
Tulang-tulang yang menopang tubuh Kailandra terasa luruh seketika begitu dia mendengar kelanjutan dari ucapan perawat. Kepalanya terus menggeleng kuat. "Ini salah, kan, sus? Mama tidak mungkin meninggalkan saya sendirian?"
Kailandra sudah kehilangan kontrol. Kedua tangan pria tersebut mencengkram lengan si perawat. Dia terus mengulang ketidakpercayaannya akan berita kematian sang mama. Kailani berusaha menurunkan tangan Kailandra dari lengan suster tersebut.
"Bang, istighfar, Bang." Kailani mengatakannya dengan volume Dan intonasi yang sedikit tinggi agar Kailandra mendengar.
"Kai, mama tidak mungkin meninggal, kan?" Kailandra beralih mencengkram lengan Kailani.
"Istighfar, Bang. Tenangkan diri Abang. Kita lihat ke ruangan, ya?" Kailani merendahkan suaranya. Menatap lembut pada sosok di depannya yang benar-benar terlihat sangat terpukul.
Kailandra akhirnya mengangguk lirih. Perlahan dia memindahkan posisi tangannya. Kini tangan kanannya menggenggam erat tangan kiri Kailani. Ketakutan begitu besar dia rasakan. Kailani tidak menolak, dalam situasi seperti sekarang, sudah seharusnya dia mengenyampingkan sejenak sakit hati yang masih tersisa.
Keduanya kemudian mengikuti langkah perawat menuju ruangan di mana Kasih berada. Begitu memasuki ruangan tersebut, indera penglihatan mereka langsung bisa melihat jelas sosok yang sudah terbujur tidak bernyawa di atas brankar.
Baik Kailani mau pun Kailandra harus mendekat untuk mengenali lebih jelas. Pasalnya, wajah sosok tersebut bisa dikatakan sangat hancur. Bahkan pipi bagian kiri kulitnya mengelupas. Hidung sesekali masih mengeluarkan darah.
Kailani menegarkan diri untuk tetap mendekat. Dia merasakan genggaman tangan Kailandra semakin erat. Tidak terasa air mata Kailani pun luruh, sirna sudah kecewa, sakit hati dan kemarahan yang selama ini dia pendam untuk sosok yang benar-benar hampir tidak berwujud di depannya.
"Tidak mungkin." Kailandra mencoba mengingkari kenyataan yang terlihat jelas di depan matanya. Sosok sang mama yang tadi pagi masih berdebat dan lantang mencaci dirinya, kini dalam keadaan yang sama sekali tidak ia bayangkan.
"Istighfar, Bang. Istighfar," lirih Kailani dengan suara bergetar.
__ADS_1
Perlahan Kailandra melepas genggaman tangannya dari tangan Kailani. Dia mendekati jenazah Kasih yang belum terlalu kaku dan membiru akibat darah yang masih mengalir dari lubang hidung dan telinga perempuan itu.
"Bang, aku tidak meminta Abang untuk kuat atau pun sabar. Tapi Bu Kasih berhak untuk mendapatkan yang terbaik sekarang. Abang harus memandikan, mensholatkan Bu Kasih." Kailani mengatakannya dengan sangat hati-hati.
Kailandra menatap lekat ke wajah Kasih yang hancur 40 persen. Air mata tanpa isak dan suara terus mengucur deras dari matanya. Kailani menarik napas dalam. Sekadar ingin menguatkan dirinya sendiri. Sungguh saat sekarang, dia malah teringat dengan kebaikan-kebaikan yang diberikan Kasih padanya ketika masih bersama Kailandra.
"Kita urus Bu Kasih sama-sama, Bang. Jangan biarkan air mata Abang jatuh dan menetesi Mama Abang." Kailani mengusap air mata Kailandra dengan tangannya.
Kailandra menegakkan badannya kembali sambil membalas tatapan sendu Kailani. "Maafkan mama, Kai. Maafkan mama," lirihnya.
"Aku sudah memaafkan Bu Kasih, Bang. Sekarang kita urus jenazah Bu Kasih dulu, ya. Aku temani."
Selepas memandikan, mengkafani dan mensholatkan jenazah sang mama, Kailandra tampak lebih tenang. Meski memilih untuk tidak berbicara sepatah kata pun, setidaknya pria tersebut sudah bisa mengendalikan air mata dan umpatan sesal yang sebelumnya meluap-luap. Pria itu terus berdiri di samping jenazah Kasih yang sudah dimasukkan ke dalam peti.
"Anak-anak sudah dijemput Kenzo. Bu Kasih mau dimakamkan di mana? Apa ada yang harus Aku hubungi untuk mengabarkan hal ini?" tanya Kailani setelah memposisikan dirinya sejajar dengan Kailandra.
Kailandra menyerahkan ponselnya pada Kailani. Dengan suara lirih pria itu menyebutkan pasword ponselnya yang ternyata masih sama seperti dulu, yaitu tanggal lahir Kailani.
"Hubungi sekretarisku saja, biar dia yang mengabarkan ke relasi. Kita semayamkan sebentar mama di rumah. Setelah itu baru kita makamkan di pemakaman yang sama dengan papa. Mama sudah mempersiapkan tanah pemakaman dirinya persis di samping makam papa." Suara Kailandra terdengar lirih dan serak.
Tanpa menjawab, Kailani memundurkan badannya empat langkah. Menjauh sedikit untuk menghubungi orang yang dimaksud oleh Kailandra. Setelah memastikan semua sudah beres, termasuk urusan anak-anak yang sudah bersama Kenzo, Kailani dan Kailandra pun menemani jenazah Kasih di dalam ambulance berangkat menuju Jakarta.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan. Kailandra terus menunduk dan terdiam. Namun tangannya tidak pernah jauh dari bagian kepala peti. Kailani sendiri sedang menahan nyeri di dadanya akibat produksi ASI melimpah yang seharusnya sudah waktunya dipompa. Bahkan bagian depan baju perempuan tersebut tampak basah karena rembesan ASInya.
Sampai di kediaman Kasih. Suasana tampak ramai meski waktu sudah menunjukkan dini hari. Kailandra langsung menyapa sebentar petaziah yang kebanyakan adalah relasi dekatnya. Saat pria tersebut mencari sosok Kailani, dia tidak menemukan di tengah keramaian itu.
Rupanya Kailani langsung ke dalam menemui asisten rumah tangga di sana, dia ingin meminjam baju untuk mengganti bajunya yang benar-benar basah. Sebelum berganti pakaian, Kailani menumpang memompa ASInya secara manual di kamar yang biasanya ditempati oleh baby twins.
Kailandra memohon diri sebentar pada petaziah yang ditemuinya untuk berganti baju sebentar. Karena baju yang dikenakan tadi juga sempat terkena noda darah Kasih. Sambil berjalan menapaki anak tangga, Kailandra terus menggerakkan bola matanya untuk mencari sosok Kailani. Dia pun bertanya pada asisten rumah tangga yang kebetulan melintas menuruni anak tangga.
"Bibi melihat Kailani, tidak?" Suara serak Kailandra menghentikan langkah kaki sang asisten rumah tangga.
"Ada di kamar baby twins, Pak. Ini maaf, saya lancang mengambilkan baju milik Bu Kasih. Karena Bu Kailani tadi mau pinjam baju ke saya. Ehm ... Kan tidak enak kalau baju saya yang dipakai, Pak," jelas Kamti---si asisten rumah tangga Kasih dengan hati-hati.
"Biar nanti saya yang berikan bajunya." Kailandra meminta baju yang di bawa oleh Kamti.
Kailandra lalu melanjutkan langkah menuju kamarnya. Dia langsung mandi dengan cepat dan berganti pakaian. Setelah itu dia pun kembali turun mengantar baju ganti untuk Kailani.
Sesampai di depan pintu baby twins, Kailandra mengetuk pintu kamar tersebut terlebih dahulu. Karena tidak mendapatkan jawaban, dia pun memberanikan diri menekan gagang pintu ke bawah hingga membuat benda tersebut terbuka. Kailani yang sedang mengeluarkan salah satu anggota tubuhnya yang menjadi sumber kehidupan baby twins seketika melakukan gerakan cepat menarik selimut untuk menutup bagian dadanya.
"Maaf, Kai. Aku tidak tau. Ini baju mama, pakai saja." Kailandra buru-buru meninggalkan tempat tersebut. Pria tersebut merasa sangat tidak enak dan merasa bersalah pada Kailani.
"Kai," sapa seseorang membuat Kailandra menoleh dan terbelalak tidak percaya dengan kehadiran sosok yang memanggil namanya itu.
__ADS_1