Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Pertanyaan Keiko


__ADS_3

"Jawabanku masih sama seperti sebelumnya, Vin. Aku belum siap memulai hubungan kembali dengan siapa pun," sambar Kailani.


Kalvin menarik senyuman sedikit lebar lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, '


" Kai, Kai, kamu ini pede banget. Sudah lumayan lama kita nggak ketemu, siapa tau aku sudah punya incaran janda baru."


Kailani menepuk keningnya sendiri. Menyadari kebodohannya melontarkan kata-kata tadi terlalu cepat. Padahal Kalvin sendiri memang belum selesai bicara. Pipinya pasti sudah bersemu kemerahan.


"Terus, kamu mau kenapa? Mau ngomong apa?" tanya Kailani. Sedikit ketus untuk menutupi rasa malunya.


"Nah, ini baru Kailani. Ketusnya juara." Kalvin mengatakannya sambil sedikit terkekeh.


"Sudah tau ketus, tapi mau saja temenan." Kailani tidak mau kalah membalas ucapan Kalvin.


"Siapa bilang aku mau temenan? Kan aku mau yang lain." Pria tersebut kembali ke mode menggoda.


"Vin!" Kailani melebarkan bola matanya. Bukannya takut, Kalvin sebenarnya malah semakin gemas. Seandainya tidak ingat umur, tentu dia tidak akan menahan tangannya untuk mencubit kedua pipi perempuan di sampingnya tersebut.


"Oke, sekarang aku serius." Kalvin sengaja menggeser sedikit posisi duduknya hingga membuatnya bisa menghadap dan memandang Kailani dengan lebih leluasa.


"Aku tidak pernah becanda, Vin." Kailani masih sedikit ketus saat mengatakannya.

__ADS_1


"Aku percaya itu. Itulah alasan Tuhan mendekatkan kita berdua."


"Kalvin!" Kailani benar-benar habis kesabaran karena Kalvin masih saja tidak langsung pada inti pembicaraan.


"Aku nggak bisa lama-lama di sini. Karina belum pulih benar. Kalau ada waktu senggang lagi, aku akan datang. Semoga saat itu tiba pikiranmu sudah berubah."


Bibir Kailani sudah sedikit terbuka untuk menjawab perkataan Kalvin. Namun, dengan cepat pria itu meletakkan jari telunjuknya di bibir Kailani. "Biarkan aku bicara sampai selesai dulu," ucapnya.


Kailani menganggukkan kepala sambil menurunkan jari telunjuk Kalvin dari bibirnya. Kemudian dia sedikit menggeser bokongnya ke kanan untuk memperlebar jarak antara dirinya dan Kalvin.


"Kamu memang perempuan mandiri, Kai. Tanpa seorang laki-laki, kamu jelas bisa memenuhi kebutuhan hidupmu. Tapi coba pikirkan kembali anak-anak. Terutama Kanaya dan Kanaka. Rendahkan sedikit egomu. Tidak ada salahnya membuka hati. Jika bagimu jatuh cinta itu sulit, setidaknya belajarlah menerima orang yang mencintaimu. Bukan hanya untukmu, anak-anak sejatinya juga butuh figur seorang ayah yang nyata."


Kailani bergeming. Bibirnya seketika mengatup rapat. Hatinya selalu bertentangan dengan logika jika sudah menyangkut pembicaraan tentang pasangan hidup. Entah mengapa, Kailani masih merasa lebih baik sendiri menjalani hidup. Entah dirinya memang egois, ataukah rasa cintanya benar-benar sudah mati. Hingga memulai hidup baru bersama seorang pria menjadi hal yang cukup sulit baginya.


Kailani menelan ludahnya dengan susah payah. Mendadak, dia merasa sedang duduk di bangku pesakitan. Disidang dan dicecar dengan pernyataan serta pertanyaan yang membuat hati kecilnya terusik.


"Kamu tidak perlu buru-buru menyadari dan menjawab sekarang. Pikirkan dulu ucapanku baik-baik. Aku pamit dulu, ya? Karina masih sangat membutuhkan aku. Jaga kesehatanmu. Sesekali, aku akan mengirim pesan untuk menanyakan kabarmu. Aku tidak mengharapkan hatimu untukku, bisa dekat denganmu aku sudah cukup bahagia. Jadi duda saja berat, apalagi jadi janda." Kalvin beranjak dari duduknya.


"Aku panggilkan Kei dulu, nanti dia sedih kalau kamu nggak pamitan sama dia." Kailani mencoba mencairkan suasana dengan menghadirkan Keiko di antara mereka.


Benar saja, kemunculan Keiko membuat obrolan berat barusan sejenak terlupakan. Kalvin harus sedikit membujuk Keiko yang tampak sedih begitu mendengar dirinya akan kembali pergi. Keiko bahkan mengeluarkan air mata saat mobil Kalvin benar-benar menghilang dari pandangan matanya. Dari sana, Kailani seakan tersadar. Sikap Keiko yang selama ini begitu senang dan antusias saat bersama Kailandra, Kenzo atau pun Kalvin, bisa jadi hal tersebut adalah ekspresi hati yang sesungguhnya. Di mana bocah cilik itu sebenarnya mendambakan bisa hidup terus berdampingan dengan sosok sang ayah.

__ADS_1


Bukan berarti apa yang sudah dilakukan Kenzo sebelumnya tidak cukup, tetapi tentu dalam hati kecil Keiko paham betul, kondisi keluarganya jelas berbeda dengan kondisi teman-temannya yang lain. Tentu sangat normal, jika ada saatnya Keiko mendamba 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu, terus bersama dengan kedua orangtua yang utuh.


"Bunda, Kei boleh tanya sesuatu sama bunda?" tanya Keiko.


"Tentu saja boleh, sayang," jawab Kailani seraya merangkul putri sulungnya tersebut masuk ke dalam kamar dengan membiarkan pintunya tetap terbuka lebar.


Keduanya kompak duduk di tepian ranjang. Dengan lembut Kailani mengusap-usap punggung tangan Keiko yang ada di pangkuannya. Raut wajah Keiko tampak menampilkan keraguan. Apa yang akan ditanyakannya adalah beberapa hal yang selama ini dia pendam. Karena tidak sedikit dari teman-temannya juga menanyakan hal itu pada Keiko.


"Kei mau tanya apa? Bunda pasti akan jawab kalau bunda tau. Kalau bunda tidak tau, kita cari jawabannya di google, ya?" canda Kailani sambil mencubit manja pipi tembem Keiko.


"Keiko sudah pernah cari jawabannya di google, Bunda. Tapi Kei malah makin pusing. Banyak sekali jawaban yang muncul. Orang dewasa memang banyak alasan."


Jawaban Keiko tentu saja membuat Kailani heran sekaligus semakin penasaran. "Ya sudah, Kei tanya ke bunda saja."


"Bunda nggak akan memarahi Kei, kan?" Keiko menatap Kailani dengan wajah memelas.


"Apa bunda pernah marah hanya karena Kei banyak tanya ke bunda?" Kailani membalikkan pertanyaan Keiko, juga dengan kalimat tanya.


Keiko menarik napas dalam. Dengan keberanian yang dimiliki, dia pun mulai bertanya, "Bund, kenapa bunda sama papa berpisah? Kenapa papa malah sama mama dan juga Kenzi? Dan kenapa dedek twins tidak bersama bundanya? Kenapa bunda yang merawat dedek twins? Kenapa encus mengajarkan dedek twins manggil ayah ke Oppa? Terus bunda dedek twins kemana?"


Cecaran pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil Keiko, tentu saja membuat Kailani tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya dengan sempurna. Apalagi, bisa dikatakan pertanyaan tersebut bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab dengan mudah dan sembarangan. Pantas saja Keiko semakin pusing saat mencari jawabannya di google. Tentu aplikasi perambah tersebut memiliki seribu jawaban berbeda-beda untuk satu pertanyaan yang sama.

__ADS_1


"Bunda ...," panggil Keiko, seakan mengingatkan bahwa pertanyaan yang diberikannya untuk dijawab, bukan hanya untuk dilamunkan.


"Berhubung Oppa disebut, boleh tidak pertanyaan tentang Oppa, biar Oppa saja yang jawab." Kailandra yang tiba-tiba muncul. Semakin membuat perasaan Kailani berkecamuk tak menentu.


__ADS_2