Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Meminta bantuan Keiko


__ADS_3

"Terus kenapa kalau sudah resmi duda, Bang? Saya sudah janda bertahun-tahun biasa saja. Memang ada yang bisa dibanggakan dari status duda? Kebanyakan orang normal pasti berharap tidak akan pernah menyandang gelar janda atau pun duda dalam hidupnya," dengus Kailani.


"Aku mengatakannya karena Aku normal, Kai. Siapa tau karena aku ngomongnya sama janda, status kita jadi sama-sama berubah gitu. Gak capek apa jadi janda? Berat loh beban mentalnya. Kamu cantik pasti orang banyak yang mikir tidak-tidak ke kamu," sanggah Kailandra, santai disertai tatapan menggoda.


Kailani hanya mencebikkan bibirnya. Jelas dia merasa enggan untuk menimpali ucapan Kailandra yang sangat tidak penting sama sekali. Bahkan perempuan tersebut tetap berusaha mengabaikan sorot mata Kailandra yang terus tertuju padanya.


Setelah memastikan semua barang tidak ada yang tertinggal dan semua sudah menempati posisi masing-masing, Kailandra langsung menjalankan kendaraannya. Keiko yang duduk di bangku depan di samping kemudi, terus mengeluarkan suara celotehannya. Sementara baby Kanaya dan Kanaka, meski tidak tidur tetapi tetap tenang di pangkuan babysitter masing-masing.


"Bunda, Keiko lapar," keluh Keiko setelah satu jam perjalanan dilalui.


Kailani membungkukkan badannya, mengambil tas berisi beberapa makanan ringan dan roti yang memang dipersiapkan untuk Keiko yang mudah sekali merasakan lapar.


"Roti saja, Bunda. Tapi suapin." Keiko mengatakannya dengan manja. Lalu bocah cilik itu menoleh ke arah Kailandra yang meski fokus pada jalanan di depan, namun sesekali tetap menyempatkan diri melirik Kailani melalui spion tengah mobilnya.


"Oppa laper, tidak?" tanya Keiko.


Kailandra mengangguk tanpa ragu sambil berkata, "Tapi oppa sedang menyetir, Kei. Oppa tidak bisa makan sendiri."


Kekeyi dan Katami saling bertukar pandang. Meski sedang memangku baby twins, keduanya kompak berpikiran sama. Satu tangan mereka masih sanggup untuk menyuapi Kailandra. Andai rasa malu tidak ada, ingin sekali menawarkan diri dengan suka rela. Namun, mereka sadar diri, cukup mereka berharap syarat untuk membuat foto atau video nanti tidak terlalu berat.


Kailani pura-pura tidak mendengar ucapan Kailandra. Dia memajukan posisi badannya untuk mulai menyuapi Keiko. Namun, putri pertamanya itu menolak sambil menahan dan mendorong pelan tangan Kailani ke arah Kailandra.


"Suapan pertama untuk oppa dulu. Kasihan Oppa lapar. Nanti Oppa perutnya sakit tidak bisa nyetir lagi," ucap Keiko dengan polosnya.

__ADS_1


"Kei ...." Kailani sedikit membesarkan bola matanya pada Keiko.


"Ayolah, Bun. Kalau perut Oppa sakit, nanti kita yang repot." Keiko mulai menggunakan jurus memelas.


Dengan gerakan terpaksa dan kasar, Kailani akhirnya menyuapkan sepotong roti tadi ke mulut Kailandra. Meski tahu perempuan tersebut tidak ikhlas, tetap saja hal itu membuat Kailandra sangat senang. Setidaknya ada kemajuan dalam hubungan mereka yang sebelumnya sangat kaku.


Sepanjang perjalanan menuju puncak, mungkin hanya Kailani yang tidak terlalu menikmati perjalanan. Dikala yang lain sudah menjadi satu frekuensi, Kailani memilih pura-pura memejamkan matanya saja. Cukup telinganya yang mendengar begitu kompaknya Keiko beserta duo babysitter mengikuti vokal boyband kesayangan mereka dari audio tape mobil Kailandra.


Meski sama sekali tidak menggemari K-Pop, tentu Kailandra tidak keberatan sama sekali dengan ulah tiga penggemar setianya itu. Tentu dia malah semakin senang karena dengan demikian, semakin bertambah kubu yang akan mendukung dan membantunya untuk mendekati Kailani kembali.


Setiba di Villa milik Kailandra, mereka disambut oleh sepasang suami-istri yang akan melayani mereka selama berada di sana. Kailani yang langsung sibuk membantu Kekeyi mengganti baju Kanaka tampak tidak sadar jika aktivitasnya itu dijadikan celah bagi Kailandra untuk menggencarkan aksi mendekati Keiko dalam memuluskan rencananya.


"Kei, nanti kan kita ke undangan temennya Oppa. Yakin kita berdua saja?" Setengah berbisik, Kailandra mulai mencoba memanfaatkan pikiran polos Keiko.


Kailandra mengernyitkan keningnya. Dia sama sekali tidak menduga Keiko akan menjawab seperti itu. Sepertinya, Keiko tidak semudah itu dipengaruhi. Kailandra harus menambah kemampuan dalam mendekati gadis cilik tersebut.


"Kei sama bunda sama Papa Kenzo pernah diajak ke pesta pernikahan, tidak?" Kailandra kembali berusaha. Sedikit memutar otak agar Keiko perlahan mau mengikuti pola pikirnya.


"Kayaknya pernah sih kalau sama papa. Kalau sama bunda gak pernah," jawab Keiko sambil menunjukkan raut wajah seperti layaknya orang yang sedang mengingat-ingat.


"Nah, kalau ke pesta seperti itu, pasti sama papa mamanya, kan?" Kailandra mulai bersemangat. Harapan besar terlintas nyata di benaknya.


Keiko memanggut-manggutkan kepala. Pipinya yang gembul sedikit bergetar karena gerakan tersebut. "Terus apa hubungannya sama kita, Oppa? Oppa mau ngajak papa sama mama? Mama ada dedek bayi, Oppa. Dedeknya lebih kecil dari dedek kembar."

__ADS_1


Jawaban Keiko yang polos disertai ekspresi manyun dari bibirnya yang menggemaskan, membuat Kailandra tidak bisa menahan rasa gemasnya. Pria itu reflek mencubit pipi tembam Keiko dengan cubitan sayang.


"Ajak bunda pergi bersama kita nanti malam," pinta Kailandra, suaranya berbisik karena takut terdengar oleh Kailani.


Sebenarnya Kailandra ingin secara alami Keikolah yang mengajak Kailani ikut serta. Tetapi rupanya bocah cilik itu tidak cukup peka dengan arah pembicaraan sang Oppa kesayangan.


"Tapi Keiko jangan bilang Oppa yang nyuruh, ya? Please!" Kailandra buru-buru memberikan peringatan. Sadar betul dengan kepolosan Keiko yang pastinya malah akan membuat Kailani menolak mentah-mentah permintaannya.


"Kenapa Oppa tidak ngomong sendiri saja ke bunda? Takut dimarahin bunda, ya? Oppa pasti pernah nakal. Buktinya bunda tidak pernah marah sama Om Kalvin."


Pertanyaan Keiko langsung mengubah raut wajah Kailandra. Hampir dua minggu berlalu, Keiko pun masih saja sering menyebut nama Kalvin di depannya. Meski demikian, dia harus tetap bersikap tenang.


"Iya, Oppa memang pernah nakal. Seperti Keiko. Kalau nakal dan membuat bunda marah harus meminta maaf, bukan? Oppa pun juga begitu. Makanya Keiko bantu Oppa."


Kailandra mengelus dadanya sendiri. Sedikit lega akhirnya dia menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Keiko.


"Sulit, Oppa. Tidak akan mudah." Kali ini Keiko menjawab dengan suara berbisik.


Gadis menggemaskan itu sekilas teringat kejadian ketika sang bunda pernah beradu pendapat dengan sang papa dua tahun yang lalu. Kala itu, Kenzo cukup dibuat pusing dengan kemarahan Kailani yang tidak biasa. Dimana tanpa persetujuan dari Kailani, Kenzo memasukkan Keiko ke sekolah internasional dengan biaya yang cukup fantastis. Tentu saja Kailani yang merasa juga berhak menentukan dimana Keiko sekolah, menjadi tidak terima.


"Sungguh tidak akan mudah, Oppa. Kecuali Oppa janji ma---,"


"Janji apa, Kei. Jangan aneh-aneh. Kei mandi dan ganti baju dulu sana." Kailani memotong pembicaraan Keiko yang belum usai.

__ADS_1


"Gawat, Oppa," lirih Keiko pada Kailandra.


__ADS_2