Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Kailandra meminta tes DNA


__ADS_3

Mendengar ucapan Kailandra, Kalvin seketika menaruh curiga pada pria yang menurut firasatnya adalah bapak biologi dari Keiko. Belum apa-apa, langkah Kalvin untuk mendekati Kailani memang cukup berat. Mencintai perempuan yang sudah mempunyai anak, tentu bukan perkara mudah. Bukan perasaan Kailani yang terlebih dahulu harus ditakhlukkan, melainkan hati Keikolah yang harus diyakinkan. Keiko adalah kunci dari semua kunci yang sudah membuat hati Kailani tertutup rapat.


Satu hal yang kini menjadi pertanyaan di benak Kalvin, apakah Kailani tahu jika Keiko bukan anak kandung Kenzo atau tidak? Melihat ekspresi datar Kailani saat ini. Kalvin masih menduga bahwa perempuan tersebut juga tidak menyadari bahwa Keiko bukanlah anak hasil pernikahan Kailani dengan Kenzo.


"Kenapa Keiko?" tanya Kailani. Seperti biasa, wajah dan suaranya sama-sama ketus.


"Bisakah kita membicarakan hal ini empat mata saja?" Kailandra melirik ke arah Kalvin dan Kekeyi secara bergantian.


"Aku rasa tidak ada hal penting tentang Keiko yang harus kita bicarakan berdua," tegas Kailani.


"Ada, Kei ... ada ... kamu sedang menutupi kebenarannya tentang Keiko atau memang kamu tidak tau apa-apa?" Kailandra menatap Kailani dengan tatapan yang begitu teduh.


Kalvin beranjak berdiri. Dia cukup tahu diri akan posisinya. Bagaimana pun, yang sedang dirawat di dalam ruangan tersebut adalah anak Kailandra. Jadi bukan kapasitasnya untuk terus memaksakan diri bertahan di sana.


"Aku pulang dulu, ya, Kai. Jaga kesehatanmu, jangan sampai telat makan. Besok Aku ke sini lagi," pamit Kalvin yang dibalas dengan sebuah anggukan dan senyuman oleh Kailani.


Tidak lama setelah Kalvin meninggalkan ruangan, Kekeyi pun menyusul. Perempuan itu tidak tahan dengan tatapan Kailandra yang terus mengintimidasinya. Bagaimana pun, Kailandra memang majikan yang memperkerjakannya. Meski dia tahu Kailani jelas keberatan jika ditinggalkan, tetapi apa daya---seorang bawahan memang harus tunduk dengan perintah atasan.

__ADS_1


"Langsung saja, Bang. Ada apa dengan Keiko?" tanya Kailani tanpa melihat ke arah Kailandra.


"Kei anakku, kan? Katakan yang sebenarnya, Kai. Jangan berusaha menutupi kebenaran." Kailandra menjawab pertanyaan Kailani juga dengan pertanyaan. Kali ini wajah pria tersebut tampak sangat serius.


Kailani sebenarnya sama sekali tidak menduga Kailandra menanyakan hal itu. Sudah lama dia menutup keraguan tentang status ayah biologis Keiko---tepatnya sejak Kenzo datang dan melakukan tes DNA. Sikap Kenzo yang baik, tulus dan berubah 180 derajat dari sebelumnya, membuat Kailani menjadi yakin jika Keiko memang anak dari hasil pernikahannya dengan Kenzo.


"Kenapa diam, Kai? Keiko anakku, kan?" tegas Kailandra sekali lagi.


"Bukan ... Keiko bukan anak abang." Kailani menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Tolong jangan bohong, Kai. Kamu boleh membenciku. Tapi Keiko anak perempuan, dia berhak tau siapa ayahnya yang sebenarnya." Kailandra beranjak berdiri dan mendekati Kailani yang duduk termangu di sofa dengan tatapan melamun.


"Please jujur sama aku, Kai. Aku dan Keiko sama-sama berhak tahu. Seburuk apa pun aku di matamu, sejahat apa pun aku menurutmu, satu hal yang harus kamu ingat! Bukan Aku yang berniat meninggalkanmu," tegas Kailandra. Pria tersebut terlihat sangat serius dan berwibawa saat mengatakannya.


"Keiko anak Kenzo, Bang. Jangan mengada-ada," jawab Kailani akhirnya.


"Benarkah? Sudahi bohongnya, Kai. Kalau memang kamu ragu, ayo kita lakukan tes DNA. Jika terbukti benar Keiko adalah anakku, maka Aku tidak akan tinggal diam. Karena dari awal, bukan Aku yang tidak peduli. Andai benar Keiko anakku, maka kamulah yang bersalah karena membuat anak itu terlahir tanpa didampingi seorang Ayah," tuding Kailandra.

__ADS_1


Kailani seketika menatap Kailandra dengan tajam. Meski matanya sudah berkaca-kaca, tetapi perempuan tersebut tetap berusaha untuk tegar. Kata-kata Kailandra barusan cukup membuat emosinya terusik.


"Keiko memang terlahir tanpa ayah. Itu takdir yang sudah terjadi dan sudah kami berdua lewati dengan baik. Tolong jangan memaksakan apa pun pada kami, Bang. Jangan usik kami. Keiko anakku dan Kenzo. Cukup! Itu kebenarannya." suara Kailani bergetar karena menahan tangis.


Kailandra menyadari dirinya terlalu keras dan memaksakan diri. Dia pun terdiam. Meredam sejenak pembicaraan yang memang berat untuk diungkapkan. Jika apa yang menjadi dugaannya benar, tentu begitu banyak hal yang nantinya akan berubah.


Kailani menundukkan wajahnya, menyembunyikan bulir bening yang sudah terlanjur membasahi pipi mulusnya. Jujur dia lelah. Masalah tidak hentinya datang bertubi-tubi dalam hidupnya. Dan seperti biasa, Kailani hanya bisa menguatkan diri dan beristighfar dalam hati. Baginya, semua ini mungkin balasan dari dosa yang sudah diperbuatnya di masa lalu.


Keduanya memilih saling terdiam. Duduk di sofa masing-masing tanpa suara. Hingga suara rengekan Kanaka memecahkan keheningan di sana. Kailani bergegas menghampiri dan mengangkat bayi mungil itu dari dalam boxnya.


"Aku pulang. Maaf kalau ada kata-kataku yang membuatmu sedih. Tapi Aku harus tetap mengatakannya, Kai. Kita semua berhak mendapatkan kebenaran." Kailandra mengatakannya dengan lembut. Wajah sendu Kailani membuatnya semakin merasa bersalah.


Di sisi lain, Kenzo yang sedang berada di dalam kamar berdua dengan Keira, tampak sedang berbicara serius dengan istrinya itu.


"Aku sedang tidak menunggu persetujuanmu, Kei. Tapi aku juga tidak mau bermain-main di belakangmu. Kamu mau atau tidak, aku akan tetap melakukan apa yang sudah menjadi keinginanku. Setelah sekian lama aku menahan, saat inilah waktu yang paling tepat."


Keira semakin menundukkan wajahnya. Air mata terus berderai tanpa suara. satu tangannya tidak henti mengusap perutnya yang sangat besar karena sudah mendekati waktu melahirkan.

__ADS_1


"Habiskan air matamu sekarang. Di depan Kailani, jangan sampai kamu menunjukkan kesedihanmu. Yakinkan dia, sesuai apa yang aku katakan sedari awal," tekan Kenzo.


__ADS_2