Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Kanaya dan Kanaka


__ADS_3

"Ma ...." Kailandra berjalan semakin mendekati sang mama. "Mama lebih baik fokus pada kesehatan mama dulu," ucapnya.


"Mama tidak akan pernah sesehat dulu lagi. Sebelum mama bicara sama Kailani. Mama tidak akan tenang." Pandangan Kasih begitu kosong.


"Ma, tidak perlu terburu-buru. Meminta maaf pada Kailani bukanlah perkara yang mudah. Mama harus bisa menerima kalau maaf kita tidak disambut dengan baik," tutur Kailandra sambil duduk di sisi brankar yang kosong.


Keduanya lalu sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Mengingat sikap Kailani terhadap Kailandra, tidak menutup kemungkinan hal serupa akan dialami oleh Kasih. Kesalah pahaman itu biasa, yang tidak biasa adalah sikap mereka yang selalu angkuh dengan membenarkan pikiran sendiri hingga merendahkan Kailani serendah-rendahnya.


Hanya penyesalan yang tersisa. Namun, tidak ada kata terlambat untuk mengakui, menyadari dan memperbaiki kesalahan. Seberat apa pun hal yang akan terjadi nanti, harus dihadapi Kailandra dan Kasih dengan lapang dada. Jika selama ini mereka selalu berbuat sesuka hati, mulai saat ini mereka juga harus mulai belajar menghargai perasaan orang lain. Sejatinya---bukan hanya mereka yang tersakiti oleh keadaan.


"Tunggu apa lagi, Kai? Sekarang juga, ajak Kailani kemari," pinta Kasih, sedikit memaksa.


"Tidak sekarang, Ma. Kailani baru saja melahirkan. Dia masih butuh waktu untuk pemulihan. Sudahlah! Mama fokus sama kesehatan mama. Kailani tidak akan kemana-mana. Kita masih bisa menemuinya besok-besok. Yang terpenting mama tau, selama ini kita sudah salah menilainya," tegas Kailandra.


Kasih pura-pura memejamkan matanya. Perempuan tersebut memilih untuk tidak lagi menimpali perkataan Kailandra. Andai kondisinya tidak selemah sekarang, tentu Kasih tidak akan meminta bantuan siapa pun untuk bisa bertemu dengan Kailani.


Sejak hari itu, jiwa, raga dan pikiran Kailandra benar-benar diuji kesanggupannya untuk mengurus banyak hal dalam waktu bersamaan. Baby twins, Kasih dan belum lagi pekerjaannya. Sampai-sampai pria tersebut lupa memberikan kuasa pada penasihat hukumnya berkenaan dengan proses pengajuan cerai ke pengadilan agama. Ditambah lagi, Kailani benar-benar tidak memberikan sedikit pun celah pada Kailandra untuk mendekat. Bahkan Kailani lebih mempercayakan Kalvin untuk memberikan ASI pada baby twins.


"Kondisi baby twins sudah sangat baik, Pak. Berat badan mereka juga sudah memenuhi standart minimal berat badan bayi baru lahir. Bapak bisa merawat mereka sendiri di rumah," jelas dokter spesialis anak yang selama ini menangani baby twins.

__ADS_1


"Syukurlah. Hari ini juga, kan, Dok?" tanya Kailandra dengan wajah berseri-seri karena lega sekaligus bahagia.


"Tentu saja, Pak," yakin si dokter.


"Baiklah, kebetulan mama saya juga diperbolehkan keluar dari rumah sakit hari ini juga. Sebentar, saya akan menemui mama untuk menyampaikan kabar gembira ini." Dengan penuh semangat, Kailandra meninggalkan ruangan baby twins.


Tentu saja pria tersebut sangat bersemangat. Setidaknya, besok-besok dia sudah tidak perlu lagi mondar mandir dari rumah ke rumah sakit, lalu lanjut ke kantor. Kemudian ke rumah sakit lagi dan berakhir pulang malam ke rumah untuk istirahat sejenak. Sungguh hari-hari yang melelahkan. Setelah ini, Kailandra akan memfokuskan diri pada perceraiannya dengan Karina sembari terus berusaha menggapai maaf dari Kailani.


"Ma, baby twins sudah boleh pulang. Kita sekalian saja." Baru saja membuka pintu, Kailandra langsung menyampaikan kabar yang memang sudah lama dinanti oleh Kasih.


"Benarkah? Mama akan hubungi Kinanti dulu. Biar dia siap-siap. Karena kamu sudah tidak mempunyai istri, dan di rumahmu tentu tidak ada yang mengawasi cucu-cucu mama. Lebih baik, baby twins tinggal di rumah mama. Kamu mau ikut atau tidak, terserah saja. Mama tidak akan memaksa. Mama sih berharap kita bisa tinggal serumah lagi." Kasih yang sudah tampak siap untuk pulang begitu sumringah saat mengatakannya. Dengan cekatan perempuan tersebut mengambil ponsel yang sudah dimasukkan ke dalam tas brandednya.


"Nanti juga tahu." Kasih tersenyum penuh misteri saat mengatakannya.


"Ma, tapi Kai sudah menyiapkan dua babysitter untuk menjaga baby twins," ucap Kailandra.


Kasih menjauhkan sejenak ponsel yang sudah hampir menyentuh daun telinganya. "Batalkan saja. Beri ganti rugi atau bayar sepenuhnya juga tidak masalah. Semua sudah mama atur. Jangan protes. Kamu tidak berpengalaman mengurus bayi. Babysitter saja tidak cukup membuat anak-anakmu terjamin."


Kailandra masih ingin menyanggah ucapan mamanya itu, namun Kasih memberikan isyarat dengan satu tangan bahwa seseorang yang dihubungi sudah menerima panggilan teleponnya. Tidak ingin terlalu menunjukkan kekesalan akibat keputusan sepihak dari Kasih, Kailandra memutuskan kembali ke ruangan baby twins.

__ADS_1


Saat Kailandra tiba di depan pintu ruangan baby twins yang terbuka separuh, langkah kakinya seketika terhenti begitu melihat Kailani berada di dalam sana. Perempuan yang membuatnya sulit untuk jatuh cinta lagi itu sedang memangku salah satu dari baby twins.


"Bunda bahagia kalian sudah sehat dan boleh pulang. Lima belas hari sudah kalian berjuang di sini. Baik-baik di rumah kalian, ya. Maafkan Bunda jika nanti tidak pernah menemui kalian. Satu hal yang pasti, kalian akan selalu ada dalam setiap napas dan doa Bunda." Jemari Kailani membelai pipi baby boy dengan lembut.


"Bu, baby twins belum diberi nama. Apa ibu tidak ingin memberikan nama untuk mereka?" tanya si perawat yang selama ini selalu menjadi sumber informasi Kailani untuk semua urusan baby twins.


"Saya sudah punya nama untuk mereka, Sus. Tapi yang akan memberi nama mereka tentu Pak Kailandra. Bagi saya, mereka adalah Kanaka dan Kanaya." Kailani meletakkan baby boy ke dalam box. Lalu berganti dia menggendong baby girl.


"Nama yang bagus, Bu. Semoga ada jalan untuk ibu bisa ber sama-sama dengan Kanaka dan Kanaya," harap si perawat.


Kailandra tetap bergeming di ambang pintu, dia sengaja tidak ingin mengganggu moment Kailani bersama kedua anak mereka. Ada kehangatan luar biasa yang menyelimuti hati Kailandra. Muncul harapan besar di benak pria tersebut. Sebuah harapan akan keluarga kecil bahagia yang ingin dibangunnya bersama Kailani dan anak-anak.


"Sudah mama duga, pasti kamu ada di sini." Suara dan tepukan tangan Kasih tepat di bahu Kailandra, membuyarkan lamunan pria tersebut.


"Mama ...." Kailandra yang sama sekali tidak menduga kehadiran mamanya, langsung menutupi celah pintu yang terbuka. Sungguh dia belum siap jika Kasih dan Kailani harus bertemu sekarang. Namun, usaha Kailandra gagal.


"Cucu-cucu mama sudah siap pulang juga, kan?" Kasih menarik lengan Kailandra agar tubuh anaknya itu sedikit bergeser. Setelah itu, Kasih mendorong pintu terbuka lebih lebar lagi.


"Bu ...." Kailani tampak begitu terkejut dengan kehadiran Kasih.

__ADS_1


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini, Kai. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan. Bisa, kan?" tanya Kasih, tidak seangkuh sebelumnya, namun juga tidak terlalu menunjukkan rasa bersalah.


__ADS_2