Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Bonus Chapter 2


__ADS_3

Kailandra menarik napas dalam begitu mendengar pernyataan Kailani. Lalu dengan volume suara sedikit pelan dia berkata, "Aku masih harus belajar kalau soal itu, bun. Butuh jam terbang yang sangat tinggi untuk bisa mengendalikan letupan cerobong bibit premium."


Kailani mencebikkan bibirnya. Pembicaraan dengan bahasan seperti ini harus segera diakhiri, sungguh dia merasa geli dan malu sendiri mendengarnya.


"Bun, biar Yanda yang mulai, ya. Kali ini Bunda jangan banyak bergerak. Tangannya diem, kalau nakal nanti Yanda tali." Kailandra berbisik mesra tepat di samping daun telinga istrinya itu. Satu tangannya sudah aktif membuka kancing dres selutut yang membalut tubuh Kailani. Perlahan, lidah kailandra pun ikut beraksi untuk menjelajahi bagian-bagian sensitif yang membuat sang empunya tubuh mulai merasakan sensasi gerah yang berbeda.


Begitu berhasil membuat Kailani tidak mengenakan sehelai benang pun, tangan Kailandra semakin lincah beraksi memainkan celah sempit di antara dua paha Kailani hingga membuat istrinya itu beberapa kali mengeliat. Ditambah lagi kuluuman lidah Kailandra di pucuk sumber makanan baby twins semakin membuat Kailani melayang. Suara desah lirih tidak tertahan lolos begitu saja dari bibir perempuan tersebut. Memaksa Kailandra harus mengalihkan bibirnya untuk membungkam mulut sang istri agar tidak lagi mengeluarkan suara yang bisa saja terdengar oleh yang lain.


Kailani tidak pasrah, dia malah membalas bungkaman mulut Kailandra dengan memberikan permainan lidah yang cukup membuat Kailandra sedikit kewalahan. Saling serang pun dilakukan. Tangan Kailani tidak lagi sanggup bertahan dalam diam. Dengan rasa cinta yang sudah bercampur dengan hasrat juga napsu yang bergelora, perempuan itu menggenggam kejantanan Kailandra dan melakukan gerakan seperti sedang mengocok milk shake dengan cepat.


"Bun ...." Kailandra menjauhkan tangan Kailani dari kejantanannya. Tidak ingin sesuatu tumpah sebelum masuk pada intinya. Kailandra harus rasional meski dia tidak memungkiri kenikmatan yang diberikan tangan Kailani sungguh mampu membuatnya merasakan surga dunia.


Suara desah kenikmatan Kailani---sesekali terdengar lirih manakala keduanya melepas pagutan bibir mereka saat mengambil jeda untuk bernapas. Mereka sama-sama sudah lupa daratan. Baik Kailani mau pun Kailandra, seakan baru menemukan kembali sebuah kesenangan yang sudah lama menghilang dan tidak dirasakan.


Perlahan, Kailandra mengarahkan tubuh Kailani untuk sedikit mundur. Hingga punggung perempuan tersebut membentur tembok. "Begini saja, siapa tau bisa lama," bisiknya sambil melingkarkan kaki kanan sang istri ke pinggulnya.

__ADS_1


"Ke, kamu dengar ada suara perempuan merintih, tidak?" Katami menyenggol kaki temannya itu juga dengan kakinya. Tiba-tiba dia merasa terusik dengan suara-suara yang timbul tenggelam tertangkap indera pendengarannya.


Kekeyi yang sedang mengenakan earphone tentu saja tidak mendengar. Setelah Katami menyenggol kakinya lebih keras sekali lagi, Kekeyi baru melepaskan earphonenya. "Ada apa, sih?" tanyanya dengan kesal.


"Dengar suara perempuan merintih, nggak?"


Kekeyi tentu saja langsung menggeleng. Suara konser NCT sudah memenuhi gendang telinga serta pikirannya---menutupi suara lain yang tidak sepatutnya dia dengar.


"Serius? Coba dengar baik-baik, Ke." Katami mulai menampilkan raut wajah ketakutan. Berharap suara itu tidak hanya dirinya yang mendengar. Kalau pun ada makhluk halus yang sedang usil mengganggunya, paling tidak jangan sendiri yang merasa diusili.


Kekeyi mematikan volume ponselnya karena penasaran dengan suara yang dimaksud oleh Katami. Lalu dia mengajak telinganya berakomodasi maksimal agar bisa menangkap suara yang dimaksud oleh temannya.


Tidak sampai terlalu lama, suara yang menurut Katami aneh itu tidak lagi terdengar. Suasana pun kembali hening dan tenang. Namun, tidak sampai satu jam kemudian, Katami kembali mendengar suara yang menurutnya adalah suara rintihan makhluk halus.


"Ke ... kok suaranya kedengaran lagi. Ini malam apa to?" tanya Katami sembari menepuk lengan Kekeyi yang sudah tidur memunggunginya.

__ADS_1


"Apa sih, Mi. Mbok ya tidur sana loh. Awas nanti pas Naka sama Naya waktunya bangun minum susu kamu ngeluh ngantuk," gerutu Kekeyi sembari membalikkan badannya menghadap Katami yang tampak ketakutan sekaligus penasaran.


"Kamu denger nggak sih? Itu suara yang tadi, Ke. Kenapa terdengar lagi? Ke ... antar aku wudlu saja. Aku mau ngaji, baca ayat kursi atau apalah. Biar penghuni rumah ini nggak mengganggu kita." Katami bersiap menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, tetapi tangan Kekeyi menghalangi niatnya.


"Mau kamu baca ayat kursi sampai ribuan bahkan jutaan kali, suara tadi nggak bakalan hilang. Yang paling bener, kamu lempar satu kursi meja makan ke pintu kamar ibu sama bapak, dijamin langsung diem." Kekeyi meraba-raba earphone yang tadi sudah diletakkan di atas nakas di samping ranjangnya persis.


"Ke, kamu kok santai begitu, to."


Sementara Katami masih kebingungan sekaligus ketakutan, dua orang yang menjadi sumber suara yang meresahkan bagi babysitter Kanaya itu malah sedang menjiwai penyatuan tubuh dengan begitu nikmatnya. Hingga di ujung puncak biirahi Kailandra, Kailani yang juga ingin mendapatkan nikmatnya meminta suaminya itu untuk menghentikan gerakan push up-nya sejenak.


"Tahan sebentar, Yanda ... tahan," dessah Kailani sembari meliukkan pinggulnya yang tertindih sempurna oleh Kailandra. Tidak lupa Kailani melakukan gerakan tidak kasat mata yang membuat Kailandra merasakan denyutan dan tarikan pada organ reproduksinya---gerakan menyerupai seseorang yang sedang menahan buang air kecil di bagian kewanitaannya.


Tidak lama, Kailandra pun merasakan cairan yang semakin menghangatkan kejantanannya yang sedang terjepit. Meski Kailani masih mengatakan kata tahan, pria tersebut tidak kuasa lagi menahan cairan kenikmatan yang sudah berada di ubun-ubun. Dan terjadi lagi ....


"Yanda! Kenapa dikeluarkan di dalam lagi sih?" Kailani dengan kesal mendorong tubuh Kailandra dengan buru-buru. Untuk yang kedua kalinya dalam malam ini, Kailandra melupakan pesan sang istri yang sudah mengatakan diawal untuk menumpahkan benih premium di atas perut saja.

__ADS_1


"Maaf Bun, kelepasan," ucap Kailandra dengan tatapan memelas.


"Kalau ada apa-apa tanggung jawab," kesal Kailani sembari beranjak berlari menuju kamar mandi.


__ADS_2