
Kalvin langsung membuang isi tiga botol minuman beralkohol yang masih terisi penuh itu ke dalam wastafel. Dua botol yang lain rupanya sudah diteguk habis oleh Karina yang tampak sudah mulai kehilangan kesadaran. Perempuan itu terus tersenyum sembari sesekali meracau menyebut nama Kailandra. Sudah lama Kalvin tidak melihat Karina seperti ini. Masalah perceraian, mungkin membuat perempuan tersebut kembali menggila dengan mencari pelarian sesaat.
Begitu banyak kata yang ingin diucapkan Kalvin. Namun, dia masih menahan diri. Berbicara apa pun pada orang yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol hanya akan membuang-buang energi saja. Tidak ada pilihan bagi Kalvin, selain mendiamkan Karina terlebih dahulu. Hatinya terasa sesak, melihat saudara tirinya tersebut menangis dan tertawa secara bergantian dalam jeda waktu yang tidak terlalu lama.
Keesokan harinya, Kalvin yang tertidur di ruang tengah apartemen Karina mendapati perempuan itu sudah tidak ada di ruang tamu. Meja masih sangat berantakan seperti kemarin.
"Kar ... Karina," panggil Kalvin sambil mengetuk pintu kamar.
Tidak lama, daun pintu tersebut terbuka. Memunculkan Karina yang tampak sudah berpakaian sangat rapi. Celana bahan semata kaki, di padu blazer berwarna putih. Tas dengan branded berlambangkan huruf H juga sudah menyempurnakan penampilan elegannya kali ini.
"Mau kemana sepagi ini?" selidik Kalvin.
"Aku mau memastikan perkembangan kasus KDRT yang sudah dilakukan oleh Kailandra. Hari ini dia juga seharusnya memenuhi panggilan dari kepolisian." Karina menjawab santai sembari keluar dari kamarnya.
"Tidak usah menumpuk sebuah drama dengan drama yang baru lagi. Cukup sudah kamu merendahkan dirimu di depan Kailandra. Mau kali ini KDRT itu memang ada, Kai tidak sebodoh yang kamu kira. Jangan pernah berpikir sebuah tamparan dengan bekas yang bahkan sekarang sudah tidak ada, bisa membawa Kailandra kembali ke dalam pelukanmu. Berhentilah bermain air jika kamu tidak ingin basah." Kalvin mencoba mengingatkan Karina.
"Aku tidak akan menyerah, Vin. Kailandra milikku. Selamanya akan seperti itu," tegas Karina. Lalu dia meninggalkan apartemennya dengan langkah penuh percaya diri.
Di waktu yang sama, di rumah Kailani tampak tidak selengang biasanya. Keberadaan Kenzi, Kenzo dan Kasri menghidupkan suasana rumah tersebut sejak malam kemarin. Ditambah Keiko dan Kailani mereka semua kini berada di meja makan untuk sarapan pagi. Di antara semua keceriaan, terselip kekhawatiran dan juga perasaan tidak enak pada benak Kailani. Bagaimana tidak, keberadaan Kenzo dan Kenzi di rumahnya, tentu dikhawatirkan akan melukai perasaan Keira.
__ADS_1
"Ken, nanti pulang sekolah, Ken pulang ke sini lagi, ya? Papa pulang kerja juga ke sini kok. Malam ini kita tidur di sini lagi sampai ada kejelasan tentang keadaan Keiko," ucap Kenzo pada Kenzi.
Anak laki-laki sebaya dengan Keiko menganggukkan kepala sambil tersenyum senang. Di mana pun dia berada, selama ada Keiko dan mainan, Kenzi tidak mempermasalahkannya. Apalagi anak itu lebih dekat dengan Kenzo ketimbang dengan Keira.
Seusai sarapan, Keiko dan Kenzi berangkat sekolah di antar oleh Kimin. Sementara Kenzo masih berada di rumah. Dia sengaja ingin mencari waktu untuk berbicara berdua dengan Kailani.
"Kamu Mau ke rumah Kailandra lagi?" tanya Kenzo. Tatapannya tidak terlepas dari Kailani yang tengah memasukkan botol-botol kaca berisi ASI perahnya ke dalam cooler bag.
"Tidak. Sudah ada orang mereka yang mengambil ASI ini." Kailani menjawab santai. Meski dia sebenarnya mulai tidak nyaman dengan rasa ingin tahu Kenzo yang cenderung menegaskan bahwa pria tersebut sudah mulai ikut campur dengan urusannya.
"Baguslah. Jangan mudah luluh pada Kailandra. Setelah apa yang kamu lakukan dan balasan apa yang kamu dapat dari mereka, menjaga jarak jauh lebih baik," tutur Kenzo.
"Maksudmu?"
"Apa harus kamu tinggal di sini, Ken? Kita ini hanya mantan suami istri. Iya kita tidak melakukan apa-apa. Memang ada orang lain di sini. Tapi apa kamu nggak mikirin perasaan Keira? Sebaik-baiknya dia, pasti ada rasa cemas dan khawatir. Mungkin dia cuman nggak mau jujur ke kita," ucap Kailani. Memilih untuk mengajak Kenzo bicara baik-baik.
"Jika kamu keberatan. Biarkan Keiko tinggal bersamaku. Sedetik pun, aku tidak mau terlewatkan apa yang terjadi pada Keiko. Seorang Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Aku pun mengharapkan demikian pada Keiko. Jangan sampai Keiko malah mengagumi pria lain sebagai figur ayahnya."
Kailani memilih untuk tidak langsung menanggapi pernyataan Kenzo. Sejenak dia memilih untuk diam. Sembari mengumpulkan rangkaian kata terbaik agar apa yang diucapkan nanti tidak menyinggung perasaan Kenzo. Kailani mulai menangkap geliat kecemburuan pada kedekatan Keiko dengan Kalvin atau pun Kailandra.
__ADS_1
"Ken, bukan seberapa sering kamu bersama Keiko yang akan membuat dia merasakan besar kasih sayangmu. Semua yang sudah kamu lakukan, jelas tidak akan tergantikan oleh siapa pun. Jika saat ini Kei dekat dengan Kalvin atau pun Kailandra, tentu perasaan sayangnya berbeda dengan perasaan sayang Kei terhadapmu. Kamu dan aku sama berhak atas Keiko. Tapi di atas itu, kita tidak boleh lupa dengan perasaan orang lain di sekitar kita. Dan jangan pula membuat Keiko bingung memaknai hubungan kita." Kailani menyampaikannya dengan sangat hati-hati.
"Jangan mencemaskan soal Keira, biar dia menjadi urusanku," sanggah Kenzo. "Untuk saat ini, jangan pisahkan aku dengan Keiko. Jika kamu keberatan, biarkan Keiko aku bawa."
Sungguh keputusan yang sulit. Kenzo selalu keras kepala dan ingin menang sendiri. Kailani mencoba tetap tenang. Meski berat, dia memang harus mengambil sikap yang dirasanya terbaik untuk semua. Belum sampai Kailani mengemukakan keinginannya, suara pintu yang diketuk membuat Kailani dan Kenzo harus menghentikan sejenak pembicaraan serius mereka.
Kailani berinisiatif melihat sendiri siapa yang datang. Kenzo yang sudah bisa memperkirakan tamu yang datang sepagi ini, langsung menyusul langkah Kailani dengan sigap.
"Aku mau mengambil ASI untuk anak-anak. Ini sekalian aku bawakan buah apel kesukaan Keiko. Kemarin dia juga bilang pengen punya lego princes series terbaru. Aku sudah belikan. Apa Keiko ada?" Tanpa ditanya, Kailandra langsung menjelaskan maksud kedatangannya.
"Keiko tidak ada. Jam segini tentu saja dia sekolah. Tidak perlu repot-repot memperhatikan Keiko. Kalau hanya sekedar apel dan mainan semacam itu, saya sangat sanggup membelikan," sahut Kenzo dengan cepat.
"Keiko sekolah? Bukankah kondisinya masih belum pasti? Kenapa diijinkan sekolah?" Kailandra menatap Kailani dengan heran. Sungguh dia tidak habis pikir kenapa kedua orang di depannya membiarkan Keiko masuk sekolah.
"Siapa kamu berhak bertanya seperti itu tentang anak kami? Kamu ingin mengambil ASI, kan? Cukup itu saja urusanmu kemari." Kenzo berbalik badan. Hendak mengambilkan cooler bag berisi ASI tadi.
"Kenapa kamu berbicara seakan kamu masih suami Kailani, Ken?" sinis Kailandra.
Dua orang saja sudah membuat Kailani pusing. Kini dilihatnya datang lagi satu mobil tepat di belakang mobil Kailandra. Dan Kailani tahu persis siapa sang empunya kendaraan itu.
__ADS_1