
Setelah memastikan Kenzo dan Keiko masuk ke dalam rumahnya, Kailani berjalan perlahan menghampiri sosok yang kini tengah menatapnya dengan senyuman yang sulit untuk diartikan.
"Sebenarnya sepenting apa masalah yang ingin Ibu bahas? Sampai-sampai Ibu sudi datang kemari?" tanya Kailani dengan datar.
"Kamu tidak menyuruh saya masuk dulu?" tanya perempuan yang tidak lain tidak bukan adalah Kasih.
Kailani melemparkan senyuman tipis sebelum menjawab pertanyaan calon mantan mertuanya tersebut. Bukannya tidak sopan. Mengingat volume suara Kasih yang kadang begitu keras, belum lagi dia juga tidak bisa menjamin apa yang dibicarakan nantinya. Kailani hanya tidak mau Kenzo terlebih Keiko mendengar pembahasan mereka.
"Kita bicara di sana saja, Bu." Kailani menunjuk bangku anyaman rotan di beranda rumahnya.
Kasih tidak menjawab. Perempuan tersebut langsung melangkahkan kakinya menuju tempat yang ditunjuk oleh Kailani. Bagi Kasih, di mana pun mereka berbicara sebenarnya tidak terlalu penting. Yang paling utama saat ini adalah, dia ingin yang menjadi angan-angan dipikirannya segera terucap dan terungkapkan.
"Langsung saja, ya, Kai. Begini, saya rasa kamu juga tidak membutuhkan basa-basi ucapan terimakasih atau pun permintaan maaf saya. Dari cara kamu membantu keluarga kami, jelas kamu tidak ingin kami mengetahui apa yang sudah kamu lakukan. Karena itu, mari kita sama-sama akhiri perdebatan tentang masa lalu. Sikap kami selama ini, tentu akibat dari pilihanmu sendiri. Kamu memilih tidak menjelaskan semua pada kami."
__ADS_1
Kailani tersenyum tipis mendengar ucapan Kasih yang begitu panjang lebar dan lugas. Perempuan yang kini duduk di depannya itu sungguh seperti tidak ada beban apa pun saat mengatakannya. Benar-benar tanpa basa-basi seperti yang diucapkannya di awal.
"Dan sekarang, siapa sangka kita dipertemukan lagi dengan takdir yang luar biasa. kamu dan Kailandra malah mempunyai dua orang anak sekaligus. Meski dengan cara yang tidak lumrah dan juga salah. Itu yang akan menjadi fokus kita saat ini." Kasih membalas tatapan Kailani. Tidak ada kebencian seperti sebelumnya. Namun, juga tidak ada kehangatan sedikit pun di sana.
Kasih menarik napas panjang, begitu pun dengan Kailani. Seangkuh apa pun seorang Kasih, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia juga seorang ibu dan perempuan. Apa yang dilakukannya saat ini, hanyalah bagian dari reaksinya akan keadaan. Sedikit atau terlampau egois bagi orang lain, dia tidak peduli.
"Anak kalian, bagaimana pun saya tidak menghendaki statusnya tidak jelas. Seorang anak bisa tertulis tanpa ayah di akte kelahirannya, tapi tidak dengan tanpa ibu. Kita atau siapa pun tidak bisa menghapus sejarah. Kamu tetaplah ibu bagi mereka. Secara hukum, anak itu akan tetap tertulis sebagai anakmu dan Kailandra. Tapi---,"
Kasih tidak melanjutkan ucapannya. Sejenak perempuan lebih dari paruh baya itu tampak berpikir. Selama di rumah sakit, dia sudah memikirkan semua masak-masak. Kasih yang tadinya sudah menggebu-gebu untuk mengatakan secara lugas dan jelas, kini bibirnya terasa berat untuk mengucapkannya. Lagi-lagi, seangkuh apa pun dirinya, berada berdua saja bersama Kailani ternyata sedikit menggoyahkan tekadnya.
Kasih kembali menarik napas dalam. Matanya mulai berkabut embun bening. Namun, karena gengsi dia berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankan ketegarannya. Sikap angkuh yang ditunjukkan selama ini hanya sekadar topeng untuk menutupi ribuan sesal yang bergelayut. Di lain sisi, Kasih juga tidak ingin Kailandra kembali terluka.
"Intinya, saya tidak keberatan kamu dekat dengan anak-anak. Tapi saya minta, jangan pernah memberikan harapan pada Kailandra. Berikan noomor ponselmu. Segala hal mengenai anak-anak, saya langsung yang akan mengabarkan sama kamu. Termasuk kapan kamu datang, saya yang atur." Suara Kasih terdengar bergetar, perempuan itu berdiri dan membalikkan badannya menyembunyikan air mata yang terlanjur jatuh tanpa permisi.
__ADS_1
Kailani pun perlahan beranjak berdiri, lalu setenang mungkin dia berkata, "Tidak perlu mengkhawatirkan bagaimana sikap Saya pada Bang Kai. Saya sudah pernah memutuskan untuk berpisah dengan Bang Kai di saat rasa cinta saya masih utuh untuk dia. Sekarang? Saya sudah terbiasa hidup tanpa Bang Kai. Tanpa ibu ingatkan sekali pun, saya tahu persis bagaimana seharusnya saya bersikap."
Giliran Kasih yang kini terdiam. Sudah dia duga sebelumnya, perasaan cinta Kailani pada Kailandra pasti sudah pudar. Terkikis perlahan oleh waktu, ditambah lagi dengan makian, celaan, dan hinaan yang terlontar dari mulutnya juga Kailandra selama ini. Tentu Kailani tidak akan melupakan perlakuan mereka begitu saja. Sepertinya keputusan Kasih untuk mempertahankan sikapnya pada Kailani memang tepat, setidaknya Kailandra tidak berpikir bahwa menjalin hubungan kembali dengan Kailani bukanlah hal yang susah.
"Syukurlah kalau kamu paham. Berarti ke depan lebih mudah untuk kita. Saya tidak perlu bersusah payah untuk mengingatkan kembali posisimu. Saya ini seorang ibu, Kai. Saya ingin melihat Kailandra menjalani kehidupan keluarga yang normal. Dulu Saya pernah membiarkan dia memilih jodohnya sendiri, ternyata selalu gagal. Biarkan sekarang saya turut campur. Di antara kalian memang pernah ada perasaan cinta yang kuat. Namun, sekarang tentu keadaan sudah tidak sama. Kaca yang sudah pecah, tidak akan sama lagi jika disatukan. Akan ada serpihan yang hilang. Bayangan yang terpantul pun malah akan berantakan."
Serangkaian kalimat panjang itu menutup pembicaraan Kailani dan Kasih. Keduanya saling bertukar nomor ponsel. Meski tidak hangat, setidaknya pertemuan kali ini tidak semenyakitkan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Ya, karena Kasih memang tidak ingin menunjukkan trasa malu dan penyesalannya pada semua orang, terutama di depan Kailandra.
Sejak hari itu, Kasih memang menepati janjinya. Perempuan tersebut rutin mengabarkan kondisi baby twins. Kailani pun rutin mengirimkan ASI-nya. Dari pesan yang kebanyakan dikirim Kasih beserta foto, Kailani juga mengetahui sosok Kinanti yang dijelaskan Kasih sebagai calon istri Kailandra.
Dan keesokan harinya, bertepatan dengan acara aqikah dan pemberian nama baby twins yang oleh Kailandra resmi dinamai Kanaya dan Kanaka---Kailani diijinkan datang ke rumah Kasih. Pasalnya, Kailandra diperhitungkan langsung berangkat ke luar kota setelah acara usai. Tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Kailani. Kebetulan, Keiko juga akan diajak sekalian ke perpustakaan kota.
Kailani memasuki halaman rumah Kasih dengan langkah pelan. Bertahun-tahun tidak menginjakkan kaki di sana, nyatanya kilasan masa lalu masih melekat kuat dalam pikiran Kailani. Apalagi saat dia melewati bagian tangga depan yang digunakan sebagai jalan pintas menuju rooftop.
__ADS_1
"Di tangga itu, Aku pertama kali menciummu, Kai." Suara seseorang membuat lamunan Kailani buyar.