Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Bonus Chapter last 3


__ADS_3

Sepanjang meeting, Kailandra berusaha keras untuk fokus agar apa yang menjadi pembahasan cepat selesai dan tidak memakan banyak waktu. Ponsel genggam yang menjadi sumber kegalauannya karena Kailani belum juga membuka blokir kontaknya, dinonaktifkannya sekalian. Waktu makan siang pun dilakukan di dalam ruangan meeting. Membuat direktur-direktur bawahannya tidak bisa berkutik. Ibadah sholat dhuhur pun, tadi dilakukan di ruangannya yang memang cukup luas. Sehingga tidak ada alasan bagi yang lain untuk mencuri-curi waktu. Meski dalam hati mereka mengumpat, tentu saja didepan Kailandra mereka tidak berani protes.


Di sisi lain, Kailani sekarang yang malah sedikit gelisah. Makan siang baginya sudah lewat, tetapi tidak seperti sebelumnya atau kebiasaannya, Kailandra belum melakukan panggilan video atau sekedar mengirim pesan untuk menanyakan apa makan siangnya bersama anak-anak.


Kailani melihat layar ponsel Keiko berkali-kali. Tidak ada satu pun notifikasi dari Kailandra disana. Begitu pula ketika dia bertanya pada Kekeyi dan Katami, suaminya tersebut tidak juga menghubungi dirinya melalui mereka.


Tidak kekurangan akal, menggunakan ponsel Keiko, Kailani mengambil video Kanaka dan Kanaya yang kebetulan sedang berdebat merebutkan sebuah mainan. Dengan sengaja, Kailani mengirimnya pada Kailandra.


"Kok centang satu. Aneh ... mana pernah dia mematikan handphone seperti ini," sungut Kailani. Otaknya mulai dihampiri kecurigaan yang sebelumnya tidak pernah ada.


Tiga puluh menit berlalu dan masih belum ada perubahan di pengiriman pesan video untuk Kailandra. Kailani memutuskan untuk menghubungi Kimi. Hanya dua kali nada sambung, sekretaris suaminya itu langsung menerima panggilannya.


"Bapak di mana, Kim? Sedang apa? Dan sama siapa? Kenapa ponselnya mati?" tanya Kailani dengan nada khawatir sesaat setelah Kimi memberikan salam sapanya.


"Bapak ada di dalam, Bu. Masih meeting. Sebentar, Bu saya lihat dulu." Kimi beranjak berdiri dan mengintip ke arah dalam melalui bagian kaca kecil yang ada di daun pintu. "Iya, Ibu, bapak masih di dalam," tambahnya.


"Saya mau bicara sebentar sama Bapak," pinta Kailani.


Sebuah permintaan yang sebenarnya sangat sederhana. Tapi tidak demikian jika diberikan disaat seperti ini. Perintah Kailandra tadi cukup jelas, siapa pun yang mencari dan menghubunginya---tanpa terkecuali, jangan ada yang dihubungkan ke dia. Kailandra tidak ingin diganggu.

__ADS_1


"Kim, kamu masih mendengar suara saya, kan?" tanya Kailani. Memastikan sekretaris suaminya itu masih terhubung dengannya karena tidak ada jawaban dari perempuan tersebut.


"Ehm, masih, Bu. Tapi tadi bapak bilang tidak bisa menerima telepon dari siapa pun, bu. Tanpa pengecualian." Kimi memberanikan diri menyampaikan pesan Kailandra. Sungguh dia seperti sedang berdiri di tepian jurang dengan kejaran seekor buaya di belakangnya.


"Owh, begitu. Baik kalau begitu. Terimakasih, Kim." Meski kesal Kailani masih berusaha memutuskan sambungan teleponnya dengan baik-baik.


Untuk sesaat Kimi bisa menarik napas lega, setidaknya buaya di belakangnya sudah mundur perlahan. Tetapi entah yang terjadi nanti ketika dia menyampaikan jika Kailani menghubungi Kailandra. "Semoga apa yang aku lakukan sudah benar," harapnya dalam hati.


Mulai dari saat itu, Kailani pun tidak berusaha menghubungi Kailandra lagi. Perempuan tersebut memilih berjalan-jalan bersama anak-anak dan babysitternya. Menikmati beberapa santapan kuliner khas Malang dari satu tempat ke tempat lain yang menjadi ikon malam kota tersebut. Hingga menjelang tengah malam, Kailani dan rombongan baru kembali ke hotel dan langsung beristirahat.


Sementara Kailandra masih meneruskan meeting di kantornya hingga pukul satu dini hari. Pria tersebut memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Dia memilih tidur di sofa panjang yang ada di ruang kerjanya. Bagi Kailandra, tidur di mana pun untuk saat ini sama saja. Tidak ada tempat senyaman di mana dia bisa menggunakan dada Kailani sebagai bantalan kepalanya.


****


"Maaf, Pak, saya tidak tahu." Kimi menundukkan pandangannya. Bersiap menerima omelan Kailandra yang langsung beranjak duduk sambil mengusap-usap kedua matanya. Rambut pria tersebut tampak berantakan. Begitupun dengan kemeja yang sedari kemarin dikenakan, sudah keluar semua dari dalam celananya. Sepatu ada di ujung ruangan, sedangkan di kakinya hanya melekat kaos kaki hitam semata kaki.


"Hem, tolong bilang ke Kamto, suruh bawakan baju ganti saya ke sini. Suruh bawa sekopernya saja sekalian. Tolong carikan aku bubur, Kim. Kalau ada bubur gingseng."


Di luar dugaan Kimi, Kailandra ternyata bersikap lebih kalem. Rasa lelah rupanya membuat pria tersebut kehilangan banyak energi. Tidak, bukan itu penyebabnya. Namun, dia tidak semangat memulai hari karena sedang berjauhan dengan alarm hidupnya. Kimi pun segera meletakkan dokumen yang dia bawa tadi di atas meja kerja Kailandra.

__ADS_1


"Baik, Pak. Oh, ya, kemarin siang Bu Kailani menghubungi saya karena katanya ponsel bapak sedang tidak aktif." Kimi mengatakannya dengan sangat hati-hati.


"Benarkah? Terus kenapa tidak kamu berikan ke saya?" Kailandra menatap Kimi sekilas. Lalu dia melepas kaos kaki yang dikenakannya.


"Bukannya Bapak tidak mau menerima telepon dari siapa pun? Tanpa terkecuali." Kimi berusaha mengingatkan pesan yang disampaikan langsung oleh Kailandra sendiri.


"Hais ...." Kailandra meraup wajahnya dengan kasar. Tarikan napas dalam seketika dilakukan. Ada kesempatan bagus, malah terbuang begitu saja karena kepatuhan Kimi dalam menjalankan pesannya.


"Kimi-kimi, pasti kamu membuat Kailani semakin kesal sama saya. Tau tidak kalau dia sudah marah bagaimana? Lama, Kim. Sudahlah kamu keluar sana, jangan masuk kalau saya tidak memanggil kamu," kesal Kailandra sembari mengambil telepon genggam yang dia geletakkan di atas meja.


Kailandra mengaktifkan kembali benda pipih bertekhnologi tinggi tersebut. Menunggu beberapa saat, sederetan notif pesan dan panggilan masuk tertera di layar ponselnya. Pria itu mengernyitkan keningnya, beberapa pesan yang sudah dikirim melalui ponsel Keiko, ditarik atau dihapus kembali oleh pengirimnya. Begitu pun yang berasal dari nomor Kekeyi atau pun Katami.


"Matilah, aku! Libur-libur, deh." Kailandra mengelus sesuatu di bagian tengah tubuhnya yang sudah tegak berdiri karena sudah menahan buang air kecil sedari tadi. Dia pun buru-buru ke kamar mandi.


***


Setelah sudah kembali segar dan rapi, Kailandra memulai meetingnya tepat pukul sembilan pagi setelah dia menghabiskan semangkok bubur dengan cepat. Kali ini, telepon genggamnya dibiarkannya aktif seperti biasa. Tetapi, waktu demi waktu berjalan hingga berganti hari sampai meeting direksi benar-benar usai dan sampai dini hari ketika Kailandra sudah menginjakkan kaki di sebuah hotel di pusat kota Malang, Kailani tidak mengirim satu pesan pun padanya. Bahkan nomor Keiko, Kekeyi dan Katami sepertinya juga disetting blokir oleh Kailani.


"Gini amat perempuan kalau ngambek." Kailandra kembali memasukkan telepon genggamnya ke dalam clutch yang dia bawa. Lalu berjalan ke arah lobby hotel untuk memastikan nomor kamar yang ditempati sang istri. Dengan kepintarannya bernegosiasi dan meyakinkan petugas hotel, dia pun mendapatkan kunci akses untuk memasuki kamar Kailani tanpa harus membangunkan istrinya itu terlebih dahulu.

__ADS_1


Memasuki kamar yang menurut informasi resepsionis adalah kamar yang dihuni oleh Kailani Maharani, Kailandra dengan gerakan pelan setelah meletakkan koper dan clutch-nya merangkak naik ke atas ranjang. Tangannya terulur menyingkap selimut yang menutupi tubuh seseorang yang sedang tidur pulas memunggungi dirinya sambil memeluk guling dengan erat.


"Bun ...," panggil Kailandra. Lirih, mesra dan menggoda.


__ADS_2