Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Jawaban untuk Keiko


__ADS_3

Meski Keiko menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Kailandra. Namun, pria tersebut tentu saja tidak langsung memberikan jawaban atau pernyataan akan pertanyaan Keiko. Melihat wajah Kailani yang tampak kebingungan, dia bisa menduga apa yang ada di benak perempuan itu.


"Kei bingung kenapa dedek twins di sini? Kei bingung kenapa dedek twins diajarkan untuk memanggil ayah pada Oppa?" Sembari berjalan perlahan mendekati Kailani dan Keiko, Kailandra memastikan kembali apa yang ingin diketahui oleh Keiko.


Lagi-lagi bocah cilik menggemaskan itu hanya menjawab dengan sebuah anggukan kepala. Kailandra Lalu mengirimkan signal pada Kailani untuk tenang dan mempercayakan semua padanya dengan bahasa tubuh berupa anggukan kecil disertai kedipan kedua mata yang begitu lembut dan juga senyuman tipis.


"Sebelum Oppa menjawab, boleh Oppa tau dulu, kenapa Kei menanyakan hal sebanyak itu pada bunda?" Kailandra berdiri dengan lututnya tepat di depan Keiko. Sedikit membuat Kailani rikuh karena posisi tersebut.


"Karena teman Keiko ada yang bilang, kalau Kenzi punya mama baru, seharusnya Kei juga dapat papa baru. Kalau tidak punya, berarti bunda Keiko istri kedua dari papanya Kenzi. Terus mereka juga bilang, kalau ada dedek baru di rumah, itu berarti bunda Kei akan menikah lagi dengan papanya si dedek. Makanya Kei tanya, kenapa encus selalu mengajari dedek bayi manggil "Ayah" ke Oppa? Itu berarti Oppa sama Bunda mau menikah? Terus bundanya dedek twins kemana? Apa nanti dedek twins juga punya mama dan bunda seperti Kei?"


Kailani memijat kepalanya yang mendadak sedikit pusing mendengar pertanyaan dan pernyataan Keiko yang sangat kritis. Dengan segala kemajuan dan keterbukaan tekhnologi informasi di era sekarang, besar kemungkinan anak-anak bisa dewasa sebelum usianya. Pemikiran mereka tidak lagi bisa dibatasi dengan apa yang menjadi sudut pandang orangtua saja. Pada kenyataannya, mereka bisa membahas apa pun dengan teman-temannya mereka di sekolah. Di mana teman-temannya itu tentu juga memiliki latar belakang dan membawa informasi yang beragam pula.


Menyadari pikiran Keiko sudah terlalu jauh dan luas karena mungkin terlalu lama memendam sendiri pertanyaan-pertanyaan tadi, Kailani sendiri menyadari mungkin memang sudah saatnya untuk dia berbicara pada sang putri.


"Bunda jawab pertanyaan Kei tentang bunda dan papa dulu, nanti baru akan dilanjutkan menjawabnya sama Oppa," putus Kailani.


Keiko menepuk sisi kosong ranjang di samping kirinya. "Oppa duduk sini saja, kita dengarkan dulu apa kata bunda."


Kailandra dan Kailani kompak saling bertukar pandang. Hari ini keduanya sungguh dibuat shock atas sikap Keiko yang tidak biasa. Sisi manja dan kekanakkan yang biasanya dominan, entah pergi menghilang kemana.


"Kei, dalam setiap hubungan antar manusia, pasti ada saatnya kita mengalami pertengkaran atau ketidakcocokan. Seperti Keiko dan Kenzi yang kadang juga ada berantemnya, bukan? Bedanya, masalah kalian pastilah lebih sederhana. Hanya karena berebut mainan atau berebut mau menentukan makan di mana. Tentu berbeda dengan masalah yang dihadapi orang dewasa. Dan tingkatan hubungan itu juga macam-macam. Teman, sahabat, Kekasih Dan yang paling tinggi tentunya hubungan suami istri."


Kailani sengaja menjeda sejenak penjelasannya. Sekadar ingin memastikan bahasanya tidak terlalu sulit untuk dipahami oleh anak seumuran Keiko.


"Bunda dan papa pun sama, kami ada masalah. Ada hal yang tidak bunda suka dari papa, begitu pun sebaliknya. Daripada berantem terus, papa dan bunda memutuskan untuk berpisah. Pertemuan dan perpisahan manusia itu sudah ada yang menakdirkan, Kei. Ada Allah yang menentukan. Setelah tidak lagi menjadi suami bunda, papa menikah sama mama. Begitu, Kei. Meski begitu, bunda dan papa berjanji untuk selalu sayang sama Kei. Apa Kei merasa berbeda dengan teman-teman Kei yang lain?"

__ADS_1


Keiko mengangguk pelan. "Kei merasa Kei berbeda, Bun. Kei bukannya tidak bahagia. Tapi Kei kadang capek menjawab. Sering kali tiap akhir pekan sama papa pas jalan-jalan ketemu sama teman Kei. Terus besoknya mereka tanya, kok bundamu gak ada? Kok sama mamanya Kenzi? Terus besok-besoknya mereka nanya lagi-nanya lagi," keluh Keiko.


Kailani mencoba tersenyum. Secara bersamaan, tangannya dan Kailandra terulur untuk mengusap kepala Keiko. Hingga membuat sentuhan tangan antara keduanya tidak terelakkan. Kailandra pun buru-buru menarik tangannya kembali.


"Kei, setiap orang mempunyai jalan hidup masing-masing. Semua sudah diatur sama Allah. Kei tetap harus bersyukur. Di luar sana masih banyak anak-anak yang tidak bisa hidup sama orangtuanya. Bersyukurlah, Kei, karena banyak yang sayang sama Kei. Sementara hanya jawaban ini yang bisa bunda katakan. Nanti, kalau Kei belum puas dan masih bingung. Kei boleh bertanya lagi. Yang pasti, bunda dan papa sekarang sudah seperti saudara. Semua demi Kei."


Keiko menggeleng pelan. "Kei tidak akan bertanya lagi."


Kailani menarik napas lega, seakan baru saja terlepas dari sebuah himpitan yang menyesakkan dada. Dia tahu, jawaban yang dilontarkannya tadi hanyalah jawaban formalitas. Tetapi sekali lagi, dia sendiri tidak tahu bahasa yang sederhana untuk menyampaikan kisah masalalu perpisahannya dengan Kenzo yang tentunya akan pahit jika didengar oleh Keiko.


Kailandra tersenyum tipis. Sedikit kecewa, karena ternyata Kailani belum juga berbicara terbuka tentang posisi Kailandra yang sebenarnya pada Keiko. Namun, pria tersebut mencoba tetap berpikir positif. Karena masalah itu memang masalah yang sangat berat dan sensitif. Kematangan mental Keiko, harus benar-benar dipersiapkan terlebih dahulu.


"Sekarang giliran Oppa yang jawab soal dedek twins ya, Kei. Jadi begini, dedek itu terlahir dari seorang perempuan yang sangat luar biasa. Baik, tangguh,pokoknya hebat. Bundanya dedek hebatnya sama persis dengan bundanya Kei. Itulah mengapa Oppa mempercayakan bunda untuk membesarkan dedek twins," jelas Kailandra sembari melitik ke arah Kailani.


"Suatu saat pasti akan Oppa kenalkan. Sabar, ya. Tunggu waktu yang tepat," janji Kailandra.


Raut wajah Keiko seketika berubah begitu mendengar jawaban Kailandra barusan. Bahkan bola matanya berkaca-kaca.


"Kei, kenapa sedih?" Kailandra beringsut kembali berdiri di depan lututnya untuk agar bisa tepat berhadapan dengan Keiko.


Keiko menggelengkan kepalanya dengan malas. "Berarti bundanya Kanaya dan Kanaka belum meninggal?"


"Tentu saja belum," sahut Kailani dengan cepat.


"Jadi Bunda dan Oppa tidak bisa menikah, dong. Kata Kara, kalau dedek twins sudah tidak punya Bunda, Oppa menikah saja sama bunda. Seperti bundanya Kara yang menikah sama Ayahnya Kino." Keiko menyebut nama temannya yang sering sekali bertukar cerita dengannya. Bisa dikatakan, Kara adalah sahabat Keiko yang mempunyai latar belakang yang sama dengannya. Dimana bunda Kara yang menjanda karena cerai hidup, menikah lagi dengan Ayah Kino yang duda cerai mati.

__ADS_1


Kailandra dan Kailani mendadak merasakan tenggorakan menjadi kering dan gatal. Keduanya kompak mengeluarkan suara batuk yang sudah tidak bisa lagi ditahan.


"Bunda sama Oppa habis makan apa? Kenapa bisa batuk?" Keiko memicingkan kedua matanya hingga membuat ujung alisnya menyatu.


"Oppa ambil air putih dulu." Kailandra buru-buru berdiri dan melangkah meninggalkan kamar. Dia tidak sanggup menghadapi pembicaraan selanjutnya. Dengan pemikiran Keiko yang tidak bisa ditebak dan malah menjebak, Bisa - bisa dia kehabisan kata untuk menjawab.


"Bunda tidak ambil minum juga? Keiko sudah selesai kok bertanyanya."


Kailani bergegas meninggalkan kamar Keiko juga. Kali ini dia memilih untuk menutup pintu kamar putri sulungnya itu rapat-rapat. Lalu dia menghampiri Kailandra yang sedang meneguk segelas air putih di meja makan.


"Bang, kita perlu bicara," ucap Kailani.


"Bukan Aku yang mengajari Keiko berkata seperti tadi, Kai. Sumpah, itu pemikiran Keiko sendiri. Aku juga kaget dia bisa berpikir sejauh itu." Kailandra mengucapkan hal tersebut karena mengira Kailani pasti berpikir bahwa dialah yang sudah meracuni pikiran Keiko.


"Bang, bukan itu yang ingin aku bicarakan. Aku percaya pembicaraan tadi memang murni pemikiran Keiko sendiri. Karena itu aku merasa kita perlu membicarakan ini dengan serius." Kailani menarik bangku di samping Kailandra.


"Syukurlah kalau begitu. Kai, sepertinya circle pertemanan Keiko terlalu dewasa dan rumit. Mereka membicarakan hal seserius itu di usia mereka. Apa kita pindahkan Kei ke sekolah lain saja?"


"Keadaan kadang menuntut seorang anak lebih cepat peka dan dewasa dari usianya, Bang. Pada kenyataannya, Keiko sejak kecil memang sudah tumbuh dengan kondisi orangtua yang tidak utuh. Tanpa kami jelaskan, secara tidak langsung kami memaksanya untuk memahami sendiri apa yang sudah terjadi. Kebetulan ada temannya yang juga bernasib sama dengan Keiko. Jadilah mungkin mereka saling bertukar keluh kesah."


"Kai ... ini baru Keiko. Ke depannya, Kanaya dan Kanaka pun tidak menutup kemungkinan akan menanyakan hal yang sama. Tidak bisakah kamu menikah saja? Aku ingin menawarkan diri dan memintamu menjadi istriku. Tapi rasanya itu terlalu lancang. Lagi pula, aku takut ucapan mama tentang kehidupanku yang tidak akan pernah bahagia karena tidak mendapat restunya menjadi kenyataan. Aku tidak mau perbuatanku yang salah, membawa kalian pada kesusahan. Mungkin Kalvin lebih pantas kamu pertimbangkan."


Kailani terdiam sambil memijat-mijat pelipis kepalanya sendiri. Mencoba mengajak otaknya berpikir keras dan cepat untuk menghadapi situasi kali ini. Bayangan Kailani, Kanaya dan Kanaka terus melintas silih berganti dalam pikiran. Wajah tanpa dosa mereka, membuatnya semakin merasa bersalah karena sudah memberikan status sosial yang tidak jelas secara hukum mau pun secara nyata.


"Apa Abang yakin dengan aku menikah keadaan menjadi lebih baik?"

__ADS_1


__ADS_2