Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Last Beneran


__ADS_3

Kailani dan Kailandra kompak saling bertukar pandang. Sesaat kemudian Kailani menundukkan pandangannya tepat jatuh pada kejantanan sang suami yang sudah tegak berdirii siap untuk memberikannya hujaman kenikmatan. Dilema dirasakan keduanya, terutama Kailani. Dia yakin, bisa saja tetap nekat dan membiarkan anak-anak resah menunggunya kurang dari sepuluh menit. Namun, mana bisa menikmati kalau seperti itu.


"Nanti saja, ya, daripada makin heboh." Kailani akhirnya buru-buru memutuskan mengenakan pakaiannya kembali.


"Apa boleh buat," dengus Kailandra sambil melakukan hal yang sama. Kepalanya mendadak benar-benar pusing.


"Ke kamar mandi dulu sana," usul Kailani sembari mereemas bokong sintal Kailandra.


"Sesad. Nggak ditahan saja biar melubernya di Bun'ay. Mana ada sudah punya istri suruh solo vokal lagi. Tidak akan," dengus Kailandra sambil naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di sana.


"Unda ... Unda ...." Suara Kanaka dan Kanaya terdengar semakin brutal bersahut-sahutan diiringi ketukan pintu yang tidak sabar.


Kailani langsung menghampiri connecting door yang menghubungkan kamarnya dengan kamar berukuran king yang dihuni anak-anak bersama Katami dan Kekeyi.


"Selamat pagi anak-anak bunda. Kenapa tidak sabar sekali. Sudah siap subuh semua, ya? Kan masih lumayan lama." Kailani langsung menyapa sesaat setelah pintu tadi dibukanya.


"Ayah," pekik Keiko begitu melihat sosok Kailandra di atas ranjang. Gadis cilik itu langsung berlari menghampiri ke atas ranjang dengan sumringah. Begitu halnya dengan si kembar. Tidak ada yang menjawab ucapan Kailani, ketiganya kompak langsung mengelilingi Kailandra.


Kanaya dan Kanaka duduk di sisi kiri-kanan paha Kailandra. Sementara Keiko, ikut berbaring dengan berbantalkan lengan sang ayah. Kailandra tidak bisa berkutik, tubuhnya sudah dikuasai oleh malaikat-malaikat kecilnya.


"Nikmat mana lagi yang ingin kau dustakan wahai Yanda," goda Kailani sembari tersenyum penuh arti.


Kailandra mencebikkan bibirnya. Paham benar maksud sang istri yang sedang mengolok dirinya dengan halus. Tetapi moment bersama anak-anak seperti ini juga sangat dia rindukan. Celotehan spontan mereka, acap kali membuatnya tertawa lepas.


"Mbak Keke sama Mbak Tami kemana sih, Ke? Kok kalian pagi-pagi sudah ributin Bunda?" selidik Kailandra.

__ADS_1


"Ada, Yah. Memang lagi pengen ke kamar bunda. Coba kalau kita tidak ke sini, kan tidak tau kalau ayah datang. Memang Ayah kangennya sama bunda saja, ya?" Keiko memanyunkan bibirnya. Seperti biasa, gadis gembul itu memang tidak senang dinomor duakan.


Kailandra mencoba mencari bantuan jawaban dengan menatap Kailani. Namun, istrinya tersebut malah mengedikkan bahunya dan berlalu masuk ke dalam kamar sebelah untuk mengambil baju ganti anak-anak dan memanggil kedua babysitternya supaya memandikan Kanaka juga Kanaya.


"Yah, men uda," ucap Kanaya dengan suara cedal khas batita sembari menarik-narik atasan Kailandra.


Paham betul bahasa Kanaya, Kailandra meminta kepala Keiko untuk bergeser dan si twins turun dari pahanya. Pria tersebut lalu membalikkan badan dan mengatur posisi layaknya seekor kuda. Bukan hanya Kanaya-Kanaka yang naik ke atas punggungnya, Keiko pun tidak mau kalah naik ke sana.


"Astagah, kalian makan apa saja?" tanya Kailandra dengan suara tertahan karena merasakan beban di punggungnya yang begitu lumayan. Bahkan beban Kailani tidak ada apa-apa nya dibanding ketiga anaknya itu.


Kericuhan pun mulai terjadi begitu Kanaya dan Kanaka berebut posisi terdepan. Dorong-dorongan tidak terelakkan hingga membuat Kanaya jatuh dan menangis. Keiko pun langsung turun dari punggung sang ayah dan membantu membujuk Kanaya untuk berhenti menangis. Sementara Kanaka dengan santai dan wajah mengejek malah berjoged sembari tetap menunggangi punggung Kailandra.


"Naya kuda-kudaan sama kakak, ya?" bujuk Kailandra.


"Ndak au, ama yayah," rajuk Kanaya di sela-sela isak tangisnya.


"Sebentar, Bund. Naka belum minta maaf sama Naya. Kan Naka yang dorong Naya sampai jatuh." Keiko menginterupsi perintah Kailani.


"Oh, ya? Naka dorong-dorong Naya?" Pertanyaan Kailani membuat raut wajah Kanaka seketika cemberut. Berbeda dengan Kanaya dan Keiko yang enteng mengucapkan maaf. Kanaka ini sungguh sulit mengucapkan kata itu. Benar-benar sebelas duabelas keras kepalanya dengan Kailandra.


"Aap," tanpa melihat ke arah Kanaya, Kanaka mengatakannya sambil turun dari punggung Kailandra dan langsung berlari menghampiri Kekeyi untuk meminta perlindungan. Selalu seperti itu.


"Bunda, obat Kei habis. Bunda bawa lagi, tidak?" tanya Keiko sembari beringsut turun dari ranjang.


"Selalu bawa, Kei. setelah sarapan nanti, Bunda kasihkan ke Keiko, ya." Kailani menjawab dengan lembut. Dalam hati, dia merasa bangga pada Keiko yang meski acap kali bersikap manja, tetapi untuk hal-hal yang bersangkutan dengan kesehatan dan pendidikan, si sulungnya itu sangat bertanggungjawab.

__ADS_1


Hasil pemeriksaan secara keseluruhan yang dulu sempat dilakukan, memang mengharuskan Keiko untuk melakukan terapi dengan meminum obat secara rutin berturut-turut dua kali sehari sampai gadis tersebut mendapatkan periodik bulanannya. Keiko diindikasikan mengidap kelainan genetik yang menyebabkan darah di dalam tubuhnya sulit untuk membeku atau istilah medisnya disebut hemofilia. Bukan merupakan penyakit atau gejala yang mematikan, hanya saja tetap harus di antisipasi mengingat kasus yang dialami Keiko ini, pada umumnya diderita oleh laki-laki.


Kanaka terlihat merengek meminta kembali ke kamarnya. Titisan Kailandra itu, ingin menyusul Keiko dan Kanaya yang lebih dulu ke sana. Kanaka tidak mau dimandikan di kamar mandi Kailani. Setelah ditegur atas kesalahannya, anak itu selalu berusaha menghindari kontak lama-lama dengan sang bunda. Sungguh si kecil banyak akal yang harus ekstra nantinya dalam membesarkannya.


"Bun, kunci gih. Anak-anak mandi, kan? Kita mandi juga. Biar selesainya sama-sama," rayu Kailandra sembari menaik turunkan kedua alisnya.


"Modus." Meski mulutnya menolak, namun kakinya melangkah juga mendekati connecting door untuk menguncinya.


Kailandra pun turun dari ranjang dengan semangat.


"Di kamar mandi saja, ya, Bun," lirihnya sembari memeluk Kailani dari belakang. Dicumbunya leher mulus istrinya itu hingga menimbulkan suara khas.


"Di sini saja, Yanda. Nanti di kamar mandi bisa diulang lagi. Lima puluh menit sebelum subuh, cukup tidak?"


Pertanyaan Kailani bagaikan tantangan tersendiri bagi Kailandra. Tidak masalah jika hanya tentang kepuasan dirinya. Lima menit saja, kalau sudah lama tidak beradu dan menggebu seperti sekarang, dijamin lahar benih premiumnya akan meluber. Tetapi bagaimana dengan Kailani. Tidak semudah dan secepat itu tentunya.


"Yang di sini anggap saja bonus." Kailani menuntun tangan Kailandra menyusup ke dalam kain segitiga biru yang menutup aset berharganya. Sesaat kemudian, perempuan itu pun mengeliat dan mengeluarkan dessah tertahan karena takut terdengar oleh yang lain. Pinggulnya meliuk merasakan benda keras yang menempel sempurna di bagian bokongnya.


Tidak sabar, Kailandra melepas celana yang dikenakannya. Sementara Kailani hanya menurunkan segitiga birunya tadi dan menyingkap daster yang dikenakannya ke atas hingga sebatas dada. Perempuan itu lalu membungkukkan badannya tanpa kata. Kode keras, hujaman kenikmatan ingin diterimanya dari belakang. Sungguh posisi yang selalu membuat Kailandra kalah telak.


Satu tangan Kailani bertumpu pada tembok. Menahan kecepatan hujaman yang luar biasa dasyat. Sementara satu tangannya lagi sibuk memainkan dua buah bola yang tepat berada di bawah benda tumpul yang sedang keluar masuk pada celah sempit menjepitnya.


Kailandra merasakan otot perutnya mulai kaku. Dia pun memacu gerakannya lebih cepat sambil satu tangannya aktif mereemas benda bulat kenyal di bagian dada Kailani. Tidak lama kemudian, erangan puncak kenikmatan pun lolos dari bibirnya. Bersamaan dengan itu, terdengar kembali suara ketukan pintu diikuti teriakan, "Bunda, baju Kanaka sama Kanaya yang disiapkan tadi mana?"


************END************

__ADS_1


Sudah, ya? Kalau banyak-banyak, takut kepolosan author bakalan tercemari kelakuan duo Kai. Yuk ketemu di "Penjara Luka" .... Di sana ada Raditya dan Riena dengan cerita mereka yang sendu tapi manis. Yuk yang belum mampir... di tunggu di sana ya 😘😘😘😘😘😘.


__ADS_2