Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Tidak punya hati


__ADS_3

"Perempuan itu disembunyikan identitasnya sama Karina, Ma. Kai akan cari tau dulu. Siapa pun dia, tidak seberapa penting, bukan? Dengan kesepakatan yang dibuat bersama Karina, tentu perempuan itu sudah memperhitungkan segala resikonya." Kailandra terpaksa mengatakan hal tersebut. Dia belum siap dengan reaksi Kasih jika sampai mamanya itu tahu siapa perempuan yang sudah melahirkan baby twins.


"Terserah kamu, tapi mama mau mereka tes DNA untuk memastikan mereka anak siapa. Satu kebohongan besar, membuat mama meragukan kebenaran kata-kata Karina," tekan Kasih.


Kailandra menganggukkan kepalanya tanda sepakat. Dia pun sudah memikirkan hal tersebut. Namun, kekhawatiran menghalanginya untuk melakukan tes itu secara cepat. Melihat putri mungilnya, sungguh mengingatkan Kailandra pada Kailani.


"Mama pulang dulu, Kai. Nanti siang mama ada acara sama temen-temen arisan," pamit Kasih sembari menepuk pundak Kailandra.


"Iya, Ma. Kai juga mau ke kantor sebentar. Baby twins juga tidak perlu ditunggui selama 24 jam. Sudah ada perawat yang menjaga mereka. Kondisi baby twins juga semakin membaik." Kailandra merangkul mamanya. Keduanya pun berjalan meninggalkan ruangan.


Tidak lama dari itu, Kailani yang tampak sudah rapi karena sudah bersiap untuk keluar dari rumah sakit, terlihat memasuki ruangan baby twins. Sementara Kalvin menunggu di luar ruangan sembari membawakan satu tas berisi baju gantinya. Sebenarnya, Kailani sudah bersikeras menolak bantuan dari Kalvin, tetapi pria tersebut terus memaksa. Karena malas berdebat, akhirnya Kailani memilih untuk mengiyakan saja apa mau Kalvin.


"Bunda pulang dulu, ya. Bunda mau ketemu Kakak Keiko. Semoga besok kita bisa bertemu lagi. Bunda usahakan bisa datang setiap hari. Ingat pesan Bunda, minum yang banyak, biar cepat bisa keluar dari box ini. Ranjang luas menunggu kalian untuk berguling-guling dengan bebas." Kailani mengulurkan tangan untuk mengusap sisi samping kaca.


"Kalian akan tumbuh menjadi anak-anak yang kuat. Kehadiran kalian banyak yang menantikan. Maaf, Bunda tidak bisa menjanjikan apa pun. Bahkan sekedar menjanjikan Bunda akan selalu ada buat kalian pun Bunda tidak sanggup."


Di saat Kailani masih begitu intens mengajak baby twins berkomunikasi, di luar ruangan---dua orang pria dewasa tampak saling beradu pandang menebarkan ketegangan satu sama lain. Aura persaingan dan permusuhan, jelas terlihat kentara dari sorot mata keduanya.


"Apa pun hubunganmu dengan Kailani, aku tidak peduli. Kamu benar-benar suaminya atau bukan, aku juga tidak mau tau. Satu hal yang pasti, ajak dia pergi sejauh mungkin dari hidupku dan anak-anakku. Bukankah kalian sudah mendapatkan uang yang cukup dari Karina? Aku akan memberikan lebih jika kamu merasa kurang," tawar Kailandra dengan intonasi yang terdengar merendahkan lawan bicaranya.

__ADS_1


"Kamu yakin Kailani melakukan semua ini karena uang?" Kalvin menimpali dengan pertanyaan yang tidak kalah sinisnya.


"Tentu saja. Bukankah kalian dua orang manusia yang bisa melakukan apa saja demi uang?" cibir Kailandra.


"Waktu terus berjalan, Kai. Sampai kapan kamu bertahan dengan pemikiranmu sendiri? Tidak cukupkah kegagalan demi kegagalan yang kamu alami? Kapan kamu bisa belajar menghargai orang lain? Berikan sedikit hati pada akalmu dan berikan sedikit akal pada hatimu, agar keduanya tidak terlalu keras dan dibutakan oleh egomu sendiri."


Sesaat setelah mengatakan hal tersebut. Kalvin memilih menunggu Kailani di Lobby rumah sakit. Berlama-lama dengan Kailandra, hanya membuat jiwanya mendadak dipenuhi emosi. Apalagi jika mengingat perlakuan pria tersebut pada Karina. Ingin rasanya dia membawa Kailandra ke ring tinju sekalian.


Kailandra akhirnya masuk ke dalam ruangan baby twins di mana Kailani masih membantu perawat menyuapkan ASI pada salah satu si kembar. Di gendongan Kailani, bayi mungil tanpa dosa itu tampak begitu tenang. Meski selang masih menempel di hidung mereka, kondisi baby twins jauh lebih segar dari sebelumnya.


"Kebetulan ada Pak Kailandra di sini. Tadi saya sampai lupa menanyakan. Untuk nama baby twins siapa ya, Pak? Kami membutuhkan untuk keperluan akta kelahiran. Kami juga minta disediakan foto copy kartu keluarga beserta surat nikah bapak beserta istri," sambut perawat begitu menyadari kehadiran Kailandra.


Kailani seketika terkesiap. Berbicara soal akte kelahiran, hatinya kembali tersayat. Dua kali melahirkan, dua kali pula keadaan tidak senormal yang lain. Keiko---pada akta kelahirannya hanya tertuliskan anak dari ibu. Tidak ada sosok ayah yang tertera pada surat tanda kelahiran pada putri pertamanya tersebut. Karena saat Keiko lahir, jelas Kenzo sudah menceraikannya. Dan sekarang? Entah akan tertulis bagaimana untuk akta lahir si kembar.


"Baiklah kalau begitu, Pak. Kalau kami yang menguruskan. Tentu akan lebih mudah," ucap perawat sembari meletakkan kembali baby boy ke dalam box.


"Kalau kalian yang urus, apa bisa hanya nama saya saja yang tercantum di sana? Tidak perlu ada nama ibu atau apalah."


Pertanyaan Kailandra jelas membuat perawat mengernyitkan keningnya dengan sempurna. Begitu pun dengan Kailani yang langsung menidurkan baby girl perlahan ke dalam box. Lalu dengan tatapan heran, perempuan tersebut berkata, "Di mana hati nuranimu, Bang? Untuk urusan anak pun Abang masih tega meninggikan ego Abang."

__ADS_1


"Lalu maumu apa, Kai? Kamu mau di akte anakku tertulis nama Karina? Atau kamu berani bermimpi namamu yang tertulis di sana? Di antara kalian berdua, tidak ada yang layak menjadi ibu untuk anak-anakku. Masih banyak perempuan lain, yang bisa aku bayar untuk sekedar melengkapi status itu," timpal Kailandra dengan angkuh.


Kailani menggelengkan kepalanya begitu kuat. "Aku tidak pernah semenyesal ini dalam hidupku, Bang. Andai aku tau sedangkal ini pemikiranmu, lebih baik aku membiarkan keluarga kalian hancur dari dulu." Kailani meninggalkan Kailandra dengan kekecewaan yang teramat dalam. Berlipat-lipat dari yang sebelumnya dia rasakan.


Kailandra bergeming. Ingin rasanya dia berteriak lepas. Mencintai terlalu dalam, menyisakan benci dan dendam yang luar biasa ketika yang didapat tidak sesuai dengan harapan. Logika dan hati Kailandra mati rasa begitu dia kehilangan Kailani. Ketika segalanya sudah diberikan, lalu dihempaskan---sungguh teramat sakit. Dilupakan sulit, dikenang juga sakit.


Beberapa menit berlalu sepeninggalan Kailani. Kailandra pun berniat meninggalkan anak-anaknya. Tanpa diduga, di lobby dia bertemu dengan Kenzo yang sedang mengantarkan Keira untuk periksa kandungan. Dengan sengaja, pria tersebut menghentikan langkah Kenzo.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Kailandra.


Kenzo tidak langsung menjawab. Pria tersebut terlebih dahulu membisikkan sesuatu pada sang istri, lalu baru kemudian menganggukkan kepalanya ke arah Kailandra.


"Kita bicara di sana," ajak Kenzo sambil menunjuk bangku kosong di sudut lobby yang lumayan sepi dari lalu lalang pengunjung rumah sakit.


"Kamu masih peduli dengan Kailani, bukan?" Kailandra langsung bertanya tanpa basa basi


"Tentu saja. Sampai kapan pun Kailani akan menjadi bagian penting dalam hidupku," jawab Kenzo, tegas dan jelas.


"Benarkah? Jika sepenting itu, kenapa kamu membiarkan dia menyewakan rahimnya pada Karina? Apa uangmu tidak cukup memberinya kesenangan? Kenapa kamu biarkan dia dekat dengan Kalvin yang jelas-jelas mantan istrinya berbahaya?"

__ADS_1


__ADS_2