
Kailandra membalas tatapan sendu Kailani. "Kita pernah sama-sama gagal dalam pernikahan, Kai. Baik tidaknya sebuah pernikahan, tentu semua tergantung siapa dan bagaimana menjalaninya. Menikah tanpa cinta itu tidak mudah. Tanpa Aku jelaskan, aku rasa kamu pun pasti paham hal itu."
"Rasanya tidak adil jika menikah hanya untuk menyelamatkan status anak-anak. Buat apa menjalani dan memberikan sesuatu yang palsu pada mereka? Bukannya lebih baik, bisa jadi nantinya malah ada masalah baru." Tatapan Kailani tampak kosong saat mengatakannya.
"Maka belajarlah membuka hati, Kai. Rendahkan egomu. Tanamkan dalam dirimu jika tidak hanya anak-anak yang butuh figur seorang ayah. Kamu pun butuh laki-laki sebagai suami, Kai. Jika sekarang sulit mencintai, pilihlah lelaki yang mencintaimu. Biarlah dia yang perlahan mengubah hatimu."
Kailani bergeming tanpa kata. Tanpa aba-aba, bulir bening menetes dari sudut pelupuk matanya. Menyadari secara sadar, kehidupan yang dijalaninya saat ini sangat bertentangan dengan normal sosial yang ada. Andai saja Kailani hidup di perkampungan padat penduduk, mungkin dia sudah menjadi buah bibir masyarakat di sana.
Kailandra mengitari bibir gelas yang sudah kosong di atas meja dengan jemari telunjuknya. Dia bisa memahami kegalauan hati Kailani saat ini. Tentang rasa cinta, menurutnya hal itu sudah jauh dari angan perempuan tersebut. Tidak mudah bagi seseorang seperti Kailani mempercayakan hatinya kembali pada orang lain.
"Oppa, temani Keiko bikin PR," rengek Keiko memecah keheningan yang ada.
"Kei duluan. Sebentar Oppa nyusul," jawab Kailandra sembari beranjak berdiri.
Kailani masih bertahan pada posisinya. Perempuan tersebut malah menopang dagunya dengan kedua tangan. Pandangan matanya benar-benar kosong seperti orang yang sedang melamun.
Tidak lama setelah Kailandra meninggalkan Kailani sendirian, Kekeyi muncul dengan menggendong Kanaka yang sedang menangis---membuyarkan lamunan Kailani. Dengan sigap dia lalu mengambil alih Kanaka dari tangan Kekeyi. Lalu membawa kembali ke kamar untuk diberi ASI.
Entah terlalu lelah atau bagaimana, Saat memberikan sumber makanan satu-satunya bagi Kanaka dan Kanaya secara bergantian, Kailani malah tertidur. Hingga dia tidak tahu jika Kailandra sudah meninggalkan rumahnya.
Baru keesokan paginya, ketika Kailandra menjemput Keiko untuk berangkat sekolah, Kailani kembali bertemu dengan ayah dari ketiga anaknya itu.
__ADS_1
"Bunda kenapa tidak sekalian bareng kita saja? Kan Oppa bisa anter Bunda ke tempat kerja bunda." Keiko menerima tas bekal yang diberikan oleh Kailani.
"Kan tempat kerja bunda lebih jauh, Kei. Tidak searah," sanggah Kailani.
"Oppa tidak keberatan kok bunda." Sedikit memaksa, Keiko menarik tangan Kailani yang bahkan belum mengambil tasnya sendiri.
Kailandra hanya bisa tersenyum dalam hati. Sikap Keiko rupanya tidak terlalu jauh dari dirinya. Jika sudah menginginkan sesuatu---selalu saja ada akal untuk mendapatkan keinginannya.
Kejadian seperti itu, rupanya terjadi di pagi-pagi berikutnya. Hingga kebersamaan Kailani dan Kailandra berdua saja lebih sering terjadi. Namun, hal itu belum juga mampu meruntuhkan kecanggungan dan keangkuhan yang ada. Terutama pada diri Kailani. Bahkan tidak jarang Kailani malah memilih asik berbalas pesan dengan Kalvin ketimbang mengajak Kailandra berbicara di sepanjang perjalanan mereka.
Tentu saja hal itu membuat Kailandra tidak enak hati. Merasa memang Kailani benar-benar sudah menutup hati pada dirinya. Padahal tidak demikian adanya, dalam lubuk hati terdalam---Kailani juga sedang meredam gaduhnya hati dan pikiran yang beradu saling beradu rasa yang berbeda.
"Kai, kalau kamu memang tidak nyaman berangkat bareng-bareng begini setiap hari, biar aku ngomong sama Keiko. Dia pasti ngerti kok." Kailandra melirik ke arah Kailani sekilas lalu kembali fokus pada jalanan padat di depannya.
"Ya sudah, terserah kamu saja, Kai. Setelah ini aku mau mengambil akta lahir anak-anak. Nanti mau diantar ke rumah saja atau ke tempat kerjamu?" tanya Kailandra.
"Di rumah saja, Bang."
Sebenarnya Kailandra sudah bisa menebak jawaban Kailani. Tentu saja perempuan yang dicintainya itu akan memilih demikian, karena memang Kailani tidak mau kedekatannya dengan pria mana pun menjadi bahan gunjingan di lingkungan kerjanya. Di mana para tenaga pengasuh dan pengajar di sana tidak tahu status Kailani yang sebenarnya.
***
__ADS_1
Sesuai yang diminta Kailani, setelah pulang kerja, Kailandra langsung mengantar akta kelahiran baby twins. Raut sedih terlihat begitu nyata pada wajah pria tersebut. Apa yang tertulis di dalam surat tersebut, nyatanya tidak seperti yang dia harapkan. Bahkan iming-iming uang yang dijanjikan Kailandra, tidak berhasil membuat namanya tertulis pada dua lembar kertas di tangannya.
"Ini akta Kanaka dan Kanaya, Kai." Kailandra memberikan dua lembar kertas berlaminating tadi pada Kailani begitu perempuan itu membukakan pintu untuknya.
"Masuk dulu, Bang." Kailani melebarkan daun pintunya sambil menerima pemberian Kailandra.
Kailani langsung duduk di sofa ruang tengah. Sofa yang sebenarnya sangat dihindari Kailandra akhir-akhir ini. Untuk berbincang, dia lebih memilih ruang makan sebagai tempat yang nyaman. Karena di sana pikirannya tidak dibuat melayang ke hal-hal yang diinginkan.
Kailani mengajak matanya berakomodasi maksimal untuk meyakinkan apa yang dibacanya tidaklah salah. Dia sampai mengulang beberapa kali untuk memastikan apa yang tertulis di sana. Ya, dalam surat tanda kelahiran tersebut, baik Kanaka dan Kanaya hanya tercatat sebagai anak dari seorang ibu.
"Maafkan Aku, Kai. Aku sudah mengusahakan semaksimal mungkin. Tapi dengan perbaikannya sistem birokrasi yang semakin ketat, kita tidak bisa berbuat banyak. Tanpa akta nikah, paling tidak selembar surat pernyataan nikah siri, kita tidak bisa mencantumkan nama ayah pada akta anak," Kata Kailandra, penuh sesal.
Kailani mendekap kedua kertas berlaminating tadi. Matanya berkaca-kaca, hanya dengan satu kedipan saja, bulir bening pasti sudah sanggup membasahi pipi mulusnya. Hatinya terasa perih tercabik-cabik. Kailani menengadahkan wajahnya, sekuat tenaga agar air mata tidak benar-benar jatuh. Berkali-kali dia mengucap istighfar dengan lirih.
"Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku. Engkau percayakan tiga buah hati kepadaku, tetapi aku melalaikan tanggung jawabku sebagai ibu yang sebenarnya. Melahirkan saja tidak cukup untuk membuatku pantas menjadi perempuan yang utuh jikalau aku tidak mampu membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan pantas." Kailani menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
"Kai, sungguh aku minta maaf." Sekali lagi Kailandra mengucapkan kata maaf. Rasa bersalah juga semakin dirasakan pria itu.
"Bang ...," panggil Kailani seraya meletakkan akta lahir baby twins di atas meja. "Nikahi aku secepatnya!"
Kailandra terperanjat mendengar ucapan Kailani barusan. Tubuhnya seketika condong ke depan agar bisa menatap Kailani lekat-lekat. Dia ingin memastikan perempuan di depannya itu tidak sedang becanda.
__ADS_1
"Nikahi aku, Bang! Apa kata-kataku kurang jelas?"