
Kailani menarik napas sedikit berat. Merasa hidupnya akhir-akhir ini menjadi lebih rumit daripada sebelumnya. Kailandra, Kalvin dan Kenzo seakan tidak pernah jauh-jauh dari dirinya meski hanya satu hari saja. Kehilangan privasi sekaligus ketenangan. Itulah yang kini dirasakan oleh Kailani.
"Oppa bawa apa?" tanya Keiko sembari menghampiri Kailandra yang sedang menurunkan barang dari bagasi mobilnya.
"Bawa sesuatu untuk membuat kamar Keiko cantik dan nyaman." Kailandra menjawab sembari tersenyum penuh kemenangan.
Kalvin mengernyitkan kening, lalu pria tersebut melemparkan pandangan penuh tanya pada Kailani. Tentu saja perempuan yang ditatapnya itu hanya menjawab dengan mengedikkan bahu tanda ketidakpahaman.
"Kei sama Om Kalvin masuk dulu, gih," perintah Kailani pada Keiko.
"Nggak mau. Kei bareng sama oppa saja." Keiko semakin mendekati Kailandra yang baru selesai menurunkan satu barang terakhir.
Kailani mengalihkan perhatiannya pada Kalvin. Seakan paham apa yang menjadi keinginan Kailani. Pria tersebut pun langsung mendekati dan berjongkok di samping Keiko. "Kita buat clay dari tanah liat, yuk, Kei! Hari ini, sepertinya bunda sedang baik. Kita boleh bermain kotor-kotoran," ajaknya.
"Beneran boleh, bund?" Keiko bertanya dengan sangat bersemangat.
Meski sedikit terpaksa, Kailani tetap menganggukkan kepala. Setidaknya, dia ada waktu untuk berbicara dengan Kailandra berdua. Biarlah nanti dia akan memandikan dan membersihkan badan Keiko setelah puas bermain. Sejauh ini, Kalvin memang selalu bisa diandalkan. Dan Kailani merasa nyaman menganggap pria tersebut teman. Karena hingga detik ini, Kalvin tidak mengungkapkan dan mengharapkan sesuatu yang lebih pada kedekatan mereka.
"Kita bicara di dalam saja," ajak Kailani.
Kailandra tanpa kata mengikuti langkah Kailani di belakang. Sementara Keiko dan Kalvin, tentu saja sudah mengambil peralatan sederhana untuk bermain-main dengan tanah di sisi samping rumah yang biasanya digunakan untuk menjemur pakaian. Sementara barang-barang yang diturunkan Kailandra tadi, dibiarkan tergeletak begitu saja di belakang mobil pria tersebut.
Sesampainya di ruang tamu, Kailandra dan Kailani duduk bersebrangan di atas sofa. Disituasi seperti sekarang, pikiran Kailandra malah dibuat melayang pada kejadian lampu mati yang membuatnya melakukan kekhilafan yang membuatnya semakin tidak bisa berpaling pada sosok perempuan lain selain Kailani.
Suara rintihan Kailani yang tertahan kala itu serasa masih jelas terngiang. Kedua tangan Kailani yang mencengkram erat lengan Kailandra karena hujaman liar kejantanannya pun juga masih melekat dalam ingatan. Penyatuan dua tubuh tanpa jarak yang dihubungkan melalui celah sempit kenikmatan, sungguh membuat Kailandra kehilangan kendali akan napsunya.
__ADS_1
"Sudah aku bilang. Jangan kesini sebelum aku siapkan semuanya." Suara ketus Kailani membuyarkan kilasan kenangan Kailandra.
"Kamu tidak mungkin beres-beres rumah sendirian. Kamu baru saja operasi, sangat tidak disarankan beraktivitas yang berat-berat. Sudah jangan banyak protes. Atau Keiko malah akan bertanya-tanya kenapa sikapmu padaku berbeda dengan sikapmu pada Kalvin dan Kenzo. Anggap aku tidak ada. Boleh aku melihat kamar yang terkecil?" Kailandra mengabaikan raut wajah Kailani yang jelas menampakkan kekesalan padanya.
"Aku akan memulai dari nol, Kai. Benci Aku semampumu. Bersikaplah semaumu. Suatu saat, aku pastikan kita akan kembali bersama," batin Kailandra dengan rasa percaya diri yang penuh.
"Buat apa? Jangan berani berpikir Abang juga akan tidur dan tinggal di sini. Itu tidak akan terjadi," tegas Kailani.
"Tidak akan, Kai. Aku akan buat kamar yang katamu kecil itu, menjadi tempat yang nyaman untuk ruangan Keiko sementara. Aku akan mengerjakan dengan tanganku sendiri. Keiko harus tahu, Aku ayah yang bertanggungjawab. Hanya saja, bundanyalah yang membuatku tidak punya kesempatan untuk melakukan hal yang semestinya seorang ayah lakukan."
"Bang, cukup! Keiko anak Kenzo! Jangan menarik kesimpulan sendiri," sahut Kailani.
"Kita lihat saja nanti." Kailandra berdiri dengan santai sambil mengerlingkan satu bola matanya. Tatapannya begitu nakal. Hingga membuat Kailani reflek melemparkan tempat tisu pada pria tersebut.
"Jadi sebelah mana kamarnya?" tanya Kailandra. Begitu santai tanpa beban.
Kailani menunjuk sebuah kamar tepat di samping kamar Keiko pada Kailandra. Setelah itu, perempuan tersebut memilih keluar bergabung dengan Kalvin dan juga Keiko.
Hampir satu jam berlelu, begitu Keiko sudah merasa bosan dan lapar. Kailani pun mengajak anaknya tersebut untuk mandi. Sementara Kalvin membersihkan diri di kamar mandi ruang tamu. Untung saja pria itu selalu menyiapkan baju ganti di mobilnya, sehingga dia tidak perlu buru-buru pulang karena baju yang kotor akibat memainkan tanah.
"Biar aku cuci sekalian bareng punya Keiko, Vin," tawar Kailani.
"Jangan, Kai. Di rumah ada mbak, kok," tolak Kalvin dengan halus.
"Ya sudah. Silahkan diminum, Vin. Aku lihat Keiko dulu." Kailani meletakkan teh jahe hangat di atas meja.
__ADS_1
"Makasih, Kai. Aku juga mau lihat Kailandra." Kalvin melangkahkan kakinya menuju kamar kecil di mana Kailandra sedang mengatur kamar tersebut dengan barang-barang yang dibawanya tadi.
Kailandra tampak fokus dengan pemasangan wallpaper bernuansa pink. Dengan segenap kemampuan dan tekad yang ada, pria tersebut jelas sedang bersungguh-sungguh mengupayakan kamar terbaik untuk Keiko menurut versinya.
"Butuh bantuan, Kai?" tawar Kalvin begitu sampai di ambang pintu kamar.
"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri," jawab Kailandra.
"Kamu semangat sekali. Dalam rangka apa?" Kalvin mulai memberikan pertanyaan yang menyelidik.
"Mungkin kamu memang dekat dengan Kailani, tapi bukan berarti kamu harus tau segalanya. Kita sudah sama-sama dewasa, Vin. Kamu pun dekat Keiko dan Kailani memiliki sebuah tujuan, bukan? Mana ada pertemanan tulus antara pria dan wanita dewasa," sindir Kailandra.
"Kailani single. Dia tidak terikat dengan pria mana pun. Jadi tidak ada salahnya Aku mendekati Kailani."
"Lakukan saja semampumu. Pada akhirnya, tetap Aku pemenangnya. Sekuat tenaga Kailani membenciku, di antara kami ada ikatan yang tidak akan pernah bisa diputus. Anak-anak akan menyatukan kami." Kailandra mengatakannya sambil terus mengerjakan wallpaper.
"Lemah sekali kamu, Kai. Anak-anak dijadikan umpan dan alat," cibir Kalvin.
"Kamu pun melakukan hal yang sama," timpal Kailandra dengan santai.
Terlalu asik dengan perdebatan mereka. Keduanya sampai tidak menyadari kehadiran satu sosok lagi yang pastinya akan menambah panas suasana. Sosok yang paling tidak nyaman dengan keberadaan Kailandra untuk saat ini.
"Kenapa kalian bisa ada di kamar ini?" Kenzo bertanya penuh selidik. Ketidaksukaan terpancar jelas dari sorot kedua matanya.
"Kenapa? Ada yang salah? Apa ini rumahmu? Sepertinya bukan." Kailandra menanggapi dengan santai.
__ADS_1