi aku tetap akan mengusahakan yang terbaik untukmu, semampu yang aku bisa untuk membahagiakan kalian semua. Aku akan mempersiapkan pernikahan kita." Suara Kailandra benar-benar bergetar. Antara haru, bahagia dan sedih kini beraduk menjadi satu. Sesungguhnya dia masih takut akan ucapan mendiang Kasih yang mengatakan bahwa dia tidak akan pernah bahagia.


"Pernikahan sederhana saja. Aku tidak ingin ada tamu. Cukup antara kita dan saksi-saksi saja. Kalau bisa secepatnya." Sesaat setelah mengucapkannya Kailani beranjak berdiri dan buru-buru masuk ke dalam kamarnya.


Kailandra mungkin tidak tahu, perasaan Kailani pun sekarang sedang campur aduk. Keputusan yang baru diucapkan merupakan keputusan besar. Sejatinya pernikahan tetaplah pernikahan. Apa pun alasan yang melatar belakangi ikatan sakral itu terjadi, tetap ada hak dan kewajiban atau konsekuensi yang harus dijalani kedua pihak setelahnya.


Sampai setengah jam berlalu, Kailani tidak juga kembali menemui Kailandra atau sekedar keluar kamar. Maka dari itu, pria tersebut pun memutuskan untuk meninggalkan rumah Kailani. Tidak langsung pulang, di tengah perjalanan Kailandra meminta bertemu dengan asisten pribadinya untuk membicarakan dan mengurus masalah pernikahan.


Sementara Kailani sendiri juga terlihat sedang berbicara serius dengan seseorang melalui sambungan telepon. Seseorang yang dihubungi ya itu tidak lain tidak bukan adalah Kenzo. Tentu saja sangat penting untuk membicarakan keputusannya itu pada sang mantan suami. Bukan masalah meminta restu, melainkan karena keputusan yang diambil Kailani jelas menyangkut masalah Keiko juga.


"Apa ini artinya kalian akan mengambil Keiko sepenuhnya?" Suara Kenzo terdengar dari speaker ponsel Kailani. Dari nadanya tergambar jelas sebuah kekhawatiran.

__ADS_1


"Tidak, Ken. Tidak begitu. Perlahan, kita harus meluruskan kesalahan ini. Keiko berhak tau cerita yang sebenarnya. Bang Kai juga berhak mengakui dan mendapatkan pengakuan atas Keiko secara benar. Bukan untuk memutus tali kasih antara kamu dan Keiko, hanya untuk mengembalikan posisi kita masing-masing di tempat seharusnya. sampai kapan pun, kamu pastilah tetap papa Keiko." Kailani menjelaskan dengan lugas, tanpa meninggalkan sisi kelembutannya.


"Janji, ya, Kai? Kamu tidak akan menjauhkan Keiko dari aku." Volume suara Kenzo semakin terdengar melemah.


"Ken, kamu ini ngomong apa? Keiko anak yang cerdas. Dia begitu perasa,baik hati dan penyayang. Keiko bisa seperti sekarang, itu juga karena kamu. Begitu banyak waktu yang kalian habiskan untuk membangun moment bersama. Keiko tidak akan melupakan kamu hanya karena kehadiran Bang Kai."


Tidak lama, sambungan telepon pun terputus. Tidak ada salam atau pun sapaan penutup dari keduanya. Kailani lalu memilih untuk merebahkan diri di ranjang. Memejamkan mata---berharap dirinya segera tertidur pulas untuk menyatukan keputusan besar yang baru diambilnya bersama mimpi. Sungguh, dia sendiri pun tidak menyangka pada akhirnya harus seperti sekarang. Pada akhirnya, secuil benih rasa yang tadinya ingin dipupuknya bersama Kalvin, harus diabaikan karena kebahagiaan Kailani bukan lagi sekedar tentang hatinya sendiri, tetapi ada tiga hati lain yang harus lebih diprioritaskan.


Malam itu, mungkin menjadi malam yang paling menggelisahkan bagi Kailandra dan Kailani. Berbagai posisi tidur sudah dicoba, tetapi mata tetap saja terpejam dalam kepura-puraan.Bukannya terlelap, pikiran keduanya malah kompak berjalan kemana-mana.


Kondisi kegalauan itu, berlangsung sampai beberapa hari kemudian. Tidak hanya tidur saja yang sulit, napsu makan keduanya jauh berkurang. Belum lagi urusan pekerjaan yang menjadi tidak fokus. Hingga hari yang dinanti-nanti pun akhirnya tiba.


Ruang tamu ditata sedemikian rupa dengan sederhana. Semua sudah siap menjadi saksi ikrar suci dua insan yang kembali menyatu---entah karena cinta atau karena keadaan. Satu hal yang pasti, calon mempelai pria tampak sekali kegugupannya. Bahkan Keiko yang terus menggandeng tangan pria tersebut, merasakan tangannya ikut basah karena keringat dingin yang dikeluarkan oleh tangan sang oppa.


Kegugupan tidak hanya milik Kailandra, hal yang sama dirasakan oleh Kailani. Perempuan tersebut masih enggan beranjak dari depan meja riasnya. Dia terus memandangi sendiri wajah ayunya yang sudah dipoles tipis oleh MUA yang sengaja didatangkan oleh Kailandra. Kebaya putih salju berpotongan Shanghai, semakin menegaskan leher Kailani yang jenjang.


"Kamu cantik sekali, Kai. Orang tidak akan mengira kalau kamu sudah mempunyai tiga orang anak. Badanmu masih bagus," puji Keira yang muncul karena ingin memanggil Kailani untuk segera keluar.

__ADS_1


"Terimakasih, Kei." Kailani menjawab lirih dengan senyuman tipis dibibirnya.


"Kai, banyak alasan yang membuat orang akhirnya memutuskan untuk menikah. Ada yang menikah karena saling cinta, ada yang menikah karena napsu saja, karena ingin punya anak, harta, bahkan ada yang menikah tanpa cinta sama sekali. Aku yakin, keputusan yang kamu ambil ini tidak akan salah. Awalnya mungkin demi anak-anak. Tapi jauh di dalam hatimu, cinta untuk Kailandra pastilah masih ada." Keira berjalan mendekati Kailani. Disentuhnya pundak mempelai perempuan itu dengan lembut.


"Kembalikan makna pernikahan sesuai dengan ajaran keimanan kita. Niatkan pada ibadah agar kamu ikhlas dengan apa pun yang akan terjadi ke depannya. Ambil waktu lebih banyak untuk berdua. Kamu tidak bisa memakai anak-anak sebagai alasan untuk terus hidup berdampingan bersama Kailandra. Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa pernikahan adalah proses perjalanan panjang untuk saling memahami, menerima apa adanya, memaafkan, membahagiakan dan berbagi seumur hidup. Tidak ada titik di mana kita bisa berhenti mengerti, tidak ada kesempatan di mana kita boleh lelah dan menyerah. Atau kita akan terus kalah pada ego kita sendiri."


Penuturan panjang lebar dari Keira membuat Kailani melebarkan senyumnya. Dalam hati dia mengucap syukur yang luar biasa. Meski pun jalan hidupnya bisa dikatakan begitu terjal, setidaknya dia tidak pernah sendiri melaluinya. Selalu saja ada orang baik yang mengelilinginya. Janji Tuhan memang benar adanya, dimana tidak ada satu ujian pun di dunia ini yang diberikan tanpa disertai pertolongan dariNya.


Kailani perlahan berdiri. "Aku diharuskan siap, Kei."


Keduanya berjalan menuju ruangan di mana semua orang sudah menunggu.Kailandra menggigit bibir bawahnya sendiri. Melihat Kailani melangkahkan kaki ke arahnya, serasa masih berada di alam mimpi. Tuhan memang memiliki rancangan tersendiri dalam perjalanan hidup hambanya.


Siapa sangka? Kailandra dan Kailani yang pernah merencanakan pernikahan dengan konsep cukup mewah dan gagal karena hal yang membuat keduanya saling membenci---dipertemukan kembali karena sebuah kejadian yang sungguh di luar nalar. Hingga pada akhirnya takdir mengantar mereka pada pernikahan tidak terduga di hari ini.


Itulah mengapa, manusia tidak sepatutnya menyombongkan diri dengan mengagung-agungkan sebuah hal yang belum terjadi. Karena dalam rencana manusia, akan selalu ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Sebaik-baiknya rencana manusia, rancangan Tuhanlah yang terbaik dan yang pasti akan terjadi.


"Bisa kita mulai?" tanya penghulu kepada Kailani dan Kailandra yang sudah duduk berdampingan menghadap meja di depannya.

__ADS_1


"Tunggu!" Suara perempuan dari ambang pintu, membuat semua yang ada di ruangan langsung mengalihkan perhatian ke arah sumber suara tersebut.


__ADS_2