
Kailani membalas tatapan Kasih, tatapannya datar menutupi semua rasa yang ada dibenaknya. Perlahan, perempuan tersebut menarik garis senyuman tipis di ujung bibirnya. Tidak dipaksakan, tetapi jelas senyuman itu juga tidak diberikan dengan tulus.
"Ada beberapa hal yang bisa kita lupakan -dan maafkan begitu saja. Beberapa hal lagi, butuh waktu yang panjang dan usaha keras untuk sekedar melupakan. Apalagi untuk memaafkan, jelas bukan sesuatu yang mudah. Saya sadar, menyimpan dendam hanya akan menambah luka dan menyiksa hati kita sendiri. Pertanyaan Ibu tidak perlu saya jawab." Kailani berdiri dan hendak meninggalkan Kasih sendirian.
"Kalau begitu, jangan memberi harapan pada Kailandra." Kasih menahan langkah Kailani dengan mencekal pergelangan tangan perempuan tersebut.
"Kenapa Ibu sibuk mengatur bagaimana saya harus bersikap? Seharusnya bukan saya yang menjadi fokus Ibu saat ini. Kita sama-sama seorang Ibu. Menjaga hati anak kita agar tidak merasakan luka memang selalu menjadi prioritas kita. Tapi jangan sampai, apa yang kita lakukan malah menyakiti hati anak dari orang lain." Kailani melepaskan pergelangan tangannya dari tangan Kasih.
"Urusan kita hanya sebatas anak-anak. Bersikap baik dan tidak menunjukkan kebencian atau pun permusuhan, bukan berarti saya memberi harapan. Masing-masing dari kita sudah memiliki posisi yang begitu jelas. Sangat kekanak-kanakan kalau kita mengatasnamakan anak-anak untuk memaksakan perasaan dan keinginan kita," tambah Kailani lagi-lagi sambil menurunkan tangan Kasih dari tangannya.
"Terserah kamu saja. Satu hal yang pasti, kalau Kailandra sampai kembali merasakan patah hati, saya pastikan kamu tidak akan pernah bisa melihat dan berdekatan dengan anak-anakmu lagi. Apalagi jika Keiko sudah benar-benar terbukti secara sah adalah anak Kailandra. Saya akan meminta hak asuh sepenuhnya atas Keiko," ancam Kasih.
"Maaf, Ibu, sedari tadi Ibu berbicara seakan hanya Ibu dan anak Ibu yang mempunyai dan harus dijaga perasaan. Saya sebenarnya tidak ingin memperdebatkan masalah yang tidak penting seperti ini. Tapi saya rasa harus tegas bersikap demi diri saya sendiri. Yang ingin saya tanyakan. Selemah itukah hati kalian? Sehingga orang lain harus ikut memahami dan menjaga perasaan kalian? Kalau iya, bersama saya dan anak-anak jelas tidak akan cocok untuk kalian."
Kata-kata Kailani yang lugas dan disampaikan dengan suara yang tegas membuat Kasih menelan ludahnya sendiri. Kailani yang sekarang, jelas berbeda jauh dengan Kailani yang dulu dikenalnya. Perempuan tersebut jauh lebih kuat dan tegas. Perjalanan hidup dengan permasalahan yang dihadapi, jelas membuat sosok Kailani yang dulunya begitu lemah lembut menjadi sosok perempuan tangguh.
__ADS_1
Di waktu yang sama, Keira yang sudah berada di rumah sakit bersama Kenzo masih saja merasakan sakit yang luar biasa. Selang infus dan alat bantu oksigen sudah terpasang di tubuhnya. Sementara perempuan tersebut berbaring miring sembari meringis menahan sensasi rasa sakit yang datang lebih intens dari sebelumnya. Satu hal yang aneh, dengan rasa sakit yang luar biasa dirasakan Keira, pembukaan pada jalan lahir belum juga bertambah dari semalam.
"Sus, apa ini tidak apa-apa? Saya tidak tega melihat istri saya kesakitan seperti ini? Apa tidak ada cara lain untuk mempercepat pembukaan?" cecar Kenzo pada perawat yang selalu mendampingi Keira.
"Hal semacam ini bisa saja terjadi, Pak. Kami sudah melakukan semua prosedur dengan sesuai. Jika satu jam lagi tetap tidak ada penambahan pembukaan, biasanya dokter akan menyarankan sesar, Pak. Sejauh ini, air ketuban, posisi dan denyut jantung janin masih bagus. Tergantung Ibunya mau sesar atau tetap menunggu pembukaan sempurna," jawab perawat.
"Kei, sudah ya, jangan menyiksa diri seperti ini. Sesar saja," bujuk Kenzo sambil mengusap rambut Keira.
Perempuan itu menggeleng lemah. Lalu memaksakan sedikit senyumnya. "Tidak, Ken. Aku ingin jadi Ibu yang hebat," lirih Keira. Suaranya bergetar karena dia hampir menangis saat mengatakannya.
"Kamu Ibu yang hebat, Kei. Tidak ada yang meragukan itu." Kenzo menatap mata sayu sang istri dengan lembut. Sungguh saat ini dia merasa sangat tidak tega melihat keadaan Keira.
Kenzo terdiam. Pipi Keira yang semakin basah akibat bulir bening yang semakin tidak terbendung. Di tambah lagi ekspresi kesakitan yang sesekali ditampakkan, membuat Kenzo merasakan hal yang tidak biasa di hatinya. Selama ini, dia melihat Keira hanya sebagai perempuan biasa yang beruntung karena menjadi istrinya. Segala hal tentang Kailani membuat Kenzo menutup mata akan kebaikan dan juga ketulusan yang sudah diberikan oleh Keira. Terlepas bagaimana awal kisah mereka, setelah pernikahan, Keira memang menunjukkan kesungguhan dan komitmennya sebagai istri yang baik.
"Saya coba cek lagi ya, bu, pembukaannya," perawat yang melihat rembesan di daerah pinggul Keira dengan sigap kembali ingin memeriksa jalan lahir perempuan tersebut. "Tarik napas ya, Bu," tambahnya.
__ADS_1
Keira mengatur pernapasannya. Kenzo membelai rambut bagian depan istrinya itu untuk sekadar memberikan ketenangan. "Jangan tahan sakitmu sendiri, Kei. Kamu boleh pukul aku, boleh cakar lengan atau mukaku sekali pun."
Air mata Keira semakin keluar tidak terkendali begitu mendengar ucapan Kenzo barusan. Sekian lama menikah, baru kali ini dia merasakan betapa suaminya itu mengkhawatirkan dan benar-benar peduli padanya.
"Terimakasih, Ken. Rasanya aku rela merasakan sakit ini setiap tahun, asal kamu menatapku dengan cara seperti ini terus." Tangan Keira yang lemas berusaha menggapai dan membelai wajah Kenzo.
Di tempat lain, Kalvin tampak berbicara serius dengan seorang pengacara dan dua orang anggota kepolisian. Beberapa kali mereka berempat menoleh pada sosok yang sedang terkulai tidak berdaya di atas brankar dengan tatapan kosong. Sesekali terdengar nama Kailandra lirih disebut oleh sosok yang tidak lain tidak bukan adalah Karina.
"Sebaiknya, kita pertemukan saja Bu Karina dengan orang yang bernama Kailandra tersebut. Siapa tahu, setelah bertemu dengan orang yang selalu disebut namanya itu, Bu Karina bisa kembali berkomunikasi dengan kita," saran salah satu anggota kepolisian bernama Kambo.
Kalvin tidak langsung menanggapi saran tersebut. Dia yakin, untuk meminta Kailandra datang, bukanlah perkara yang mudah. Namun, melihat keadaan Karina sekarang, jelas Kalvin sendiri tidak bisa hanya pasrah menunggu proses penyembuhan Karina di tangan Dokter dan juga psikiater. Atas pertimbangan itulah, akhirnya Kalvin bertekad menemui Kailandra.
Benar dugaan Kalvin, menemui Kailandra bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi sebelumnya dia tidak membuat janji dengan sekretaris Kailandra. Meski demikian, Kalvin pantang menyerah sebelum tujuannya datang tersampaikan langsung pada yang bersangkutan. Tidak peduli lebih dua jam waktunya habis dan terbuang sia-sia hanya untuk menunggu Kailandra keluar di waktu makan siang.
"Kai ..," panggil Kalvin begitu melihat Kailandra keluar dari lift khusus managerial.
__ADS_1
Pria yang disebut namanya tersebut mengernyitkan keningnya. Setelah Kailandra menyampaikan penolakan untuk ditemui melalui sekretarisnya tadi, dia mengira kalau Kalvin sudah meninggalkan kantornya.
"Kai, aku minta waktumu sebentar. Tidak lebih dari sepuluh menit. Please," pinta Kalvin, penuh harap.